Merangkai Huruf-huruf menjadi Senyuman

Merangkai Huruf Menjadi Senyuman2

“Haiii kawan. Siapakah teman-teman  yang engkau temui dan buku-buku yang engkau baca hari ini?”

***

Sangat sensitif dengan dua hal ini, mengajakmu menghayati detik-detik waktumu dengannya. Sebab, siapa teman-temanmu dapat mewarnai dirimu atau engkau yang mewarnai mereka. Sedangkan buku-buku yang engkau baca, dapat mewarnai pikiranmu dan turut menentukan cara berpikirmu. Maka, jelilah. Hari ini kesempatanmu untuk menemukannya.

***

Kapanpun aku bertemu dengan orang-orang baru yang akhirnya menjadi teman, ku akui mereka baik. Mereka yang baik padaku entah asli, atau hanya perasaanku saja. Namun pastinya, kebaikan demi kebaikan yang ku terima, tidak akan ku biarkan meluntur begitu saja, seiring berlalunya hari. Atau perginya mereka dari depanku setelah kami sempat bersama.

Sebab, dalam ingatanku sepanjang kebersamaan kami, ada doa ibunda menyertai. Oleh karena ku yakin makbulnya doa beliau, aku berbaik-baik dengan mereka yang ku temui sepanjang kebersamaan kami. Karena ibunda menyampaikan padaku begini, sebelum ku jauh dari beliau tidak lagi sedepa, “Supaya di mana pun engkau berada nanti, Nak, orang-orang baik yang engkau temui, yaa.” Maka dengan keyakinan ini, ku bersamai mereka yang baik padaku dengan kebaikan. Ia membaikiku dengan kebaikan berlebih dari yang ku prediksi. Bahkan saat ku tidak memprediksi sekalipun, kebaikan mereka berlimpah padaku.

Apakah kebaikan tersebut selamanya berwujud? Dalam yakinku, tidak selalu. Karena kebaikan bisa dalam bentuk nasihat berarti, pesan berharga, pengalaman bermakna, ilmu pengetahuan baru, atau sebentuk senyuman yang seseorang bagikan saat menemuiku. Selain itu, kebaikan demi kebaikan yang ku rasakan juga dapat berupa sapaan, saat ku mendengarkan sapa tersebut. Bisa berupa cara memandang, kalau ku merasa ada yang melihatku. Ya, kebaikan yang ku rasakan bisa dengan berbagai cara, tidak selalu berbentuk.

Sebab apa seseorang mau mengenalmu dan berbicara denganmu? Bukan tidak ada kepentingan. Bukan juga sekadar ingin tahu saja tentangmu. Tapi, supaya engkau mengerti, dunia ini tidak hanya tentang dirimu sendiri. Namun, ada orang lain selain dirimu, di dunia ini. Maka sepanjang masih mempunyai kesempatan hidup di dunia, berbaik-baiklah dan menjadilah baik. Kebaikan yang tidak selalu berwujud, namun bisa tidak terlihat, tapi terasa.

“Sepertinya, baru ini ada yang bicara denganmu selama ini, yaa?” ia bertanya padaku.

Pertanyaan yang membuatku teringat dengan orang-orang baik lainnya yang berbicara denganku. Lamaaa juga, mereka betah. Lamaa juga, mereka nyaman. Pada waktu lainnya, mereka bicara lagi denganku, untuk sekadar menyapa atau mengirimkan kabar bahagia. Mereka, teringat olehku satu persatu. Ingatan yang membuatku segera tersenyum, dari balik telapak tangan. Wajahku memang tidak terlihat sedang tersenyum, karena tertutupi telapak tangan. Namun di sana aku tersenyum. Tersenyum karena bahagia saja rasanya di dalam hati.

Hmm, sungguh percaya dirinya berlebih, hingga pantas ku acungi jempol. Termasuk ilmu dan pengalaman yang ia bagikan bebas tanpa ku prediksi sebelumnya. Begitu juga dengan pertanyaan demi pertanyaan yang akhirnya tidak ku jawab. Namun mengalihkan pada jalur lain yang bisa membuatnya tertawa lagi, dengan ceria.

