Writing, Reading, Smiling and Sharing

Welcome Smile

Ia mulai menulis…

Sejak menyadari keterbatasannya dalam mengingat, ia mulai mempunyai kebiasaan baru. Menulis. Ya, menuliskan sesuatu yang sangat ingin ia ingat lagi. Sesuatu yang akan mudah terlupa olehnya, bila tidak menuliskannya. Namun dengan menuliskan, ia dapat mengingat kapan pun ia membaca lagi. Apakah sebentuk pesan yang ia terima, atau kesan yang ia sampaikan.

Pesan-pesan yang ia terima, tidak selalu dapat ia tuliskan segera. Terkadang, ia menerima pesan saat berbicara dengan seseorang di depannya. Seseorang yang perlu ia perhatikan dengan saksama. Dalam kondisi ini, mempertajam ingatan, ia usaha. Berulang kali, ia mengingat. Bila tidak langsung menuliskannya. Lalu dalam kesempatan terbaik, menulislah ia.

Menuliskan inti pesan yang ia terima, menjadi jejak-jejak kata. Menuliskan catatan tentang pikiran dan suasana hati. Sehingga ia tahu, kondisi yang ia alami saat merangkai kata, terlihat setelah membaca hasil tulisannya lagi.

Saat merangkai tulisan, terkadang ia dalam kondisi haus dan lapar…

Sejak lama ia tidak sempurna memenuhi keinginannya dengan apa saja yang ia mau. Apalagi kalau tidak ada yang memberinya makanan, setelah ia kehabisan persediaan. Maka, rasa laparnya pun bertambah-tambah saja. Tapi, selagi masih dapat menulis; merangkai kata, laparnya sirna perlahan.

Saat lapar dan haus menemuinya, terkadang ia tempelkan telapak tangan di bawah rongga dadanya, untuk menepikan kekosongan perut yang ia rasa. Hingga sejuk menaunginya. Lalu ia menggerakkan jemari lagi.

Lapar sering meraja, dahaga juga tidak jarang menyapa. Tapi, ia mengakalinya dengan melakukan aktivitas yang ia suka. Sampai pada tahap menyenangi dan tidak merasakan dahaga lagi saat melakukannya. Ia menjadi asyik dan mulai menemukan cara menanggulangi dahaga meski tanpa mereguk setetes air.

***

Ia masih menulis, lalu membaca lagi, tersenyum dan rehat sejenak…

“Hai, menulis memang tidak mudah, yaa,” bisiknya pada dirinya. Sedangkan yang ia bisiki, tersenyum mengangguk saja dan masih meneruskan proses menulisnya. Tiada tanggapan yang ia terima melalui suara, meski dari dirinya sendiri. Hingga masa terus berjalan, waktu bergulir, tahun berganti, hari bertukar, senyumannya mengembang lebih indah.

Ia tersenyum pada bunga-bunga kata yang mulai bermekaran di taman hatinya. Ia tersenyum juga pada helai-helai kalimat yang melambai tertiup angin. Mereka menyejukkan ruang hatinya. Ia tersenyum pada sesiapa saja yang bersinggah di bawah pohon rindang tempat ia merangkai kata. Ia mensenyumi mereka, dengan sepenuh cinta. Ketika mereka bersua di sana, sama-sama berehat sejenak. Setelah lelah melangkah seharian, berpeluh keringat bermandikan sinar mentari. Untuk menambah energi dengan asupan makanan dan minuman.

Selama berehat, ada yang mampir untuk menyapa, atau melirik saja sembari lewat di dekatnya. Ada yang memberikan sebotol air untuknya, atau memberikan lembaran roti pengganjal perut. Tepat saat mereka bercengkerama, terkadang ia menerima pemberian yang sampai padanya. Lalu menikmati bersama-sama, sebagai tanda suka.

Ia rehat sejenak, untuk merangkai tulisan lagi. Merangkai catatan tentang perjalanan yang ia tempuh. Merangkai tulisan, tentang pesan-pesan yang ia suka. Merangkai tulisan, untuk menyampaikan kesannya tentang perjalanan.

Ia mulai membagikan rasa-rasa yang ia punya, melalui catatan. Ia mulai menepikan pikir-pikir yang ia terima, melalui tulisan. Hingga bertemu ia dengan para musafir lainnya, yang sempat berteduh di pohon rindang tempatnya merehat raga.

Ia kini mempunyai teman dan kawan. Mereka mulai berdatangan. Ada yang duduk-duduk dalam jeda waktu yang sama dengannya, ada juga yang berbagi saja lalu melanjutkan perjalanan.

