Menemukan Cahaya-Mu

 

Picture dan note cantik :  “Segelas Kenangan”  — Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Pengasih.. Hamba pun bukan sesosok anak perempuan yang sholehah seutuhnya..  Entah seberapa banyak sudah kesalahan yang hamba lakukan sampai detik ini.. Sudah seberapa banyak dosa yang terkumpul selama ini.. Ya Allah ampuni hamba.. Tuntun hamba ke jalan untuk menuju surga-Mu.. Meski dosa yang menggunung ini Ya Robb.. Tetap buat hamba berada di jalan-Mu.. Hingga akhir hayat hamba.. AMIN YA ROBBAL ALAMIN  :’)

Seringnya begini. Menjalani kenyataan dengan sebaik-baiknya adalah jalan hadirkan senyuman. Yah, kenyataan adalah kemewahan yang membuat binar-binar bahagia mencerahi wajah. Hingga hari ini hadir, senyuman ku paksakan membersamai wajah. Hah! Terpaksa? Engkau becanda?

Iyah, tepat sebelum sampai di sini, aku ternyata belum tersenyum sama sekali. Oleh karena itulah, ku rangkai catatan lagi, untuk mensenyuminya. Senyuman seperti apakah yang ku ruangkan untuknya?

***

Kondisi bagaimanapun yang ku alami dan ku temui sepanjang perjalanan hidupku, ada yang sangat berarti di dalamnya. Siapa lagi kalau bukan seorang ibu. Yah, ibu.

Ibunda, ibuku yang sahaja, sangat baik dan sering meneladankanku bagaimana bersikap. Beliau yang jauh dari mata, sering menyapa meski ku sedang tidak mendengarkan suara beliau.

Ibu yang membuatku sangat bahagia, menjadi bagian dari diri beliau. Ibu yang membuatku mudah meneteskan airmata, ketika ada yang menyinggung-nyinggung tentang beliau terkait diriku. Ibu yang ku mau bahagiakan, begini citaku sejak lama. Ibu yang memesankanku hal-hal penting. Ibu, yang menjadi jalan sampaikanku hingga ke sini, dengan doa-doa beliau, dengan restu dan izin beliau. Sehingga kita masih dapat berjumpa dan bersapa, teman… Ibu yang ku rindukan saat jauh dari beliau. Ibu yang menjadi teman, saat kami bersama. Ketika teman tiada di sisi, sehingga aku tidak sendiri. Sungguh, mengenang hal ini, membuatku terharu lagi. Beliau perempuan yang berhati mulia.

Ibu, mulia dengan perasaan yang beliau beri padaku, dan aku saja yang suka kadang tidak ngeh atas rasa yang beliau punya. Sedangkan beliau, sering-sering membuatku terpesona dengan ikatan hati kami. Yah, beliau yang tiba-tiba meneleponku, saat ku sedang mengalami keadaan sulit. Beliau yang seakan tahu, bagaimana kondisiku. Lalu bertanya dengan mengalirkan ekspresi ceria, padahal saat itu ku dalam kesedihan mendalam. Hingga, aku pun terbawa suasana, lalu tersenyum bersama beliau. Meski pertemuan kami hanya melalui suara, ketika kami berjauhan raga. Ibu yang ku jaga, dalam ingatanku.

Semua bermula, ketika ku terima pesan yang membuatku segera teringat pada ibunda. Ibunda yang jauh di mata, namun nama beliau ia sebut-sebut. Siapakah ia?

Siapapun ia adanya, pun bagiku sangat berarti. Ia yang tidak dapat tidak menjadi penyebab mengalir deras airmata di pipi, sangat deras. Ini tentang ingatan. Ingatan yang tidak hanya dalam pikiran, namun menempel di dalam hati. Sungguh, lekat dan sesekali ku ingat lagi, membuatku ingin merangkai catatan tentang hal ini. Tentang kenangan.

Ini tentang perhatian berlebih yang ia beri. Ini tentang pengertian tambahan yang ia bagi. Ini tentang sosok yang ku bersamai dalam hari-hari. Ini tentang janji yang ku genggam dengan diri sendiri. Ini tentang tekad yang ku bawa pergi. Ini tentang menjaga sekeping hati yang menemani.

Walaupun saat airmata menderas di pipi, hanya sebagian hati yang membersamai diri. Karena sebagiannya lagi menemani ibunda nun jauh di sana. Makanya, saat ia mencolek sekeping hatiku hingga tersentuh dan aku tersedu, ingatan pada ibunda segera hadir. Ditambah lagi ia mengingatkanku juga pada ibu, seketika. Semakin menderulah airmata, tidak dapat ku kendalikan. Terisak, tanpa merasa malu, di depan orang yang asing bagiku. Terisak, tanpa merasa ragu, di depannya yang semestinya ku jaga image.

