Di Tengah “Samudera Sukses”

Image result for Keep moving onTidak tanggung-tanggung. Samudera dan Sukses. Sekaligus dua kata ini ku titip sebagai inti catatan. Di tengah samudera sukses ku berada. Dua kata yang ingin ku titipkan di sini, sebagai pengingatku tentang kebersamaan kami.

Apakah semua ini titipan? Ku percaya ini titipan. Apakah juga tentang pilihan? Aku yakin ini pilihan. Apakah pilihan-Nya untuk ku jalani?  Aku pun sangat percaya, semua ini pilihan-Nya. Maka, ku jalani hari-hari di sini, di tengah samudera sukses, sebagai jalan mengembalikan ingatan kepada-Nya, lebih sering, sering, sering… hingga menenteramkan hati menjalaninya.

Mengapa samudera? Apakah asinnya airmataku mengalahkan asinnya air yang ada di samudera? Apakah karena airmata yang jatuh, mengalir dari sudut mataku sudah menyamudera banyaknya? Sehingga menenggelamkan tubuhku dan hampir seluruh wajah? Apakah ruang hatiku sudah seperti samudera luasnya? Sehingga dapat menenggelamkan sesiapa yang tidak sanggup lagi berlayar di atas sejuk genangannya? Wallahu a’lam bish shawab.

Mengapa sukses? Apakah sudah sesukses yang ku damba diriku? Sukses yang mengantarkanku hingga ke sini. Hingga dapat bertemu sapa denganmu teman, meski hanya melalui kata-kata yang ku susun sedemikian rupa? Atau untuk menjemput sukses, maka ku berada di sini? Atau, karena belum ku rasa sukses menemani hari-hariku? Atau, karena ku ingin berbagi tips sukses menempuh hari-hari dengan senyuman?

Beda orang, beda kepala, beda pemikiran, beda persepsi. Mungkin engkau memikirkan tentang hal-hal berbeda pula denganku, terkait judul catatan ini. Yang ku maksud begini, ternyata engkau menangkap lain maknanya. Sehingga kita pun memaknai dengan persepsi kita masing-masing. Hingga akhir catatan ini nanti, ku ridha dengan apapun persepsimu. Karena ku menyadari, kita memiliki pemikiran yang belum tentu sama, bukan?

***

Tidak pernah terpikir sebelumnya, aku akan sampai di sini. Bahkan dalam ingatanku, tidak ada sama sekali akan menjadi bagian dari lingkungan seperti ini. Di lingkungan yang jelas-jelas tidak ada dalam bayangan, namun menjadi bagian dari waktu-waktu terakhirku.

Lingkungan yang membuatku sering berpikir sebelum mengunjunginya. Akankah ku berangkat? Lingkungan yang menitipkanku secuplik pikiran untuk ku bawa, setelah seharian hadir di sini. Hikmah apa yang ku bawa sekembali dari sini?

Lingkungan yang ku perhati, ku teliti, ku telusuri hingga ke sudut-sudutnya. Lingkungan yang sungguh, membuatku segera bersyukur mengucap terima kasih.

Sejak awal datang ke sini, aku masih belum mempercayai, namun ku jalani. Ini menjadi pilihan untuk ku tempuh. Maka, yang terpikir olehku pertama kami berjumpa dengan lingkungan seperti ini adalah, “Di sini ku bisa belajar lagi.” Sebab ada yang mau memanduku, memberikan waktunya untukku, termasuk kesempatan untuk ku dalam meneruskan perjalanan. Perjalanan hidup ini.

Sepanjang perjalanan menuju ke sini, ku tinggikan harapan. Ku tinggikan ia setinggi-tingginya, hingga menembus awan-awan yang bergumpal-gumpal siang itu. Lalu meninggi lagi, dan tinggi. Hi! Setinggi apakah harapanku?

