Masalah Ini yang Mendewasakanku

My Surya Bertanya

Sore Hari Kemarin…

Aku bertanya pada Scatzy, “Kapankah seseorang bisa menjadi lebih dewasa?”

“Seiring masalah demi masalah yang ia temui dalam kehidupannya,” jawab Scatzy datar.

Aku berusaha memahami dan bilang begini, “Semakin banyak dan beragam masalah yang ia hadapi, tingkat kedewasaan seseorang semakin bertambah, yaa? Lalu kalau hidupnya datar-datar saja, engga dewasa-dewasa, dong yaa?”

“Iya, bisa jadi,” jawabnya singkat.

Tepat setelah Scatzy menjawab tentang masalah, aku jadi ingat masa-masa yang ku lalui. Masalah demi masalah berseliweran dalam ingatan. Termasuk sebuah pemahaman yang ku terima, sebelum menyusun laporan hasil penelitian. Temukanlah masalah, cari solusinya dan kemudian susunlah hasil penelitian. Intinya ada pada masalah. Kalau tidak ada masalah yang tertemukan, tidak bisa melakukan penelitian. Begini beliau mewanti-wanti supaya kami mengerti sebelum memulai mengerjakan laporan penelitian.

Oke, Scatzy memang sedang dalam masalah, sekarang. Buktinya, ia terlihat berpikir terhadap masalah yang ia hadapi. Sedangkan aku masih saja mau menanyanya. Akibatnya, jawaban Scatzy yaa, menjadi singkat dan sederhana.

Aku mengerti. Begitu pun jawaban yang ia sampaikan atas pertanyaanku padanya. Jawabannya terkait masalah. Yah. Mungkin yang sedang ada dalam pikiran Scatzy memang begitu, lalu terluah pada ucapan.

Aku mengetahui Scatzy sedang mempunyai masalah, setelah beberapa saat kemudian ia bertanya padaku, “Bagaimana cara membuat proposal sebelum penelitian?”. Lalu kami berbagi sekelumit pengalaman yang pernah ku alami pula. Intinya adalah pada masalah. Yah, masalah.

“Temukan dulu masalah yang ada. Kemudian bahas dalam uraian penelitian,” sebisa ku bagi pengalamanku terkait penelitian yang akan menemani hari-harinya beberapa bulan ke depan.

Scatzy mengangguk, lalu searching di google. Kemudian, ia tersenyum sambil bertanya lagi hal-hal yang masih belum ia mengerti. Sampai akhirnya, tertemukan jawaban dari masalahnya. Solusi ada, seiring kemauan kita berusaha mencari penyelesaian dari masalah.

Tentang masalah ini, aku jadi ingat sama Berbi. Berbi yang sedang pulang kampung dan tidak ada di sisi kami. Berbi pernah bilang pada suatu hari, kini teringat olehku, “Biarlah masalah ini yang mendewasakanku.”

***

Masalah. Aku sedang berpikir tentang satu kata ini, sebelum pertanyaan tersebut ku ajukan pada Scatzy. Lalu mengapa Scatzy yang ku tanya? Ya, karena hanya dia yang ada dekat denganku.

Sebuah kata ‘dewasa’ yang menepi dalam ingatku, membuatku terpikir-pikir. Ku bawa pikir tentangnya, sambil menanya diri, “Apakah aku sudah bisa menjadi seorang yang dewasa?”

Kalau belum dewasa, bagaimana cara menjadi seorang yang dewasa?

Kalau sudah dewasa dan memang kedewasaan seseorang bertumbuh seiring masalah demi masalah yang ia hadapi, lalu seberagam apa masalah yang ku alami hingga mendewasakanku? Aku masih bertanya, menanya. Sampai akhirnya, pikiranku mengeluarkannya sejenak.

Ia keluar dari pikiran, hingga kata dewasa yang sebelumnya memenuhi ingatanku, terlupakan sudah. Selanjutnya, ku jalani detik demi detik waktu berikutnya dengan aktivitas-aktivitas sore. Termasuk menyiapkan menu makan malam untuk kami santap bersama.

