Sebelum Esok Datang

Engkau ingin menjemput hari esok yang lebih berbinar? Maka lakukanlah hal-hal penting dengan kemampuan dan kemauan terbaikmu. Penuhi diri dengan aktivitas yang berarti dan bermanfaat. Jangan pernah biarkan dirimu berhenti percaya dengan hari esok yang engkau idamkan. Sampaikan padanya melalui bicara atau menuliskannya dalam sebuah catatan. Walau singkat, meski pendek, ingatkan diri sekali lagi, tentang hari-hari yang engkau impikan.

Dalam proses yang engkau jalani, tentu tidak selalu menyenangkan. Jalan yang engkau lalui juga tidak selalu lurus membentang. Karena kerikil-kerikil di sepanjang perjalanan berserakan. Begitu pula dengan pepasir yang kecil-kecil dan halus itu. Mereka bisa saja terinjak olehmu atau ikut di dalam sepatumu. Kalau ini terjadi, maka kakimu menjadi tidak nyaman melangkah.

Selain itu, juga ada kemungkinan engkau bertemu dengan jalan-jalan berlobang di depanmu. Jalan-jalan dengan genangan air yang siap menyambutmu. Maka, berhati-hatilah melangkah, perhatikan jalan yang engkau lalui. Melangkahlah dengan sepenuh hati, bersama syukur menemani.

Ketika melangkah dan engkau bertemu dengan orang-orang yang mencelamu, karena hari gini masih berjalan kaki ke mana-mana? Saat ada yang mengejekmu dengan sindiran, sendiri aja, mana temannya? Saat mereka meremehkanmu dengan ucapan dan sikap mereka, jadikan semua sebagai penyelamat hati. Sampaikan padanya, “Maafkan mereka yang mungkin tidak mengerti.” Lalu, melangkahlah lagi dengan senyuman yang engkau tebarkan dari dalam hati. Bertekadlah bersamanya, untuk meneruskan perjalanan ini. Sampaikan pada mereka yang merendahkanmu, “Lihatlah yang ku alami di masa depanku. Hari ini ku memang begini, sedangkan engkau begitu. Namun tentang masa depan yang tidak pasti, kita masih dapat mengafirmasinya. Ya, melakukan yang terbaik hari ini, dengan kemampuan dan kemauan terbaik. Bersama keyakinan berlebih kepada-Nya, bahwa Ia penuhi janji.”

Mulailah dengan niat dari dalam hati terlebih dahulu, kemudian iringi dengan pikiran positif serta usaha. Selanjutnya jadikan sikap dalam kehidupan sehari-hari. Biasakan dan biasakan terus. Sehingga lama-lama menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang bermula dari niat, pikiran dan tekad membaja saat menjalani hari.

Setelah memulai dari diri sendiri, kelilingilah diri dengan lingkungan yang mendukung. Lingkungan yang turut memberikan dukungan untuk tercapainya impian. Karena percayalah bahwa, kita tidak pernah bisa melakukan apapun dengan diri kita sendiri saja. Namun bantuan dari luar diri kita juga sangat berperan tercapainya impian yang kita cetuskan. Mereka adalah keluarga, teman-teman dan sahabat, guru-guru kita, lembaga yang menaungi, komunitas yang kita ikuti, grup yang kita bergabung di dalamnya, serta alam termasuk sinar mentari, jangan lupakan ia, yaa.

Mentari yang tersenyum memulai hari, maka tersenyum juga bersamanya.

Mentari yang menghiasi hari dengan terangnya, hiasilah juga hari-harimu dengan penerangan.

Mentari yang bersinar lagi, bersinarlah juga.

Bersinarlah di duniamu dengan caramu.

Jadikan ia inspirasi.

Supaya, ketika lelah menyapa ragamu pada siang hari, engkau bisa melihatnya lagi yang masih tersenyum menyinari bumi. Kalau malam tidak bisa tidur karena banyaknya pikiran memenuhi ingatan, bangunlah dan lakukan sesuatu. Engkau bisa menggunakan waktu-waktu tidak ngantukmu dengan membaca al Quran, menulis atau menonton TV.

Ingat, pilihlah aktivitas yang lebih bermanfaat dan dapat memberdayakanmu. Jangan salah memilih. Karena pilihanmu hari ini menentukan masa depanmu. Untuk berbagai aktivitas yang engkau lakukan, ingatlah lagi untuk menyesuaikan dengan impianmu. Walau berat, berusahalah. Meski sering ujian menggoda, lawanlah dengan kekuatan jiwamu. Sampaikan padanya, impianmu itu. Memohonlah kepada-Nya, untuk memudahkan urusanmu.

