White Jasmine :) Just for You

Aku Cinta KamuHai teman, senang bisa berjumpa lagi untuk menyapamu, atau menerima sapamu. Pertemuan meski tanpa tatap mata, tidak mengapa. Aku datang lagiii, untuk menitipkan sebaris senyuman tentang hari ini ku di sini. Ada apa hari ini? Bagaimana ku ingin mengabadikannya? Yuuk, kita lihat cuplikan berikut ini.  😀

Ini tentang caraku menyemangati diri sendiri, mengembalikan motivasinya, menghidupkan senyumannya dan membuatnya mau meneruskan perjuangan lagi. Supaya, apa? Untuk ku senyumi lagi, nanti, di hari nanti, kapan-kapan membacanya lagi.

***

Dahulukan Allah. Sekali lagi, untuk kelancaran urusan-urusanmu. Mulai aktivitas dengan membaca nama-Nya. Bismillaahirrahmaanirrahiim. 

Luaskan hatimu. Luasnya langit yang Dia luaskan, perhatikanlah dalam waktu terbaikmu. Luas yang tanpa tiang, namun engkau tidak merasakan kegamangan  saat bernaung di bawahnya. Seluas langit yang menjadi atap bagi bumi. Bumi yang Dia hamparkan, menjadi tempatmu berpijak. Hamparan yang juga luas, sangat luas. Di sana engkau berada kini, menapakkan kaki, merehatkan raga, memperhatikan ciptaan-Nya.

Bangkitlah, lalu bergerak, melangkah dan perhatikan yang ada di sekitarmu. Semua ada untukmu, menjadi jalan hadirkan syukur. Semua memberimu kemungkinan untuk bersabar bersamanya. Semua menjadi bagianmu di dunia, yang Dia berikan sepenuh cinta. Maka, cintailah mereka sebanyak cintamu yang ada.

Tinggikan citamu, meski tidak semua Dia berikan untuk menjadi nyata. Namun dengan kecukupan yang Dia titipkan padamu, engkau bisa bersemangat lagi. Bersemangatlah meneruskan hidupmu. Karena waktumu tidak lama menuju ajal yang tidak dapat engkau hitung jumlah harinya. Apalagi untuk menerka. Tidak, sekali lagi. Engkau tidak mengetahui jumlah angka harinya yang tersisa untuk engkau jalani. Namun yang pasti, akhir perjalananmu di dunia ini, ada. Maka, jangan lupa mengingati akhir usia yang bisa datang tiba-tiba. Karena setiap diri sudah mempunyai ajalnya masing-masing. Apakah esok, lusa, atau bulan depan? Bagaimana engkau mempersiapkan diri?

Persiapkan dirimu. Perjalanan libur sepekan saja, engkau bersiap sesempurna mungkin. Mempersiapkan apa saja yang akan engkau bawa, atau penunjang kelancaran liburanmu. Sebelum merantau pun, engkau membawa bekal. Lalu, bagaimana dengan kematian yang siap menjemputmu? Apakah engkau ingat tentang hal ini?

Bersabarlah dan bersyukurlah sedikit lagi. Sebelum mengeluh, bersyukur lagi. Sebelum mengomel, bersabar lagi. Sebelum memarahi, tanya diri. Apakah ia sudah selalu benar? Sehingga pantas memarahi? Mungkin ini berat bagimu. Namun, tidak ada yang tidak mungkin, bukan? Selagi ingatan pada akhir kehidupan menyertai, engkau bisa membiasakan diri. Engkau bisa menanya diri, mensabari yang engkau temui. Kemudian, menjadikannya sebagai jalan kembalikan ingatan kepada-Nya lagi. Sehingga hatimu tenang dan tenteram, tidak mudah marah lagi. Selanjutnya, dari hari ke hari engkau berubah menjadi insan yang sabar. Engkau yang tidak mau menang sendiri. Akan tetapi lebih mudah memaafkan, mensabari. Ini indah, menjalaninya.

Tebarkan cintamu. Dengan cinta yang engkau punya, hari-hari pun engkau jalani bersama senyuman berseri. Bila pun ada yang mencari-cari cara membuatmu ingin meluahkan em-osi, engkau bisa mengendalikan diri. Karena engkau mencintainya. Dan kemudian memberikan sebagian cintamu kepadanya. Meski tidak engkau sampaikan, walau cinta tidak terlihat. Namun, engkau ekspresikan dengan senyuman yang engkau tebarkan. Semudah itukah? Tidak, memang tidak mudah, seperti teori. Karena praktek terkadang penuh dengan uji. Sekali lagi, apakah engkau masih mau membiasakan diri? Maka,  terbiasalah ia. Selagi engkau mau tersenyum, maka tersenyumlah ia.