Malam harinya …

Malam semakin menanjak. Aku mulai merehat raga, setelah malam semakin larut. Namun sebelum terlelap, ku melihat Scatzy masih belajar. Ia bilang, belajar mengkoding. Dengan headset putih menempel pada dua lubang telinganya. Sedangkan gelas susu putih hangat pun terlihat di sampingnya. Mereka semua menemani Scatzy meneruskan perjuangan mengerjakan tugas.

Tengah malam, aku terbangun lagi. Lampu belum dimatikan. Ku lihat jam menunjukkan angka sebelas malam. Apakah Scatzy masih terjaga? Benar, Scatzy asyik berkutat dengan tugasnya. Tugas yang tampaknya belum selesai. Lalu, ku pinta padanya segelas air, karena ragaku sangat lemas. Aku lelah, walau sudah berbaring sejak dua jam lalu. Lelah saja.

Scatzy menyerahkan segelas kecil air yang kemudian ku minum pelan. Selanjutnya aku tiduran lagi, dengan mata memejam. Walaupun kantukku sudah mulai hilang. Hanya memejamkan mata. Entah sampai berapa jam kemudian, ku benar-benar tertidur, aku tidak tahu.

Keesokkan, dini hari hingga pagi…

Setelah hari menjadi esok, tanggal pun berubah, aku kembali bangun. Bangun dengan perasaan ringan. Saat ku terbangun, teman-teman lainnya masih lelap, termasuk Scatzy. Aku tidak tahu, pukul berapa Scatzy istirahat semalam. Sepertinya ia kecapekan. Selamat istirahat, teman.

Sampai sekitar pukul setengah tujuh, aku masih di atas sajadah. Sebelum melakukan rutinitas pagi berikutnya, ku sampaikan pada diri, “Mentari sudah terbit, ayo bangkit dan semangat!” Menyemangati diri seperti ini, membuatku mau tersenyum lagi. Senyuman menghiasi pipi, sebagai wujud syukur memulai hari. Karena masih dapat bernafas hari ini, merupakan anugerah terindah dari-Nya. Lalu, untuk apa ku jalani waktu seharian ini? Apakah yang dapat ku lakukan untuk menjadi lebih baik dari kemarin? Supaya ku tidak merugi?

Menit-menit berikutnya, aku melangkahkan kaki ke arah pintu. Lalu menuju teras. Karena suasana di luar sana sudah terlihat terang. Dari teras, sebenarnya ku dapat menyaksikan mentari pagi yang tersenyum dari arah timur. Namun tidak sempurna. Biasanya begitu.

Nah, berhubung, aku sangat ingin menyaksikan sinar mentari yang sempurna pagi ini ku melangkah ke lantai atas. Tepat dari samping atap, terlihat senyuman mentari yang sempurna di sisi Timur. Kemudian saat ku mengedarkan pandang ke sekeliling terlihat atap-atap rumah yang bersusun rapi. Serapi pagi berteman kabut tipis. Sedangkan tepat di atasku, saat menengadahkan kepala, ku melihat biru terang. Ya, warna biru langit meneduhkan tatapan.

Tidak berlama-lama di lantai atas, aku kembali ke lantai dua. Kemudian bergegas ke dapur dan masak-masak dech. 


Menu pagi ini, tidak ada yang istimewa. Namun terasa istimewa dengan kebersamaan. Selesai sarapan bersama, kami berangkat ke tempat aktivitas masing-masing. Kami harus berjarak seharian, untuk selanjutnya berkumpul lagi setelah malam datang.

 ***

Dalam perjalanan menuju tempat aktivitas, ku perhatikan sekeliling. Aku mengedarkan pandang ke kanan dan kiri jalan, sebelum menyeberang. Tidak lupa menoleh sebentar ke belakang, sesekali. Begini kebiasaanku kalau sedang berjalan. Sesekali saja. Untuk memperhatikan jarak perjalanan.

