Membangun Sukses Bersamamu

“Assalamu’alaikum,” sapanya dengan suara lembuuuutttt, menenteramkan. Ketenteraman yang ku rasakan, tepat setelah ku ketahui ada seseorang datang menemui kami. Orang yang datang tersebut adalah engkau. Laki-laki muda yang tampan.

“Wa’alaikumussalam,” jawabku ringan, lebih lembuuutt, menenangkan. Mungkin engkau tidak mendengar, kalau tidak benar-benar memperhatikan. Akan jelas terdengar, saat engkau menyimak benar-benar.

Saat menjawab salammu, aku tidak langsung memperhatikanmu. Namun masih sibuk dengan aktivitasku, ceritanya konsentrasi.

Engkau menemui salah seorang temanku. Teman yang sangat dekat denganku. Beliau menyambutmu, dan berbicara denganmu. Beberapa detik berikutnya, ku mendengarmu bersuara lagi. Bersama suara yang masih lembut, tenang. Terkadang engkau bertanya, lalu menjawab.

Suara yang lama kelamaan membuatku tertarik untuk melihat padamu. Suara yang ku suka. Bertepatan saat ku melihatmu, engkau sedang tersenyum. Senyuman yang rupanya telah engkau bawa sejak awal kedatangan. Senyuman yang masih tertata sehingga aku pun dapat melihatnya. Karena senyumanmu masih tersisa. Ku yakin, senyuman yang engkau bagikan bukan sisa-sisa senyuman. Namun senyuman yang engkau perbarui lagi dan lagi. Detik-detik berikutnya, aku terus memperhatikanmu. Terlihat engkau sesekali melirikku. Mungkin karena engkau merasa ku perhatikan?

Wajah yang tersenyum, aku suka. Sangat suka, bahkan. Apalagi kalau wajah tersebut membawa suara yang lembut juga. Maka, aku menjadi sangat suka, suka sangat. Ditambah lagi selembar wajah yang rupanya berjanggut tipis. Hai, tahukah engkau, aku pernah mengimpikan berjumpa dengan orang-orang seperti ini, dulu. Dan kini, ia ada di mana-mana. Termasuk seorang yang menemui kami hari ini. Dalam hatiku berkata, ia masih muda. Sudah sebaik dan seramah ini. Semoga berkelanjutan hingga kelak usianya bertambah. Hingga ujungnya, mampu membahagiakan sesiapa yang ia jumpa. Seperti halnya kebahagiaan yang ku rasa, saat ia mengunjungi kami lagi hari ini. Meskipun ia tidak menemuiku langsung, tapi aura kebahagiaan ia tebarkan sampai padaku. -Terima kasih untuk tersenyum

Sebelumnya, engkau juga pernah menemui kami. Namun, karena wajahmu yang tidak familiar, temanku yang engkau temui, bertanya lagi tentangmu, “Siapa, dari mana, ada yang bisa kami bantu?” Sedangkan aku yang hanya melihat tidak jauh darimu, masih asyik dengan aktivitasku. Namun masih memberi perhatian. Lalu membenarkan, bahwa engkau pernah datang juga. Walau aku juga lupa siapa namamu dan dari mana. Karena sebelumnya engkau juga berbicara dengan temanku, saja.

Engkau masih sama, tidak berubah. Bahkan tanpa merasa tidak kami pedulikan, engkau menjawab dengan senyuman setiap pertanyaan yang temanku sampaikan. Engkau yang masih membawa senyuman dan wajah ramah. Inilah yang membuatku tertarik untuk memperhatikanmu. Kemudian, aku juga sangat tertarik untuk membahas tentangmu, di sini. Semoga engkau tidak mampir di sini, hihiii.  😀

Engkau adalah seorang pemuda. Sebelum berlalu, sempat juga mensenyumi kami kembali. Senyuman yang masih engkau bawa bahkan setelah benar-benar meninggalkan kami. Senyuman yang semoga menemanimu selalu. Selama menempuh hari ini yang mungkin membuatmu tidak dapat selalu tersenyum menjalaninya. Tapi, bersama seuntai senyuman yang engkau bawa, ku percaya hari ini menjadi ringan engkau jalani.  Apalagi saat orang-orang yang engkau temui merasakan kebahagiaan dengan kedatanganmu.

***

Selain pemuda tadi, kemarin dan kemarinnya lagi, juga ada orang-orang berbeda yang menemui kami. Mereka datang dengan ciri khasnya masing-masing. Ada yang hanya sekadar bertanya atau mengantar sesuatu. Ada yang menemui kami dalam waktu lama, ada juga yang sebentar saja. Ada yang pergi dengan wajah penuh senyuman, juga ada yang sebaliknya. Eits, bahkan ada yang kembali lagi menitipkan pesan begini, “Terima kasih, ibu-ibu yang baik hati.”

