Pesan PersahabatanHai, teman, hari ini, masih ada. Aku ada engkau pun ada. Bagaimana kabarmu di sana? Apakah masih bersamai senyuman menjalani masa? Semoga iya, begini ku mendamba. Supaya cerah hari ini semakin terasa dengan senyuman. Agar ringan menjalaninya dan indah untuk menjadi kenangan. Senyuman yang menjadi bagian dari detik waktu kita hari ini.

Kehadiranku lagi adalah untuk tersenyum. Mensenyumimu, melihat senyumanmu. Senang rasanya, kita kembali bersua saat ini. Pertemuan dengan perantara kata-kata yang terangkai. Pertemuan untuk berbicara dari hati ke hati. Pertemuan untuk bertukar pikir dan pengetahuan. Pertemuan untuk membagi sekelumit uneg-uneg supaya hati lega dan ia tersenyum lagi. Pertemuan untuk saling mensenyumi. Pertemuan ya, bukan perpisahan.

Kembali ku lagi ke sini, untuk merekatkan jalinan kata menjadi kalimat. Agar kita semakin dekat. Dekat di hati, meski jauh di mata. Dekat dalam ingatan, walau belum pernah berjumpa. Dekat dengan senyuman, saat kita sempat berjauhan raga setelah bersama. Supaya masih ada senyuman yang kita pertukarkan, bukan lagi tangisan yang menemani. Seperti halnya sejenak sebelum berjauhan raga.

Yah, aku datang lagi, meluangkan waktu untuk menemani huruf-huruf yang ada. Membersamainya sambil menghayati keadaan. Membuatnya tidak hanya terpisah satu dengan lainnya dan selalu begitu. Tapi, merangkainya dengan baik, supaya ia menjadi kata-kata yang menarik, unik. Maunya aku begitu, namun yang ada seperti ini. Kata-kata yang tercipta ya, begini. Hihiii. 😀

Tergambar keadaanku melalui susunannya, terukir senyumanku dengannya. Begitupun yang engkau lakukan bersamanya. Temani mereka, huruf-huruf yang ada di depanmu dengan sepenuh jiwa. Untuk mensenyumkanmu lagi, teman. Aku juga sering membuktikannya. Menulis seperti ini membuat senyuman mau menebar.

Di mana pun kita berada, menjadilah bagian dari lingkungan tersebut. “Di mana bumi di pijak, di sana langkit di junjung. – menyesuaikan diri.” Supaya kita dapat menjalani hari dengan sepenuh hati. Tidak hanya mengedepankan ego diri sendiri. Agar mau bertoleransi, berempati, saling memahami. Maka, berhubung keberadaanku di sini untuk menjadi teman, berteman, sampai ku temukan juga teman-teman. Sweety journey.

Engkau teman-teman yang unik, dengan karakter masing-masing. Engkau teman-teman yang menarik, dengan kepribadian istimewa. Engkau teman-teman yang baik, tidak terganti dengan apapun dan siapapun di dunia ini. Maka, tetaplah menjadi temanku dan aku menjadi temanmu. Bisa juga sahabat lalu kita saling menukar pesan persahabatan.

Teman… Untuk masih bisa membersamaimu seperti ini, tentu harus ada alasannya, bukan? Supaya pertemanan kita abadi. Agar kita masih terus bertukar informasi, mau mendengarkan dan mengerti. Saling membantu untuk meraih impian dan menjadikan kenyataan sebagai tambahan energi.  Jangan sampai ada yang kemudian pergi setelah kita berteman. Lalu engkau meninggalkanku sendiri? Walaupun, kesendirian bagiku tidak lagi asing.

Sebab dengan duduk-duduk sendiri, ku belajar menemukan diri, mengerti situasi, lalu mengurai kesan tentangnya dalam diari. Lagi dan lagi, tidak selamanya. Karena dari kesendirian, ku mengerti makna kebersamaan. Maka bersama seperti ini, ku syukuri sebagai jalan untuk tersenyum. Bukan mengomeli karakter-karakter yang ku temui dan tidak ku sukai, namun mensenyumi, sekali lagi. Kemudian ku ketahui, siapa diri melalui mereka, engkau, dia dan siapa saja yang ku temui, mengapresiasi atau ku apresiasi atas kontribusi.