Tepat saat ku melintas di perempatan, sebuah sepeda motor melintas tepat di depanku, pelan. Karena ia sedang melewati polisi tidur. Yang menariknya adalah, ucapan salam yang terdengar olehku dari pengendara motor. Seorang bapak, menyapaku bersama senyuman. Aku pun tersenyum, menjawab salam. Senang rasanya, berjumpa sesama seiman dalam perjalanan. Rasanya seperti berada di tanah impian. Rasanya mimpi ini menjadi kenyataan.

Ya, iya, aku menyadari, ini sudah terang. Makanya aku tidak lama-lama merasakan seperti mimpi. Aku pun melangkah lagi. Melangkah dan mengingatkan diri supaya ia masih terus berjalan. Supaya tidak tenggelam dalam keterpanaan, ketika menemukan kenyataan di luar perkiraan.

Tidak terlalu lama berjalan, aku pun sampai di tujuan. Bertemu lagi dengan para tetangga yang menyapaku ramah, atau aku yang mensenyumi mereka duluan. Hari yang cerah, mentari bersinar cemerlang di atas sana. Aku tersenyum melanjutkan perjuangan. Hari ini, adalah sebuah kesempatan yang tidak boleh terlewatkan.

Duduk manis di ruang sukses, dengan senyuman seharian. Berbicara dengan rekan dan teman. Saling berbagi informasi tentang kemarin dan rencana hari ini. Selanjutnya, bersama-sama saling mengingatkan untuk saling memudahkan urusan satu dengan lainnya. Dengan semua ini, aku sangat tenteram. Ketenteraman yang jauh-jauh hari ku idamkan, juga. Sungguh, hari ini sangat indah untuk ku biarkan berlalu tanpa sebuah senyuman, seperti ini. Senyuman yang indah dari dalam hati.

Hai, benarkah hatiku sedang benar-benar tersenyum, ketika ku tersenyum pada wajah? Atau teralihkan oleh pikiran yang kembali teringat tentang sebuah kata ‘dewasa’ yang muncul sejak kemarin?

***

Sore Hari Ini…

Justru karena itulah, aku mampir lagi di sini, untuk mendeteksi keadaan. Apakah yang hadir dari pikiran serta suara hati mensenyumkanku kemudian? Apakah ku benar-benar mensenyuminya saat melangkahkan jemari merangkai tulisan? Aku juga tidak tahu, sebelum semua ini tercipta. Maka, ku lanjutkan perjalanan jemari, lagi dan lagi.

Maka ku sampaikan, “Selamat berjumpa denganmu lagi hari ini, kawan. Bagaimana kabarmu di sana? Apakah dalam kondisi baik dan senyuman menemani diri?”

***

Sampai saat ini, aku kembali ingat dengan satu kata ‘dewasa’. Ingatan yang membawaku pada keinginan untuk membahasnya. Supaya aku mengerti, sedewasa apa aku hingga saat ini? Atau masih jauh dari sikap dewasa? Hihiii.  😀

Lalu, ku baca-baca beberapa informasi terkait cara menjadi dewasa. Hasilnya adalah senyuman menemani diri. Ternyata ada beberapa sisi dan bagian dari diriku yang belum mendekati dewasa. Wah, parah ini! Masih penasaran, ku baca lagi catatan terkait menjadi pribadi dewasa. Sampai aku masih tergeli dan tertawai diri sendiri. Dewasa itu ternyata tidak mudah juga, yaa. Namun, kalau kita mau mempelajari dan mempraktikkan, maka menjadi pribadi yang dewasa lah diri. Dewasa dalam bersikap, berbicara, memperlakukan orang lain, dan berinteraksi dengan sesame.

Kesimpulannya adalah, menjadi dewasa itu berproses, memerlukan latihan dan tekad yang kuat dari dalam diri. Untuk berproses menjadi pribadi dewasa, kalau ternyata diri ini belum dewasa sebagaimana mestinya.

Adapun salah satu cara adalah belajar menahan diri terhadap sesuatu yang ‘mungkin’ hanya bagian dari ego sendiri.  Sehingga seorang yang dewasa, tertata dalam bersikap, bicara, berprilaku dan memperlakukan orang lain, berpikir, dan mempunyai kontrol diri yang baik serta bermanfaat bagi sekitar. Tentang hal ini, aku jadi ingat teman sebaya. Siapakah teman sebaya?

