Lega

Dunia warna-warniKalau kita mudah tersinggung, tanya diri, “Bagaimana sikap kita selama ini? Bagaimana cara kita bergaul dan berkomunikasi dengan sekeliling? Apakah keberadaan kita sangat dekat dengan apapun yang membuat kita tersinggung?

Pelajari semuanya, cari sebabnya dan berusahalah mencari tahu. Bagaimana cara supaya tidak begitu lagi? Karena menjalani hidup dengan sikap mudah tersinggung, tidak menyenangkan. Terasa oleh diri sendiri atau terlihat oleh orang lain. Maka, belajarlah lagi.

Belajarlah tentang sikap baik dan sopan santun. Belajarlah bagaimana cara memperlakukan diri sendiri. Belajarlah bagaimana cara memperlakukan orang lain. Supaya saat berinteraksi dengan sekitar, tidak mudah tersinggung lagi. Apalagi mudah mencap orang lain sekehendak hati. Sampai menyalah-nyalahkan, lalu mau menang sendiri.

Hai, apakah alasan menyampaikan seseorang sombong itu benar? Kalau merasa diri sangat rendah hati dan baik, alangkah menyenangkan, bila tidak menyampaikan hal tersebut pada orang lain. Karena, pada kenyataannya, seseorang sangat mudah beramah tamah dengan mereka yang sepadan dengannya. Apakah dari sikap, ucap, atau pun ekspresi yang terlihat. Termasuk dari suara yang terdengar. Dan bagiku, mendapat cap ‘sombong’ memang sudah tidak asing lagi. Setidaknya, aku pernah mengalami. Mengapa semua ini ku alami?

Aku sering bertanya diri. Apakah aku sesombong itu? Saat ada yang bilang satu kata tersebut padaku? Sebuah kata yang membuatku berpikir ulang, sebelum bersikap. Sebuah kata yang menarik-narik sudut jiwaku untuk mendekat. Mendekatkannya pada kenyataan dan harapan.

Ku buat sebuah sekat di sudutnya supaya ada  ruang kosong. Dari sana, aku mau belajar lagi, bertanya dan memberikan berbagai catatan penting padanya. Atas sebuah penghakiman, cap dan apa lagi jenis penilaian yang ia terima.

Ah, begitulah isi dunia.

Ada masanya kita bertemu dengan keadaan yang tidak sesuai dengan harapan. Namun ia hadir dalam kenyataan. Maka, selagi masih menjalani kehidupan, jadikan sebagai perhatian. Buka pikiran, buka hati, luaskan pandangan mata. Ketahui seluk beluk dunia, selami diri yang sedang melangkah. Apa yang ia bawa?

Ada masa kita bersama-sama dengan keadaan yang membuat kita mendapat cap kurang enak. Padahal kita tidak bermaksud menjadi demikian.

So, teringat lagi ku dengan awal kalimat pada catatan ini. Kalimat yang ku petik dari percakapan dua orang di depanku. Saat mereka sedang berkomunikasi serius. Tampaknya, ada yang kurang beres dan mereka sedang membahas, meluruskan, untuk mencari solusinya.

Ya, dari kalimat tersebut, menjadi jalan ku bertanya diri. Ku kembalikan pada diriku sendiri. Apakah aku mudah tersinggung? Dalam hal ini, saat ada yang bilang aku sombong? Soalnya, bertepatan setelah ada yang bilang padaku begitu, dua orang yang sedang berbincang tadi seakan mengingatkanku tentang sikap. Bagaimana ku menyikapi? Hmm… gimana yaa?

Sejauh ini, aku pun tidak merasa serendah hati yang semestinya. Sehingga cap sombong yang ku terima malah membuatku tersenyum. Sambil menatap dunia dengan mata terbuka, ku tanya diri sekali lagi. Apakah betul aku begitu?

Di sini, kesempatan ku introspeksi diri kembali. Introspeksi yang menjadi cara untuk menemukan solusi. Ku pikirkan saja kebaikan dari cap yang sampai padaku. Barangkali, ia mau aku lebih dekat dengannya, lalu kami bertukar kisah dan cerita dengan leluasa.