Pelajari teori. Teori ada untuk kita baca dan pahami. Sedangkan praktek ada untuk kita lakukan. Karena bukan praktek namanya, kalau tidak pernah kita lakukan. Namun ada waktu kita melakukan praktek tanpa teori, namanya mencoba. Lalu, bisa langsung sukseskah? Hai, ada kemungkinan langsung sukses dengan lancar tanpa ada kesalahan berarti. Namun, ada juga error yang engkau temui dalam praktek. Bahkan setelah engkau mempelajari teori terlebih dahulu, error kadang tertemukan juga. Lalu, pasrahkah engkau? Berkata aku tidak bisa lagi, aku putus asa. Haaaaaaaaaa…? Ini kesempatanmu memperoleh pengalaman, bukan? Ayo, coba lagi.

Engkau bisa. Baik. Baik, ku pikir engkau sedang menangkap maksudku. Engkau tidak mungkin putus asa, bukan? Engkau juga tidak langsung pasrah dan berkata lelah, bukan? Karena engkau tidak begitu. Engkau bukan si putus asa yang mudah berhenti ketika bertemu kesalahan. Engkau juga bukan orang yang mudah pasrah setelah sempat menemui kegagalan. Namun dengan tekad membaja, engkau sampaikan pada dirimu sendiri, untuk mencoba lagi. InsyaAllah, semangat!

“Ayo, semakin semangat.”

Kegagalan adalah bagian dari kesuksesan. Bersamanya, engkau temukan teori-teori, seiring kegagalan demi kegagalan yang engkau temui. Supaya kegagalan yang sama tidak terulang lagi, dengan cara serupa.

oiYah?

Engkau temukan tips-tips menyikapi kegagalan. Ini namanya belajar. Belajar itu menyenangkan, bukan? Kalau menyenangkan, maka belajarlah lagi. Sampai engkau bisa.

Temukan cintamu, bila belum ada. Setelah salah, engkau temukanlah cintamu. Engkau mulai mencintai yang engkau lakukan. Barangkali, kesalahan demi kesalahan engkau temui dalam praktekmu, karena engkau belum melakukannya dengan cinta. Makanya, engkau sering menemukan kesalahan demi kesalahan. Tapi, setelah kesadaran muncul atas kesalahan, engkau belajar mencintai. Mencintai kesalahan yang bisa engkau perbaiki menjadi benar. Mencintai kesalahan yang mungkin tidak dapat engkau perbaiki karena ia telah terlanjur ada.

Belajar memaafkan. Salah sekali, masih mudah engkau maafkan. Salah dua kali, engkau maafkan lagi. Namun, kalau berkali-kali salah dan engkau tidak lagi memaafkan, tandanya engkau masih belum mencintainya. Akan tetapi, saat pemaafan sudah berulang kali engkau berikan, seiring kesalahan yang engkau temui, cintamu semakin banyak untuknya. Lalu, apakah memaafkan berarti mencintai? Sepenuhnya tidak begitu. Namun, begitulah caramu untuk belajar mencintai. Ya, dengan memaafkan.

Mulai merapikan. Haii, selama ini engkau suka meracau dan mengacau kata? Engkau bilang sedang mengolah adonan untuk engkau sajikan sebagai persembahan terbaikmu pada semesta. Namun yang ada? Engkau malah mengacau dan menimbulkan kekacauan bersamanya. Akibatnya?

Banyak yang berantakan, ada juga yang bertebaran, tidak rapi lagi jadinya. Maka, mulailah bergerak, merapikan sedikit demi sedikit. Berusahalah, menempatkannya pada tempat yang semestinya. Kalaupun masih lama waktu yang engkau perlukan untuk menjadikannya rapi, optimislah. Engkau sudah membuatnya berantakan seperti ini, maka menjadi tugasmu merapikannya lagi. Semudah engkau mengacak-acaknya, semoga mempermudahmu untuk merapikannya juga, yaa.

Iya, iya, semangatlah, Sayang. Aku ada bersamamu untuk menemani, bantu-bantu sedikit-sedikit. Kalaupun ku tidak bisa membantu, setidaknya ku senyumi dari kejauhan. Hai, aku tidak pergi lagi darimu, namun selalu ada.

So sweet, friendship. Iya, engkau sahabatku. Antara kita, memang selalu seperti ini. Kalau engkau dalam masalah, aku ada menjadi teman. Saat engkau sedang kalut, ku datang memperhatikan. Sekalipun aku bicara dan tidak engkau dengarkan, aku tetap di sisimu memberikan kepedulian. Tetap semangat yaa, semua ini ku lakukan demi mewujudkan persahabatan kita menjadi benar-benar ada.

