Sendiri dalam Diam atau di Tengah Keramaian?

My suryaMasih, dan selalu begitu. Di antara kalimat demi kalimat yang engkau sampaikan, engkau menarik nafas sebentar. Terdiam sejenak, sebelum meneruskan kalimat lagi. Engkau yang senang berbicara, suka berbagi cerita. Terkadang bertanya, lalu ku menjawabnya. Itu pun kalau engkau bertanya padaku. Seringnya, ku melihatmu bertanya pada orang-orang di luar sana melalui suara. Mereka entah berada di mana, saat membersamaimu berbicara? Engkau sangat sibuk terlihat. Super.

Melihatmu yang aktif berbicara, membuatku sangat ingin menepikan sekelumit catatan tentang kita. Kita yang duduk bersama, lalu menghabiskan waktu dengan cara sederhana.

Sederhana. Sungguh, sesederhana caramu berbicara. Kesederhanaan yang membuatku tidak mau tidak, memperhatikanmu dengan sepenuh jiwa. Kemudian berekspresi, semampu yang ku bisa saat berada di depanmu. Terkadang mengangguk, tersenyum, lalu sesekali kita tertawa. Bahkan aku sempat terdiam lama, hanya demi menyimakmu berbicara. Supaya engkau dapat meluahkan segala yang engkau ingin keluarkan, tanpa kendala. Menjadi pendengarmu yang baik, aku suka. Sehingga dengan begini, aku bisa tersenyum lebih sering lagi. Seperti saat ini, aku tersenyum setelah kita berjauhan sejenak.

***

Aku duduk di sini, dalam suasana hening tanpa keriuhan di sekitar. Aku menatap lepi, sesekali melayangkan pandang ke sekeliling. Aku mengingati, apa yang dapat ku bagi lagi saat ini? Hai, tentang apa lagi, yaa? Sepertinya aku mulai kehilangan inspirasi. Tadi dia meninggalkanku tanpa ku sadari. Kemudian datang lagi, lalu pergi lagi. Dan kini, ia sedang mendekatiku, bersiap menjauh lagi.  😀 Hap! Ku coba menangkapnya semoga ia ada bersamaku untuk beberapa waktu ke depan.

Teringat kebersamaan dengan teman sebaya pada suatu waktu, hingga sepagi tadi, membuatku ingin menepikannya di sini.

Kami melangkah bersama, bareng-bareng, bersebelahan, melangkah berdua. Terlihat dari atas sana, seperti sepasang sepatu saja. Haa! Iya, kami sebaya, sama tinggi, postur tubuh tidak jauh berbeda. Menyadari kesebayaan kami, membuatku senang hati, sangat bahagia membersamainya. Karena aku mempunyai teman sebaya, di sini. Teman yang tidak pernah ku bayangkan, kami akan menjadi sedekat ini. Teman yang hampir sering membersamaiku dalam waktu-waktu terbaik kami. Teman yang sering mengingatkanku, baik secara langsung atau tidak langsung. Teman yang ku perhati, ku kagumi, ku jadikan sebagai inspirasi.

Hai, teman sebaya, kelak aku mengerti, bagaimana kita bisa bertemu dan bersama di kota ini. Untuk kembali menyadari diri, supaya ku tidak sering bergalau lagi. Agar ku terus menapakkan kaki-kaki ini, lebih cepat dari diriku. Tentang hal ini, engkau ingatkan juga padaku. Engkau sungguh, berarti.

Jalanmu tidak lagi terlalu cepat, saat bersamaku. Karena engkau mengimbangi langkah-langkah kakiku yang tidak terlalu lebar. Engkau menyesuaikan denganku, yang masih berlatih melangkah lagi. Sedangkan engkau bilang sudah terbiasa melangkah jauh, bahkan sejak kecil dan terbiasa. Padahal sebelumnya ku tahu, engkau berjalan cepat sekali. Hingga sampai pada sebuah kesempatan, kita pergi-pergi menghirup udara malam bersama Scatzy. Semoga engkau masih ingat tentang hal ini.

Scatzy yang lebih anggun dariku, bilang padamu, “Jalanmu cepat sekali. Sehingga meninggalkan kami jauh di belakang.”

