Peradaban telah mempertemukan kita di dunia untuk menjadi bagian dari sejarah.Surprised! Saat engkau menghubungiku, dengan suara khas, sopan, lembut dan menenteramkan. Memulai dengan salam sebagai sapaan yang menyejukkan jiwa, menenteramkan hati, membuatku segera tersenyum. Tersenyum lagi, karena engkau saudaraku di sana. Tapi, aku tidak tahu, siapa engkau, awalnya.

Namun, beberapa detik berikutnya, ku ingin menanya ulang, sangat ingin. Siapakah engkau sesungguhnya? Dengan label yang engkau bawa, membuatku segera teringat dengan waktu yang kita jalani dua tahun yang lalu.

Haru, sungguh. Aku teringat lagi masa kebersamaan kita. Mau menangis saja? Untuk meluahkan rasa haru yang ada? Haai, bagaimana bisa? Bisa saja. Namun aku tidak mau, sebagai gantinya adalah menemuimu di sini. Engkau yang ku senyumi. Karena untuk saat ini ku tidak mau menderukan gemuruh di dadaku melalui airmata yang sudah siap tumpah. Maka, merangkai kata menjadi pilihan. Salah satu pilihan yang ku petik untuk menyampaikan rasa yang ada. Pilihan untuk menemukan cara supaya dapat mengetahui ada apa denganku? Pilihan yang sebisa mungkin ku pilih, saat kesempatan untuk memilihnya ada. Pilihan yang mewujud nyata. Meski di dunia maya adanya. Ah. Tidak mengapa.

Mimin namamu, saat engkau menjawab tanya yang ku sampaikan. Sebuah nama yang tidak asing lagi di telingaku. Nama yang mengingatkanku pada seseorang. Seorang teman di sana.

Apakah engkau menyebutkan Mimin sebagai wakil dari profesimu di bagian administrasi? Bisa jadi. Tapi, lagi dan lagi ku berpikir, bahwa nama ini pernah ku bersamai. Kita pernah dekat dan bersenyuman, meski awalnya malu-malu. Awal bertemu memang begitu. Karena engkau adalah teman dari temanku. Beliau yang memperkenalkanku padamu pertama kali kita bertemu. Selanjutnya, dalam berbagai kesempatan berjumpa, aku menyapamu atau engkau menyapaku. Karena kita pun berteman, akhirnya.

Oiya, apakah betul, engkau teman dari temanku yang ku maksud? Atau engkau Mimin yang lain dan engkau bukan dirinya yang ku pikirkan?

Tepat atau tidak perkiraanku, engkau tetap Mimin seperti yang engkau sampaikan padaku. Sungguh, seakan diriku adalah dirimu, maka ku sambut engkau dengan senyuman. Lalu, menyimak informasi-informasi penting yang engkau sampaikan. Informasi penting untuk mengingatkanku tentang kebaikan yang engkau serukan.

Haru.

Masih terharu menyimak suara lembutmu, kawan. Kelembutan yang membuatku seperti kembali ke masa itu. Saat kita bersama-sama saling menyerukan pada kebaikan. Saat kebersamaan kita tidak lagi pandang bulu. Kita menyapa siapa saja. Apakah kaum atas atau kaum papa. Apakah mereka berada atau biasa saja. Apakah mereka mau menerima kita atau tidak sudi saat kita sapa? Namun berlemah lembut dan berusaha mengerti kondisi mereka, kita laksana. Semua kenangan yang menjadi ruang untuk bernostalgia, bagiku kini.

Huuwwaaaa…. Aku masih ingin menangis juga dengan haru ini. Tapi, cukup dengan menuliskan susunan huruf seperti ‘menangis’ ini, membuatku tersenyum. Meski dalam haru, aku mensenyumimu. Lha, mengapa harus haru? Biasa aja kali. Barangkali engkau berpikir begini.

Tidak.

Bagiku ini tidak bisa biasa aja. Karena engkau bagiku sudah seperti saudara sendiri. Di rumah yang menaungi dengan atapnya, kita pernah duduk bersama untuk menerima ilmu. Di rumah yang kita pernah bersama, menjadi jalan menjemput rezeki. Di rumah yang pernah kita datangi hampir setiap pagi, dengan senyuman berseri. Karena tepat saat kita berjumpa lagi, ada bahagia menaungi hati. Ada banyak kenangan dan ilmu serta pengalaman bersamanya.