Harapan sudah meninggi, kaki-kakiku menapak bumi. Ku meneruskan perjalanan pikir. Bersama sekeping hati yang damai, tenang, dan ia tidak deg-degan sama sekali. Padahal perjalanan kami menuju daerah baru. Daerah yang belum sekalipun ku tempuh. Maka, ku pastikan orang-orang yang akan ku temui adalah orang-orang baru dan jelas saja kami belum pernah bertemu. Walau terkadang dunia ini sempit, kita dapat bertemu orang yang sama di tempat berbeda, bisa bertemu temannya teman di rumah temannya kita. Tapi, perjalanan kali ini, pure, baru bagiku. Siapa saja mereka yang akan ku temui? Bahkan tidak terpikir olehku. Hanya meneruskan langkah, meneruskan perjalanan.

Ku jalani hari-hari… Terkadang bersama linangan airmata yang tidak jadi turun, hanya menggenang di pelupuk mata, ini karena haru seiring ruang hati yang terasa dingin, menyejuk. Terkadang, kesejukkan menerpa-nerpa pelupuk mata. Menghadirkan angin semilir di sekitar kelopak mataku. Sehingga bulu-bula mataku yang tidak seberapa panjangnya dapat bergerak-gerak saat ku tidak mengedipkannya. Bulu-bulu mata yang ku perhati sesekali, ia yang tidak tumbuh memanjang, namun segitu saja, sungguh Allah Maha Sayang…

Sudah tertulis juga dalam catatan perjalananku, rupanya. Jauh, jauh hari sebelum ku menjalani hari-hari di sini. Aku ingat tentang hal ini. Maka, mengembalikan ingatan pada Pemilik jalan hidupku, membuat langkah-langkahku tergerak lagi untuk sampai di sini.

Walau bagaimana pun cuacanya. Apakah ku sedang tidak bersemangat? Namun ku mesti berangkat dan menepikan waktu sepanjang hari ini di sini. Berlanjut dengan aktivitas demi aktivitas yang membuatku kembali bersyukur. Sebab, ada di sini seperti impian, tapi nyata. Meski dalam impianku tidak tertulis untuk begini.

Duduk manis, menatap layar monitor, tulis-tulis, memperhatikan sekitar, sedikit sekali berbicara melalui suara. Lebih seringnya diam, sesekali tersenyum menyapa atau tersapa. Seterusnya, ku berkutat lagi dengan angka-angka dan huruf-huruf yang menjadi teman terbaik. Sampai seharian, hingga sore menjelang. Setelah itu, ku kembali pulang dan melanjutkan aktivitas di lokasi berbeda.

Berada di sini, hanya pagi sampai sore hari saja. Selama berada di sini, sesekali ku intip dunia maya. Haaaaaaai, ini momen yang selalu ku luangkan dalam sehari. Setidaknya, untuk menitip catatan tentang ekspresiku dalam sehari, atau sekadar menyapamu di sana, wahai sahabat, seringnya merangkai kenangan tentang perjalanan hidupku hingga sampai di sini, termasuk orang-orang yang berperan, selebihnya baca-baca saja. Sehingga, ku masih dapat memperhati ada apa di balik dunia sana. Ada perubahan apa yang dapat ku ketahui? Adakah yang dapat ku petik untuk ku bawa meneruskan perjalanan lagi.

Sehingga, lagi dan lagi, semangat hidupku bertumbuh subur. Esok, ku kembali, senyuman pun mengembang di pipi. Karena impian menjadi nyata. Alhamdulillah. Maka, mana bisa ku tidak bersyukur atas semua ini?

— Walau sekilas tidak ku pikirkan sebelumnya sampai di sini, namun dari cara pandang lain ku melihat perjalanan diri, ternyata menjalani hari seperti ini memang menjadi impianku. 


Awal beraktivitas di sini. Sehari dua hari, ku lewati dengan lancar. Tiga hari, empat hari, menjadi hitungan bulan dan tepat hari ini, sudah sebelas bulan ku di sini. Ya, menjelang setahun, hanya kurang sebulan saja.