Yah, begini awal mula ku mau merangkai tulisan. Lainnya adalah agar ku tahu, sejauh apa ku mampu dan mau menata perasaan yang datang kapan saja. Supaya ku belajar mengendalikan pikiran yang sering jalan-jalan hingga jauh sekali. Supaya ku menyadari, sejauh apa kekuatan ragaku berjalan setelah lama meneruskan perjalanan. Ini tentang jemari.

Berikutnya, agar ku mengerti, siapa saja yang berperan dalam perjuanganku. Agar ku ingat, siapa saja yang tidak pernah meninggalkanku sekalipun banyak yang datang dan pergi dalam kehidupanku. Agar ku menyadari, siapa saja yang ku temui lebih sering dalam berbagai kesempatan. Agar ku mengingat, seperti apa pentingnya perjalanan ini? Dan yang terlebih penting lagi, untuk mengetahui kejutan demi kejutan di sepanjang kehidupan yang ku temui. Saat semua ku lihat lagi, setelah ia terlalui.

Di sini, melangkahkan jemari seperti ini, seperti ku sedang berjalan-jalan. Meneruskan langkah demi langkah, sejauh ku bisa bergerak. Menggerakkan pikiran, mengolah perasaan, menggerakkan jemari pelan… terkadang ia sampai berhenti kalau ku kehabisan kata-kata. Tapi, sepanjang ku masih mau menggerakkannya, ia mau berjalan lagi, walau terpaksa. Ha! Ini sering ku alami. Biasa, dan membiasakan diri.

Iyah, kadang-kadang memang begini. Ku paksakan diri agar ia mau meneruskan perjalanan ini. Karena semua ini adalah tentang kami, yang sedang meneruskan perjalanan. Perjalanan di bumi, bersama alam-Nya. Sehingga, semakin lama berjalan, aku menemukan teman-teman yang pengertian, perhatian, dan penuh kebaikan. Sampai akhirnya, perjalanan ini bukan lagi tentang diriku saja, namun juga engkau, kawan.

Tidak akan jauh-jauh dari tema catatan demi catatan sebelumnya, kali ini juga akan ku bahas tentang engkau. Yah, bukankah sudah ku sampaikan bahwa, kalau ku tidak bicara tentang sekitarku, bisa saja tentang engkau, atau tentang dia, mereka, dan juga bisa tentang dirinya.

Hari ini, ku sapa lagi engkau, sahabatku, melalui lembar My Surya. Engkau tahu? Bagaimana ku merangkai dua kata ini menjadi judul awal? Ini bukan terjadi asal-asalan, tidak beralasan. Ia ada setelah melakukan percobaan demi percobaan dan utak-atik huruf menjadi sebuah kata, hingga aku suka dengan dua kata ini. Dua kata yang mensenyumkan. “My Surya.” Hai, membacanya saja menggembirakan, bukan?  😀 Apakah engkau mengalami hal serupa? Atau hanya perasaanku saja?

Di sini, kembali ke sini, menjadi sarana bagiku untuk merangkai senyuman. Sekalipun hari-hari kelam bahkan kelabu ku jalani di dunia nyata, hingga membuatku menangis kelamaan. Maka, kembali ke sini, tujuanku untuk menulis sebuah catatan. Setelah membacanya lagi, ku bisa tersenyum. Sederhana.

Tidak mau menjalani hari-hari tanpa kebahagiaan, aku menemukan cara untuk bersenyuman denganmu. Yah, dengan menulis begini. Sekalipun tidak jarang, nangis-nangis mendapati sebuah tulisan yang terhadirkan. Ujungnya senyuman juga. Maka, di waktu berikutnya aku kembali ke sini, untuk mensenyuminya. Tepat juga saat ini, aku sedang tersenyum, setelah membaca beberapa buah catatan. Apakah catatan yang engkau tinggalkan sebagai jejak perjalanan, atau catatan yang ku baca lagi, tapi ku seakan tidak menyangka. Rupanya ia ada.

Haaaaai, aku ini introvert, lho. Jadi, sebisa mungkin, ku tuliskan perasaanku dalam tulisan, sebab ku tidak dapat membicarakannya. Jadi, deal kan? Kalau akhirnya engkau memahami yang ku rasakan, lalu ikut menangis terbawa perasaan. Artinya, kita sehati. Begitupun dengan senyuman yang mengembang di pipimu setelah membaca sebuah catatan mensenyumkan. Pada saat itu, aku juga sedang tersenyum merangkainya. Semoga, engkau mengerti, kawan. Semua untuk menjadi ingatan yang ku jaga ada.

