Tentang Distraksi

Ya, terkadang terkadang begini. Aku datang lagi ke sini, terkadang karena memang kurang kerjaan. Seperti saat ini. Aku ‘merasa’ aja kurang kerjaan, lalu melipir ke sini, cepat-cepat mencatat rangkaian kata yang ingin ku temukan jawabannya. Segera menulis susunan huruf yang ku tidak tahu maknanya.

Segera menemukan informasi dari pertanyaan yang sedang bertengger dalam ingatan. Cepat. Sebelum semua memenuhi ingatanku. Sebelum pikiranku semakin penuh oleh hal-hal yang membuatku tidak bisa berpikir jernih. Sebelum, pikiran demi pikiran ini membuat kepalaku menjadi berat sebelah, berdenyutan, lalu aku pun pusing, keliling-keliling tapi tiada arti. Namun dengan keliling-keliling di sini walau beberapa waktu saja, semoga ada artinya, yaa.

Ya, berkunjung ke mari, sedikitnya dapat menumbuhkan semangat hidupku lagi. Setidaknya, memberiku pencerahan lagi. Setidaknya, membuatku mau membuka mata lagi, membuka pikir lagi, menerima sebanyak-banyaknya informasi. Sehingga pikiranku yang sebelumnya sangat ramai, boleh lebih ramai, dengan adanya yang datang dan pergi. Ini namanya belajar.

Setelah menemukan jawaban, ku catat beberapa inti penting untuk ku pahami lebih dalam. Setelah bertemu penjelasan, ku arsipkan beberapa untuk ku baca lagi di waktu luang. Setelah memperoleh ilmu pengetahuan baru, ku bagikan lagi. Inilah kerjaanku saat ku merasa kurang kerjaan. Seperti saat ini.

Sebelum sampai di sini, pikiranku sedang penuh. Penuh saja, rasanya kepala berat. Entahlah, yaa. Pikiran yang membuatku berpikir untuk menemukan sejenis solusi supaya ia lebih ringan. Maka, ku coba ketik beberapa kata pada mesin pencari. Hingga bertemu sebuah istilah yang membuatku berpikir lagi. Ini artinya apa?

Distraksi. Adalah kata yang membuatku berpikir ulang. Apakah sebelum ini ku pernah membacanya? Masih rasanya, belum. Yah, merasa belum pernah membaca, aku pun ingin mengetahui siapa dia. Apakah sejenis minuman segar yang bisa meluruhkan dahagaku? Apakah sejenis cemilan enak yang dapat mengenyangkan atau hanya pencuci mulut? Apakah sejenis hiasan untuk ku pajang di dinding kamar, lalu ku pandang-pandang menjelang mata terlelap setelah mengantuk? Apakah sejenis jalan untuk ku tempuh? Apakah seorang sahabat?

“Distraksi artinya” adalah dua kata yang ku tulis bersamaan pada mesin pencari. Sehingga, muncullah beberapa referensi yang siap ku pilih. Aku pilih yang mana dari semua? Mulai dari yang muncul lebih dahulu, selanjutnya ku perhatikan beberapa uraian di bawah judul. Sekiranya memberiku penjelasan tentang maknanya. Lalu, beralih pada kalimat-kalimat berikutnya yang ada di urutan bawah hasil pencarian. Masih belum mengklik link yang akan menyampaikanku pada uraian lebih jelas tentang distraksi. Masih menelusuri hingga beberapa judul dan penjelasannya.

Hingga akhirnya, aku mantab memilih satu link dulu, yang semoga lengkap penjelasannya. Supaya dapat mengurangi beban pikiranku terkait ia. Klik. Sampailah aku pada sebuah note. Setelah sampai di sana, apa yang ku temukan? Tidak ada penjelasan tentang distraksi sama sekali. Haaii, tapi aku suka. Karena ada sebuah gambar yang bertulisan kecil-kecil di dalamnya. Aku pun penasaran. Apakah penjelasan tentang distraksi ada di antara tulisan tersebut?

Ku perhatikan benar-benar dengan sedikit mendekatkan pandangan pada monitor. Masih kecil hurufnya, malah tidak terbaca. Lalu, ku klik gambar, akhirnya. Dan benar saja, ternyata ada instruksi dari penulisnya, untuk mengklik gambar kalo kurang gede. Heheheee. Oks, Bro! Siap.

Setelah mengklik gambar, muncullah gambar lebih besar dengan tulisan lebih jelas. Lebih mudah terbaca dan segera ku baca kalimat demi kalimat yang menarik. Ini dari Kimpul.

