We are Friends

Image result for sahabat muslimah

:: Picture ::

“Assyiik, ada yang rindu, ternyata. Hahaaa, emang aku ngangenin yaaa?”  😀

But, sudahlah. Kalau memang begini salah satu cara mengabadikan kebahagiaan, mengapa tidak? Saat menyadari, kehadiranku ada yang menunggu, sedangkan ketidakhadiranku ada yang merindu.

Aku datang lagi ke sini. Karena aku pun merindukanmu, teman. Engkau sahabatku. Sungguh, tentang persahabatan masih ingin ku rangkai baris kalimat seperti ini. Untuk mengabadikannya, agar persahabatan kita abadi. Selamanya. Ya, mau ku begitu. Meski hingga akhir usia, kita tidak dapat bersapa dan bertatap mata lagi. Ketika senyuman yang kita pertukarkan mungkin hanya melalui nada suara saja, di waktu-waktu berikutnya. Karena batasan jarak yang membentang antara kita. Walau begitu, bagiku sahabat tetap sahabat. Seorang yang bagiku sangat bermanfaat, menjadi pengingat dan ku ingat.

“Yuhu. Gitu dong! Kalau rindu bilang aja. I miss you, too,” jawabku di dalam hati. Lalu ku tuliskan dalam diari. Sehingga, mungkin saja engkau tidak mendengarkan suara yang mengalir terkait rinduku padamu.

Seperti terulang untuk ke sekian kalinya. Aku pun pernah mengalami hal seperti ini dulu, dulu, sekali. Sampai aku hampir tidak percaya, namun aku belajar mempercayainya. Siapakah dia yang mengharapkan kehadiranku di depannya saat ku tiada? Siapakah dia yang mensenyumiku dalam kebersamaan kami? Siapakah yang merindukanku ketika jauh darinya? Siapakah yang menangis saatku tiada untuknya lagi? Ya, seperti saat ini.

Berikut adalah sikap-sikap dan perlakukan orang-orang yang bersahabat denganku. Secara tidak langsung ataupun langsung, mereka mengingatkanku tentang sahabat. Maka, mempersahabati mereka dengan caraku, menjadi jalan yang ku pilih.

Sahabat. Ku sebut dia sebagai sahabat. Sahabat yang baik, dan aku pun membaikinya. Kebaikan yang membuat wajahku tersenyum, dia pun sama. Ya, dia yang ku sebut sahabat adalah satu dari sahabat-sahabat baik ku. Sehingga, atas persahabatan kami, ingin ku berai saat ini. Karena baru saja ia bilang, “Kangen aja,” Tepat saat ia menanya, di mana aku? Koq belum muncul lagi seperti biasa? Harusnya sudah ada di sini jam segini? Sekarang ada di mana? Lagi ngapain? Sama siapa? Lalu, ku jelaskan dengan sederhana dan bertanya, “Ada apa sebenarnya?”

“Ooo, ya sudah, lanjutkan,” ungkapnya setelah mengetahui alasan mengapa aku belum ada tepat di waktu yang sama seperti biasa, di hadapannya.

Sahabat. Bagaimana ku bersahabat dengannya? Semudah itukah sebuah kata sahabat ku lekatkan padanya? Apakah tidak ada lagi istilah lain untuk menerangkan tentang ia bagiku? Untuk saat ini, memang begini. Ku persahabati ia sebagaimana ia mempersahabatiku. Ku senyumi ia sebagaimana ia tersenyum padaku. Ku bagikan padanya rangkaian kisahku, sebagaimana ia membuka pikiranku lagi. Tentang kisah yang ia bagikan padaku dan pengalaman hidupnya yang berliku-liku dengan banyak pesan yang ia petik, pun ia uraikan padaku. Semudah itu, persahabatan bermula.

Sahabat. Ku jaga ia masih bersama, meski dalam ingatan. Walau untuk bertemu lagi, kami belum mempunyai kesempatan. Maka, sebentuk catatan ini ku rangkai bersama senyuman, sebagai tanda persahabatan. Untukmu sahabat yang mensenyumkan wajahku dengan senyumanmu, atau pun hanya sekadar sapaan. Terima kasih ku ucapkan, semoga kebahagiaan yang ku rasakan, kembali padamu yach. Tetap di sana, meneruskan perjuanganmu. Aku juga.

