“Ayo, menulis lagi. Menulis dalam diari dengan menggerakkan pena dan jemari, atau mengetik keyboard dan keypad.  Alirkan suara hati, isi pikiran, supaya senyuman menebar lagi. “

“Teruslah menulis, semoga segera mendapatkan pencerahan untuk perjalananmu kelak,” begini inti pesan yang ia sampaikan padaku.

Pesan tertulis, sebagai tanda persahabatan. Walau untuk selanjutnya, kami tidak akan bertemu lagi sekadar bercerita atau berbagi kisah. Meski di masa-masa berikutnya, kami tidak dapat bersama lagi, untuk saling mengingatkan.

Sekalipun tidak ada kesempatan untuk bertemu lagi, aku masih akan terus menulis. Menuliskan tentang ia, seorang sahabat. Meneruskan perenungan panjang, termasuk menulis hasil pikiran. Menata rasa yang hadir melalui tulisan, supaya meleleh menjadi catatan yang mensenyumkan. Tidak melulu membersamai airmata di lembaran pipi, ke depannya. Aku berjanji untuk sering tersenyum membersamai tulisan, bacaan, atau sesiapa pun yang ku bersamai. Aku janji.

Tepat hari ini, ia pamitan untuk meneruskan perjalanan. Meneruskan langkah bukan lagi membersamaiku. Sudah menjadi catatan perjalanan hidupku kiranya, bahwa selamanya kita tidak dapat bersama, bukan? Maka ku hargai pamitannya sebagai sebentuk hadiah untuk ku abadikan. Terima kasih teman, meski belum pernah bertemuan, akhirnya ku rangkai juga senyuman tentang engkau. Terima kasih untuk berteman, selamanya kita sahabatan, yach.

Persahabatan yang tidak hanya di sini, sampai hari ini. Tidak juga di dunia ini, sampai saat ini saja. Bukan, bukan hal seperti ini yang ku inginkan. Namun dalam ingatan, ku jaga engkau tetap ada. Supaya menjadi pengingat saat ku lupa. Menjadi penenteram pikiran ketika ia penuh oleh apa saja, sambil aku menulis. Menjadi peneduh jiwa yang sempat gundah, lalu aku membaca. Supaya tertemukan teman baru, sebagai pengingatku, setelah engkau berlalu. Agar berjumpa sahabat berikutnya, sebagai teman baikku. Begitu pun denganmu, yaa.

Buatmu teman, ku rangkai catatan ini. Teman di sana, yang tidak ku tahu wujudnya seperti apa, namun ku yakin engkau ada. Buatmu teman, ku rangkai senyuman ini. Teman di sana, yang tidak dapat ku perhati gurat-gurat wajahmu, namun ku yakin engkau tersenyum.

Maka, pesanku untukmu, “Teruslah tersenyum… walau tidak di depanku. Doaku untukmu, semoga engkau dapat memberikan pencerahan pada sesiapapun yang engkau temukan dalam perjalanan nanti. Seperti halnya pencerahan yang engkau sampaikan padaku, dalam kebersamaan kita. Aamiin. Aku senang mengenalmu, walau sekadar nama. Aku bahagia menjadi bagian dari beberapa waktumu, walau tidak engkau sangka. Aku suka nasihat dan pesan-pesanmu, sekalipun sebaris catatan singkat. Semua dapat mengingatkanku untuk terus menulis, seperti pesanmu.”

***

Hari ini, perpisahan terjadi lagi. Perpisahan yang menjadi bagian dari perjalanan hidup. Setelah bertemu dan bersama, lalu berpisah. Sudah biasa. Yah, sudahlah. Perpisahan yang membuatku tidak dapat diam begitu saja, lalu larut. Tidak. Aku tidak mau menitik airmata, karena tepat setelah ia berpesan padaku, aku tersenyum. Begitupun saat ini. Aku mensenyumi kenyataan yang ku alami. Kembali menyadarkan diri, untuk meneruskan langkah-langkah lagi. Baiklah.

Perpisahan ini adalah kelanjutan dari kenangan kemarin. Yah, ada apa dengan kemarin? Kemarin malam tepatnya, saat berkumpul bersama teman-teman, kami saling mengingatkan lagi. Ingat tentang jodoh. Siapakah jodoh?

Percakapan kami berlanjut, setelah kami saling menyadari, bahwa pertemuan kami dan kebersamaan yang terjadi adalah karena kami berjodoh, makanya bertemu. Berikutnya, pagi-pagi sekali, ingatan tentang jodoh masih memenuhi ingatanku.  Ingatan yang harus ku berai segera, sebelum sempat mengendap dan aku lupa. Maka, aku menuju atap, membawa selembar tikar kecil, sebuah diari, dan juga pulpen. Termasuk sebuah syal yang ku lingkarkan di leher. Supaya dingin cuaca pagi tidak membekukanku. Meski jemari bergerak menyusun kata, namun aku masih duduk-duduk saja, bukan?