“Hai, Kimpul, salam kenal yaa. Aku suka bertemu denganmu di sini. Walau untuk dapat membaca rangkaian kalimatmu, aku mesti berusaha dulu. Yuhu, terima kasih Kimpul.

Hehehe, ku lanjutkan membaca. Ternyata, Kimpul memberikan tips ampuh cara ngeblog yang efektif dan mudah-mudahan efisien. Sungguh, berkesan. Aku suka awal perkenalan Kimpul dan tujuannya menitipkan gambar pada postingannya berjudul Distraksi Itu Adalah…

Yah, Kimpul, walaupun di dalam postingan kali ini ku tidak menemukan jawaban dari pertanyaanku terkait distraksi, namun aku senang karena engkau menitipkan tips terkait ngeblog yang sedang ku lakukan saat ini.

Penulisnya adalah Mas Darin. Ku perhatikan bagian komentar, ada seorang pembaca yang juga mengalami sama denganku, seperti komentar beliau berikut :

iskandaria said…

Saya kira postingnya akan mengulas masalah distraksi (gangguan) ketika akan menyimak konten suatu web/blog. Ternyata berupa komik tentang tips menulis atau tips menghasilkan tulisan yang baik  🙂  Lalu, apa hubungannya dengan distraksi kalo boleh saya tahu mas? November 6, 2010 at 3:40 PM

Darin said…

judul komik biasanya menerangkan ending mas  🙂
kata2 di awal cuma intro. mungkin karena pembacanya blogger jadi mengharap yg lain ya haha November 6, 2010 at 9:53 PM

Haha, iya, betul, sebagai pembaca, saya juga mengharap penjelasan tentang distraksi berupa untaian kalimat-kalimat. Tapi, ini ada baiknya. Karena tips dari Kimpul ini sangat bermanfaat :  “Kita harus peka dengan situasi, segera tulis ide, cari referensi terkait ide, tulis draft tulisan dan simpan dulu sejenak sambil masih mencari inspirasi terkait ide tulisan dan berikutnya yang paling penting jangan lupa publish.”

Oke, Kimpul, terima kasih tipsnya yaa, aku mulai praktekkan segera. Karena Kimpul juga ngasih peringatan, untuk segera menulis ide supaya engga cepat hilang lagian, ketimbang ga’ ada kerjaan.

Betul, betul Kimpul, karena ku ‘merasa’ lagi ga‘ ada kerjaan, maka ku catat ide darimu ya Kimpul, ide bagus untuk memulai sebuah catatan cantik tentang aktivitasku hari ini. Catatan tentang apakah?

Mulai dari penuhnya pikiran oleh pikiran yang ku pikirkan sehingga kepikiran dan bertemu kata distraksi, setelah ku cari tahu solusinya melalui mesin pencari. Ternyata, salah satu link yang ku klik menyampaikanku pada tips ampuh ngeblog. Ini luar biasa, diluar perkiraan.

Ternyata, ide ada di mana-mana dan bisa datang dari mana saja, yaa. Terima kasih sekali lagi, Kimpul, untuk inspirasinya. Semoga hari-harimu menyenangkan, teman. 🙂

Ku perhatikan, Kimpul sudah menulis ide tersebut sejak tujuh tahun yang lalu. Namun berhubung baru hari ini ku membacanya, aku pun tercerahkan. Begitulah kekuatan tulisan. Meski lama dan sudah jauh waktu sejak ia tercipta dengan saat kita membaca, namun kekuatan makna dari sebuah tulisan dapat menggerakkan orang yang membacanya.

Apabila tulisan berisi tips, pembacanya pun tergerak untuk menerapkan tips, bila pun ia suka. Jika tulisan berisi hikmah, pembacapun memetik hikmah dan menikmati sebagai bekal meneruskan perjalanan hidupnya. Bila tulisan berisi cerita, maka ada yang mengetahui cerita melalui tulisan tersebut. Bila tulisan berisi pertanyaan, pembaca dapat menjawabnya ketika ia mempunyai jawaban. Dan atas pertanyaan Kimpul sebagai warning, menulis ide di mana saja dan segera sebelum hilang, ku akui sebagai tips yang ‘Betul’.

“Betul, Kimpul, aku setuju”.

Aku pun sering menerapkan ini untuk memunculkan sebuah catatan di blog pada waktu-waktu sebelum ini. Termasuk saat ini, ide muncul untuk menulis catatan, setelah menelusuri arti satu kata distraksi. Namun, belum ada jawaban yang ku temukan, malah memunculkan pertanyaan. Kira-kira, tulisan seperti apa yang dapat ku hadirkan tentang hal ini? Aku masih melanjutkan pertanyaan lagi.