Nada suaranya semakin ringan, tenang terkadang berapi-api. Seperti sangat banyak kabar yang masih ingin ia sampaikan padaku. Kabar tentang masa depan, tentang hari esok yang lebih berbinar.

Seperti impian bagiku, tapi ini nyata. Bukan aneh, tapi nyata. Memang unik, sungguh menarik. Bertemu dengannya, lalu kami bertukar suara.

***

Jam-jam sebelumnya, aku sempat berbicara dengan ibunda yang jauh di sana. Beliau berpesan, siapapun yang datang dan menemui kita, semoga dalam kebaikan dan kita menerimanya dengan baik. Afirmasi positif yang beliau sampaikan, menenangkanku lagi. Tepat setelah berita terbaru beredar di sekitar kami. Berita yang meresahkan.

“Iya, saat ini aku di sini, dalam keadaan baik-baik, Bun,” tanggapku melegakan beliau. Sebagai bentuk usahaku untuk membahagiakan beliau. Dengan mengabari beliau tentang kebaikan demi kebaikan yang menaungiku di sini. Senyuman pun menebar di sana. Senyuman yang terwakilkan melalui nada suara beliau yang ceria dan ku hayati dengan sepenuh hati. Selanjutnya, kami berbagi cerita tentang hal-hal terbaru di sana dan di sini. Sampai tidak terasa, sudah tiga puluh menit lamanya. Berkabar apa saja, termasuk ada yang baru meninggal lagi di kampung kami. Semua, mengembalikan ingatanku pada lingkungan pedesaan yang ramah. Sungguh damai rasanya.

Aku masih belum mandi sore, sampai kami menyudahi kabar-kabari. Selanjutnya, mandi sore dech, setelah percakapan kami berujung dengan saling merelai.

“Baiklah. Baik-baik di sana yaa,” begini ibunda berpesan lagi, dan lagi. Pesan yang beliau ulang dari waktu ke waktu. Pesan yang ku ingat-ingat dalam berbagai kesempatan, menjadi ingatan saat melangkah, bertemu dan berpisah dengan sesiapapun.

Sore berlalu, kemudian berlanjut dengan senja. Senja yang disambut oleh malam. Malam yang semakin seru dan ramai dengan tampilan bebintang yang berkelipan di langit malam. Sungguh, menenangkan hati.

Ku lihat bintang sebentar saja, dari teras. Kemudian kembali ke dalam ruangan. Berikutnya, menghayati malam hari yang semakin berwarna, berkesan, dengan kedatangan seorang teman. Teman baik yang mengunjungi kami bersama senyuman. Teman baik yang datang bukan tanpa keperluan. Walau tanpa buah tangan sebagai hadiah, tapi kehadirannya sudah menjadi hadiah terindah bagi kami. Teman yang datang dari keikhlasan.

Bercerita dan berbagi pengalaman, ia lakukan dengan senang hati dan sungguh-sungguh. Sehingga bagiku, menjadi momen berharga yang tidak mudah ku lupakan. Sekelumit dua kelumit pengalaman ia bagikan. Secuplik dua cuplik kisah ia beraikan. Sedangkan aku, lebih banyak menjadi pendengar saja, selalu dan masih begitu.

Nah, berhubung ada yang bisa ku petik dari kebersamaan kami dalam kunjungannya, ku ingin mengabadikannya juga. Salah satunya adalah tentang belajar untuk berubah. Yah, berubah untuk lebih baik lagi, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), dan kemudian melangkah dengan sepenuh hati. Pesan pentingnya seperti ini. Sedangkan lain-lainnya adalah tentang keseharian yang saling kami pertukarkan. Bagaimana kami di sini, ia di sana. Seperti apa waktu demi waktu kami warnai di sini, begitu pun dengannya. Dalam hal ini, ku anggukkan kepala saat ku belajar memahami hal-hal yang ia sampaikan, sambil ia terus bercerita.

Ia adalah teman yang mengingatkanku pada teman lainnya. Mereka seperti kembar, tapi tidak serupa. Mereka seperti mirip, namun tidak identik. Begitulah, setiap orang membawa hal-hal unik pada dirinya.