Aku cinta kamu. Aku? Iya, siapalah aku tanpamu. Aku tanpa raga, engkau membawaku. Aku tanpa suara, engkau mengajakku bersuara. Aku tanpa harapan, engkau memberiku harapan. Aku tanpa keinginan, engkau titipku keinginan. Aku bodoh, tidak tahu apa-apa, engkau mengajakku belajar lagi. Maka, aku menjadi cinta padamu. Ya, dengan caraku, masih caraku. Mungkin engkau tidak pernah tahu, maka ku beri tahu yaa, “Aku cinta kamu.”

Bagikan senyumanmu. Ya, tersenyumlah. Iyah, tersenyumlah. Sekarang juga. Senyuman yang siap engkau bagikan kapan saja. Karena senyumanmu adalah senyumanku juga. Begitu pun dengan hal sebaliknya. Engkau tidak tersenyum, aku juga tidak bisa senyum jadinya, kan. Maka, yuk kita tersenyum lagi. Hihii.  😀

Bertanyalah pada Bunda. “Tidak mengapa. Ibunda di sini, mendoakanmu senantiasa. Petik hikmahnya, temukan kebaikan di dalamnya. Jadikan sebagai cara untuk mengembalikan ingatan kepada-Nya,” jawab ibunda.  Jawaban yang ku terima dengan perasaan lapang, sentosa dan lega. Jawaban yang ku terima dari beliau, sebagai salah satu solusi atas pertanyaan yang ku sampaikan.  Pertanyaan demi pertanyaan yang muncul dan ku sangat ingin tahu jawabannya.

Iya, tidak mengapa. Tenang dan lanjutkan perjuangan, Nak. Melangkah lagi dengan semangat. Engkau bisa menjalaninya. Engkau mempunyai kesempatan untuk menyeleksi yang baik mana dan tidak mana.

Ya, tidak mengapa, jawaban yang beliau berikan. Tepat setelah ku uraikan uneg-uneg yang bertumpuk dalam pikiran terkait keadaan demi keadaan yang ku temui. Keadaan demi keadaan yang baru bagiku. Keadaan yang ku jalani akhirnya, dengan senyuman. Terima kasih, Ibu.

Akui kesalahanmu, keteledoranmu, dan belajar mengubahnya. Dengan mengakui kesalahan, engkau mengetahui cara memperbaiki diri menjadi lebih baik. Kalau tidak mau mengakui kesalahan, engkau masih tetap begitu-begitu saja, tidak bisa berkembang.

Hei, bukankah engkau ada untuk ini? Untuk mengembangkan diri, belajar lagi, mengetahui hal-hal baru dan memperhatikan perubahan demi perubahan terbaru di dunia sana? Nah, mereka yang menyalahkanmu, terimalah. Rengkuh penyalahan mereka, lalu tanya dirimu. Apakah betul kesalahan tersebut terlalu fatal? Atau penyalahan yang engkau terima untuk kebaikanmu? Supaya engkau mengingat lagi, siapa dirimu?

Yes! Petik maknanya, lalu pelajari lagi yang benar itu seperti apa? Mau belajar lagi, ini lebih baik, bukan?

Lebih dalam, selami dirimu. Ada apa di dalamnya? Bagian mana yang menghadirkan kesalahan? Setelah tertemukan, cari cara memperbaikinya mulai dari dalam dirimu sendiri, bertekadlah. Laksanakanlah.

Munculkan lagi semangat baru, tepat satu detik ke depan.  Jangan hanya gemar menemukan kesalahan orang lain, sedangkan diri sendiri, kita malah belum mengenalnya dengan baik. Tentu sangat sayang, waktu kita habis mengulik-ngulik kekurangan orang lain, sedangkan diri sendiri terabaikan.

Terima masukan, dengan hati lapang. Mereka yang memberi masukan padamu, karena menyayangimu. Bagaimanapun cara mereka menunjukkannya, engkau hanya perlu menerima. Terimalah, dengan senang hati. Bagaimanapun caramu menerimanya, mereka tetap akan memberikan masukan padamu. Suka atau tidak? Senang atau tidak? Rela atau tidak? Selama engkau menjadi bagian dari sebuah lingkungan, maka selama itu pula engkau terhubung dengan orang-orang yang memperhatikanmu. Berbeda, kalau engkau tinggal di dalam hutan, sendirian. Atau di dalam gua, tanpa interaksi dengan kehidupan luar. Maka, tiada masukan yang akan engkau terima. Apa enaknya, coba?