Tapi, tidak bisa begitu. Setelah terbawa perasaan, aku pun menggugu. Pilu, haru, lalu membanjir airmataku. Ia juga tahu, bagaimana perasaan hatiku. Tidak bermaksud mendahului, namun merasa bertanggung jawab, inisiatifku ternyata keliru, huhuuu. Ingat skenario hidup ini, aku bisa tersenyum, sekarang. Karena bisa ku jadikan sebagai sebuah kisah tentang perjalananku, sebagai kenangan. Tersenyum manis.  Terima kasih, kenangan…  🙂 

Bersamanya, ku jalani hari-hari kelabu. Seperti tidak ada cahaya sama sekali. Malah, hampir setiap hari hujan airmata. Kalau pun tidak sekali sepekan, bisa dua sampai tiga kali. Jika tidak pagi atau siang, malam bisa menderu airmataku. Semua ini, mengajarkanku untuk berpikir. Tidak melulu merasa-rasa, membawa ke perasaan. Semua mengingatkanku untuk mau belajar, berubah dan menempuh proses.

Ingatan pada ibunda kembali lagi, dalam hari-hari yang ku jalani.

Teringat lagi pesan ibu, juga ekspresi beliau saat hari-hari terakhir kami akan berjauhan raga, “Nak, daun-daun di pohon tidak selalu rindang. Ada kalanya musim gugur tiba, dedaunan berjatuhan tersapu bayu. Ada masanya meranggas, lalu berganti daun yang baru. Seperti itu pula dengan kehidupan yang kita jalani. Ada waktu duduk di bawah pohon rindang nan rimbun, lain waktu tersinari mentari karena pohon tempat berteduh meranggas. Hingga tersisa ranting-ranting saja.”

Teringat lagi pesan beliau berikutnya, “Engkau lihat roda? Engkau tahu bagaimana ia bisa berfungsi? Yah, dengan berputar. Terkadang bagian bawah ada di atas, lalu bagian atas ada di bawah. Dengan terus berputar, ia menjadi berfungsi. Dengan bergerak, fungsinya masih ada. Seperti itu pula dengan hidup ini. Terkadang kondisi kehidupan mengajak kita pada kondisi yang disebut di bawah, maka ingatlah kepada Allah  dan tabah. Ada masa di atas, ingatlah kepada Allah. Sekali lagi, semua untuk mengembalikan ingatan kepada-Nya.”

Pesan demi pesan ibu, ku ingat saat melangkah. Nasihat demi nasihat beliau, ku jaga dalam hari-hari. Hingga tiba masanya, ku kehilangan fokus pada diriku sendiri. Maunya menjelajah jauh ke ujung negeri, pergi-pergi jauh sekali, lalu tidak kembali lagi.

“Haii, ke mana engkau hendak pergi, Sayang,” ku sapa diri berulang kali. Ku sampaikan padanya, untuk tetap di sisi. Apakah pikiran yang jauh menempuh perjalanannya, lalu pulang dengan letih. Apakah hati yang sering luka, karena apa-apa masuk ke sana. Apakah raga yang tidak mengenal lagi siang atau malam, ceritanya menjemput harapan, meraih mimpi.

Begini, aku mengalami kenangan perjalanan di dunia ini. Kenangan yang membuatku mau tersenyum lagi mengenangnya. Semoga engkau mengerti, lalu memahami, sampai tahap mensenyumi. Tersenyum bersamaku, sehingga ku tidak senyum sendiri, seperti ini.  🙂

Dari hari ke hari, aku melangkah. Masih jauh dari ibunda, pergi ke mana saja. Pikiran yang tidak bersamai raga, hati yang meninggalkan diri. Sampai semua menjadi titik balik yang membuatku tersadarkan. Setelah pingsan sejenak dalam perjalanan, saat bangun bertemu mereka yang menyapa. Mengingatkanku untuk berdiri, melanjutkan perjalanan bersama. Meskipun akhirnya, kami terpisah karena kecepatannya melangkah tidak sebanding dengan diri. Aku tertinggal jauh, jauh, sekali.

Ku ingat awal perjalanan, jauh di tengah belantara tanpa cahaya. Saat kelam, tanpa penerangan di sekitar. Setelah lama kelamaan, ku lihat seberkas sinar dari kejauhan. Sinar yang menyilaukan, membuatku tidak dapat menatapnya terus. Karena, sinar itu menyilaukan mata.

Aku bangkit, setelah menyadari bukan berada di alam mimpi. Aku bangun, setelah mempercayai kenyataan. Aku bergerak, setelah tahu, ada di mana. Aku sampaikan pada diriku sendiri, “Ayo, melangkah lagi.”

