Aku Kembali … (Menangis)

Image result for mengapa engkau menangis?
Picture

Menangis, mudah bagiku. Tapi, pada momen-momen tertentu saja. Tanpa ada yang meminta, maka aku bisa menangis. Asli. Emang nangis bisa rekayasa, yaa? Bisa, bisa, kalau lagi acting. Namun yang ku maksud menangis di sini bukanlah dalam rangka acting atau berperan sebagai seorang yang harus menangis (mengeluarkan air mata yang banyak).

Kapanpun aku mau, aku bisa saja menangis, tanpa ada kendala. Menangis begitu saja, karena ada airmata yang siap tumpah.

Memang airmataku tersedia cukup banyak. Akan tetapi ia tidak mudah tumpah kalau tidak pada momen tertentu yang ku maksud. Lalu, kapan saja momen-momen tertentu yang membuatku bisa tiba-tiba menangis?

***

“Sebentar saja nangisnya, kemudian tersenyumlah, lagi,” bisikku mengingatkan diri.

Ini yang ku sampaikan pada diriku sendiri, sebelum menangis. Tapi saat aku menangis, mana bisa? Karena terkadang prakteknya sungguh sulit. Sebelum airmata yang harus keluar menepi seluruhnya di pipi, aku tidak bisa henti begitu saja. Maka, menangislah aku dalam waktu lama. Selama yang ku bisa. Sampai capek dan pegal di sudut mata dan bulat merona bola mataku. Atau setelah ku tersadar, bahwa yang ada tidak perlu ku tangisi. Kemudian menyadarkan diri untuk mensyukuri hal-hal yang telah membuatku menangis. Tapi tidak harus selama itu, kalau ku harus menangis juga. Bersyukur karena ku masih bisa menangis untuk meluahkan rasa. Bukan diam saja padahal ku sangat ingin menangis, yang berarti airmata jatuh ke dalam.

Maka, saat engkau melihatku menangis, biarkanlah… nanti juga reda sendiri. Setelah menyadari kondisi dan keadaan, tentunya. Selanjutnya, aku akan tersenyum lagi.

Lalu, di manakah biasanya ku bisa menangis sampai benar-benar bahagia lagi setelahnya? Menangisku tidak akan bisa di mana saja. Biasanya hanya di tempat tersembunyi dan jauh dari keramaian. Kecuali di lingkungan orang-orang terdekat yang sudah mengenalku lebih jauh. Maka, aku juga mudah sekali menangis di depan mereka. Seperti di hadapan keluarga, teman-teman dan kolega. Airmataku suka mudah tumpah. Hah!

Di sisi lain, ada juga momen-momen yang membuatku langsung menangis. Sebagai bagian dari pengalaman, maka ku bagi beberapa momen tersebut menjadi satu saja untuk kesempatan saat ini, yaitu “Melihat seseorang meninggal dengan cara yang baik, membuatku menangis.”

***

Sunday Morning…

Kami sudah pada cantik hari ini. Aku apalagi. Walau hari libur dan tidak ada rencana ke mana-mana, aku mandi pagi-pagi sekali. Kemudian melakukan aktivitas rutin pagi hari. Termasuk menyalakan televisi walau tidak menongkronginya sepanjang waktu. Hanya supaya ada suara-suara gitu aja, di ruang tengah.

Nah, sesekali lewat di depan TV di sela waktu mondar-mandir sepanjang rumah, bisa mejeng sejenak kalau ada siaran yang menarik. Kemudian berlalu lagi saat iklan menyapa dan memenuhi tayangan. Hingga momen mengharukan itu ku perhati.

Yah, salah seorang temanku yang mulanya berdiri di depan TV. Sedangkan aku masih di kamar. Aku sedang menyetrika pakaian. Lalu, temanku bilang, “Siapa ya? Tadi ku lihat kayak ada yang meninggal gitu.” Ucapnya sambil terus memperhatikan siaran pagi di hari libur. Setelah berulangkali mengotak-atik channel TV. Hingga bertemu tayangan tersebut yang menurutnya menarik.

Saat aku mendengarkan temanku bilang begitu, aku pun jadi tertarik untuk menyaksikan. Karena kalimat yang ia sampaikan sudah membuatku penasaran. Berikutnya, aku pun ikut berdiri depan TV. Untuk menyaksikan berita yang sedang tayang. Puncaknya, sebuah video pun diputar dengan backsound pembaca berita.

Di dalam video tersebut, ku melihat seseorang duduk bersila dengan sebuah mic di tangan. Detik-detik berikutnya beliau menekur dan rebah perlahan. Hingga terdengar informasi berikutnya, begitu cara beliau menjalani proses wafat. Beliau yang tidak kembali lagi, karena telah pulang. Keadaan yang beliau alami dan mengingatkanku pada akhir kehidupan di dunia ini.

Melihat tayangan tersebut, serta merta deru gemuruh di dadaku semakin ramai. Aku masih belum percaya, lalu menepikan pertanyaan pada dua orang temanku yang juga menyaksikan. “Beliau meninggal dengan cara seperti itu, ya? Indahnyaaaa,” aku terkagum. Jadinya ingin nangis. Aku terharu, akhirnya benar-benar nangis.