Buatmu teman, yang akhirnya menjadi sahabat. Sahabat baik yang belum tentu dapat ku perhati gerak gerik kelopak matamu saat ia berkedipan. Sahabat baik yang mungkin tidak ku dengarkan nada suaramu saat menyampaikan pesan. Karena engkau menyampaikannya melalui tulisan. Tapi, percayalah bahwa, ku juga menyimak dengan sebaik-baiknya setiap inti pesan yang engkau titipkan. Terima kasih yaa, atas kerelaan meluangkan waktu untuk berpesan. Semoga menjadi alarm yang kembali mengingatkanku, seorang yang masih melanjutkan perjalanan, terhadapmu. Terima kasih juga yaa, untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Sehingga ku tidak hanya nulis-nulis saja tanpa ada yang memetik hikmahnya. Akan tetapi, ada juga yang membaca untuk menemukan pesan di dalamnya.

Setelah ku menyadari semua ini, ku kembangkan lagi senyuman sambil merangkai tulisan untuk menyapamu sekali lagi. Menyapamu yang jauh di mata, namun ada di dalam ingatan. Sehingga, dalam waktu-waktu yang ku luangkan, ku rangkai lagi sebuah catatan. Bisa tentang kehidupanku di sini, segala perasaan, isi pikiran, termasuk inti pesan yang engkau sampaikan. Selama dalam rangka menebar kebaikan dan mengingatkan tentang kesabaran, maka dapat mensenyumkan. Maka, tetaplah berpesan. Walau dengan sebaris kalimat yang engkau titipkan pada ruang kosong yang ada. Supaya, saat membacanya, aku dapat mensenyuminya. Sebagai kenang-kenangan darimu yang berkesan. Sungguh, terimakasih dari hati terdalam, atas kesediaan.

Lama ku belajar merangkai catatan. Dari waktu ke waktu ku berjuang menyusun suara hati. Hingga hari ini, menjelang angka kalender berganti lagi, ku masih mengusaha. Mungkin dari semua yang ku rangkai ada yang belum sempurna, aku mengakui. Atau ada diantaranya yang tidak cantik sama sekali. Haiiii….. sudilah menjadikannya lebih cantik dengan memoleskan bedak-bedak katamu di antaranya. Supaya ia lebih berseri.

Bila pun ada yang rusak karena cela padanya, tolong colek sesudut hati ini dengan teliti. Maka, ku suka memperbaikinya lagi. Atau kalau sudah terlalu usang dan tidak utuh karena termakan rayap-rayap hari, tolong tepikan dari pikiran dan perasaan. Supaya ia menjadi benda bekas, walau tidak berwujud. Tolong luangkan juga sesudut hatimu untuk menghapusnya, bila ada yang menempel di sana. Kalau ada yang baik, jadikan juga sebagai motivasi menemani hari. Begitu pun yang ku lakukan hingga saat ini. Aku masih belajar mendata segala yang terjadi dengan diri. Sebagai seorang yang berjalan di muka bumi.

Wahai sahabat yang ku sayangi. Engkau yang sempat menepi ke sini, lalu membaca pula secuplik catatan tentang masa depan yang ku impi. Tolong senyumi juga. Karena ku mensenyuminya. Seperti mimpi yang menjadi nyata, impian ini mengiringi hari-hariku kini. Jadi, tolong memahami, sahabatku. Jangan tertawai aku… biarlah aku yang menertawai diriku sendiri tentang hal ini. 😀

Di balik semua itu, ku percaya dengan rencana demi rencana-Nya yang tertulis untukku. Walaupun ku menulis sesuai impianku, terkadang ada yang berbeda yang ku temu. Menjadi kejutan yang membuatku terkaget. Ini semua, dapat mengembalikan ingatanku kepada-Nya. Ingatan yang sempurna.

Tolong maafkan aku, bila ada yang keliru dari rangkaian kata-kata dan kalimat-kalimat yang ada. Semua terjalin sesuai kondisi ku pada suatu masa tertentu. Sedangkan aku terus berjalan, melangkah, menempuh liku-liku jalan yang ku temu. Mereka yang menjadi jejak-jejakku, cukup ku pandangi sesekali. Berikutnya menggores catatan baru seiring hari-hari yang ku alami. Semua ini membuatku semangat melangkah lagi. Melangkah, lagi. Sebab ku tidak selalu benar, yang benar berasal dari-Nya. Sedangkan bila ada yang belum tepat, dari diri yang penuh khilaf.