Inilah sisi baik yang bisa ku petik. Selanjutnya, saat kami bertemu kemudian bersapa dan bersenyuman, bukankah begitu semestinya? Oke, boleh juga. Ini yang terpikirkan olehku untuk menjadi solusinya. Berikutnya, agar ku tidak diam-diam saja, tapi mau bersuara. Agar ku tidak asyik dengan kehidupanku sendiri, tapi memperhatikan kehidupan yang lebih luas lagi.

***

Intermezzo,

“Hatiku bahagiaa…” ia bersenandung.

“Lhaa, bukannya sediih, yaa, 😀 ,” ku tanya ia yang sebelumnya sempat kece-wa. Karena misinya gagal menjemput gemerincing rupiah sebagai petugas kolektor.

“Ya, sebaliknya,” tanggapnya sambil tersenyum dengan wajah yang mencerah.

Begitu semestinya kita menyikapi dunia. Tidak selalu semua tentang keseriusan. Tidak juga langsung mesti tersinggung dengan yang orang lain sampaikan. Namun, sikapilah dengan senyuman. Karena sebaris senyum dapat membuka pikiran. Selembar senyum dapat menenangkan hati. Sekuntum bunga senyum yang engkau tebarkan dari hatimu yang tersenyum, dapat mensenyumkan sesiapapun yang engkau senyumi.

Ia akhirnya tersenyum, walau sempat ku lihat terdiam sesaat. Senyuman yang mensenyumkanku pula. Ia tetap ramah dan baik. Sekalipun kami tidak mengabulkan permintaannya. Ia yang membuatku tergerak menepikan kisah kebersamaan kami pula. Ia yang berkulit hitam manis, mudah tersenyum. Entah bagaimana suasana hatinya di dalam sana. Aku tidak dapat melihatnya, sungguh. Tapi, jelas-jelas senyumannya yang mensenyumkanku, membuatku mengerti bagaimana suasana hatinya.

Ya, aslinya ia tidak sesedih itu. Aslinya, ia masih lega. Karena ia sudah berusaha. Jadi, kalaupun gagal yang ia temui, senyuman tetap menjadi penghias wajah. Supaya ia semangat lagi, meneruskan misi-misi berikutnya.

Ia bertugas sebagai kolektor, hari ini dan hari-hari lalu. Tugasnya yang membuatku teringat pengalamanku juga. Pengalaman yang sempat membuatku menitik airmata di pipi. Sebab pernah melakukan penagihan dengan ekspresi tidak menyenangkan. Tapi, sudah menjadi masa lalu.

Ekspresi yang tidak membuatku lega, malah merasa bersalah. Mengapa aku bisa begitu? Padahal ku tidak tahu, ada apa di sana? Bagaimana isi pikiran seseorang di sana yang sedang berinteraksi denganku? Bagaimana suasana di ruang hatinya? Apakah berkecamuk atau tidak tenteram?  Ya, jelas-jelas kami tidak bertatapan. Tapi bisanya aku menyalahkan.

Nah, dari semua itu, aku belajar memahami. Aku belajar menyikapi keadaan dan situasi. Lalu, ku petik intisari dari interaksi dengan para penduduk bumi. Ku jadikan sebagai bekal menyikapi hari-hari yang akan ku jalani. Bekal yang sedapat mungkin ku kunyah-kunyah dari hari ke hari. Untuk tidak mudah menghakimi atau mencap seseorang begitu dan begini.

***

Benang merah dari interaksi yang sukses adalah sikap. Walau bagaimanapun, sikap sangat mempengaruhi ujung dari interaksi kita dengan sesama. Kalau sikap kita mudah tersinggung, orang akan tidak mudah lagi mengajak kita berinteraksi. Kalau sikap kita menyenangkan, esok lagi dan lagi, mereka senang datang dan menyapa lagi. Atau menyambut kita dengan senyuman saat kita datang berkunjung. Maka, untuk beberapa orang tertentu yang mulai ku pahami sikapnya, ku belajar mengenali cara menyikapinya. Semampu yang ku bisa, semaksimal yang dapat ku daya.