Yah, agar kita dapat merasakan yang orang lain rasakan, kita perlu mau mendengarkan. Supaya bisa mengetahui ilmu pengetahuan, kita perlu membaca. Sedangkan menuliskan semua menjadi sarana untuk berbagi rasa-rasa dan hasil pikir yang kita punya. Agar tidak mengendap begitu saja, tanpa ada yang tahu. Supaya kita pun tahu, dengan membacanya lagi. Membaca tulisan yang kita rangkai, dalam kondisi apapun adanya.

Menulislah, untuk memberai kisah kita.

Menulislah, untuk mengenal diri kita.

Menulislah, untuk memberi arti pada sesama.

Menulislah, untuk mengabadikan ingatan.

Menulislah, supaya orang lain dapat membacanya.

Menulislah, untuk tersenyum 🙂

Membacalah, agar kita mengenal kisah orang lain.

Membacalah, untuk memperoleh arti dari sesama.

Membacalah, untuk mengembalikan ingatan.

Membacalah, untuk mengetahui.

Membacalah, bersama senyuman 🙂 🙂 🙂

Banyaklah menulis, lebih banyaklah membaca.

Menulis saja… lalu senyumilah.

Baca lagi… dan tersenyumlah.

Aktivitas membaca dan menulis merupakan usaha kita untuk memperindah hari-hari yang ada. Aktivitas tersebut membuat hidup kita menjadi lebih hidup. Tapi ingat, jangan terlalu ngebut. Teratur saja, sesuaikan dengan ritme yang kita bisa. Jangan juga melakukan sesuatu di luar batas kemampuan, tapi berproseslah. Maka, seiring waktu engkau menemukan keajaiban. Engkau bisa percaya, bahkan tidak percaya dengan hari-hari yang engkau jalani bersamanya.

Lagi dan lagi ku ingin mengingatkan, mengingatkan diri sekali lagi. Supaya ia masih mau membaca dan menulis, bukan bermalasan, tapi giat dan rajin. Untuk mencerahkan pikiran, meruangkan perasaan, membungahkan senyuman. Sebab, inilah hal sederhana yang dapat ku ritualkan dalam keseharian, ku rutinkan di sela-sela meneruskan perjalanan. Sebelum sampai di tujuan, dan aku tidak mempunyai kesempatan lagi melakukannya. Maka, berpenyesalan di awal perjalanan, masih bisa ku terima. Asalkan ujung perjalanan tersenyum penuh kebahagiaan.

Biarlah ada yang mengkritik atau memberikan masukan atas segala yang ada. Ku senyumi dengan kelegaan dan ketenangan jiwa. Sebab kritikan atau masukan ada, sebagai cara berkomunikasi dengan sesama pejalan yang ku temukan. Apakah aku yang menyapa terlebih dahulu, atau aku yang tersapa. Semua, membuat senyuman mudah menebari wajah, pikiran tercerahkan lagi, dan perasaan senang berseri.

Meyakini bahwa semua ada untuk menjadi kebaikan, maka memberaikan harapan lagi menjadi pilihan. Selanjutnya, menjaga harapan dalam perjalanan, memperhati niat untuk mengaca arah. Sedangkan tujuan adalah impian yang menggerakkan kaki untuk terus berjalan.

***

Dunia maya tempat berehat sejenak. Di bawah pohon rindangnya berbuah lebat. Ada buah nasihat yang dapat kita petik, ada dedaunan yang menaungi. Rehat dari penatnya aktivitas di dunia nyata.

Haaai, duduk-duduk di sini, lalu jalan-jalan lagi, aku suka. Menulis lagi, membaca juga. Hingga tertemukan jawaban dari tanya yang ada sebagiannya, di sini. Berikutnya, kembali lagi ke alam sesungguhnya, untuk meneruskan langkah-langkah kaki.

***

Ia pun meneruskan perjalanan…

Setelah mengisi raga dengan asupan minuman dan makanan yang ada, ia juga bersiap. Karena waktunya tidak banyak. Tidak mau berlama-lama duduk bersantai, ia pun melanjutkan perjalanan lagi. Dengan kekuatan raga yang bertambah, kini saatnya mengisi rasa.

Rasa yang ia punya tidak hanya untuknya, ia tahu. Rasa yang sampai padanya memang untuknya, ia mengerti. Maka, sepanjang meneruskan perjalanan lagi, ia pun berbagi rasa.

Aha! Ini indahnya meneruskan perjalanan. Kita dapat berjumpa sesiapa. Kita bisa mendengarkan kisah hidup dari orang yang berbeda. Kita juga dapat berbagi dengan mereka yang kita jumpa. Semua, menjadi jalan ingatan kepada-Nya. Bahwa ternyata, kita tercipta untuk saling berbagi.