Langkah-langkah kecil ku menapak. Menatap rerumputan yang terinjak. Menyampaikan sapa padanya yang ku seruak sedikit demi sedikit. Mensenyuminya, walau awalnya berat. Membawa niat, untuk mendekati sinar yang mendekat, atau aku yang mesti mendekati sinar tersebut?

***

Saat pertanyaan hadir, jawaban pun hadir. Ketika ada kemauan, jalan-jalan membentang indah. Apalagi yang engkau ragukan tentang takdir? Apalagi pada pemilik takdir? Cepat, cepat, berpikir. Akankah engkau terus-terus berpikir? Cepat, segera bergerak. Akankah engkau terus-selalu bergerak? Tenang, tidak tergegas dalam memutuskan hasil pikir, namun menyapa rasa, lebih baik. Tanya hati, beri ia ruang untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang hadir.

“Aku ingin mempunyai teman-teman lebih banyak, mengenal orang-orang baru, menjadi bagian dari mereka yang pernah menjadi impian, bahkan masuk dalam impian tersebut dan menjalani kenyataan bersama mereka,” pikirku berdatangan. Ini kenangan.

Ku sebutkan dalam hari-hari, pada siapapun yang dekat. Ku rangkai catatan di ujung hari yang akan berakhir, tentang impian yang ada. Ku simpan lekat-lekat dalam hati, ke mana dan siapa yang ingin ku temui. Ku jadikan semua sebagai pelecut semangat untuk bergerak lagi. Ketika godaan hadir, saat keluh tidak dapat ku elakkan.

Tertakdir manusia, untuk menjalani hidup di dalam catatan yang telah tertulis untuknya, sebelum lahir, bukan? Bahkan sebelum lahir. Ibu pun tidak tahu, takdir kita bagaimana?

Menempuh hari-hari, dalam kondisi lelah jiwa. Menempuh masa-masa, dalam kondisi tidak mengenal diri yang ku bawa. Menjalani waktu, dalam pertempuran rasa dan pikir. Harus bagaimana? Mau ke mana? Siapa yang dapat ku tanya? Bagaimana memberikan jawabannya? Aku tidak tahu apa-apa, aku alfa, sering lalai, suka lupa, tidak mengenal semua. Lama-lama, mata terbuka, hati bicara, pikir berkelana. Meninggalkan diri yang tertunduk, terduduk, diam tanpa suara. Lagi. Mereka pergi.

Hening.

Sunyi.

Sepi.

Horor.

Waktu yang tersisa tidak banyak. Adakah kesempatan untuk dapat menyapa diri? Masih bisakah membuat ia mensenyumi dunia? Sebelum akhirnya, dunia yang ia tempati pun ia tinggalkan. Sebelum semua terhenti tiba-tiba. Tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Bagaimana? Bagaimana. Serius, ini sungguh membingungkan. Aku juga, sangat bingung. Tidak ada harapan, hari-hari kelam, tanpa pencahayaan, sendirian, berteman gelap.

Ada yang bisa ku tanya. Masih ada yang menyapa. Masih bisa memberikan jawaban. Ada jalan, setelah tahu kita mau ke mana?

Lagi dan lagi, ibu menyampaikan tanya. Tanya yang membuat diri bertanya. Ibu memberikan sapa. Sampai ku tidak dapat lagi menjawab. Maka, menenangkan beliau melalui uraian yang bisa ku sampaikan sebagai jawaban. Memberikan senyuman pada beliau melalui suara yang ku alirkan, sepenuh hati. Membagikan kebahagiaan dengan melakukan yang semestinya ku lakukan. Mengembalikan ingatan pada beliau, masih ku lakukan. Walau dari jauh, meski guyuran peluh membasahi tubuh. Aku tidak lagi mudah mengeluh. Aku tidak mau menangis tanpa alasan lagi. Aku percaya, semua ada maknanya. Aku ingat, pesan ibu yang membuatku teguh. Aku sadar, semua dengan keridhaan beliau. Aku ingin beliau tersenyum. Walau tidak dapat ku lihat langsung senyuman itu, maka kapanpun ku ingin beliau tersenyum, aku tersenyum. Kapanpun ku ingat beliau, aku tersenyum. Siapapun yang mengingatkanku pada beliau, ku senyumi. Bagaimana bisa?

Jauh dari beliau, ibu yang melahirkanku, tidak dapat ku terima begitu saja, awalnya. Walaupun beliau sudah lama melahirkanku ke dunia. Meski untuk merasakan kenyamanan bersama beliau lagi, tidak bisa. Apalagi untuk menjadi bayi yang belum lahir, lalu kembali ke masa janji dengan-Nya terikrar. Tidak lagi, tidak bisa. Karena, waktu telah membawa semua pada saat ini. Takdir.