Sejak saat itu, engkau kembali menata langkah. Engkau perhati langkah-langkah kami, lalu menyurut sejenak untuk membersamai. Saat engkau mendapati dirimu jauh di depan. Sedangkan kami masih jauh di belakang. Padahal semestinya kita berjalan beriringan, bertiga melangkahkan kaki-kaki ini. Begitu yang ku ketahui, tentang langkah-langkahmu yang tidak sangat cepat lagi saat membersamai kami melangkah.

Sungguh ku mensyukuri kebersamaan denganmu, hingga saat ini.  Engkau pribadi yang mudah mengerti, senang membahagiakan kami. Masih dengan caramu. Walau dalam diammu, atau dengan ekspresi yang engkau bagi. Dari hari ke hari selalu begitu.

Engkau mudah mengingatkan diriku lagi, walau tanpa bicaramu, tidak bersuara. Engkau yang ku lihat tidak peduli di awal pertemuan kita, ternyata sangat empati. Engkau yang ku pikir pendiam sekali, namun hanya dari pemikiran ku saja. Buktinya hingga saat ini? Engkau pun berekspresi bersama kami, hingga kita menjadi lebih dekat dari hari ke hari. Melangkah bersama, menikmati udara pagi.

Yah, pagi tadi sebelum berangkat ke tempat aktivitas, kita kembali melangkah beriringan. Sesekali engkau di kiriku, sedangkan aku di kananmu. Atau aku berpindah ke kirimu, sedangkan engkau di sisi kananku. Begini kita sering bertukar formasi, sepanjang perjalanan menempuh jarak menuju persimpangan. Menempuh jalan lurus yang membentang panjang, cukup membuat energi terkurangi juga. Hingga sampai di simpang tiga di depan sana, kita baru berhenti sejenak untuk saling menebar senyuman dan melambai jemari. Sebelum kita akhirnya berpisah di simpang tersebut. Selanjutnya, engkau melanjutkan perjalanan ke kanan sedangkan aku ke kiri.

Menit-menit berikutnya, aku melangkah lagi, untuk meneruskan perjalanan. Setelah melambaikan tangan padamu yang ku tinggal masih berdiri menanti angkutan kota.

Pada sebuah kesempatan, bahkan berulang kali, engkau yang semestinya menunggu angkutan kota di persimpangan, menemaniku meneruskan langkah. Kita melangkah lagi di jalan yang lurus membentang, dengan laju kendaraan di sekitar kita.

Di jalan pelajar, kita meneruskan perjalanan membawa pikiran dan suasana hati masing-masing. Aku senang, melangkah di sisimu. Adakah begitu juga denganmu, wahai teman sebayaku?

Ketika angkutan kota yang akan engkau tumpangi belum memperlihatkan diri. Maka, sambil menunggu, engkau menemaniku meneruskan perjalanan. Hingga terlihat angkutan kota di depan sana yang akan mengantarkanmu ke tujuan lebih cepat daripada berjalan kaki. Saat itulah kita baru berpisah. Untuk meneruskan perjalanan masing-masing. Semoga perjalananmu menyenangkan, teman, disela-sela menempuh waktu seharian menghiasinya dengan senyuman.

***

Tadi pagi, sebelum berangkat dan memulai perjalanan kita, Scatzy membagi kita butiran permen yang ia punya. Beberapa butir tadi, yaa? Aku tidak ingat lagi. Banyak jumlahnya. Namun beberapa butir saja yang ia berikan pada kita. Scatzy bilang, Emaknya yang ngasih saat pulang kampung akhir pekan lalu. Ai, so sweet Mommy.

“Titip salam buat Nenek (emaknya) ya Scatzy,” begini ku berpesan di detik-detik keberangkatan Scatzy ke kampung halamannya yang berlokasi di kota tetangga. Karena sepanjang kebersamaan kami, ia memanggilku Emak.