Ceritanya menanti mentari pagi. . .  Tadinya mau ku beri judul catatan ini dengan “Tentang Jodoh”, namun engga jadi.  Jadinya, “Teruslah Menulis”, karena ingat pesan temanku untuk terus menulis.

Satu

Seperti misterinya sedetik lagi yang akan kita jalani, begitulah misterinya jodoh. Kita tidak pernah tahu dengan siapa akan bertemu dan kapan? Bagaimana caranya dan di mana? Maka, melangkah lagi kawan, teruslah berjalan. Berbaik sangka kepada-Nya tentang jodohmu, lalu tersenyumlah lagi.

Menanti jodoh, seperti menanti sinar mentari pagi, menurutku begini. Kita tidak harus duduk manis saja lalu menatap ke sisi langit timur. Tapi, kita dapat melakukan aktivitas yang menyenangkan dan menenangkan hati, sejak pagi. Seperti merangkai catatan atau membaca kalam Ilahi. Terjunlah dalam masyarakat untuk memperhatikan kenyataan, lalu syukuri keberadaan diri. Cari cara bagaimana bisa bersabar dan menghayati setiap waktu yang kita jalani. Maka, tenteramlah hati yang sering bergejolak ini. Sukai dan cintailah aktivitas yang engkau jalani. Jadikan sebagai jalan memperbaiki diri. Marii.

Dua

Yah, seperti mentari. Jodoh akan datang juga, walau tidak tahu berapa lama lagi. Seperti mentari yang akan bersinar juga, beberapa waktu berikutnya. Maka, yakinkan diri, perkuat hati. Teguhkan ia dan sekali lagi, buat ia tersenyum membersamai diri jalani hari. Ini pesanku untuk diri sendiri. Supaya semangat lagi menempuh hari. Supaya jodoh yang memang sudah Allah tetapkan, pun tersenyum saat ia datang. Afirmasi positif.  😀 Meski bagaimana pun wujudnya jodoh diri, aku tidak tahu. Tapi, aku tahu diri. Karena ku percaya, DIA Maha Tahu. 

Tiga

Ya, tersenyumku lagi menanti mentari, karena ku tahu di dunia ini tidak hanya aku yang menanti jodoh. Namun ada di sana, di mana-mana, yang alami hal serupa. Tapi bagaimana mereka menyikapinya? Mereka berbaik sangka, berusaha dan berdoa, selalu meminta yang terbaik.

Teringat pesan seorang teman lainnya, “Aku dulu, sebelum bertemu jodoh, ku harap jodoh yang baik. Itu saja. Maka, saat kami akhirnya bersama, ku jalani hari-hari kami dengan sangat bahagia. Karena jodohku orangnya baik.”

Iya, beliau temanku yang jodohnya baik, memang ku lihat baik. Seperti yang ia pinta, ia mendapatkannya. Sebagaimana yang ia harap, ia membersamainya. Sesuai prasangka hamba, DIA memperlakukan kita. Sungguh, bagaimana bisa kita tidak mau mengingat-Nya? Atas kebaikan demi kebaikan yang terus mengalir, terkadang kita lupa kepada-Nya. Atas rezeki dan kemudahan demi kemudahan yang kita alami dalam hari-hari, sering kita tidak ingat kepada-Nya. Maka, pilihan kembali pada diri, mau bagaimana menyikapi segala yang ada dalam kenyataan?

Empat

Aku bahagia, masih bersama dengan orang-orang yang baik padaku. Mereka yang sebelumnya tidak pernah ku sadari, akan menjadi bagian dari hari iniku. Mereka yang berbudi dan sering membuatku terharu. Pada mereka ku bagikan senyuman demi senyuman yang ku mampu berikan. Semua karena Allah… Alhamdulillah. 

Pun, bertemu denganmu di sini saat ini, teman, menjadi sebuah kebahagiaan yang perlu ku syukuri. Karena ini adalah bagian dari cita-cita laluku. Ini merupakan impian silamku. Semua ini, dapat bersama dan bersapa denganmu, ada dalam list harapanku, dulu. Lalu saat menjalaninya kini, bagaimana sikapku?