Wahai sahabatku, bersyukur diri mengenalmu. Engkau yang berbudi dalam ucap, sikap, tingkah laku maupun goresan kalimatmu. Teruntukmu sahabatku. Pertemuan kita di sini, semoga dalam kebaikan. Lembaran yang ku jadikan tempat menitip rindu, meruangkan waktu, mengabadikan kisah dalam perjalanan, sebaris nasihat dari kerabat, teman dan juga sesepuh dan handai taulan. Begitu juga ucapan terima kasih pada guru dan semua yang berjasa. Juga untukmu. Bisa engkau petik dengan senyuman, bila aromanya harum menyegarkan. Tapi, jangan engkau injak-injak tanpa perasaan, saat engkau bertemu dengan hal-hal yang tidak engkau suka. Sebab, ia akan terluka, dan sakit. Karena mungkin saja ia bernyawa.

Hai, terkadang ku terpikir, engkau bagian dari diriku yang lain, namun berbeda raga. Apakah begitu yang engkau alami juga? Bila pada sebuah kesempatan engkau bertemu catatan-catatan yang ada?

Bukan, ini bukan tentang engkau yang harus tahu tentang kehidupanku, sampai tahap perasaan, isi pikiran dan juga langkah-langkahku yang menjejak di jalanan yang ku tempuh. Tidak, ini tentang arti perjuangan dan impian yang perlu ada. Begitu pun dengan harapan serta ingatan pada masa depan.

Semua ini tentang tekad, kerja keras, gerak dan perjalanan. Ini tentang arti penting orang-orang yang mendukung dan berkontribusi dalam perjuangan. Ini tentang penemuan makna, bahwa kita ada untuk saling mengingatkan, menguatkan dan melengkapi. Bukan hanya tentang hari ini saja, tapi tentang hari esok juga. Bukan tenggelam dalam masa lalu yang telah kita lewati, namun bagaimana bergerak lagi dan meneruskan langkah saat ia berkata lelah. Bagaimana perjuangan bangkit, setelah sempat terpuruk dan terjatuh. Bagaimana mau berusaha lagi, setelah mungkin menempuh ujian dan cobaan dengan ikhlas.

Tentang hal ini, ku ingat pembicaraan kami saat berkumpul. Tadi malam, ada hajatan di rumah tetangga kami. Tetangga yang baik, mengundang kami untuk hadir menikmati menu yang beliau bagi. Beliau mengajak kami merasakan kebahagiaan yang beliau rasakan. Dalam hajatan tersebut, ada juga tetangga-tetangga jauh dan dekat yang hadir.

Kali ini, aku dan seorang teman ‘teman sebaya’ duduk berhadapan dengan tetangga jauh kami. Tetangga yang datang jauh-jauh, untuk membagi kami senyumannya. Tetangga yang tidak ku sangka, ingin ku bahas juga di sini. Karena beliau begitu berharga. Sebab apa?

Yah, sepanjang kebersamaan kami, beliau bicara dan menginformasikan kondisi terakhir yang beliau alami. Saat ujian menimpa, beliau bersabar. Ada yang menyentuhku saat beliau bercerita, karena beliau membahas tentang sebuah kata ‘ikhlas’ menjalani. Ikhlas yang tidak terlihat, namun ia ada. Ikhlas yang ada, tapi tidak dapat kita raba. Hanya terasa dan aku merasakan keikhlasan beliau ada, dari senyuman tenang dan suara datar yang beliau alirkan. Menenangkan bersama beliau. Membuatku teringat untuk mengabadikan tentang kebersamaan kami.

Meski beliau tetangga jauh dan kami baru bertemu sekali, itu pun tidak lama. Namun bagiku sangat berarti. Karena beliau mengingatkanku tentang pakaian ikhlas yang beliau pakai. Beliau mengingatkanku, melalui kisah beliau yang berteguh hati atas ujian dan cobaan yang menimpa beliau sekeluarga. Maka, beliau menjadi guru yang ku teladani. Teringat lagi gurat-gurat ekspresi yang terlihat di wajah beliau, serta binar bola mata yang sesekali menatapku. Kami bertatapan sebentar saja, aku tersenyum, beliau pun sama. Dalam kebersamaan kami, ku amati beliau sepenuh hati.  

Buat Kak Dewi, terima kasih sudah berbagi. Tetangga jauh dan dekat, selamat berjumpa lagi. Untuk teman-teman dan sahabat-sahabat di sini, jangan lelah menginspirasi yaa. Aku suka engkau berbagi dengan senang hati. []

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s