***

Terkadang, hidup memang begitu. Kita mau menemukan jawaban, yang hadir malah pertanyaan. Kita mau meringankan pikiran, yang ada malah ia semakin berat dan semakin banyak pikiran yang muncul. Apakah ini juga sejenis distraksi? Distraksi yang baru ku ketahui kalau ternyata ia ada di dunia ini?

Aku kembali bertanya. Seringnya begini. Ku penasaran saja bila belum menemukan jawaban yang membuatku segera tersenyum setelah mengetahui.

Berikutnya, aku pun meneruskan perjalanan pikir. Ku telusuri referensi kata demi kata yang muncul terkait distraksi. Masih sama seperti sebelumnya. Hingga, beberapa jawaban pun bermunculan. Ku pelajari lebih dalam, sampai ku benar-benar paham. Bagaimana pengaruh distraksi? Apakah distraksi lumrah sebagai insan yang menjalani kehidupan? Apakah distraksi sesungguhnya? Bagaimana cara mengelolanya? Apakah ada yang bisa ku lakukan bersama distraksi?

Ooooke… Di sini ada lagi tentang ditraksi. Di sini juga ada. … he needed to clear his head, to flush away all distraction … — Jerry Spinelli, Maniac Magee.

Di mana-mana, dan di sini juga ada. Sehingga tertemukan jawaban tentang sebuah kata yang membuatku bertanya saat bersua dengannya.

Merangkai catatan merupakan bagian dari distraksi. Dalam hal ini ia berfungsi sebagai pengalihan atau hiburan, bagiku. Hai, mengalihkan dari apa? Yaa, dari pikiran demi pikiran yang memenuhi ingatanku atas banyaknya pikiran. Sehingga, menepikannya di sini sedikit lumayan kan yaa, untuk mensegarkan lagi pikiran. Supaya ku dapat melanjutkan lagi langkah-langkah dalam perjalanan dengan pikiran yang lebih rileks. Esok, kapan-kapan ku datang lagi ke sini, ku tepikan lagi sedikit pikiran. Agar ku tahu, apa-apa saja yang ku pikirkan dari waktu ke waktu. Sebanyak apa pikiran demi pikiran tersebut ku tanggapi.

***

Hai teman, tahukah engkau awalnya, bagaimana ku bertemu kata distraksi ini? Awalnya ku ketikan saja pada mesin pencari tentang pikiran, yang memenuhi pikiran. Hingga sampai pada bacaan demi bacaan yang mengantarkanku pada sebuah kata distraksi.

Aku pun penasaran, lalu ingin tahu. Berikutnya ku temukan juga cuplikan tips untuk menulis di blog. Kebetulan ku sedang berada di depan lembar catatan yang masih kosong, ku tuliskan saja tentang distraksi sebagai tema yang ku bahas. Supaya, bila ku ingat lagi untuk mengingatnya, atau terpikir lagi tentang ia, ku bisa membaca lagi. Mudah khan? Cara mengabadikan pikiran.

Yah, dengan menuliskan seperti ini. Lalu, tersenyum setelah ia jadi dan membacanya lagi. Ini sungguh, sangat menyenangkan, bagiku menjadi hiburan tersendiri di tengah penuhnya pikiran oleh pemikiran yang memenuhi pikiran. Sejenis cara untuk bisa jalan-jalan, ketika pada suatu waktu ku hanya bisa duduk-duduk manis karena kondisi fisik ku yang tidak memungkinkan untuk berjalan. Atau ketika ku sedang mau bertemu dengan teman-teman, ku sapa mereka dengan tulisan yang ku rangkai.

Ini juga berawal dari munculnya aneka pikiran dalam pikirku. Dari eksternal dan internal. Sehingga, membuatku terus berpikir, bagaimana mengenalinya? Bagaimana menyikapinya? Supaya tidak terpikir-pikir terus? Agar, pikiranku bisa fokus pada pikiran yang semestinya ku pikirkan? Lalu mengalihkan pikiran-pikiran yang tidak semestinya ku pikirkan?

Sehingga, muncullah pertanyaan demi pertanyaan yang membuatku bertanya. Bertanya lagi, dan kemudian lega dech, setelah bertemu dengan jawaban. Dengan begini, proses belajar masih terus ku jalani. Belajar mengenal diri, mengenal orang lain. Karena ku tidak sendiri, ada banyak orang-orang di sekeliling yang mengharapkan kehadiranku dalam kehidupan mereka. Ada juga yang berjuang mengalihkan perhatianku dari seseorang yang ku jaga. Maka, sedapat mungkin ku temukan informasi demi informasi terkait tanggapanku terhadap kehadiran orang-orang baru dalam kehidupanku. Supaya, senyuman masih menebar di pipi, pikiran tercerahkan, jiwa pun sentosa dan melangkah lagi dengan ringan.