Sikap sangat menentukan bagaimana kehidupan kita ke depannya. Ini pesan yang ku terima berulang kali akhir-akhir ini. Pesan penting yang membuatku teringat lagi saat bersikap. Pesan yang memberiku ruang untuk berbenah diri. Lalu menanya diri, “Bagaimana sikapku selama ini? Hingga kehidupan seperti ini yang ku jalani? Berhubung sikap sangat berpengaruh pada kehidupan di masa depanku?”

Nah, saat ku bertemu dengan orang-orang yang membuatku berpikir lagi, ku segera introspeksi diri. Apakah aku sudah tersinggung dengan sikapnya? Atau sikapku yang belum sepenuhnya tepat menyikapi perlakuannya?

***

Beruntung, saat ku bertemu dengan orang-orang yang bersikap baik padaku. Sikap mereka yang membuatku terharu. Terharu karena ku ingat, bahwa nyata, kebaikan itu ada di mana-mana.

Kebaikan bisa datang dari mana saja. Bahkan dari orang yang baru kita kenal. Agar kehidupan kita dikelilingi oleh kebaikan, bersikap baiklah, teman. Kebaikan yang asli, dari dalam hati. Kebaikan yang muncul begitu saja, tanpa harus diwanti-wanti. Kebaikan yang kita lakukan karena kita memang begitu. Bukan karena mau orang lain mencap kita sebagai orang baik yang tidak sombong. Bukan juga supaya orang menilai kita senang berbagi. Bukan karena penilaian orang lain. Kalau pun orang menilai demikian, berarti bonus yang kita terima.

Baru-baru ini, kebaikan demi kebaikan menyertaiku lagi. Kebaikan dari beliau yang baru ku kenali. Ya, pertemuan kami baru hitungan menit, bahkan. Tapi, semudah itu hatinya tergerak membaikiku. Apakah karena sikapku? Barangkali. Apakah karena aslinya ia baik? Besar kemungkinan.

“Intinya, kalau engkau menerima kebaikan dari orang lain, berusahalah untuk berbuat baik juga. Walaupun kebaikan tersebut tidak langsung engkau berikan pada orang yang membaikimu,” begini ku berpesan mengingatkan diri.

“Bisa saja orang yang membaikimu langsung berlalu setelah berbuat baik padamu. Selanjutnya engkau tidak dapat bertemu dengannya untuk kedua kali. Termasuk orang-orang yang mempermudah urusanmu dan memberikan solusi. Itu juga bagian dari sikap baiknya padamu. Maka, tanamkan di dalam hati, untuk juga mempermudah urusan orang lain denganmu. Tolong catat ini,” dear me.

***

Lega. Yah, lega rasanya, kalau kita mempunyai suatu urusan dengan seseorang. Lalu kita mendapatkan kemudahan darinya.

Lega, sekali. Sangat lega. Akan tetapi, kalau kita tidak mempunyai urusan sangat penting dengan seseorang? Apakah penting untuk membicarakan hal tidak terlalu penting? Pikirku begini, saat ada yang mencap ku sombong. Karena tidak melayani sesuatu tidak penting yang ia penting-pentingnya. Ditambah lagi dengan sikap sangat mementingkan privasi yang ku pentingkan. Maka, pantaskah aku tersinggung, kalau seseorang mencap sombong padaku? 

Yah, kalau bukan untuk sesuatu yang penting, aku sangat jarang mau membahas sesuatu. Namun untuk hal sangat penting dan memang perlu, boleh ku meluangkan waktu. Karena waktu kita sangat berharga, teman. Lalu, untuk apa waktu tersisa dari usia ini kita gunakan?