Nah, berinteraksi dengan mereka yang peduli dan pengertian padamu, dapat menjadi cara menemukan sisi baikmu, atau hal-hal yang masih perlu engkau perbaiki dari dirimu. Ini baru menyenangkan. Hidupmu menjadi lebih hidup, semangat hidupmu meningkat dari waktu ke waktu. Sedangkan kebahagiaan? Bisa terkendali. Begitu pula dengan kesedihan? Ia dapat engkau kendalikan juga. Sehingga tidak bahagia berlebihan, bersedih pun secukupnya saja. Hidup seimbang, ini sempurna.

Bagikan kisahmu. Di mana engkau berada saat ini? Apakah yang engkau lakukan? Bersama siapa engkau melakukannya? Bagaimana engkau melakukannya? Mengapa engkau melakukannya? Apakah engkau benar-benar menyukainya? Atau karena keinginan sendiri? Temukan sebanyak-banyak pertanyaan dan jawablah sendiri. Meskipun engkau melakukannya bersama-sama dengan orang lain, sesekali tanyalah mereka. Bagaimana mereka melakukan. Seiring, engkau menemukan sisi berbeda yang unik untuk engkau syukuri. Dari sana, kisahmu pun tercipta. Selanjutnya, engkau bisa membagikannya, atau engkau nikmati sendiri. Namun, membagikannya, ku rasa lebih baik. Karena meski berjalan di jalan sama, dengan orang berbeda, berbeda kesan yang terhadirkan. Tergantung cara pandang. Lalu, bagaimana engkau memandang kehidupanmu? Seperti itulah engkau menjalaninya.

Heartfully. Ajak serta hatimu ke mana saja, melakukan apa saja. Hatimu ada bersamamu. Ia senantiasa membersamai. Namun pernahkah engkau menyadari, pada suatu waktu engkau uring-uringan tidak menentu? Engkau juga pernah merasakan hal ini? Tiba-tiba makanan yang ada di depanmu sudah habis semua? Padahal engkau merasa tidak menyentuhnya sama sekali? Engkau tidak menikmatinya, bahkan setiap kunyahan yang sampai di rongga mulutmu? Tiba-tiba sudah kenyang saja? Lalu engkau bilang, semua terjadi begitu saja. Tidak, bukan begitu. Tapi, karena engkau tidak melakukannya dengan hati. Saat makan, makan saja. Ketika minum, minum saja. Belum benar-benar menghayatinya. Tidak benar-benar menikmatinya. Tidak dengan hati. Ha? Makan juga harus pakai hati? Iyap. Betul-betul. Supaya setiap kunyahan mempunyai kesannya tersendiri. Minum juga pakai hati? Yes sangat. Supaya aliran air hingga sampai ke perut, terasa segarnya.

Have fun. Temukan aktivitas yang menyenangkan. Bagiku, aktivitas menyenangkan juga ada di sini. Ya, di sini. Tulis-tulis apa saja, baca-baca, jalan-jalan di dunia maya, bagiku ini sangat menyenangkan. Sehingga, di sini bertemu sinar-sinar berkilau yang membuat mataku terbuka lagi. Apalagi kalau suntuk sedang menyapa, membuka lembaran catatan tentang hari-hari yang ku jalani, dapat menceriakan wajahku lagi.  Seperti tidak percaya, namun ku mengalami. Seperti tidak menyadari, mungkin saat merangkai catatan, ku sedang bermimpi. Sudahlah. Aku senang, karena kini semua membuatku senyum lagi.

Kembali ke alam. Jalan-jalan sejenak untuk menghirup udara segar di antara jeda aktivitas, ini menenangkan. Temukan bunga-bunga yang menarik, lalu pandangi seksama.  Petik sekuntum melati, lalu dekatkan ke hidung atau selipkan di telinga. Menghirup aromanya yang menyegarkan, membuat perasaanmu tenang. Apalagi kalau pagi hari. Butiran embun yang masih menempel di kelopak daunnya akan jatuh perlahan saat engkau menyentuhnya.

***

Ini saja yang ingin ku bagi saat ini, teman. Semoga lain waktu kita dapat berjumpa lagi, yaa. Dalam pertemuan kata-kata, untuk saling mengingatkan dan atau menyapa. Untuk saling mensenyumi atau menitipkan inspirasi. Untuk membuat hari ini yang kita jalani menjadi lebih bahagia dari hari ke hari. Supaya hari esok lebih baik nan damai kita jelang dengan tenang.

Hingga akhirnya, meski sudah tidak dapat membersamaimu lagi seperti ini, ku masih ingin dalam kondisi mensenyumimu. Mensenyumi dunia yang ku tinggalkan. Walau bagaimanapun kesan yang ku temukan saat berada di sini. Meski apapun pesan yang ia titipkan untuk ku selama membersamainya. Intinya, ku ingin meninggalkannya dengan tenang dan senyuman. Seperti saat menyerahkan sekuntum bunga melati, untukmu.  []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s