Aha! Atau selama ini ku bertemu dengan distraksi? Sedangkan aku belum terpikir untuk memikirkan tentangnya? Hanya menjalani dan menindaklanjuti sesuai kata hatiku saja? Ah, selama ini ku ke mana saja? Bukankah sudah sekian lama ku ada di dunia? Bagaimana dengan mereka yang menjadi bagian dari hari-hariku, tapi tidak sempat mengalihkan perhatianku? Karena ku hanya fokus pada diriku sendiri? Hihiii… 😀 Pardon me, please. Di sini kesempatan ku belajar lagi, tentang interaksi.

Kalau lah tanggapanku terhadap orang-orang yang mengalihkan perhatianku, sama seperti sebelum-sebelumnya, bukankah berarti ku masih sama saja tanpa berubah dalam sikap yang ternyata demi kebaikanku? Bukankah memperlakukan seseorang yang tidak ku sukai sikapnya, dengan sikap kekanak-kanakan malah merugikanku? Bukankah sebaiknya ku tanggapi dengan senyuman saja untuk orang-orang jahil dan atau tidak perlu menanggapinya? Dan yang penting, bukankah semestinya ku menjadi tahu diri sebelum meminta orang lain mengenal dirinya?

Atas distraksi yang mengganggu fokusku, bukankah sebaiknya ku tentukan tujuanku dan melangkah selangkah demi selangkah? Sembari mengedarkan pandangan ke sekitar, masih teruskan langkah.

Mempedulikan mereka yang mengalihkan perhatian, lalu menjadikan sebagai ide untuk merangkai tulisan? Yes! Ini ide bagus, aku sudah mulai menemukan benang merahnya. Dengan begini, senyuman mengembang lagi pada wajahku. Sebelumnya ku bawa wajah berlipat-lipat bahkan sangat rapi ke sini, setelah ku seterika dengan sempurna sejak kemarin sore. Hehee. 😀

Setelah penuhnya pikiranku atas pikiran demi pikiran karena memikirkan pemikiran sejak kemarin sore. Hari ini, ku sampaikan pada diriku, untuk melangkah lagi, maju, dan terus bergerak. Jadikan mereka sebagai inspirasi, lalu melanjutkan perjalanan dengan semangat.

Ayo, kita bisa fokus. Fokus dan kembali bangkit. Cukup, untuk saat ini segini dulu. Sudah ada titik temu dari penuhnya pikirku.

Setelah menuliskan catatan kali ini, ku meneruskan aktivitasku di dunia nyata, bersama senyuman yang ku tebarkan lagi. Terima kasih pada seseorang yang kemarin sore datang menemuiku, lalu memenuhi pikiranku dengan kehadirannya. Dia yang ku hargai bukan sebagai pengganggu lagi, tapi sebagai sahabat untuk ku persahabati. Sebab, tentu pertemuan kami bukan tanpa makna, namun untuk mengingatkanku kepada diriku semula. Dalam rangka apa kami bertemu di dunia ini?

Terima kasih juga pada orang-orang yang berkontribusi padaku, tepat setelah ku sampaikan pada mereka ketergangguanku dengan kehadiran seseorang yang membuatku terganggu, awalnya.

Mereka yang turut berkontribusi adalah teman-temanku di kostan, memberikan masukan dan saran-saran, baiknya aku bagaimana, bersikap seperti apa dan bagaimana lagi.

Masih belum tenang, atas gangguan dalam pikiran, lagi dan lagi, aku meminta saran lagi dari ibunda, bertanya juga menemukan solusi atas kehadiran orang-orang yang menurutku mengganggu pikiranku. Karena aku bisa kepikir-pikir sampai lama-lama, kalau sudah memikirkan sesuatu. Tapi, ibunda bilang, “Berbaik-baiklah, dan temukan hikmahnya.”

***

Sepanjang merangkai catatan, ku pikir ini catatan yang ku tulis dengan waktu sangat lama, karena ku tulis sambil membaca-baca referensi tentang distraksi. Dari satu referensi ke referensi lainnya. Makanya, ku lampirkan juga di sini, sebagai informasi pendukung. Barangkali bermanfaat bagi sesiapapun yang ingin mengenal lebih jauh tentang distraksi.

Lalu, engkau? Apakah engkau pernah bertemu dengan keadaan yang ternyata sejenis distraksi juga, teman? Bagaimana engkau menjalaninya? []

🙂 🙂 🙂

 

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close