Di zaman ini, sungguh sangat mudah bagi kita untuk bertemu lagi. Walaupun sudah berpisah jarak setelah bersama. Yah, alat komunikasi dapat menjadi perantara pertemuan kita lagi. Sarana komunikasi yang membuat seorang jauh menjadi begitu dekat. Hingga dapat terlibat sapa, bertukar informasi dan berbagi pengalaman serta pengetahuan. Seperti saat ini, dengan sarana yang ada, kita dapat berbicara dan bersapa, bukan?

Aaaai, senangnya. Aku sungguh bahagia, kita bisa bersapa lagi saat ini. Kemudian saling memberai informasi, termasuk uneg-uneg yang terus datangi diri. Ku maunya, uneg-uneg tersebut mengalir dan menepi, sebelum ku melangkah lagi. Maka, kehadiranku di sini lagi, ya, salah satunya untuk menepikan uneg-uneg tersebut. So, tolong maklumi yaa, karena ku masih ada di sini, memperhatimu, menyapamu, atau tersapa olehmu. Bahkan sampai kita bisa berbagi senyuman yang lebih indah.

Aku suka.

Karena sangat suka berbagi dan bersama seperti ini, maka setiap kali ada hal-hal yang membuatku tergerak untuk menepikannya dalam tulisan, aku mampir lagi di sini. Supaya ku tahu, sejauh apa ku dapat mengelola pikiran yang hadir lalu mendatanya dan mengolah menjadi sebuah catatan.

Supaya, sesiapa yang menemuiku dan menjadi bagian dari hari-hariku, dapat ku ingat lagi, melalui sebuah catatan. Untuk mereka yang bagiku sangat berarti, ku rangkai senyuman demi senyuman. Semoga, beliau pun tersenyum saat tahu, bahwa aku tersenyum bersamanya. Aku tersenyum, karena mengingatnya. Aku tersenyum, untuk mensenyumkannya. Karena ia telah membuatku mau tersenyum lagi. Terutama, orang-orang yang pernah ku baca tulisannya, meski kami belum pernah berjumpa. Apalagi orang-orang yang ku perhati, meski kami tidak bertukar suara. Begitu pun dengan mereka yang jelas-jelas bertukar tatapan mata denganku, kemudian tersenyum penuh makna dan bertukar suara.

Aha!

Sungguh, semua membuatku ingin hidup lebih lama. Selama-lamanya, maunya. Tapi, setelah ku menyadari, selamanya ku tidak dapat membersamai mereka atau mereka membersamaiku, ku rangkai sudah sebuah catatan tentang kami. Supaya ketika ku telah tiada nanti, kenangan tentang kami masih ada. Begitu pun dengan beliau, meski sudah tiada di depanku lagi, kenangan tentang beliau dapat ku perhati sekali lagi, dengan membaca.

Aku mulai suka membaca, setelah ku mengenal bahagianya mengetahui informasi yang belum ku tahu. Aku menjadi mulai suka menulis, setelah ku berpisah dengan orang-orang yang membagi ilmu dan pengalamannya denganku. Padahal ku sangat ingin membersamai mereka lebih lama.

Aku sangat menyukai aktivitas ini, tepat setelah ku menyadari, bahwa kebersamaan kami tidak dapat selamanya. Maka, sebisa mungkin ku petik barisan kalimat penuh arti yang mereka bagikan padaku. Lalu ku tulis sebagai pengingat. Sebisa mungkin ku pahami ekspresi yang mereka perlihatkan padaku, lalu ku catat dalam ingatan untuk ku teladani yang baiknya dan ku jauhi yang kurang baiknya.

Semua menjadi aktivitas yang sangat menarik untuk ku jalani, akhir-akhir ini. Sehingga, bila waktu luang dari aktivitas-aktivitas rutin, ku sediakan waktu untuk membaca dan menulis. Membaca apa saja, termasuk seraut wajah. Menulis apa saja, termasuk mendeskripsikan selembar gambar.

Pagi hari tadi, pikiranku sedang penuh oleh ingatan pada seseorang. Seorang yang membuatku berpikir, bagaimana cara menyikapinya? Seorang yang ku hargai sebagai bagian dari pejalan yang ku temui. Seorang yang sebisa mungkin ku baiki. Seperti saran dari seorang teman jauh di sana, untukku, “Menjadi pribadi yang baik, pendengar yang baik dan mengambil intisari dari pembicaraan saat berinteraksi dengan orang lain, -menjaga hati-, berpikir positif, dan sering beristighfar.”