Ya, jangan lupa berdoa. Karena semua yang menentukan masa depanmu adalah Dia, Pemilik Dirimu. Kalau Dia berkehendak, “Kun Fayakun – Terjadi maka Terjadilah!” Di dalam perjalanan hidupmu, proses perlu menjadi cara yang engkau optimalkan.

***

Menemukan teman-teman yang sesuai dengan impianmu, adalah sebuah karunia yang perlu engkau syukuri. Maka, jelilah. Perhatikan benar-benar, siapa saja yang ada di dekatmu. Seorang temanku mengingatkan lagi tentang hal ini. Beliau yang berbagi denganku tentang pesan orang tuanya. Orang tua yang sangat menyayanginya lebih dari siapapun.

Pesan dari seorang ibu untuk anaknya. Ibu yang mengandung dan melahirkannya ke dunia. Ibu yang mengharapkan kebaikan menyertai hari-hari anaknya. Ibu yang berpesan begini padanya, “Nah, hati-hati dalam memilih teman, yaa. Maksudnya jangan sampai terjerumus pada pergaulan yang tidak baik.”

“Alhamdulillah lingkungan pergaulanku di sini, begini. Aku bergaul dengan teman-teman di lingkungan yang baik,” ia menyampaikan kesan tentang pergaulannya padaku. Aku terpekur sejenak, lalu mengingat pula pesan ibu padaku. Pesan yang ku ingat selalu dalam hari-hariku. Pesan yang ku bawa dalam pergaulan. Ibuku berpesan begini, “Baik-baik dengan teman, ya Nak…” Pesan yang senada dengan pesan ibunda teman untuknya. Pesan yang orang tua sampaikan pada anaknya tersayang, demi kebaikan anak-anak beliau.

Dalam hal ini, kami sama-sama jauh dari ibunda untuk saat ini. Yah, kami beraktivitas di lokasi yang berbeda dengan beliau tercinta. Maka, sedapat mungkin mengingat pesan beliau sepanjang pergaulan. Agar selamat perjalanan yang kami tempuh, tertemukan teman-teman yang kami harapkan, sesuai dengan pesan beliau pada kami.

Tentang pertemanan, aku dengan mereka baik-baik. Sampai akhirnya, teman-teman menjadi bagian tidak terpisahkan dari ingatanku. Tepat saat ingatan pada ibunda memenuhi ruang pikirku. Ingatan untuk membaikinya, sebagaimana pesan ibu. Ingatan untuk berbuat baik pada teman, sebagaimana ku ingin temanku juga baik padaku.

Nah, ketika ku menerima kebaikan dari teman-temanku, sedangkan aku belum dapat langsung membaiki mereka pada saat yang sama, aku selipkan kebaikannya dalam ingatan, lalu menepi pada catatan.

Kali ini, ku ingin mengabadikan catatan tentang kebaikan yang teman berikan padaku. Pada suatu senja, selepas Maghrib. Seperti biasanya, kami melakukan aktivitas senja bersama-sama. Aku dan Scatzy, berdua saja. Karena teman-teman yang lain ada yang pulang ke kampung halamannya di kota tetangga dan ada juga yang belum kembali dari aktivitas di luar.

Selepas Maghrib, kami meramaikan kesunyian di awal malam dengan lantunan ayat-ayat al Quran. Aku duduk di ruang tengah, sedangkan Scatzy di dalam kamar dengan pintu yang terbuka. Berhubung udara di dalam ruangan sangat gerah sekali. Sedangkan kami tidak memiliki kipas angin untuk menyegarkan ruangan. Maka, kipas alami yang kami gunakan, dengan membuka pintu lebar-lebar.

Supaya binar-binar terang terlihat dari atas sana di atap kostan kami tercinta. Supaya malaikat-malaikat-Nya mengelilingi dan berdoa untuk kami. Agar nuansa surga menjadi bagian dari hari-hari kami. Agar, kerinduan terobati. Biarlah belum lancar, namun kalau biasa, menjadi kebiasaan pun akhirnya bisa. Biarlah belum sempurna, namun kalau belajar lagi, menjadi ingatan untuk menyempurnakan bacaan. Biarlah tertatih-tatih, satu ayat demi satu ayat, lalu penat. Besoknya seayat lagi. Kalau biasa, menjadi kebiasaan dan akhirnya bisa satu halaman sehari. Biarlah belum bisa setiap hari, namun kalau mau membaca lagi, lagi dan lagi, akhirnya menjadi kebutuhan untuk dipenuhi. Biarlah belum cinta, tapi kalau lembaran demi lembaran kami balik lagi, menjadi semakin cinta. Hingga ada yang kurang dalam hari-hari bila tidak menyentuhnya. Biarlah, semua ini menjadi persiapan menyambut hari esok yang lebih berbinar. Wahai diri…

Biarlah, meski udara gerah dan membuat keringat membanjir. Biarlah di antara kantuk atau untuk menghadirkan kantuk, kami baca lagi. Biarlah, demi cinta.