Aktivitasku duduk-duduk manis, membaca dan menulis, lalu memperhati. Sesekali berekspresi, dan seringnya menyimak situasi di sekitar. Semua, mengingatkanku lagi pada impian yang mesti ku syukuri. Meski tidak tertulis pada lembaran catatan, namun tertulis dalam ingatan. Tentang hari-hari yang ku damba menjadi bagian dari waktu-waktuku. Ya, seperti ini, di sini.

Selain itu, ku bisa jalan-jalan (beraktivitas di luar ruangan) minimal dua kali sebulan, di luar sana. Aku berjumpa dengan orang-orang baru dan aku suka. Aku bisa bersapa dengan orang-orang yang ku temui untuk pertama kalinya.

Aktivitas lain di dalam ruangan, menyambut mereka yang datang mengunjungi kami, esok mereka datang lagi, lusa atau sebulan sekali. Bahkan ada juga yang tidak datang-datang lagi. Karena apa? Ternyata mereka sudah memiliki aktivitas berbeda di luar kota, sehingga kami tidak dapat bersenyuman lagi. Seperti saat mereka datang, dan aku menyambut mereka dengan senyuman.  🙂  Atau, saat aku sedang serius, bersungguh-sungguh dan penuh konsentrasi, mereka datang membawa ekspresi yang membuatku segera berekspresi serupa. Semua ini, mengembalikan ingatanku untuk mengabadikan lagi dalam diari.

Lalu hari ini, ada apa di sini? Apakah ada yang menarik untuk ku jadikan sebagai prasasti tentang perjalanan diri? Supaya ku senyumi lagi di hari nanti? Tepat saat ku berkunjung lagi ke sini, dan membaca potongan episode hidupku, tentang hari ini?

Hari ini, tidak ada yang berbeda dari sebelumnya, teman. Seperti biasa, masih sama. Ku datang ke sini, lalu duduk manis, menerima sapa dan menyapa, lalu menulis dan membaca. Namun ada yang berbeda hari ini, dari cara pandangku.

Aku memperhatikan diriku yang sedang duduk manis di tengah samudera sukses, ini. Ku lihat diriku berada di antara teman-teman. Mereka ada di sekitarku. Mereka asyik dengan aktivitas mereka, aku juga. Sambil merangkai catatan tentang kami.

Mereka bercerita, ku lebih sering diam saja dan menyimak dengan baik. Sesekali kami tertawa, saat ada yang lucu dari cerita salah seorang teman. Sering ku tersenyum, menikmati kisah yang mereka saling pertukarkan. Sedangkan aku, masih diam menyimak dan asyik pula dengan kesibukkanku. Ini aktivitas yang sedang ku lakukan.

***

Sudah hampir setahun lamanya aku di sini.  Waktu yang tidak sebentar untuk hitungan angka. Namun tidak terasa bagiku, ternyata sudah hampir setahun saja? Hari-hari yang ku lalui dengan ringan, bersama kesan demi kesan yang ku petik dari waktu ke waktunya.

Apakah keadaan yang ku suka atau tidak? Apakah orang-orang baru yang ku temui atau menemui? Apakah sapaan yang membuatku seakan tidak percaya? Atau sebentuk perhatian yang membuatku teringat lagi tujuanku ke sini. Semua, semua tidak pernah terbayangkan akan ku temui di sini. Akan tetapi, menjalaninya dari hari ke hari, membuatku mau tersenyum lagi.

Ada orang-orang yang senang menyapaku terlebih dahulu, saat ku sedang asyik dengan pikiranku dan merenung. Ada yang menarik bagiku, kemudian ku dekati dan kami pun menghabiskan waktu-waktu selanjutnya bersama-sama. Ini yang ku suka

Selain yang ku sukai, juga ada yang tidak ku sukai selama di sini, tapi semua itu memberiku inspirasi. Ada yang membuatku terusik atas godaannya, sehingga ku mulai merasakan tidak nyaman saat seseorang mendekatiku. Apakah para kernet yang mendekatiku saat menunggu di halte bus lalu mengajak berbincang? Apakah tukang ojek yang memintaku ikut dengannya dan sukses ku tolak dengan halus. Apakah tetangga-tetangga yang memperhatikan saja saat ku datang dan kemudian pergi. Atau tetangga yang mencari-cari cara mendekatiku, setelah ku senyumi. Ada juga tetangga yang seakan cuek tidak peduli siapa aku?