Bagiku, membersamainya merupakan keluarbiasaan. Betapa tidak? Untuk kebersamaan seperti demikian, pernah menjadi impianku. Semua yang kita telah lalui, pernah menjadi dambaanku. Impian untuk membersamai engkau dan teman-teman lainnya, seperti nuansa di rumah sendiri. Di sana kita bertemu dengan senyuman. Hingga akhirnya aku berjarak denganmu dan semua, tanpa senyuman. Namun membawa hati yang ter-cabik-cabik kenangan. Ini pengorbanan, namanya.

Ai! Sudahlah, meski tidak mudah melupakan, aku senang. Senang karena masih mengingat semua dalam pikiran. Senang, karena saat ini engkau datang lagi, dan menyapaku ramah. Aku hanyut dalam haru, jadinya. Tapi sebentar saja. Karena di sini kita bersenyuman lagi.

Sungguh senang menjalani kebersamaan denganmu dan teman-teman lainnya. Kebersamaan yang memberiku banyak kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan. Hingga tertemukan pengalaman sebagai bekal di masa depan. Belajar lagi bersama-sama, dengan para sahabat pejuang tercinta.

Sungguh, aku rindu kalian…

Rindu yang mengajakku mampir lagi di sini, untuk menitipkan sebagian. Selebihnya, ku bawa lagi berjalan, meneruskan perjuanganku di sini. Karena kenyataan yang ku jalani saat ini, perlu ku perhati dan menjalaninya dengan sepenuh hati. Meski dalam kenyataan hari ini, tidak lagi bersama-sama denganmu wahai sahabat pejuang. Namun dalam ingatan, engkau ada. Walau jauh jarak yang membentang di antara kita. Selagi kita masih sama-sama di alam nyata, terus bersinergi saling membahagiakan jiwa perlu tetap ada. Terima kasih untuk sapaannya hari ini, mengembalikan kenangan ku tentang hari-hari yang kita jalani. Menyapa sesiapa saja, via suara, hampir setiap hari.

Aha!

Ini momen yang sangat berkesan saat ku jalani dalam kebersamaan kita. Apalagi aku tidak mempunyai basic ilmu pengetahuan tentang hal ini. Walau pun begitu, menjalani dan mencoba lagi, ku laksanakan dengan sepenuh hati. Hingga menjadi sebuah profesi yang berarti. Membuatku mau meneruskan lagi saat ini, mensenyumi diri, mensenyumi hari. Ku belajar lagi tentang senyuman, dengan aktivitas yang satu ini. Memulai senyuman dengan ekspresi berseri-seri.

Haiii…

Memang tidak mudah untuk memulainya. Berat saat menjadikannya sebagai bagian dari hari. Akan tetapi, impian membuatku mau bergerak lagi, berjalan dan meneruskan perjuangan. Karena ku tidak sendiri, tapi kita bersama-sama. Engkau dan aku bersama-sama dengan teman-teman lainnya. Di ruang yang sama, saling menyemangati. Sehingga, semua menjadi hal biasa. Biasa dan bisa. Iya, bersyukurku lagi tentang ingatan ini. Ingatan yang engkau selipkan hari ini.


“Salam hangat untuk teman-teman di sana, yaa… Semoga semua sehat semangat, dalam naungan kasih sayang-Nya. Karena berbuat demi kebaikan, ada jalan yang membentang panjang untuk engkau tempuhi, teman… Teruskan perjuangan. Aku senang, kita bisa berjumpa lagi, meski via suara dan membuatku surprised.”

***

Awan berarak berkejaran namun tidak mendahului. Pergerakkannya terlihat jelas oleh dua mata ini. Pemandangan pagi yang meneduhkan hati. Tepat sebelum adzan Shubuh berkumandang. Sepertinya angin bertiup lebih kencang dari biasanya, di atas sana. Tidak seperti senja kemarin, dengan awan yang terlihat tenang dalam diamnya. Walau bergerak juga, tapi tidak terlihat oleh mata ini. Namun pagi hari, pemandangan berbeda sungguh menyejukkan mata. Awan gemawan berlari lebih kencang, aku suka pemandangan seperti ini. Di saat fajar, setelah dini hari, sebelum mentari terbit dan bersinar lagi dari sisi langit timur.

Menengadahkan lagi wajah menatap langit pagi yang terang berseri oleh rembulan. Bintang-bintang cantik berkelipan memperindah luasnya angkasa di atas awan. Sejauh-jauh mata memandang, terlihat kelam di antara kedipan bintang-bintang. Membuat mata tidak mau henti memperhati.


Seperti memandang langit pagi tadi, suasana hatiku atas sapamu.