Ibu yang tersenyum, ada dalam ingatanku saat sampai pada paragraf ini. Maka, untuk mensenyumi beliau, ku sampaikan barisan kalimat. Kalimat-kalimat yang membuatku tidak bisa tersenyum dalam waktu-waktu terakhir. Mungkin ada maknanya, yang tidak sampai pada pikirku saat ia hadir. So, solusinya adalah berbicara dengan ibunda lagi, untuk menyampaikan tanya-tanya yang bergulir dalam ruang pikir. Menanya beliau, untuk menemukan cahaya dalam pikir. Menanya beliau, ketika ku sangat ingin menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang hadir.

“Ibu, aku ingin tahu, ada apa dengan semua ini? Begini… Begini… , Bun,” ku tanya beliau lagi. Ku susun suara hati untuk meneduhkan pikir. Ku luahkan suara jiwa untuk mencerahkan hari. Agar senyumanku muncul lagi. Ibu pun tersenyum, cerah, mencerahkan. Bonusnya adalah, mengunduh berkah.

“Yaa Allah, meski tatap mata kami tidak bertemu. Jawaban yang beliau sampaikan, membuat kami berceria ria dalam menghabiskan waktu-waktu bertukar suara.

Ibu, aku rindu… kita bersama bertatap mata dan bertukar suara. Saat kini hanya bisa mendengarkan suara ceriamu, aku tersenyum. Tanya demi tanya mendapat jawaban. Kesempurnaan impian dalam kenyataan.”

Bisa sedekat ini dengan ibu, seperti kembali terlahir ke dunia. Tanpa beban apa-apa, belum bisa berpikir. Hanya merasa, haus lapar lalu menangis. Sakit dan menangis, ibu memeluk erat dan memberi obat. Hanya bisa menangis, walau masih merangkak. Tapi, dalam pantauan beliau semua terkendali. Sukses mengacak-acak segala yang tertemui, tanpa merasa bersalah. Seakan, semua masalah hidup berkurang, hilang sekejap dan pergi.

Ibu menasihatiku dengan sepenuh hati, untuk begini dan begini. Ingat, selagi masih berjalan di bumi menempuh kehidupan, roda berputar terus berganti. Pepohonan juga sama, ada masa meranggas lalu berdaun lagi. Ingat untuk mengerti, perjalanan hidup ini dalam kuasa Ilahi. Termasuk takdir yang sudah tertulis rapi. Percaya dan yakin, semua menjadi pengingat diri. Untuk kembali, kembalikan semua kepada Ilahi, pemilik diri.

“Dia, siapapun yang engkau temui, dalam doa ibu menyertai dirimu,” pesan Ibu.

Rasanya sejuk, seperti tertiup angin setelah berjalan di bawah terik mentari menyengat.

Kesannya damai, seperti melihat langit biru tadi pagi. Langit berhias awan gemawan berarak rapi. Terlihat rembulan mulai pias di ufuk Barat. Sedangkan mentari tersenyum di ufuk Timur. Menatap langit yang sesekali melintas roket menyisakan putih dua baris di belakangnya. Sesekali melintas pesawat bersama deru menggemuruh membersamainya. Sesekali, ku edarkan pandang ke sekeliling, awan gemawan bertukar formasi. Saling berbaris, mempercantik tampilan langit pagi. Atau burung-burung kecil melintas tepat di atasku, melintas begitu saja, mencericit meramaikan heningnya pagi.

Masih duduk beralaskan atap, beratapkan langit, ku suka pemandangan pagi seperti tadi. Pagi yang akan menjadi kenangan nanti, kenangan manis untuk ku ingat lagi. Tidak seperti kenangan pagi-pagi yang lalu, kenangan getir yang teringat sesekali. Melelehkan airmata saat menjalani, mengembangkan senyuman saat mengenangnya. Namun ia telah berlalu, ku ucapkan selamat tinggal… Tapi, saat ia menggodaku untuk mengenangnya seperti ini, ku jadikan sebagai pengingat untuk merangkai catatan nan mensenyumkan. Senyuman buat ibu. Ibu yang tersenyum.

Rasanya menenangkan, seperti melihat langit tadi malam. Langit berhias bintang-bintang berkelipan, dengan cahaya rembulan di balik awan. Malam yang indah, dengan sepoi angin menyejukkan badan. Membuatku ingin berlama-lama berdiri di teras menatap ke atas. Tadi malam juga kenangan, tapi kenangan manis, sambil mengingat ibu. Ibu yang tidak lelah mendoakanku, mengharapkan kebaikan perjalananku. Seperti engkau yang mendoakanku. Terimakasih ku pada ibu, padamu juga, teman. See you. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

2 Comments

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s