Sahabat. Tersenyumlah di sana, seperti aku yang tersenyum di sini. Mengingatmu, sahabatku yang kini jauh. Namun melalui suara, kita bisa bertukar kabar. Nah, saat ini, ku ingin bagikan padamu kabarku, melalui susunan kata, yah. Sebab ku masih ingin menyapa dan bersamamu, walau percakapan kita terputus baru saja. Karena ku perlu meneruskan urusanku yang semoga senantiasa dalam kemudahan. Sedangkan engkau, semoga lancar segala urusan, ya. Tertemukan segala harap, selesai dengan senyuman yang masih menebar pada wajahmu.

***

“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain kecuali mereka yang bertakwa.” (Tafsir Az Zukhruf Ayat 67-80)  – See more at

Sahabat. Tidak semua orang dapat menjadi sahabat kita. Namun, saat seorang sahabat ada untuk kita, maka menjaganya dengan baik menjadi pilihan. Supaya sahabat tidak hanya ada hari ini saja, namun sampai pada ‘hari itu’ ketika teman-teman karib saling bermusuhan satu sama lain. Akan tetapi sahabat tidak memusuhi kita, karena mereka adalah sahabat yang bertakwa.

Bahagia, sungguh bahagia menemukan sahabat seperti ini. Sahabat yang tidak hanya mementingkan ego dan kepentingannya sendiri, namun lebih memahami dan mengerti. Tidak hanya mau berbicara-bicara saja, tapi menjadikan tindakan setiap bicaranya. Bukan hanya memberi harapan-harapan saja. Akan tetapi, berusaha untuk menjadikannya nyata. Ini sahabat yang sesungguhnya. Sahabat yang tidak boleh hilang dari perjalanan. Ia yang ada dalam ingatan, walau jauh dari pandangan.

Sahabat yang ku maksud adalah mereka yang sesekali menyapa, bila jauh jarak membatasi untuk bertemu lagi. Atau, sesekali datang berkunjung, membawa senyuman. Di antara waktu-waktu tersibuknya, ia sempatkan juga bersinggah, meski sejenak. Walau sebentar, sekalipun untuk ketawa-ketiwi berhaha hihi, tidak mengapa. Dengan begini, ia merasa hidupnya tersinari lagi. Membersamai sahabat menjadikan semangat hidupnya tumbuh lagi. Meski kunjungannya sudah menjelang malam, ia masih sempatkan. Sahabat seperti ini, ku hargai sungguh tinggi nilainya. “Hello, sist… I am happy with your happy.”

Sahabat, sekalipun dalam kebersamaan kita, engkau sempat merajuk karena ku usili dengan tingkah anehku yang engkau pun tahu. Actually, just kidding, Sist. Jangan masukkan ke hati yaa. Esok, lusa kapan-kapan, kita bertemu lagi, ku ingin menyaksikan senyumanmu yang cemerlang. Atau, wajah manyunmu tidak menerima keusilanku yang terkadang kambuh di depanmu. Karena aku suka, menyaksikan ekspresi berbeda dan unik darimu.

Sahabat, adalah ia yang juga tahu, kapan bercanda, kapan serius, dan tidak kenal waktu untuk menyenangkan dan memenangkan hati sahabat dengan caranya. Sehingga, kebersamaan dengan sahabat menjadi sangat berkesan, sulit terlupakan. Sebab, antara ia dan sahabat sudah sehati. Sehingga saling memaklumi. Akibatnya, tidak ada lagi kekesalan atas perlakuan sahabat padanya, yang ada timbulnya rasa syukur. Karena mempunyai sahabat sepertinya.

Sahabat, selalu menarik untukku bahas. Karena seorang yang menjadi sahabat, sangat tahu apa maumu. Sekalipun engkau tidak menyampaikannya. Apalagi engkau menyampaikannya, maka sahabat bersegera menyambut uluran tanganmu untuk membantunya atau menerima bantuannya. Atas keterikatan hati, persahabatan menjadi semakin indah menjalaninya. Bersama sahabat, bahagia menjadi bertambah, sedangkan kesedihan mudah menetralisirnya. Begini persahabatan yang abadi. Saling mengerti, berusaha untuk menyunggingkan senyuman sekalipun sahabat melukai hati. Tapi, yang namanya sahabat, tidak sedikitpun bermaksud melukai, hanya karena pedulinya berlebih, ia menyampaikan yang berasal dari dalam hatinya. Dengan tulus yang ia punya, bersama ikhlas yang ia beri, sahabat memberikan utuh.