***

Semua ini, mengingatkanku pada teman-teman jauh di sana. Meskipun mereka, bahkan tidak terlihat oleh pandangan mata, membuat harapan demi harapan bermunculan lagi untuk pertemuan. “Semoga kita kembali bersua, yaa,” bisikku menenangkan hati.

Harapan yang kembali lagi, tepat saat pagi datang. Harapan seindah lengkung pelangi di sisi langit Barat, sedangkan mentari mulai bersinar di sisi langit Timur. Pemandangan pagi yang membuatku takjub dengan keajaiban alam seperti ini.

Yah, tepat beberapa jam setelah menyaksikan gemawan berlarian dengan bebintang menghias kelam. Penampilan langit mencerah sebagian, sedangkan sebagian lagi berteman gerimis nan ringan. Pada saat itulah, pelangi terlihat. Pagi-pagi, selalu saja ku menemukan alasan untuk mensenyum alam lagi, seperti ini.   🙂

Ketika tampilan alam berubah-ubah seperti barusan, engkau jangan berubah, yaah, teman. Walaupun engkau bagian dari alam, namun engkau bisa menjadi dirimu sendiri. Tetaplah di sana, dengan aktivitas yang engkau laksana. Terus meningkatkan pelayanan menjadi prima dan sebaik-baiknya. Hingga tercapai segala harapan menjadi nyata. Aku di sini, mensenyumimu bahagia.

***

Pernah menjadi bagian dari aktivitas serupa, membuatku bahagia. Walaupun kini kita melangkah di jalur berbeda. Aku di sini sedangkan engkau masih di sana. Tetap melakukan yang terbaik teman, yang engkau bisa, demi sesama.  Harap ridha-Nya menyertai sepanjang gerak, langkah, dan lisanmu berbicara. Berkah melingkupimu di sana, dengan teman-teman lainnya yang juga berupaya. Allahu Akbar!

Ada jalan untuk mewujudkan asa dan niat mulia. Semakin engkau berusaha, semakin gigih berjuang, semakin giat berdoa, hasil akhir menjadi ketentuan-Nya. Maka, jangan kecewa atau putus asa, namun bertawakkal menjadi jawaban yang menenangkan jiwa.

Selamat meneruskan perjuangan. Sedangkan aku yang harus berjarak denganmu tidak lagi sedepa, masih melekatkan ingatan padamu di sana. Dengan bahagia, ku sampaikan doa, untuk kebaikan dan kelancaran urusanmu. Dengan senyuman ku kirimkan harapan, untuk kemudahan komunikasimu dengan siapapun yang engkau hubungi. Hingga, engkau tersemangati lagi dengan apapun tanggapan yang engkau terima.

Begini aku sering mengingatkan diri, saat menjalani masa-masa seperti yang engkau laksana. Walaupun awam dan pemula, namun ku coba meyakinkan diri. Ada jalan bagi yang mau berusaha. Ada teman-teman yang menemani juga. Maka, bagaimana bisa ku tidak mau melakukannya?

Hari ke hari kita terhiasi oleh aneka karakter yang kita sapa. Sampai kita mengerti, bagaimana cara memperlakukannya.

Aku yang baru memasuki dunia sepertimu, turut berbunga-bunga bahagia atas keramahan dan keceriaan yang menyambut di sana. Sedangkan yang sebaliknya, belajar bersabar sekali lagi. Menemukan cara untuk menyemangati diri lagi, saat ada yang tidak suka atas sapaan kita. Hingga tertemukan beraneka cara, untuk mendekati mereka di sana. Lain karakter, lain cara melayaninya. Lain sifat, lain cara memperlakukannya. Lain ladang lain belalangnya. Dari sini, kita bertemu keberagaman. Keberagaman yang indah… membuka cakrawala pandang tentang dunia yang sesungguhnya.

Saat kita jeli menemukan hikmah saat menyapa, maka kita belajar ilmu baru tentang komunikasi.  Saat kita mau menempatkan diri sebagai orang yang kita sapa, maka kita menjadi mudah memaafkan ketika ia membuat kita terluka. Saat kita siap dengan segala yang akan kita jelang, maka senyuman demi senyuman mengiringi dalam prosesnya.

Semua, menjadi ingatan yang tertaut kepada-Nya. Sekali lagi, ada hikmah dalam berbagai keadaan yang kita temui. Semoga senyuman yang kita berikan saat menyapa, walau melalui suara, mensenyumkan mereka juga, di sana. Alangkah indah, mensenyumi dunia. Buahnya adalah hikmah demi hikmah untuk kita. Baik kita bersedia membagikannya, atau kita jadikan sebagai bagian dari hari-hari kita saja.