Berbagi persediaan makanan dan minuman untuk raga. Berbagi ilmu pengetahuan untuk pikiran. Berbagi pengalaman untuk mendata perasaan.

Ia adalah diriku yang sedang dan masih meneruskan perjalanan. Sedangkan mereka adalah engkau yang ku temui dalam perjalanan. Engkau yang tersapa, menyapa, atau menitipkan pesan dan ku menjadi terkesan. Maka, menuliskan semua merupakan aktivitas yang bagiku sangat menyenangkan. Walaupun dari semua itu, tidak selalu menyenangkan. Tapi, itulah indahnya, supaya ku mengerti siapa aku dan juga engkau. Agar kita dapat saling mengerti, lalu meneruskan perjalanan hidup dengan kedamaian. Mau memaafkan saat ada yang terdzalimi, dan meminta maaf menyadari kedzaliman diri.

Ia adalah diriku yang tidak mau berlama-lama duduk manis merehat raga. Tapi siap meneruskan perjalanan lagi mencapai tujuan.

Setelah persediaan makanan dan juga minuman yang engkau bagikan, ku nikmati dengan senang hati. Assyiik, ada teman yang berbagi cemilan, “Terima kasih kawan, 🙂 “.

Ia adalah diriku yang menerima. Menerima dan membuatku terkesan. Maka, tidak ingin ku lupakan, namun menjadi ingatan atas kebaikan yang ku terima. Kebaikan lagi, dari seorang kawan. Saat ia memberi dan kami tidak dapat menyantapnya bersama-sama, maka ia membekaliku untuk ku bawa. Hehee.  Kalau mau memberi tetap saja memberi. Begini. Jangan maju mundur niatnya. Okey, sebagai pengingat diri. Seperti yang temanku lakukan untukku. Ia berniat memberi, lalu benar-benar memberikan sepenuh hati.

Seperti mentari yang bersinar lagi sejak pagi hari, dan selalu begitu. Ia datang tanpa kita harap, tapi senantiasa ada dan terbit saat hari berganti. Begitu terus terjadi, dari hari ke hari.

Lalu, bagaimana dengan kita? Apakah yang kita laksana di bumi ini? Kesempatan melangkahkan kaki masih ada, ke mana kita membawanya? Saat rasa-rasa yang muncul terus berdatangan, bagaimana kita mengelolanya? Ditambah pikiran yang pergi dan kembali lagi, siapa yang dapat mengendalikannya?

Bisakah kita ingat, aktivitas apa saja yang kita lakukan pada sepekan terakhir dengan jelas dan teliti? Tanpa terlupa sedetik waktu yang kita jalani? Bisakah kita membayangkan apa yang akan kita temui sepekan lagi dengan sempurna? Lalu, apakah yang kita rencana saat menjalaninya? Semua di luar batas kendali kita. Meski begitu, menuliskannya, dapat mengingatkan kita tentang apa saja yang kita laksana pada waktu lalu atau kita rencana masa yang akan datang.

***

Saat tertemukan yang engkau inginkan, jangan mudah merasa puas, tapi masih terus berusaha. Ingat, bahwa engkau akan berjumpa dengan kesukaan dan ketidaksukaan. Jadikan semua sebagai cara mengembangkan diri. Untuk mengenalnya lebih dalam lagi, mengajaknya berlari dan bahkan terbang tinggi. Tapi, biarkan hanya imajinasi yang terbang tinggi, sedangkan kaki tetap menjejak di bumi. Membersamai sekeping hati yang menemani. Supaya, tidak lupa diri.


Apabila ada apresiasi yang engkau terima, petik kebaikan darinya sebagai jalan menghadirkan syukur dari dalam diri. Lalu, tersenyumlah lagi. Senyuman yang engkau bagi, sebagai ekspresi diri.

Saat melangkah dan engkau merasakan lelah menerpa raga, rehatlah sejenak. Rasakan kesejukkan di sekitarmu. Perhatikan mereka yang masih melangkah. Jadikan sebagai motivasi diri untuk bangkit lagi setelah kesegaranmu pulih. Lagi dan lagi, seperti mentari. Walau sempat tertutup mendung dan sinarnya tidak sampai ke bumi, namun cerah masih ia perlihatkan. Sehingga siang tidak kelam, namun masih benderang. Pada mentari, engkau bisa memperoleh teladan lagi.

Dari waktu ke waktu, temukanlah pencerahan. Selagi engkau masih miliki kemauan, ada jalan membentang untuk engkau tempuhi. Ada sarana belajar yang siap menyambutmu. Bersemangatlah.