Aku memilih tiga butir permen saja, sedangkan engkau teman sebayaku, awalnya juga memilih tiga butir saja. Tapi, karena tahu aku memilih tiga butir juga, engkau mau nambah lagi. Jadi empat dech butiran permenmu. Karena engkau mau lebih banyak dariku, hehehe. Sebagai Emak, aku rela mengalah.  Untuk mensenyumkanmu, teman.  😀 Demi membuatmu bahagia, aku pun tersenyum memperhatimu seperti ini. Benar, mensenyumkan orang lain dapat membuat kita tersenyum juga, lho. Karena sering begitu, sesuatu yang kita berikan pada orang lain, bisa kembali pada kita, pada waktu tertentu. Bisa cepat, atau melambat seiring waktu.

Ku pilih dua butir permen bertuliskan kalimat singkat di bungkusnya. Maunya sebagai motivasi hingga seharian ini bahkan selamanya dengan menuliskannya seperti ini. Mereka yang ku genggam erat sepanjang perjalanan yaitu, “Keep Trying” dan “Terus Berkarya”. Sedangkan yang satu lagi langsung ku buka, dan ku nikmati sebelum kita berangkat. Dia adalah “Galau Nih“.

Saat kita melanjutkan langkah, ku perlihatkan padamu dua kalimat tersebut, yang engkau jawab dengan “Berkarya apaaa kita…? 😀 …“

Aku sempat berpikir sejenak, karena tidak menyangka jawabanmu demikian. Lalu menanggapi, “Aiyaaa, karya apa yaaa, (aku pun langsung tidak tahu jawabannya seketika). Percakapan ringan yang membuat kita tertawa kecil bersama, sambil meneruskan perjalanan.”

***

Engkau teman sebaya, selalu begitu. Terkadang terlihat diam, sungguh lama. Seperti engkau asyik dengan pikiranmu yang entah bagaimana rupanya. Terkadang, engkau menitipkan pesan berharga sebagai pengingatku. Walau engkau tidak menyangka aku teringatkan olehmu. Ini ku perhati, saat Scatzy mengucapkan kalimat yang menurutmu tidak baik, meski bercanda, maka engkau bilang begini, “Kalau bicara yang baik-baik aja, ucapan itu do’a lhoo… (engkau menyampaikan serius). Scatzy pun senyum dan bilang ampun. Setelah menyadari, ia bicara yang tidak baik dan tidak semestinya begitu.

Engkau teman sebaya, lagi dan lagi mengingatkanku. Ingat untuk mengenali diriku, seperti engkau mengenali dirimu. Engkau yang menitipku barisan pesan dalam waktu-waktu kebersamaan kita. Engkau yang ku gugu dan tiru, sejak awal kita bertemu. Meski seringkali ku lihat engkau terdiam tanpa ekspresi. Namun dari ekspresimu pun, aku berguru darimu teman sebayaku.

Engkau yang tidak berbicara begitu saja, namun lebih memilih memikirkan terlebih dahulu sebelum menyampaikan sesuatu. Termasuk dari sikap dan lelakumu, sungguh bertemu denganmu membuatku sangat bahagia. Walau di dalam jiwa, ku tersenyum membersamaimu. Meski saat ini engkau jauh dariku untuk beberapa jam saja, kembali ingatanku padamu. Engkau yang ingin ku ingat lagi di hari esokku.

***

Pada suatu hari di waktu lalu. Ketika jadual libur aktivitas kita sama lagi. Kita menghabiskan waktu untuk memanjakan diri. Maka, mengadoni semangkuk masker engkau laksana. Ceritamu, untuk melembutkan kulit wajah dan membuatnya lebih cerah. Terinspirasi darimu, aku pun turut serta ingin mempraktikkan juga. Maka, sibuklah kita sepagian itu. Beberapa waktu berikutnya, karena engkau berencana keluar sebentar dengan Scatzy, engkau meninggalkanku sejenak. Tentu saja setelah membersihkan maskermu terlebih dahulu. Sedangkan aku pun melanjutkan aktivitas baca-bacaku, masih dengan olesan masker di wajah. Ala-ala calon pengantin yang sedang melakukan perawatan, gitu. Duduk bersantai di anak tangga sambil membaca buku. Dengan tiupan bayu sebagai penyejuknya. Bayu yang bersemilir membuatku mau tersenyum. Tapi tidak bisa, karena masker yang mulai mengering itu bisa berguguran, setelah retak-retak di wajah.