 Saat ku sedang asyik sendiri, sedangkan Scatzy juga sama, tiba-tiba ada yang datang. Ia datang dan membersamai kami. Siapakah dia yang datang selepas senja? Bukan lain dan tidak asing lagi, ia adalah yang ku sebut ‘Teman Sebaya’ di sini.

Teman sebaya yang membaikiku, dengan kebaikan tidak ku sangka. Beliau datang dengan kegerahannya juga. Beliau segera menyalakan kipas angin miliknya, setelah sampai di dalam ruangan dan mengarahkannya padaku. Eiyaaa, memang untukku atau tidak, aku tidak tahu pasti. Jelasnya, aku merasakan semilir sepoi-sepoi dari arah belakangku. Semilir yang hinggap di punggung. Hingga, sejuk ku rasakan, seperti di pantai. Sepoi-sepoi, bersemilir. Cukup menenangkan, lalu ku lanjutkan mengaji.

 Sebelumnya, ku henti sejenak dari aktivitas mengaji. Lalu ku sapa Scatzy, “Hai, Scatzy, di sini segar, ayo ke mari. Duduk di sini ada anginnya (ku ingin Scatzy juga merasakan aura segar seperti yang ku terima. Agar ia tidak kegerahan di dalam kamar, sambil ku melirik pada ‘teman sebaya’ yang sudah duduk di belakangku.”

 Scatzy lalu menganggapi, “Aaih! Kakak mau kena angin yang udah tercemari, begitu? (ia melirik ‘teman sebayaku’. Teman sebaya yang ternyata sedang menikmati kesegaran melalui kipas angin. Teman sebaya yang membalas dengan senyuman khasnya. Lalu tertawa kecil. Mereka berdua, selalu bisa membuatku tersenyum lagi, kalau kami bersama. Mereka yang baik padaku.

Detik-detik berikutnya ku lanjutkan lagi mengaji, begitu juga dengan Scatzy. Hingga puluhan menit-menit berikutnya, ada lagi yang datang ke kostan kami. Beliau adalah Kak Dewi. Iyah, beliau kakak kami di sini. Beliau yang berpesan, untuk semangat menjalani hari. Meski hina dan caci pernah menghinggapi diri. Beliau pun pernah berbagi tentang perjalanan hidup beliau. Atas fitnah yang menimpa, juga pelecehan dari orang yang berbuat tidak baik pada beliau. Namun, kakakku yang satu ini, sabar menanggapi, lalu meneruskan hidup dengan percaya diri. Beliau menyampaikan pada diri, untuk terus berjuang, berniat baik dan melakukan yang terbaik.

Sampai pada sebuah kesempatan reuni, beliau berkumpul dengan teman-teman lama. Bertemu juga dengan orang yang berbuat tidak baik pada beliau, meski hanya melalui sindiran melalui orang lain. Pada saat reuni tersebut, beliau membuktikan bahwa, beliau lebih berhasil dan sukses dari mereka yang melecehkan beliau. Beliau membuktikan, bukan memberi janji. Ini pesan penting yang ku petik sepanjang kedatangan beliau pada suatu malam ke kostan kami.

Kak Dewi datang dengan senyuman. Teman sebaya dan Scatzy menyambut beliau. Sedangkan aku meneruskan aktivitasku, asyik sendiri. Hingga, beliau pun merasakan kegerahan. Melihat kipas angin di sekitar, beliau ingin kesegaran juga. Lalu berpinta pada ‘teman sebaya.’

Tapi. Lagi dan lagi, teman sebaya bilang begini, “Haii, ini kipas angin untuk calon bidadari surga. Itu dia sedang mengaji. Membuatku merasa. Ah, aku memang perasa, namun sedapat mungkin ku tenangkan diri, ku sapa hati. Lalu meneruskan aktivitasku. Oiya, tidak lupa mengaminkan doa yang teman sebaya sampaikan –walau tidak langsung-, namun ku mendengarnya. Aamin, yaa Allah. Perkenankan kami menjadi bidadari di surga-Mu, atas rahmat-Mu.”[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s