Beliau yang ku sebut teman sebaya adalah seorang teman di sini. Bersamanya, aku melangkah tadi. Sepanjang  perjalanan, memang ku lihat ia lebih sering diam. Tapi, saat berbicara, bicaranya yang baik-baik saja. Sehingga, sepanjang perjalanan yang kami tempuh, terpetik sebuah pesan yang ia sampaikan secara tidak langsung. Supaya mau menghargai orang lain, kalau kita ingin orang lain menghargai kita. Supaya mau memberi kalau kita senang saat orang lain memberi pada kita. Dalam hal ini, ia membagiku lagi dua butir permen dengan tulisan, “Be Happy 🙂 ” dan “Have a nice Day“.

Hai, terima kasih teman sebaya, aku terima dengan senang hati. Selanjutnya, kami meneruskan langkah sampai bertemu persimpangan. Di persimpangan, kami berpisah. Ia melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota, sedangkan aku masih berjalan kaki.

Sambil melanjutkan perjalanan, ku jadikan ia sebagai cermin diri. Dirinya yang dewasa, menjadi reminder bagiku. Sehingga, aku percaya, pertemuan dan kebersamaan kami di sini di bawah atap yang satu mempunyai makna. Semoga hari-harimu menyenangkan teman sebaya, sampai berjumpa lagi nanti.

***

Merasa bermasalah dengan diriku sendiri, pada tahun-tahun berlalu, membuatku melakukan trial dan error. Aku belajar bagaimana cara menyelesaikan masalah dengan diriku sendiri. Masalah yang ku kenali, tepat setelah ku menyadari, ternyata yang ku lakukan belum sepenuhnya benar.

Dengan sebab ini, aku melangkah, belajar dan kemudian berjibaku dengan diriku sendiri. Berpikir dan menelaah, menanya dan menjawab, sebisaku mampu. Tapi, lain waktu ku temukan masalah lagi. Seperti tiada ujung, aku pun mulai merangkai kalimat. Saat ku berpikir seperti ini, lalu bersikap seperti yang ku pikirkan, ternyata belum langsung dan sepenuhnya tepat.

Berikutnya, di lain waktu, ku coba lagi. Ku usaha mendata rasa yang ku alami, kemudian menuliskannya sambil menyikapi. Dari hasil tersebut ku baca lagi beberapa hari kemudian. Bagaimana hasilnya? Ternyata belum sepenuhnya benar juga. Hingga saat ini pun sama. Aku masih bertemu dengan masalah demi masalah. Lalu bagaimana masalah dengan diriku sendiri? Hihiii.  :d Terkadang muncul lagi dan lagi. Ku sikapi dengan senyuman. Setelah ku menyadari, masalah akan masih ada dan datang lagi. Solusinya adalah, bagaimana cara menyikap?

Sehingga…

Aku tidak mau henti. Sedapat mungkin ku bertanya, kalau ada pertanyaan yang muncul dari dalam diri dan belum langsung bertemu jawabannya. Termasuk bertanya pada seorang teman yang ku bersamai dalam hari-hari. Sedangkan jawabannya, mengingatkanku pada masalah. aHa! Ide bagus. Terima kasih Scatzy, untuk mengingatkanku pada hal ini.

***

Berikut tips menyikapi masalah yang ku coba lakukan. Ketika ku bermasalah dengan orang lain :

  1. Ku berikan senyuman pada diriku sendiri. Ku senyumi orang yang ada di depanku. Saat ini, yang ku sebut masalah ada hubungannya dengan orang lain.
  2. Ku terima penjelasannya, terkait masalah yang terjadi antara kami. Ku terima keluhannya, sehingga ku tahu masalah kami. Masalah yang datang dari diriku sendiri, sehingga berefek padanya. Atau ia yang membawa masalah padaku, ia tertunduk, bicara pelan. Aku prihatin. Sehingga menepi pada ekspresiku pula. Senyuman yang semula ku tebarkan, tidak langsung membuatnya tersenyum, kiranya. Maka, aku pun berempati. Ku pandang ekspresinya, tulus. Aku melihat bola matanya yang jujur. Ia serius.
  3. Memberi dan menerima Solusi. Ya, setiap masalah membutuhkan solusi. Solusi yang harus datang dari dua orang yang bermasalah. Orang yang sedang duduk di depanku, membawa masalah padaku, atau masalah yang datang dariku?