Sesekali kami tertawa lepas, bersenyuman, bahkan sempat membuatku tersentuh. Karena ia mengingatkanku pada teman-temanku yang lain, di sebuah sesi pembicaraan.

“Memang, di sini, kami masih menjalani hidup yang prihatin. Berbagi sama rata atas yang ada. Yang artinya, kehidupan kami tidak mewah. Namun, ada kemewahan yang tidak dapat kami hargai nilainya dengan apapun. Yaitu makna penting kebersamaan yang kami jalani. Ini puncaknya. Ketika ia menyentakkan ingatan ku pada hari-hari yang penuh kemewahan.”

Dapat berbagi dengannya, berjumpa, bercerita, membuat mataku kembali terbuka. Hatiku kembali merasa, sedangkan teman-temanku juga sama. Mereka tertawa, seperti kami tertawa. Kami bahagia, bersama-sama.

Di sela-sela waktu bicara, ia titipkan padaku sebaris tanya lagi. Tanya yang membuatku bertanya, “Untuk keperluan apakah?”

Tapi ia tidak memberikan jawaban yang membuatku lega. Malah membuatku semakin bertanya. Ada apa kiranya? Sampai ia mau bertanya hal-hal yang bahkan tidak mau ku bagikan padanya? Ujungnya ya, tidak ku jawab. Mungkin ia masih bertanya-tanya, tapi sudahlah, menjadi urusannya dengan-Nya. Karena terkadang, ada hal-hal yang tidak dapat kita beraikan pada semua orang, bukan? Ini namanya privasi. Yah.

Aku tahu, ia baik. Seperti ia akhirnya memberitahu tanda-tanda kebaikan padaku. Sehingga ia datang menemuiku, di antara teman-teman lainnya.

Pertemuan kami, membuat hari ini ku menjadi penuh dengan cerita. Cerita yang ia bawa, kemudian ia titipkan sebagiannya. Diantaranya tentang keanehan yang ia perhatikan ada padaku. Lalu berlanjut penasaran, kemudian menjadi pertanyaan. Kelanjutan dari semua itu menjadi pertemuan, kebersamaan, dan aku pun memberai dalam catatan. Ia temanku.

Teman memang begitu. Kehadirannya terkadang memberi warna pada kehidupan kita. Ia datang membawa warnanya sendiri, lalu menghiasi diri dan hari-hari kita dengan warnanya. Begitulah teman bagiku. Baginya juga sama, ada warna yang ia lihat dariku, kemudian mendekat dan ia terwarnai pula olehku. Sungguh, bahagianya mempunyai teman.

Saat membersamai seorang teman, sedapat mungkin ku curahkan perhatian dengan sempurna. Apakah melalui tatapan mata, atau senyuman yang ku bagikan. Karena ku percaya, ada yang ia bawa untuk ia bagikan padaku dan aku ingat, ada kebaikan yang ia beri, untukku. Meskipun sebaris nasihat tentang diriku, koreksi atas kekeliruanku, atau harapan terhadapku. Supaya, saat kami berjauhan raga lagi, ada yang ku pikir-pikirkan untuk ku rangkai menjadi senyuman. Ada yang ku timang-timang sebagai jalan merangkai catatan tentang kebersamaan kami. Ada yang dapat ku sampaikan setelah terserap dalam ingatan. Walaupun sepanjang kebersamaan kami, aku lebih sering diam dan berekspresi tanpa bicara lebih. Meskipun begitu, percayalah, bahwa aku juga mau bersuara, kawan. Tapi saat engkau bicara, aku suka mendengarkan, senang menyimak, sangat gemar memperhatikan. Buahnya adalah, senyuman yang ku bagikan.

Ia tersenyum lagi, semakin bahagia membersamai kami. Kebahagiaan yang ku mau tidak hanya saat kami bersama, namun menjadi kebahagiaan yang terus abadi. Terima kasih teman, untuk menitipkan inspirasi, walau menjelang tengah malam engkau baru kembali. Pengorbananmu menemui kami, ku apresiasi dengan catatan ini. Ya, ini tentangmu yang ikhlas datang dan rela pergi.