Sahabat juga, tidak melarang-larangmu untuk melakukan hal-hal yang engkau inginkan. Namun, ia mempunyai cara untuk memantaumu. Memberimu banyak ruang untuk mengenal dirimu sendiri. Sehingga engkau melakukan hal-hal yang semestinya engkau lakukan. Sedangkan keberadaan sahabat dalam hidupmu bukan sebagai pengawal yang mesti tahu kamu mengapa ada di mana sama siapa. Tapi, sebagai sahabatmu, ia tahu bahwa engkau lebih tahu yang terbaik bagi kebaikanmu. Makanya, ia membiarkanmu bergerak tanpa mencegah, memberimu jalan tanpa menghalangi, memberimu sinar tanpa takut kehilangan sinar, membuka kesempatan untuk berkembang bersamamu tanpa takut tersaingi. Begitu sahabat memperlakukanmu, karena baginya engkau adalah dirinya.

Sahabat, memilikinya seperti memiliki seluruh dunia dan isinya. Kebersamaan dengannya menambah suka, sedangkan berjauhan dengannya memunculkan rindu. Maka, inginnya bersama-sama dengan sahabat selalu. Tapi mana bisa? Sebab sahabat pun mempunyai jalan hidupnya sendiri yang kita tidak tahu. Dengan begini, menambah keyakinan diri sebagai bagian dari sahabat, untuk mendoakannya selalu. Ketika dekat, saat jauh, kebaikan sahabat menjadi harapan yang terwujud dalam pinta kepada penggenggam jalan hidup. Supaya Dia menjaga sahabat selalu, saat penjagaan tidak sampai padanya. Agar, sahabat kembali dengan selamat, saat harus berpisah untuk meneruskan perjalanannya. Kebaikan demi kebaikan, ia lantunkan mewujud doa dalam waktu-waktu terbaiknya.

Sahabat bukan juga orang-orang yang serba mau tahu dan sok tahu kehidupan sahabatnya. Akan tetapi, sahabat tahu diri posisinya. Sehingga, tidak serta merta menganggap sahabat sebagai miliknya yang tidak boleh ke mana-mana, tidak bisa ngapa-ngapain kalau tidak bersamanya.

Haii, sahabat yang sesungguhnya, paling tega melepas sahabatnya pergi, demi kebaikannya. Dari pada bersamanya selalu, tapi membuat sahabat tidak dapat menjemput citanya. Begitulah sahabat, ia mau berkorban untuk sahabatnya. Tidak mau menang sendiri, tapi lebih memilih mengalah.

Ah, engkau sahabat yang membuatku sumringah.

Sahabat, ada di dalam berbagai kondisi genting. Apakah kita meminta ia datang, atau tiba-tiba sudah di depan mata tanpa kabar-kabari. Lalu, mengembangkan dua lengannya lebar-lebar, siap merengkuh dan menenangkan. Ketika ia tahu, kondisi sahabatnya tidak sedang baik-baik saja. Lalu, ia mendengarkan segala keluh tanpa merasa terbebani, namun memposisikan diri sebagai sahabat yang ia dengar keluhannya. Kalau aku mengalami kondisi seperti ini, aku akan sangat senang sahabatku memperlakukanku begini. Maka, ia pun berempati.

Sahabat, tidak hanya ada ketika sahabatnya dalam kebahagiaan, lalu tertawa bersama-sama, tersenyum berseri-seri. Tapi, dalam kondisi terumit sekalipun, sahabat siap sedia meruangkan waktunya untuk sahabat. Bukan untuk mengharap balasan materi, namun atas panggilan hati. Karena baginya, arti seorang sahabat tidak dapat diukur dengan materi sebanyak apapun jumlahnya. Namun nilai seorang sahabat, seperti intan di dasar lautan yang tidak sembarang orang dapat menemukannya.  Harus bersusah-susah dulu, untuk mendapatkan. Mesti membayar mahal dulu untuk melihat kerlipannya. Dan kini, saat sahabat di depan mata, ia memperlakukannya bak Tuan Putri yang ia layani sebaik-baiknya.

Sahabat, tidak peduli sahabatnya berasal dari latar belakang apa. Namun yang pasti, ia mau menuju masa depan lebih baik bersama sahabat. Sehingga, belajar bersama bersinergi dan bertumbuh adalah perekat erat jalinan persahabatan yang tercipta. Untuk sama-sama ingin menyaksikan rona bahagia bersemi pada wajah sahabat, ketika tiba masa tersenyum bersama. Untuk sama-sama menguatkan dan saling menghapus airmata yang menetes di pipi, ketika duka melara. Saat tidak ada lagi yang bisa membuat senyuman menebar di pipi, maka sahabat datang membawa kelucuannya, lalu tersenyum dech bersama-sama.