Menerima sapamu lagi hari ini, teman, mengembalikan ingatanku pada hari-hari penuh kesan yang kita jalani. Mengembalikan ingatan berlebih padamu yang jauh di mata. Selamanya, ingatan ini ingin ku jaga ada. Melalui catatan yang ku rangkai segera, sebelum ia menepi dan menjadi lupa.

Teh Mimin di sana, engkau adalah bagian dari teman-teman yang mengajakku mensenyumi hari. Engkau masih di sana hingga hari ini, teman? Salam cantik buat semua, yaa. Beliau yang ada di dekatmu, baik yang lama, atau yang baru. Apakah sudah beranjak usia, atau masih belia. Apakah mereka masih mengingatku, atau tidak. Aku titip salam rindu buat semua, saudara di rumah yang menaungimu.

Sungguh, ingatan yang ini mengembalikanku pada masa-masa penuh perjuangan. Perjuangan sebagai bagian dari pejuang peradaban. Belajar berbagi, dengan sepenuh hati. Belajar menjadi bagian dari orang-orang hebat yang ku bersamai. Belajar mengikuti peraturan yang ada, tanpa terbebani. Belajar juga menjadi diriku yang seperti ini.

Kebersamaan yang berkesan di dalam hati, lekat dalam memori, sedangkan senyuman mengembang lagi di pipi. Selamanya, ku harap teman-teman di sana, baik-baik semua. Kelak kita berjumpa lagi, semoga nuansa surga yang pernah ada dalam kebersamaan kita, dapat kita rasakan lagi yaa.

Bermula dari pertemuan kita, ku pelajari sedikit demi sedikit tentang diri. Ku ajak ia mau bersinergi dengan teman-teman semua, dengan sungguh-sungguh. Mulai sejak pagi hari, semenjak mentari mulai meninggi. Kita sudah berkumpul, membawa niat dari dalam hati. Hingga sore menjelang, kita kembali pulang untuk mempersiapkan diri menjempuh esok hari. Begitu yang berlangsung hingga satu setengah tahun lamanya. Sungguh, setengah tahun bukan lama. Tapi, selamanya ia menetap di dalam waktu. Tepat saat ku ingat lagi untuk membariskan dalam senyuman yang terangkai menjadi kata.

Sedapat mungkin, ku usahakan menulis diari setiap hari, tentang kesan kebersamaan kita. Untuk ku jadikan sebagai ingatan saat kita berjauhan raga. Begitu yang ku laksanai dari hari ke hari. Namun saat ini, meski engkau jauh di sana, sedangkan aku di sini. Tapi ingatan tentang kita menepi lagi. Maka, ku rangkai lagi diari tentang ingatan ini. Supaya, ku ingat lagi dan lagi, nanti.

Terima kasih teman, untuk menjadi bagian dari hari-hariku hingga membuatnya berseri. Terima kasih juga menjadikanku bagian dari hari-harimu dan memahami diriku sebaik yang engkau mampu. Sungguh, mengingat tentang perjalanan denganmu, membuatku tersenyum lagi. Senyuman yang ku jaga selalu, menemaniku melangkah lagi, di sini, hingga saat ini, nanti dan sampai waktunya berakhir.

Semangat pejuang peradaban!

Kelak di surga kita kembali bereuni, menjadi cita yang kita canangkan bersama. Tolong bila di sana engkau belum mendapati diri ini, carilah aku hingga berjumpa… agar kita dapat bersama lagi.  Sapalah aku lebih sering, dalam berbagai kesempatan engkau punya. Supaya, diri yang sering kali terlupa, menjadi teringatkan lagi.

Salam pejuang peradaban!

Dari sini, mensenyumimu dengan bahagia. Bahagia karena menjadi bagian dari pejuang peradaban, membersamaimu menempuh hari-hari yang kita lewatkan dengan senyuman menebar dari dalam hati, menepi di pipi.