Aku mulai menjalankannya, dan hasilnya adalah, kami pun berkomunikasi dengan baik. Ia tersenyum lagi saat kami bertemu, dengan ekspresi yang ku tidak sepenuhnya tahu? Tampaknya ia sedang mencari cara mendekatiku. Tapi, tidak bisa begitu. Karena kami harus berjarak. Hahaaa… 😀

Hingga pada suatu kesempatan, ia menemukan cara unik untuk menemuiku. Bagaimana caranya?My Surya

Aku teringat-ingat lagi, bila ada yang mengingatkanku. Aku akan teringat-ingat, bila ada yang belum lunas dari pikiran. Nah, seseorang ini masih nyangkut di pikiranku. Sehingga aku sangat merasa berhutang padanya dan sangat ingin melunasinya. Berhutang sebuah catatan tentangnya.

Mumpung sekarang masih awal bulan, uang lima puluhan ribu juga masih ada, aku mau membayarnya, sudah. Ah. Aku rela, membayar dengan rupiah juga.  Demi tidak teringat-ingat lagi sesuatu yang tidak seharusnya ku ingat. Karena ku ingin melangkah dengan tenang, teman.

Ia berpesan banyak padaku tentang dirinya dan juga diriku. Termasuk mereka di sana selain kami. Pesannya adalah untuk terus belajar sekali lagi, berusaha dan mencoba lagi. Kalaupun sudah memiliki kemampuan yang mumpuni, teruslah belajar, hingga menjadi ahli. Dan ingat bahwa, di atas orang yang ahli, ada yang lebih terampil. Setelah mengetahui, cari tahu lagi. Karena pengetahuan kita, hanya secuil tiada apa-apanya. Maka belajarlah berendah hati, menjadi hamba Allah sejati. Supaya semangat hidup tumbuh lagi. Sempurna.

Aku tidak menyangka, kami bisa bicara sejauh ini. Aku tidak juga menyangka, kami dapat menjadi teman. Tapi, yang ku sangka adalah kebaikan yang ia beri. Kebaikan untuk menjadi bagian dari hari-hari kami.

Semoga, engkau rela bila sebaris kalimat yang engkau bagi menjadi bagian dari catatanku kini, teman. Meski pun kelak tiada lagi yang dapat ku bagi, ia dapat menjadi pengingatku pada seorang teman di sana, entah di mana. Seorang yang mungkin tidak dapat ku lihat senyumannya, tapi ku yakin ada senyuman yang ia bawa. Senyumanmu hari ini, menjadi pengingat diri untuk tersenyum lagi nanti. Senyuman yang perlu menjadi bagian dari hari-hari.

Untuk tidak mengurangi makna persahabatan yang engkau untai melalui barisan kalimat, aku pun sangat ingin mengurai kalimat tentang mu di sini. Boleh, yaa?

***

Sebagai seorang yang baru belajar dan masih melangkah di dunia ini, aku suka dan senang bila ada yang mengingatkan diri. Terlebih dari orang-orang yang barangkali tidak dapat ku kenali dengan baik. Tapi karena ia ada, aku pun tersenyum. Sebab bagiku, lebih baik mengabadikan tentang kebaikan seseorang dari pada menguliti ketidakbaikannya. Dengan begini, semoga menjadi penolong di akhirat nanti, yah.

Karena engkau baik, aku sangat ingin mengabadikan tentangmu dalam hari ini ku juga. Tentang kebersamaan kita yang menyisakan sejenis tawa ringan di ruang hatiku. Kebersamaan yang membuat kita tidak bertatap mata, memang. Akan tetapi, sebaris kalimat yang engkau sampaikan membuatku terkadang hanyut. Entah karena ku mengharapkan kehadiran seseorang di dalam duniaku, atau mengapa? Tapi yang jelas, kehadiran seseorang atau dua orang bahkan lebih banyak orang, sungguh, membuatku semakin hanyut bahkan tenggelam. Sure.

Maka, biarlah engkau menyapaku, aku tenang. Cukup, bahkan kurang rasanya, bila engkau hanya seorang saja. Bagaimana kalau lebih banyak lagi? Ku pinta pada semesta, untuk mengirimiku lebih banyak lagi orang-orang baik yang akan menghiasi hari-hariku. Untuk menghayutkanku dalam indah lautnya kebersamaan. Untuk menjadi pengingat diri, menjadi bagian dari inspirasi.

***

Setelah seseorang datang, seseorang datang lagi. Kedatangannya yang tiba-tiba, membuatku segera bertanya :

Aku        : “Hai, ada yang bisa dibantu?”

Dia      : “Hehee, (melanjutkan langkah, mendekat, lalu berbalik sebelum dekat – Ia berputar saja, seperti mobil salah arah)

Aku        : “Hai, datang lagi hari ini, ada yang bisa dibantu kah?” (aku bertanya lagi, karena kedatangannya memang tidak asing. Namun ku coba menyapa)

Dia          : “Engga ada…

Aku        : “Lha, lalu datang lagi, mau ketemu siapa?”