“Maaf yaa, kalau kedatanganku hingga malam-malam begini, sehingga memundurkan jam rehatmu yang seharusnya lebih awal,” engkau mulai bersiap pergi.

“Terima kasih yaa, sudah mau mendengarkan cerita-cerita yang ku bagi. Esok-esok ku datang lagi, boleh?” engkau berdiri dan melangkahkan kaki.

“Iya, kawan, maafkan juga segala keriuhan kami. Jika sebelumnya tidak engkau prediksi. Terima kasih, kawan, untuk mau berbagi dan membuatku teringat lagi denganmu, setelah mengabadikan kebersamaan ini, nanti,” jawabku bersama senyuman. Selanjutnya, aku dan teman-teman yang lain mengantarkannya sampai pintu.

“Hati-hati di jalan, semoga selamat sampai tujuan, tertemui yang engkau cari, tercapai yang engkau ingini, menjadi nyata segala impian,” kami melepas dengan senang hati.

Jadual rehatku sudah tertunda selama dua jam untuk membersamainya. Setelah ia berlalu aku pun segera istirahat. Membawa ingatan tentang pesan demi pesan yang ia titipi. Membawa catatan demi catatan yang tidak langsung ku tulis dalam diari. Membawa senyuman yang membersamaiku hingga alam bawah sadar.

Malam semakin larut dan sepi. Seiring usainya keramaian yang sebelumnya tercipta. Hening yang membuat detak jarum jam di dinding terdengar jelas. Sedangkan suara cicak-cicak juga menyahuti. Malam yang seperti ini, semoga tidak hanya sekali. Namun esok, boleh menjadi lebih berwarna, dengan kehadiranmu lagi, teman. Sebab engkau bisa berkunjung, bercerita, berkisah, berbagi segala yang ingin engkau bagi. Termasuk menitipkan kami suara hati. Supaya bisa kami hayati. Sebab dengan berbagi, semangat hidupmu bertambah lagi.

Ketika hari ini engkau sudah berdiri di atas kakimu sendiri, lanjutkanlah dengan melangkah. Esok, engkau bisa berlari dan kemudian meneruskan perjalanan. Selagi nyawa masih membersamai badan, kesempatan terbuka untuk engkau hiasi. Bukan hanya sampai usia empat puluh tahun saja kita bisa berkreasi, seperti yang engkau bilang. Yah, tentang hal ini aku memang tidak langsung menyetujui, lalu mengurai alasan yang ku miliki. Di antara waktu demi waktu bercerita, kita saling menambahkan atau mengurangi. Ini namanya diskusi.

Maksudnya, selama diri masih bernafas, raga masih di bumi, maka masih ada kesempatan untuk berubah, berkreasi dan melakukan hal-hal berarti. Begini ku berpikir tentang hal ini. Sehingga tidak ada batasan usia untuk menjadi berarti. Selagi masih mempunyai semangat, keyakinan diri, usaha, berdoa dan terus menjalani proses, kita bisa menjadi bagian dari orang-orang yang berarti. Bukan hanya dikenang selagi hidup, namun ketika sudah tiada pun, ku ingin masih berarti.

Maka, ku ada di sini, untuk belajar dan menemukan cara, bagaimana supaya hari ini lebih baik dari kemarin? Bagaimana cara bersaing dengan diri sendiri? Bagaimana berlomba-lomba dalam kebaikan? Bagaimana bisa tersenyum lagi, di tengah warna-warni yang menyertai diri? Bagaimana bisa membersamai teman-teman lagi, ketika mereka sudah harus berpisah dan melanjutkan perjalanan hidupnya? Bagaimana cara agar hari-hari dapat ku jalani dengan lebih semangat? Bagaimana cara agar ingatan yang tidak abadi ini kembali lagi? Tepat saat ku ingin mengingat hal-hal berkesan yang ku alami? Bagaimana supaya bisa bertemu orang-orang baru dari berbagai profesi, berbeda propinsi, lain negeri? Bagaimana supaya ku juga dapat berekspresi? Bagaimana supaya ku dapat membaca lagi?