Terima kasih untuk hal-hal baru yang engkau ajarkan padaku. Terima kasih untuk ilmu penting yang engkau sampaikan padaku. Terima kasih atas pengalaman dan jalan-jalannya juga… Aaaaaaaaa, masih ingin merangkai kata, … semoga ada kesempatan melanjut lagi, ya. Segini dulu untuk sekarang, semoga kita masih berjumpa, meski di dunia maya, tidak mengapa.[]

🙂 🙂 🙂

Iklan

4 tanggapan untuk “Bahagia menjadi Bagian dari Pejuang Peradaban

  1. Malam ini hening penuh damai sangaaat baik untk memohon dan berdo’a….ini cerita yg ku janjikan ….sy sudah baca semua akan tentang cerita perjalan hidupmu..terimakasih sudah nengingatkanku dan memang akupun teringatkan tentang yg dulu…duluuuuuu sekali hanya saja tadinya sy hanya mengingat tentang pertamakali aku berniat untuk menuju rumah( saudaraku) yg dalam artian kamu…waktu itu pukul 02 sore aku brkt dan masih setengah perjalanan hujan akhirnya saya berteduh …untuk menunggu hujan reda akan tetapi hujan tak kunjung reda…ini karena ku sudah janji ..tetap ku niatkan untuk sampai rmh saudaraku dengan tekad hujan tak jadi alesan untk membatalkan janjiku….basah dingin juga kaku rasa badan ku tahan sampai dengan tujuan…sampai dengan daerah di mana rmh saudaraku berada masih sajaa saya nyasar dengan hujan yg tak kunjung reda dan masih besar..rasa badan menggigil tak karuan..akhirnya ku berhenti di perteduhan dengan niatan untuk menghubungi saudaraku menanya alamat rmhnya setelah petunjuk jalan ku dapat kulanjutkan perjalanan dan akhirnya sampailah tujuan dgn di sambut saudaraku sendiri di gerbang pintu…jujur rasa badan sudah tak kuat saat itu karena tulang sudah rasa linu semua…dan akupun masuk kedalam pintu karena di persilakan oleh saudaraku dan kita berbincang..pikirku saat itu mengapa tak ada tawaran dari saudaraku untk ganti baju…padahal rasa badan sudah mau pinsan…dan setelah menjelang sore akupun pamitan dengan ayuk dan kakak ipar sau daraku..dan anak kecil keponakan saudaraku juga ..setelahnya ku lanjutkan perjalanan untuk pulang dengan ke adaan pakaiyan basah dan tulang yg rasa masih kaku ..sampailah aku di rmhku di sambut dia my wife dan anakku yg waktu itu duduk di bangku kls 2 SD…
    Selanjutnya sy masuk rumah untuk handukan dan ganti baju setelahnya aku tidur …dengan keesokan hari tubuh menggigil kaku tak bergerak sakit cukup panjang sampai 5 hari…tak beraktifitas absen dari scedule……..inilah saudaraku yg tak pernah ku lupakan awal di mana ingin membaikimu saudaraku…..memang ia di jaman sekarang ini mana ada yg siap sperti ini,,,, tanpa maksud….ini semua di awali olleh pisau karter yg jariku terluka di tolong oleh gadis lugu ,sangaaaat sederhana….dan aku simpati padamu saudaraku saat itu di tambah perjalanmu tentang perjodohan yg sa’at kutau ceritamu waktu itu mengalami 2kali ke gagalan..sa’at itulah aku niatkan untuk menjadi salah satu bagian dari HIDUP mu untuk selalu menjagamu,membantumu yg aku memang gak mau org lain tau akan niatku ini begitupun kamu sendiri saudaraku dan pada waktu itu ku bismillahkan apapun yg terjadi kelak…..aku siap dengan semua ini karena bagiku kamu adalah salah satu adikku yg patut sy sayangi dan ku perhtikan…bagiku cukuplah aku mengenalnya seorang kala itu….tapi sekarang???????????????……inilah cerita yg ku ingaaat erat..terima kasih ya saudaraku untuk mengingatkan cerita yg lain..terimakasiiih sangat….aku tau kamu anak baik…ini pesanku untuk kamu saudaraku…aku sangat sedih lihat keadaanmu sekarang…belajarlah JUJUR pada diri sendiri yaa DEK…sy msh yg dulu…..

  2. Hai, kawan.
    Terima kasih untuk ceritanya…, yaa. 🙂
    Menyimak dan membaca ceritamu, menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan dalam pikirku. Pertanyaan yang sangat ingin ku tahu jawabannya. Salah satunya, apakah ini cerita fiksi yang engkau sampaikan? Atau memang engkau mengalaminya, di masa lalumu? #Sungguhpenasaranjadinya.

    Walau begitu, aku mohon maaf yaa, karena melanjutkan membacanya sampai selesai. Terima kasih kembali sudah berkenan bercerita. Semoga hari ini dan hari-hari di masa depanmu menyenangkan, kawan.
    Tetap menjalani hidup di jalan terbaik dan bersemangatlah. ^^
    Aku senang berteman denganmu yang gemar berpesan demi kebaikan. 🙂

    “Iya Kakaa… Adik belajar dengan baik.”
    😀

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s