Makanya, kalau mau bilang seseorang sombong, sebaiknya berkaca dulu. Jangan sampai langsung tersinggung, saat menyapa dan ia tidak merespon. Iyah, ini uneg-unegku yang tersebar dalam ingatan saat ini. Sebab, lagi dan lagi sebuah kata sombong sampai padaku. Ia menyampaikannya sambil tersenyum ceria, gitu. Sedangkan matanya yang mengerling tidak sepenuhnya menatap padaku, terlihat ada arti di sana. Yah, seperti ada yang sedang ia penasarankan denganku. Lalu, ketika ku tidak menanggapi, ia bilang dech sombong, aku ini. Huhuu.  

Aku memang terkadang begini. Sangat mungkin terusik oleh sesuatu yang semestinya tidak kupikirkan. Apalagi untuk hal tidak penting seperti ini. Tapi, apa boleh dikata. Agar tidak terlalu lama mengendap dalam pikiran, mau tidak mau ku harus mengeluarkannya. Agar pikirku lega dan tidak teringat-ingat selamanya. Supaya saat kami bertemu dan bersapa, ada lega yang ku bawa.

Ya, catatan ini buat engkau di sana. Seseorang yang membuatku tersenyum segera. Tepat setelah engkau mengedipkan mata padaku,  dan bilang, “Haiii… Sombong.”

Hohooo, sorry Bro…  😀 ,” hatiku berkata, dengan wajahku tersenyum.

Sebaiknya ku meluruskan dalam pikiran, tentang ingatan ini. Semestinya ku meluruhkan dari perasaan, tentang catatan ini. Karena saat merangkainya, aku pun tidak mengerti, mengapa pula ku harus mengabadikannya saat ini? Apakah ia begitu penting? 

Engkau yang tidak pernah ku sangka, mau menyapa. Setelah sekian lama hanya senyum-senyum saja dari kejauhan. Saat ku lewat di depanmu, kemudian kita bersenyuman. Selanjutnya, sering memanggilku dengan sapaan yang ramah. Membuatku merasa tenang kalau sedang melangkah. Langkah-langkah yang semestinya engkau tahu, dalam rangka apa? Bukan sembarang melangkah. Namun ku tahu porsinya. Sejauh apa ku mesti melangkah? Bagaimana berinteraksi dengan sesama pejalan? Lalu, siapa saja yang dapat ku sapa sepanjang perjalanan? Bagaimana menanggapi sapaan? Dalam hal ini, kita berbeda. Aku perempuan.

Yah. Tentu sangat bisa dan mungkin, kan? Kalau bukan untuk sesuatu urusan yang penting-penting sekali, aku memilih diam tanpa menanggapi? Kemudian, engkau bilang aku sombong, begitu? Boleh lah… Aku memahami. Mungkin engkau belum tahu, apa yang terpikir olehku saat meneruskan perjalanan. Pikiran yang membersamaiku, ingatan yang menemaniku, untuk tetap menjaga diri.

Dalam perjalanan ini, aku masih dan terus belajar. Bagaimana seharusnya kita berinteraksi. Apa saja yang bisa kita sahuti dan bersamai. Bagaimana cara menemukan solusi?

Hai teman, untuk seseorang yang iseng saja, boleh kan? Kalau kita berlalu atau tidak menanggapi? 

Sedangkan dengan orang-orang yang memang memiliki keperluan dan kami berinteraksi, kami bisa bersenyuman dan saling membagi inspirasi. Termasuk senyuman yang memang tidak selamanya menghiasi wajah, sesekali kami tebarkan. Begitu juga dengan suara dan jawaban, kami pertukarkan juga. Namun masih dalam batasan. Karena ku tahu, di mana ku berada dan bersama siapa. Lalu, untuk kepentingan apa kami bertemuan? 