Untuk selanjutnya, belajar lagi bersama alam, dengan semangat. Kali ini, dari alam ku ingin membahas tentang air. Air. Ya, air. Mengapa air?

Air yang ku perhati pagi-pagi, di kamar mandi. Air yang menggenang di dalam bak mandi, atau mengalir. Air yang mengingatkanku lagi tentang fungsinya. Air yang mengalir, ku senangi. Sedangkan air yang terkumpul lama, dapat memunculkan bakteri-bakteri di dalamnya. Air yang segar, membuat wajah segar saat bersentuhan dengannya. Air yang ku perhati sekali lagi, ku amati dan juga ku senyumi. Bagaimana tidak? Karena dengan air, ku dapat membersihkan piring-piring kotor, mencuci pakaian, juga menggunakan bagian lainnya untuk mandi.

Betapa banyak fungsi air dalam kehidupanku hingga saat ini. Fungsi yang ku syukuri dengan memanfaatkannya sesuai kebutuhan saja, tidak berlebihan. Agar kebersamaanku dengan air tidak sia-sia, namun berarti. Sehingga penggunaan air tidak mubazir.

Ku sesuaikan kebutuhanku dengan fungsi air. Saat haus, aku meminumnya. Ketika butuh kesegaran, ku tebarkan ia di sekitar wajahku. Tapi, ada air yang ku tepikan dari wajahku, yaitu keringat yang muncul di puncak hidung atau pelipis.

Dari air, ku belajar. Belajar ingat kepada Allah Yang Memberi air untuk memenuhi kebutuhanku. Belajar ingat kepada-Nya, saat hujan turun ke bumi. Lalu saat air yang deras membasahi bumi, memuji-Nya mengingat-Nya lagi. Alhamdulillah, hujan turun lagi…  Sebagai nikmat-Nya yang terlihat untuk ku syukuri. Lain-lain lagi nikmat-Nya yang tidak terlihat, ku cari-cari dan ku temukan lagi. Salah satunya adalah ingatan yang tidak bertepi ini. Ingatan yang mengajakku ke sini lagi, untuk menitip barisan isi pikiran, suara hati dan juga senyuman. Senyuman untukmu, kawan… Engkau yang menjadi bagian dari hari ini ku. Siapapun engkau, di mana pun berada, tetap melangkah yaa.

Melangkahkan jemari untuk menulis lagi.

Melangkahkan pikiran untuk membaca lagi.

Melangkahkan kaki untuk menjejakkannya di bumi.

Agar lebih banyak kita bertemu dengan inspirasi. Inspirasi yang membuat hari-hari menjadi lebih indah untuk kita jalani. Inspirasi yang memberi kesempatan pikir untuk melangkah lagi. Inspirasi yang membuat senyuman mudah menebar. Berteman inspirasi, kita dapat berjumpa saat ini. Walaupun di sini, ku hanya tulis-tulis yang terpikir dan terasa. Sekalipun di sini ku datang sebentar saja, tidak berlama-lama. Meskipun sekadar untuk baca-baca saja. Tidak mengapa yaaa…?

Karena ku hanya ingin mengabadikan tentang hari ini yang ku jalani. Hari ini yang bertabur senyuman, lalu mensenyumimu yang ku temui di sini. Meskipun melalui sebuah catatan tentang apa saja. Seperti saat ini.

Pardon me, bila selama melanjutkan langkah-langkah jemari hingga jejaknya sampai di sini, ada yang tidak sudi. Namun ku masih saja ada lagi dan ada lagi.

Terima kasih, selama bertemu di sini, walau melalui rangkaian kata menjadi kalimat, engkau memberiku dan aku sukai.

Tolong ingatkanku juga, saat ada yang ku lupa dan semestinya ku ingat, dengan menuliskannya. Supaya, ingatan yang tidak abadi ini teringatkan lagi. Semoga kebaikan yang engkau bagikan, walau sebaris kalimat yang tersusun dari dalam jiwa, menjadi pemberat timbangan kebaikanmu di hadapan-Nya. Walau ku terlupa, dengan semua. Meski ku tidak menyadarinya, kebaikanmu yang ada untukku. Tapi tetaplah berbuat baik, karena ingatan kepada-Nya.

“Sekali lagi, untukmu ku titipkan kesan ini, tentang kebaikanmu. Apakah yang sampai padaku dan aku tahu, atau yang sampai padaku, dan aku tidak menyadarinya. Karena keterbatasan yang ku punya.” []

🙂 🙂 🙂

Advertisements