Enam

Yah, aku tidak selalu dapat berada di sini, kemudian menyapamu. Karena ada lagi aktivitas berikutnya yang ku lakukan, dengan sepenuh hati. So, bila engkau belum tersapa lagi, kawan, maafkan yaa. Dalam waktu-waktu luangku ku usaha menepi-nepi pada lembaran catatanmu. Untuk ku petik hikmah dan pesan serta nasihat yang engkau bagikan. Agar kita dekat selalu, meski tidak dapat bersalaman atau bersenyuman langsung. Maka, teruslah menulis… aku baca di waktu terluangku, yaa.  🙂

Lima

Sekali lagi ku sampaikan, bahwa aku sangat suka mentari. Sangat suka, melebih sukaku pada diriku sendiri. Aku memperhatinya, menjadikan mentari sebagai penyemangat diri. Aku suka melirik padanya, sesekali. Walaupun risikonya mataku silau. Tapi, semua ku lakukan demi dapat menemukan secuplik pesan darinya.

Maka, ketika engkau menemukanku sedang asyik memperhati mentari, lalu tidak memperhatikan kehadiranmu, tolong maafkan yaa. Bukan bermaksud tidak memedulikanmu. Tapi karena ku tahu dan menyadari, siapa aku dan dirimu. Kita tidak dapat langsung bersama dan menjadi dekat begitu. Jadi, saat ku lewat di depanmu dan engkau tidak ku perhatikan, semua karena diriku. Yah, berlebih ku mengingatkan diri, sebelum mengingatkanmu. Ya, ini alasanku untuk tidak langsung mempedulikanmu. Tapi percayalah, engkau bagiku sangat berarti. Seperti mentari yang ku biarkan berlalu, saat sore menyapa. Seperti itu ku biarkan engkau berlalu, supaya aku tidak gamang saat engkau tiada lagi di depanku.

Sebab, aku tidak memilikimu, hanya memperhatikan, menjaga, mengagumi dan mensenyumi. 

Tujuh

Senyuman ini untukmu teman, bawalah menemanimu melanjutkan perjalanan. Semoga lebih banyak yang menyukaimu dan kemudian menjadikan sebagai pencerahan. Karena engkau berarti, menerangi sampai ruang hatiku, seperti mentari menerangi siang.

Namun, semua usai!

Tepat saat detak jantungku seakan berhenti. Ketika engkau menitipkan pesan lagi. Pesan yang menarik-narik ujung hatiku supaya ikut denganmu. Tapi hendak ku susul ke mana? Maka ku perhati mentari sekali lagi, ku luaskan pandang ke langit lepas. Di sana, ada harapan yang ku sangkutkan. Ada tempat ku menggantungkan pinta. Di sana, ku bisa menuliskan segala pinta hati. Maka, ku memohon kepada-Nya, untuk menjagamu selamanya.

Delapan

Seperti pesawat yang semakin mengecil, menghilang tertutup awan, begitu engkau ku lihat kini. Engkau perlahan menjauh, meninggalkanku di sini. Berat rasanya, tapi bagaimana ku bisa menahanmu? Engkau sudah terlanjur melangkah, sudah berlalu pula.

So, apapun keperluanmu yang lebih penting, pentingkanlah.

Ke mana pun langkah-langkah gentingmu akan engkau ayunkan, melangkahlah dengan gagah. Di sini, aku melepasmu dengan senyuman. Senyuman persahabatan yang ku tata tetap menawan. Semakin jauh engkau berlalu, semakin ringan senyumanku. Karena ku tahu, engkau pun tersenyum meski tanpa lambaian tangan. Namun, secuplik doa yang engkau layangkan, telah ku terima dan ku genggam erat. Ku jadikan sebagai pelepas rindu, ketika ku ingat denganmu, kelak. Ku mohon kepada Tuhan, untuk mengabulkan. Wallaahu a’lam bis shawab, ke mana engkau… sahabatku?

Teringat padamu kini yang sudah jauh dariku, mengingatkanku lagi dengan salah seorang temanku. Teman baik yang menitipku diari. Ini artinya, ia memintaku juga menulis lagi.

“Betul begitu, sister…?” tanyaku.

Sembilan

Sepuluh

Ups! Saat ku sedang asyik merangkai catatan lagi, gemuruh suara mengalihkan perhatianku. Apakah begini juga yang dialami oleh mereka yang sedang menulis? Tidak tahan dengan segala suara yang ada di sekitar? Lalu memilih tempat yang tenang dan sunyi supaya bisa konsentasi? Agar tidak pecah konsentrasi namun fokus pada satu bahasan yang sedang ia rangkai menjadi catatan?

Dalam hal ini, di sekitarku berisik sekali. Tidak seramai di pasar, memang. Namun memang sudah tidak sunyi seperti tengah malam lagi.