Ya, selama di sini, kesan yang ku peroleh sungguh beraneka ragam. Pikiranku berputar terus menerus setiap hari, untuk menemukan solusi demi solusi dalam menyikapi semua. Sedangkan hatiku, terkadang rasanya nano-nano, saat ia bertanya dari satu sudut ke sudut lainnya. Membuatku tidak dapat menjawab tanyanya. Begitu pula dengan ekspresi yang hadir pada wajahku, terkadang diam tanpa ekspresi, tersenyum sesekali, bahkan sempat juga tertawa lepas. Hihiihiii.  😀

Ada orang-orang yang beramah tamah denganku karena ada yang ingin mereka ketahui lebih dalam tentangku. Ada orang-orang yang sekadar menyapa, dan kemudian pergi. Ada yang menempel dalam ingatan dan tidak pergi-pergi. Karena ia berkesan dalam pikiranku. Ada juga yang datang begitu saja dan pergi dengan mudahnya, tidak teringat-ingat lagi. Ada juga yang menitipkan hatinya padaku, untuk ku jaga. Sedangkan aku, menanggapi dengan senyuman, lalu bilang, “Terima kasih, yaa, untuk titipannya.”

Ada yang sekejap mencandai ketika ku bersiap pergi, lalu meminta ku kembali. Ada yang pergi jauh sekali, setelah ku sampaikan padanya, “Jangan hubungi aku lagi.Eeeh, beberapa waktu kemudian datang lagi, diam-diam. Tiba-tiba sudah ada di ruang ingatku.

Ada juga yang datang lagi dan lagi, seakan tidak peduli bagaimana ku berjuang menolaknya, “Ini namanya pejuang yang berusaha memenangkan hati.” Ada juga yang tidak sanggup menyampaikan langsung, memilih memperhati dan titip-titip salam melalui temannya. Ada juga yang memberiku kebaikan demi kebaikan, meski ku tidak menyadari ada maksud di baliknya.

Sejauh ini, dari semua yang ku temui di sini, ku syukuri sebagai bahan pelajaran untuk ku pahami. Mereka ada, supaya ku belajar mengenal orang-orang selain diriku sendiri. Lebih tepatnya adalah, memahami pribadi lain. Apakah ku sukai atau yang tidak ku sukai, awalnya begini. Semua berawal tentang hal ini. Sehingga ku terus berpikir dan berpikir lagi.

***

Aku mungkin tidak tahu, di balik ketidak sukaanku pada seseorang, ada yang sedang ia titipkan untuk kebaikanku. Aku mungkin belum menyadari, ketika seseorang menjahiliku, ternyata ada hikmah yang ia selipkan pada ruang hatiku. Aku mungkin belum mengerti, saat seseorang mengikutiku lagi dan lagi. Barangkali ada pesan yang ingin ia sampaikan padaku.

Kalau aku tidak memperhatikan sekitar, maka ku akan tertinggal sebuah pesan yang penting bagiku di masa depan. Meskipun saat ini belum ku ketahui arti pentingnya. Maka, ku berani-beranikan diri menegur dan bersapa dengan orang-orang asing yang mendekatiku. Benar saja, mereka mengingatkanku untuk berhati-hati. Begitu juga orang kehilanganakal sehatnya ‘tidak waras’ yang sering mondar mandir di sekitar kami. Walaupun kami tidak berbicara melalui suara yang kami pertukarkan, tapi dengan memperhatikan, ku bisa belajar satu hal lagi. Setiap waktu kami berpapasan atau ku melihatnya dari kejauhan.