Sahabat, mudah mengingatkan tentang makna syukur. Ia tanpa diminta pun tanpa diprediksi, tetiba sudah bicara begini pada orang di sampingnya, “Bersyukurlah, maka ada saja kemudahan yang datang. Aku mengalami sendiri tentang hal ini. Saat aku mengeluh, ada-ada saja yang menimpaku dan membuat keluhku semakin banyak. Maka, dari hari ke hari ku perhatikan sikapku sendiri. Ketika ku merasa kurang bersyukur, esok ku belajar bersyukur.

Ku mulai dari hal-hal yang sederhana tapi sangat luar biasa. Ketika bangun pagi hari, ku kembangkan senyuman lebih lebar, ku syukuri udara segar yang ku hirup dengan leluasa. Ku ucapkan Alhamdulillah, serta merta ingatanku berkelana ke ruang-ruang rumah sakit. Dari rumah ku berangkat, lalu menelusuri koridor rumah sakit, selanjutnya masuk ke sebuah ruang. Di sana sedang terbaring seorang pasien yang untuk bisa bernafas saja, ia perlu membayar biaya sungguh mahal. Sedangkan aku, bisa melihat langit biru membentang tanpa bayaran apa-apa, gratis. Lalu, aku kembali ke rumah, bersyukur.

Alhamdulillah. Lagi dan lagi ku ingat orang-orang yang belum punya beras untuk makan hari ini, sedangkan aku tidak begitu. Maka, belajar bersyukur dari waktu ke waktu, ku lakukan.

Benar saja, hari-hari ku mengeluh, keluhan demi keluhan datang susul menyusul. Seiring anakku sakit, bolak balik berobat ke rumah sakit dengan biaya yang tidak murah.

Benar saja, hari-hari ku bersyukur, kemudahan demi kemudahan memperindah hari-hariku. Seiring lancarnya usahaku, bertambahnya omset dengan nilai yang jauh dari prediksiku.

Maka, aku menyampaikan ini bukan menceramahi, tapi membagikan kebaikan yang ku alami sendiri. Berbagi pengalaman, dan aku ingin kebaikan tersebut bukan aku saja yang mengalaminya. Aku juga ingin orang-orang di sekitarku merasakan hal serupa. Maka bersyukurlah, nikmat bertambah. Gitu, Paaa… 😀 Ini pengalamanku pribadi yang ku bagi.” Ia menutup dengan senyuman berseri, karena sukses berbagi kebaikan versinya.

Sedangkan aku yang ada di dekat mereka, menjadi terinspirasi. Ku senyumi ia sahabatku, sambil mengangguk menyetujui yang ia sampaikan. Berikutnya, ku bertekad dan ingin membagikan kebaikan yang ia sampaikan. Lalu ku rangkai di sini sebagai kenangan tentang kebersamaan kami.

Ia sahabatku. Ia yang mudah berbagi, senang berekspresi. Sahabat yang tidak dapat ku cari di mana-mana, karena ia hanya satu. Sahabat dengan keunikan yang ada padanya. Terlepas dari adanya kekurangan dan kelebihan yang ia punya, ia tetap sahabatku. Sahabat yang ku tiru kebaikannya, ku jadikan hikmah ketidakbaikannya. Sahabat yang menitipku banyak pesan dan kenangan sepanjang kebersamaan kami. Sahabat yang sampai hari ini ada bersamaku, semoga beliau senantiasa dalam proses menuju hari-hari yang lebih baik.

Sungguh. Bersungguh-sungguhlah menemukan hal-hal yang dapat membuatmu bersahabat dengan sahabat terbaikmu. Meski bersahabat tidak selalu dengan orang-orang sebaya denganmu.

Sahabat, beliau adalah juga orang-orang yang ku bersamai saat menunggu. Entah beliau yang mendekat dan menyapaku, atau aku yang menyapa beliau terlebih dahulu. Awalnya biasa saja, lama kelamaan, kami pun menjadi semakin bersahabat. Ya, aku bersahabat dengan beliau yang menjaga, sopan dan menghargai. Bukankah sahabat ada di mana-mana dan mudah menemukannya? Siapa sajakah mereka?

Apakah bisa menemukan makna persahabatan dengan orang-orang yang tidak selalu sebaya dengan kita? Apakah engkau menjadikan mereka sebagai sahabatmu? Semudah itu? Engkau bertanya.

Langsung menjadikan sahabat, orang-orang yang engkau terima nasihatnya? Langsung mempersahabati orang-orang yang membuatku tiba-tiba bisa berekspresi lepas? Semudah itu persahabatan terjalin? Engkau masih bertanya.

Jawabannya, “Iyah”.

Sekarang, melangkahlah dari tempatmu berada. Lihatlah, perhatikanlah, siapa saja yang ada di sekitarmu dan bersikap bersahabat padamu. Mereka adalah sahabatmu. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s