Meski pun sebelumnya ku tidak mengenal beliau, namun di ujung usia beliau, aku bisa saja menangis karena kepergian beliau. Aku menangis, sampai tersedu, dengan airmata yang sangat mudah mengalir. Terus, berderai.

“Iya, kakak…,” jawab Scatzy, salah seorang temanku yang turut menyaksikan.

“Hiiiiikss, Scatzy…. hiksss,” aku mulai menangis (airmata masih di dalam bola mata). Scatzy melirikku dan tersenyum.

Detik berikutnya, kami bubar dari depan TV.

“Beneran? Huuwwaaaaa…,” kemudian ku berdiri dan melangkah ke kamar. Supaya dapat melanjutkan menangis sambil menyetrika lagi. Sedangkan yang lain juga meneruskan aktivitas masing-masing yang sempat tertunda karena nonton TV sekejap.

Ku hapus airmata di pipi, tapi muncul lagi. Ia menetes lagi, dan begitu lagi. Aku benar-benar menangis jadinya.

“Ennnyyyy…. Hiksss,” ku dekati Eny pada menit-menit berikutnya.

“Iiiiiihihihiii, beneran kakak nangisss… ,” Eny tertawa kecil.

“Napa kakak tangisi? Sedangkan beliau sudah tenang di surga,” hibur Scatzy yang bersuara dari kamar mandi.

Sedangkan Eny yang sedang memasak di dapur ku lihat masih tersenyum. Senyuman anggun yang ia bawa, membuatku tidak rela melihatnya dalam suasana hatiku seperti ini. Sungguh, di ruang hatiku ada yang hendak keluar. Karena di dalamnya ada beban yang memenuhinya. Sesak. Perasaan yang membuatku tidak dapat menunda lagi untuk tidak menangis.

Maka, segera ku berlari ke kamar lagi. Untuk selanjutnya menghayati tetesan bulir bening permata kehidupan. Airmata yang jatuh berderai, saling berkejaran, membasahi pangkuanku. Sungguh, tiba-tiba saja airmata mengalir, menderas, begitu saja. Tanpa ku mengerti arti kehadirannya.

“Huuufft… haah! Sudahlah”. Ingin ku sudahi saja menangis ini. Tapi mana bisa? Kalau ku ingin menangis, ya menangis saja. Agar reda segala rasa yang berkecamuk di dalam dada. Supaya terang dan tercerahkan lagi cara pandang terhadap dunia. Agar ku dapat melangkah lagi dengan sentosa. Tanpa mencari-cari alasan untuk tidak berbuat sesuatu. Apalagi untuk tidak melakukan apapun.

Meski ku coba menyurutkannya, tapi masih belum bisa. Airmata masih menetes saja. Ia masih membersamaiku hingga beberapa menit kemudian. Airmata yang bicara, menyampaikan suara hati. Ia yang datang lagi dan lagi membasahi pipi.

Menangis ku karena teringat akhir perjalanan diri kelak. Berharap husnul khatimah, akhir kehidupan yang baik. Ingatan ini yang membuat airmata semakin membanjir saja. Sebagaimana beliau yang telah kembali. Untuk memenuhi panggilan-Nya (Pemilik diri). Beliau yang telah kembali, pulang. A Sunday morning little note.

***

Tadi malam di komplek tempat tinggal kami, ada orang meninggal di tempat setelah tersetrum tiang listrik. Saat hujan sangat deras, beliau yang akhirnya meninggal di tempat, mendekati tiang listrik tersebut. Maka, teringatku bahwa, beliau pulang dengan cara tersebut. Sedangkan tiang listrik yang memuat aliran listrik sebagai jalannya.

Lalu di RW tetangga ada yang meninggal juga karena kena kabel listrik yang putus. Beliau sedang lewat di jalan tempat kejadian, masih ketika hujan. Begitu cara pulang beliau. Maka, teringatku lagi dengan ujung perjalanan diri. Bagaimana caranya?

Pulang. Semua kita akan pulang. Lalu tidak kembali lagi ke dunia ini. Kita pulang dengan cara yang tidak pernah kita tahu. Bagaimana caranya? Maka, mengingat tentang akhir kehidupan ini, mampu menderukan airmata di pipiku lebih cepat. Ia mengalir saja menderas, mengalir, membanjir, hingga menyembabkan sekitar mataku kalau sampai kelamaan nangisnya.  Saat melihat tayangan ini, meski sekilas di TV, jadi aku kembali … (me-nangis).[]

🙂 🙂 🙂

 

 

Advertisements

9 thoughts on “Aku Kembali … (Menangis)

    1. Hai, Mba Maudyelj, terima kasih untuk mampir dan meninggalkan jejak cantiknya.
      Iyach Mba, tadinya aku juga belum tahu mau mulai dari mana dan bagaimana untuk menuliskan yang ingin ku sampaikan. Setelah ketik-ketik, muncullah narasi seperti itu, huhuuu… *Masihnangis.

      Maaf ya Mba, kalau jadi bingung. Hee.. 🙂 Salam kenal Mba Maudyelj, yaa… 🙂

      Like

    1. Iyup. Di ujung tangisan aku tersenyum, teman.
      Tenang… Mencoba masih menjadi kebiasaan yang ku rutinkan. Semoga percobaan demi percobaan ini, mensenyumkan lebih indah pada waktunya, aamiin.
      Terima kasih untuk sudi berpesan, mengingatkan dan tersenyum 🙂

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s