Yah, belajar satu hal lagi dari setiap orang yang ku temui. Seorang saja, belum cukup. Maka, aku bersapa dengan lebih banyak orang, di sini. Walau awalnya tidak ku suka cara ia menyapaku. Akan tetapi lama-lama kami jadi akrab dan bertukar cerita. Mereka mudah bertanya, tapi tidak mudah bagiku memberikan jawaban. Awalnya begini, bermula tentang hal ini.

Dari hari ke hari ku perhati dan belajar cara mereka berbicara. Sebenarnya, mereka hanya ingin tahu saja, bukan sepenuhnya peduli. Jadi, ku mulai mendeteksi dan mengimbangi saat kami berkomunikasi. Bila mereka serius, aku pun serius. Bila terdeteksi mereka hanya iseng dan tidak terlalu mementingkan makna komunikasi antara kami, aku pun menjawab sekenanya. Sehingga, dari hari ke hari ku temukan secuplik pesan untuk diriku.

Pernah pada suatu kesempatan. Saat ku sedang duduk-duduk sendiri di halte untuk menanti bus. Tiba-tiba seorang yang sebelumnya sempat menghampiriku juga, datang lagi. Masih membawa wajah penuh senyuman, beliau mulai menyapa. Sudah tahu bagaimana beliau, aku pun menjawab sapa. Benar saja, sapaan serta pertanyaan yang beliau uraikan hanya sekadar tanya-tanya saja. Maka saat ku jawab sekenanya juga, beliau tidak mempedulikan. Malah bertanya tema lain. OoooooOOOO… hingga terpetiklah hikmah di sepanjang percakapan kami. Beliau hanya ingin tahu saja. Setelah bertanya ini dan itu, kemudian pergi. Maka, aku mulai tidak risih lagi, namun mempersahabati.

Esoknya di kesempatan lain, beliau menghampiriku lagi. Membawa tanya yang sama seperti yang beliau sampaikan. Tanpa ingat, sebelumnya kami pernah membincangkan tema serupa. Benar, ada hikmah yang terpetik, saat kami bersua lagi.

Bagaimana bisa kami bertemuan? Apakah terjadi kebetulan? Atau karena sudah menjadi jalan kehidupan untuk ku tempuh?

Tanpa berinteraksi, ku tidak bisa mempelajari dengan aneka jenis karakter insan yang terdekat denganku.

Tanpa melanjutkan perjalanan hingga sampai di sini dan di sana, ku belum tentu dapat merangkai catatan sampai hari ini. Catatan-catatan untuk mengabadikan secuplik pesan yang beliau sampaikan padaku, walau tidak langsung.

Tanpa memperhatikan sekitar, barangkali ku tidak menemukan petikan pesan dalam perjalanan. Pesan untuk ku jadikan kenang-kenangan selama beraktivitas di kota ini.

Tanpa mereka semua, mungkin aku akan selamanya begitu dan begitu saja, tidak membuka cara pandang dari hari ke hari.

Tanpa melanjutkan langkah-langkah jemari sampai hari ini, mungkin saja kita tidak bertemu, teman. Untuk berbagi tentang hari-hari yang ku jalani di sini.


So, keep moving. I really say ‘big thanks’ for your contribution in my life , being my reminder to Allah.  Terima kasih untuk cinta, sapa, tanya, pun ekspresi yang engkau hadirkan di tengah-tengah waktu kita bercengkerama dan menikmati cemilan bersama. Ini rasanya bahagia dan penuh kenangan. Menjadi akrab dengan alam-Nya. Siapapun beliau.
Dedicated to : Tukang parkir, kernet bus, supir angkot, tetangga dekat dan jauh, orang-orang yang ku temui di perjalanan, kolega dan sahabat. Melalui dan bersama beliau semua ku belajar memaknai dan mensyukuri anugerah kehidupan. Kehidupan yang penuh anugerah untuk ku syukuri.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close