“Jadi, sedapat mungkin senyumnya ditahan yaa, selama maskeran berlangsung,” engkau mengingatkan di awal-awal ku ikut maskeran denganmu.

“Iya, iya, tapi mana bisaaaaa…,” ku selalu masih mau mencari-cari alasan.

Sedangkan engkau menanggapi dengan, “Terserah, kalau begitu. Nanti butiran maskernya berjatuhan, yaa.” Ah, engkau, masih saja memaklumiku dan membuatku terharu.

Sepanjang mengeringkan masker berbahan tepung beras dan campuran temulawak, kita mendengarkan alunan musik yang berasal dari gadget canggihmu. Tapi, sebelum engkau pergi keluar dengan Scatzy, engkau menitipkan gadgetmu padaku. Supaya ku bisa ada teman, saat engkau pergi, sebentar.

“Haaaaai, aku bahagiaaa, engkau menghiburku dengan alunannya yang ku sukaaa,” ku sampaikan padamu bahagiaku.

“Ha! Begitu aja bahagiaaa, mudah kali membuatmu bahagia,” jawabmu sambil menuruni tangga.

“Hahahaaa. . .” (di dalam hati ku tersenyum, tidak bisa mengekspresikannya pada wajah. Karena wajahku sedang berat oleh masker adonanmu).

Bagaimana tidak mudah bahagia? Kalau yang ada di sekitar ku membuatku lega dan selalu begitu? Bagaimana tidak mudah bahagia? Kalau ku syukuri yang dekat denganku? Bagaimana tidak mudah bahagia? Saat ku ingat kebaikan demi kebaikanmu padaku? Bagaimana tidak bahagia? Bila sampai hari ini kita bersama? Aku sungguh bahagia membersamaimu, walau engkau terkadang tidak tahu, wahai teman sebaya.

Di lain waktu, engkau juga menitipkan ekspresi yang membuatku terkesan denganmu.

Semoga engkau selalu begitu teman, tetaplah menjadi dirimu seperti yang ku tahu. Pun, menjadi dirimu yang mungkin tidak ku tahu. Karena engkau unik dengan apa yang ada padamu. Keunikan yang tidak ku temukan pada teman-temanku yang lain. Keunikan yang membuatku senang berteman denganmu. Supaya, engkau juga sama, yaa, senang berteman denganku. Kita sebaya, kita rukun-rukun saja yaa. Walaupun kelak kita tidak lagi bersama-sama menghabiskan waktu libur di hari yang sama. Meskipun engkau akan meneruskan perjalanan hidupmu nanti di sana, sedangkan aku juga. Maka, engkau tetap teman sebaya yang ku ingat dalam kenangan. Teman sebaya yang menarik bagiku. Tetaplah dirimu.

Di awal kita bertemu, engkau memang begitu, jaim dengan orang baru. Begini engkau membuka rahasia tentang dirimu padaku. “Yah, pada anak baru, aku memang begitu. Jaga image,” bisikmu seraya tersenyum. Sedangkan aku yang mengetahui alasan tersebut darimu, mengangguk-angguk memikir ulang.

Aih, ternyata tidak seperti persepsiku tentangmu. Engkau yang begitu menurut sangkaku, ternyata tidak sepenuhnya begitu. Maka, berprasangka baik tentang sesiapapun yang ku temu, masih ku jaga selalu dalam ingatan. Untuk ku buktikan dalam keseharian. Termasuk padamu yang sebelumnya ku pikir pendiam sepertiku, ternyata tidak selalu begitu selamanya. Dari mu, aku pun belajar tentang hal ini. Mendapat ilmu-ilmu baru darimu, di lain waktu. Menerima pengalaman berharga sepanjang kehidupanmu, pada kesempatan lain.

Suatu malam memandang bintang, kita pun pernah duduk-duduk manis di puncak atap. Menikmati chocolate ice cream kesukaanku. Ah, engkau pun tahu, aku suka apa, atau kebetulan, yaa? Karena engkau juga suka. Walau engkau tidak menanya padaku sebelum mendapatkannya untukku. Engkau teman sebaya, seakan diriku yang lain ada bersamamu.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Sendiri dalam Diam atau di Tengah Keramaian?

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s