Sebelas

Dua Belas

Saat jodoh itu seperti mentari, tentu kehadirannya membuat hari-hari semakin berseri, berbinar dan tidak kelam lagi. Tentu kedatangannya menjadi penerang yang mencerahi dan menemani tersenyum menjalani hari.

Tiga Belas

Empat Belas

Saat ingat tentang jodoh, aku suka galau sendiri. Lalu, pikiran ke mana-mana, hingga menjadikanku tidak ingat sedang di mana lagi. Seperti saat ini, aku sedang di mana? Bagaimana bisa menulis diari lalu mensenyumi?

Lima Belas

Aku sering menenangkan diri, begini. Supaya ku kembali bangkit lagi, bergerak dan meneruskan hidup yang masih berlangsung kini. Dengan sepenuh hati, bersama seluruh jiwa, raga dan pikiran. Agar, apa saja yang ku lakukan dapat ku hayati benar-benar. Supaya sesiapapun yang ku temui, dapat ku jadikan sebagai jalan untuk meneruskan perjuangan lagi.

Enam Belas

***

17

Iyak, dari sini ku teringat lagi, untuk menyediakan tinta yang bagus kalau mau menulis tangan. Karena, rasanya seperti nyangkut gitu, saat menulis dan tintanya putus-sesekali. Rasanya yang mau ku tuliskan tersendat juga. Lihatlah, Ahaha.. 😀

***

Iyaa, bagaimana ceritanya, sampai ku bela-bela mengeluarkan uneg-uneg sejak pagi kelam? Membahas tentang jodoh, pula. Tampaknya aku berada di tingkat kegalauan tertinggi kali ini. Apakah penyebabnya? Tenang. Baiklah ku urai lagi, supaya lebih jelas dan engkau tidak bertanya-tanya, teman.

Karena ini tidak datang begitu saja, namun ada hubungannya dengan orang-orang yang berinteraksi denganku. Dengan berinteraksi bersama orang lain, ada cuplikan demi cuplikan yang dapat ku jadikan sebagai alasan menulis lagi. Hanya ingin mengabadikan tentang kami, begini.

18

19

Oiyaa?

20

Dalam hatiku berkata, masih ada peluang menjadikan Scatzy sebagai adik ipar. Hohoo. 

Dua Puluh Satu

Pikirku bertambah-tambah, saat Scatzy akhirnya menunjukkan padaku sesosok wajah itu. Huhuu, sungguh, membuatku ingin menggugu. Tapi tidak boleh, dia belum jodohku. Sebisa mungkin ku tenangkan diri, “Keep smile dan berbaik sangka lagi kepada-Nya.”

***

Jodoh yang menjadi misteri ini, terkadang membuatku ingin menuliskan tentangnya. Bertepatan saat ada yang membahas tentang ini di depanku, lalu terpikir-pikir olehku. Maka, menuliskannya seperti ini, melegakanku sampai tahap ringan melangkah dan sentosa jiwa. Selanjutnya, ia ku senyumi lagi di lain waktu. Karena ku mengerti, bahwa semua telah berlalu.

Sudahlah . . .  Sudahi semua kisah nyatamu dan pengalaman dalam hari-hari dengan senyuman menghiasi ruang hati. Tepat setelah ia menjadi sebaris catatan yang engkau senyumi. Selanjutnya, melangkahlah lagi, sebagaimana temanmu yang meneruskan langkah-langkahnya tanpa membersamaimu lagi.

Esok, lusa di lain waktu, engkau bertemu dengan sosok sesuai impianmu, jangan lupa masih berbagi, yaa. Agar sesiapapun mengerti. Bahwa keyakinan dan impian yang engkau jalankan dalam usaha nyata, menjadikan hari-hari semakin berseri. Teruslah berbagi, menulis dengan sepenuh hati. Sebab dengan melakukannya bersama hati, akan sampai juga ke hati yang menerimanya. Sederhana dan menenangkan.

Ringankan wajahmu, buka matamu, lapangkan hatimu, luaskan pikirmu, dalam menjalani hari demi hari. Sebab dengan begitu, engkau dapat melihat dunia dengan cara pandang berbeda dari sebelumnya. Fokus dan konsentrasi di jalan yang engkau tekuni, jodohmu menanti dengan senyuman yang lebih indah di ujung penantianmu. Karena penantian tidak hanya engkau yang menjalani, jodohmu juga. []

🙂 🙂 🙂

Iklan

10 tanggapan untuk “Teruslah Menulis

  1. “Sampai sedalam inikah saudaraku ………engkau tejatuh pada kualitas…dan apakah dgn membersamainya hidupmu bisa ternormalkan kembali …..tidak sprti cerita tulisanmu yg berantakan…..bila mmg ….

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s