Salah satu jawabannya ada di sini. Dari sini, ku bisa membuka jendela dunia, membuka cakrawala pandang, mencerahkan pikir dengan baca-baca, menata hadirnya dengan tulis-tulis. Supaya ku mengerti, bagaimana ku bisa mengelola segala yang hadir. Apakah membuatku terlena atau masih mau berpikir? Apakah semua memberiku manfaat atau membuatku dapat bermanfaat? Apakah semua akan berakhir juga?

Iyah. Tidak ada yang abadi. Ku belajar mengerti dari hari ke hari, tentang keabadian. Setelah sebelumnya ku pikir dengan merangkai tulisan demi tulisan ia bisa abadi. Bagaimana bisa? Yah, saat semua berakhir, keabadian pun berakhir. Akhir yang memisahkan semua yang pernah dekat dan bersama. Akhir yang hadir, untuk mengingatkan diri, bahwa semua tercipta untuk bertemu akhir.

Akhirnya, sebuah catatan kembali hadir. Catatan tentang ingatanku pada kebersamaan dengan teman-teman dan seorang teman yang hadir menemui kami. Ia yang pergi lagi. Sungguh, biarlah raganya pergi, namun kenangan tentangnya masih di sini.

Semoga hari-harinya menjadi semakin bermakna, seiring dengan pikir demi pikir yang ia bagi dan pengalaman demi pengalaman yang ia tebar. Supaya, di mana pun ia berada, bertemu dengan orang-orang baik yang membaikinya. Dan ku harapkan kebaikan untuknya, sebagaimana ia membaikiku dengan kehadirannya. Ku ingin hidupnya menjadi lebih berwarna, dengan membersamaiku dalam hari-harinya. Sebagai mana ia mewarnai waktuku dengan kehadirannya. Semudah itu, sederhana.

Baik ada untuk menebar. Maka, saat engkau menerima kebaikan, jangan biarkan kebaikan tersebut mengendap tanpa engkau alirkan. Supaya hari esok penuh harapan dan hari ini semakin cemerlang, kawan.

“Semangat akhir pekan. Tetap tersenyum dan jangan lupakan kebaikan. Senang, berteman denganmu, teman yang baik. Ku akan selalu merindukanmu. See you.”[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

2 thoughts on “Merangkai Huruf-huruf menjadi Senyuman

  1. “”Mirisss-dan sangat miris…lanjutkan saja perjuanganmu saudaraku…ma’afkanlah yg sudah berlalu…dan kita juga akan belajar untuk melupakan …dengan sllu berdo’a untk kebaikan perjalanan hidupmu…dan sedikit catatan…belajarlah tentang kejujuran untk kebaikan diri…bagiku jln yg kau pilih (kelabu) bukan penuh warna…SATU YG PASTI UNTK MEMPRASASTIKAN ITU ADA ..bila ingin merubah dari semua kekuranganmu.biarpun sebelumnya org2 yg membersamaimu masih org2 seputaran atap yg sama..tapi bila kekuranganmu kelak trs kau lanjutkan..lupakanlah akan sebuah keprasastian..selama ini bukan kita tak buka mata dan bukan pula tak buka telinga saudaraku dia diam karena ada kamu di situ…
    Note: baca dan resapiii..sangat….dan ma’aaaaaf sangat bila yg sudah terlewatkan hanya menyakitkan bagimu…so! Happy you is happy me..dan kelak biarkan dia diam krna di dalamnya penuh kebaikan…goodby suryani…moga segera menemukan pencerahan…
    Note: bila kelak betemu org yg sangat pasti bisa untkmu berpegangan padanya untk berkelanjutan hidupmu jagalah dia seorang dgn privasinya..agar tidak ada lagi 2,3,4,5..bahkan bertambah banyak org ,,,yg menghina,mencaci ataupun selalu mengejeknya..smoga ini jadi catatan baik buatmu
    saudaraku

    Like

    1. 🙂 Nasihat berarti yang ku resapi dengan sepenuh hati, menjadi sebentuk ingatan untuk diri. Terima kasih untuk berbagi… Senang bertemu dengan mu di sini, teman. Teruskan perjuangan.
      “Iya, baik. ”

      Best Regads,

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close