Ku sampaikan padanya, “Sabar yaa. Tolong maafkan kami (saat aku membuatnya bermasalah). Aku tersenyum lagi. Ia mengangguk, dengan sorot mata tidak berbinar. Dengan begini, ku tahu ia masih belum memperoleh solusi).

  1. Beri Jeda pada Orang yang Terlibat Masalah dengan Kita, menarik Nafas. Biarkan ia pergi, kalau ia mau pergi. “Aku pergi dulu yaa, nanti aku balik lagi,” ucapnya.
  2. “Baiklah, nanti kembali lagi yaaa. Sudah ada solusinya, hanya perlu sabar sebentar lagi, aja,” tanggapku dan mengantarkannya dengan pandangan lega. Sedangkan ia berlalu dengan perasaan dan pikiran entah bagaimana. Ku mengerti, kewajibannya, tanggung jawab dan tugasnya.
  3. Sambut kehadirannya lagi dengan senyuman. Bagiku, melihat orang yang ada di depanku bahagia, membuatku bahagia. Begitu pun sebaliknya. Ia pun datang lagi, setelah sempat pergi, sebentar. Ia datang membawa senyuman, dengan kerling mata penuh arti.  “Terima kasih yaa,” ucapnya. Aku kembali tenang, setelah masalah kami terselesaikan. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

6 thoughts on “Masalah Ini yang Mendewasakanku

  1. Memiliki pikiran dewasa itu harus… tapi kadang kita harus seperti anak-anak juga kak, kwkwkw… Anak-anak yang selalu ceria dan tak pernah memikirkan masalah… kwkkwkw

    Liked by 1 person

    1. Hii, setuju dengan Hepy. Seperti namamu, semoga hari-hari yang engkau lalui selalu happy yaak? I hope. 🙂

      Terima kasih yaaa, untuk mengingatkan tentang keceriaan anak-anak tanpa masalahnya. Dan terkadang kita pun harus begitu. Boleh juga. 😀

      Like

      1. Hehehe… Amin, kak… Sama-sama kak…

        Like

  2. Kepribadian diri yg berpribadi itu sangat lebih baik saudaraku..krna kedewasaan adalah tentang bagaimana org lain menilai cara kita berkomunikasi kpd org lain atau lawan bicara kita dan bagaimana kita menilai org lain.. tak perlu memaksakan untk diri menjadi dewasa karena semua berproses degan sendirinya….bukan kita yg merasakan bahwa diri kita tlah dewasa akan tetapi org lainlah yg menilainya…ada anak yg blm sepatutnya untk disebut dewasa tpi cara berfikir dan hasil pola fikirnya bahkan cukup lebih untk di katakan dewasa …ada!!!…dan bahkan tak sedikit org untk sebaliknya..juga..ada!!!..salah satu kunci baik untk menjalani,menyikapi..org lain terhadap kita dan bagaimana kita terhadap org lain adalah..(jadikan hati kita untk memfilter apa yg di keluarkan oleh hasil pikir)..tentang apa yg mata lihat ,,tentang apa yg telinga dengar dan tentang apa yg kita rasa ….segini dulu ya saudarakuuuuu…and teruslah bersemangat untk menyemangati diri…(selalu siap untk menyemangatimu by saudaramu)

    Liked by 1 person

  3. Hehee, membaca ini membuatku tersenyum dan berterimakasih untuk semua. 🙂
    Siiip, menikmati proses yang berlangsung, memposisikan diri sebagai orang lain saat bersikap, dan semangati diri dengan semangattt… ! Okeee, aku suka. 😀

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close