Dia          : “Haayyaaa, nanti kalau ku minta bantu engga bisa bantu, lagi.”

Aku        : “Hehee, kalau bisa, nanti ku bantu.”

Dia          : “Aku butuh pacar, ada?  😀  “

Aku        : “Ahaa? Kalau pacar engga bisa bantu. Karena engga ada stoknya di sini, laaa…”

Dia          : “… (berlalu sambil tersenyum)

Aku        : “ … (melepasnya dengan tatapan mata penuh tanya)

“Tetangga yang unik,” pikirku.


Tetangga kadang begitu. Datang-datang hanya melihat kondisi tetangganya, kemudian berlalu. Ya, tetanggaku begitu. Membuatku tertarik untuk menepikannya ke dalam hariku, di masa depan. Ku mau tetangga memang begitu, datang tanpa diundang, pergi setelah ingin pulang. Sejauh ini kebersamaan kami mengesankan.

***

Sebelum tetangga datang, seseorang lainnya menyapaku. Kami bertukar suara dengan sempurna. Mengucap salam saling mendoakan. Berikutnya, berterima kasih karena sudah memudahkan urusanku dengannya. Akhirnya, ia menitip pesan lagi, “Hidupku hampa tanpamu.”

Aku bertanya, bagaimana bisa? Ia tersenyum, aku juga.


Ada-ada saja yang membuatku mau tersenyum lagi di sini, sejauh ini. Sehingga, pantas saja kalau ku semangat menemuinya lagi, meski untuk membagikan sebaris senyuman. Karena ku tahu, mereka sangat ramah dan sopan. Walau terkadang mengumpulkan banyak tanya di ruang ingatku, tentang siapa mereka sesungguhnya?

***

Seseorang lainnya lagi, di hari lain. Kami bertemu di tempat biasa kami bersua. Di halte yang menjadi tempat penantianku akhir-akhir ini. Halte di pinggir jalan, di seberangnya ada pangkalan ojek. Beliau berasal dari sana. Nah, melihatku sudah duduk di halte menanti busway yang akan mengantarku, beliau mendekat. Berbeda dari hari sebelumnya, saat pertemuan terakhir kami beliau berekspresi lain. Lebih menjaga, lebih bersahabat.

“Ke mana ponakan?” beliau bertanya. Lalu mengambil posisi duduk tidak jauh dariku.

Aku sedikit heran, saat tahu beliau berubah. Yah. Ku jawab saja, “Menunggu busway, Pak.”

“Hari ini engga beroperasi busway-nya. Jadi, maunya penumpang busway pindahin ke ojek,” beliau mempromosikan ojek lagi secara tidak langsung.

“Hehee, bentar lagi juga datang, Paa…” aku tersenyum.


Tidak sampai lima menit kemudian, busway pun datang. Aku pamitan pada beliau, sedangkan beliau pun berlalu juga. Menuju pangkalan ojek.

Sejauh ini, sepanjang waktu membangun sukses yang ku jalani, ada-ada saja orang-orang yang membantuku. Apakah ku perkirakan sebelumnya, atau mereka datang tanpa ku sangka. Begitulah adanya.

Sehingga, semua membuatku teringat dengan bangunan kokoh yang sedang berdiri tegak. Bangunan yang tercipta atas jerih payah orang-orang yang mengerjakannya. Begitu juga bahan-bahan bangunan yang tidak sedikit jumlahnya seperti, batu bata, pasir aneka jenis, besi aneka jenis, semen, beton, tripleks, kawat, paku, kayu aneka jenis, pipa-pipa, baja, kerikil, cat, baut, kawat, saling bekerjasama menguatkan dan menopang menjadi tiang-tiang yang kuat.

Atap yang bertengger di atas, tidak perlu merasa dirinya lebih tinggi. Karena pondasi yang paling bawah rela terhimpit demi meninggikannya. Maka, di mana pun berada, berbaik-baiklah.

Tersenyumlah pada mereka. Apakah tukang ojek yang menawarkan sewaan, tukang parkir yang bertemu di jalan, tetangga yang menyapa ingin berteman, atau sesiapapun sesama pejalan.

Termasuk penyapu jalan yang ku temui setiap pagi, aku mensenyumi beliau dengan sepenuh hati. Beliau tersenyum padaku, aku bahagia. Aku bahagia, meski sukses masih jauh di sana atau sudah di depan mata. Bahkan saat duduk manis di ruang sukses, ku senyumi yang menyapa atau ku sapa. Semua, pertemuan dengan mereka, engkau, dia, siapa saja, adalah sukses yang lama ku damba.

Terima kasih yaa, untuk segalanya. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

One thought on “Membangun Sukses Bersamamu

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s