Aku masih sedang belajar sambil meneruskan perjalanan. Saat bertemu dengan kekeliruan yang ku laksanakan, tolong ingatkan sebelum berlanjut berkepanjangan. Untuk tujuan inilah aku merangkai sebaris dua baris senyuman melalui tulisan. Supaya dapat ku uraikan isi pikiran dan rasa yang muncul dalam perjalanan. Agar ku mengerti, bagaimana seharusnya? Ya, dengan mencari tahu, bertanya, belajar lagi. Supaya yang semestinya saja yang ku jalani, sebagai bagian dari pejalan di dunia ini.

Karena di dunia ini, kita tidak selamanya. Akan tiba masanya nanti, kita kembali ke negeri abadi. Negeri yang membutuhkan pertanggungjawaban diri. Ke mana kita membawanya? Bagaimana ia kita perlakukan? Apakah yang ia lakukan sepanjang kebersamaan kita dengannya? 

Tapi tidak hanya diri sendiri yang kita pentingkan. Ada orang lain yang menjadi bagian dari perjalanan kita. Mereka yang bisa kita selamatkan juga. Sehingga kalau kita selamat, tidak sendirian. Namun ramai-ramai berangkulan jemari, saling mengingatkan. Bekerjasama saling menasihati, saling menyabari.

Ketika engkau memperlakukanku dengan sikap baikmu, maka aku pun baik. Tapi, ketika engkau memperlakukanku dengan sikapmu yang belum semestinya, ada kemungkinan tanggapan yang ku berikan bersesuaian dengan kata hati.

Yes, menuruti kata hati saja, aku seringnya. Bila pada suatu kondisi ku tidak tahu harus bagaimana lagi. Termasuk untuk keadaan yang ku temukan pertama kali dan belum menjadi pengalaman.

Selanjutnya, sebisa mungkin, ku urai segala yang ku alami menjadi sebentuk catatan. Untuk benar-benar ku perhatikan. Apakah sikapku sudah semestinya? Atau perlu ada perombakan, perubahan, dan tukar tambah? Apakah ada yang bisa ku pertahankan, ku kembangkan, atau ku buang menjadi sampah? Apakah selamanya ku bisa membawanya saat melangkah atau menjadi bagian dari kisah?

Sehingga bagaimana keadaan yang ku alami dan sikapku terhadapnya, terselip dalam lipatan diari. Untuk ku baca-baca lagi, menjadi pengingat diri. Menjadi sejenis penasihat yang tidak dapat berbicara, namun kami pernah bersama. Menjadi seorang teman yang mengingatkanku lagi. Seharusnya aku bagaimana meneruskan langkah-langkah di bumi bersama alam-Nya?

Yah, semua dapat membuatku lega.

Kemudian, ku jalankan masukan-masukan yang ia berikan. Saat hatiku berkata iya, lanjutkan. Tapi, kalau masih perlu ku pertimbangkan dan ku timang-timang, ku biarkan lagi untuk beberapa masa. Tidak ku hapus. Karena ia telah menjadi jejak-jejak. Supaya ada yang mengetahuinya, kalau pun mereka sempat membaca. Dengan demikian, lega rasanya bila ada yang tercerahkan. Lega rasanya, saat ada yang menambahkan, harusnya begini dan begitu.

Lega, sungguh lega.

Lega yang ku rasakan melebihi meminum bergelas-gelas air segar setelah berpuasa seharian. Lega yang ku rasa, melebihi sejuknya berada di sebuah ruang ber-AC, setelah berjalan di bahwa terik mentari yang menyengat demi menempuh perjalanan panjang. Lega yang ku rasa, melebihi saat kita berjumpa setelah lama tidak bertemu. Leganya, melebihi setelah ujian sidang dan sang penguji bilang, engkau lulus dengan nilai istimewa. Leganya, melebihi selesainya laporan setelah berjibaku mengerjakan berulang-ulang, demi kesempurnaan. Sungguh lega, setelah mengeluarkan semua yang nyangkut dalam pikiran dan sempat lengket di hati.

Untuk selanjutnya, biarlah ia menguap… aku pun sudi. Lalu ku melangkah lagi membawa diri, memperbaiki sikap, menata sekeping hati di atas bumi yang ku senyumi. Hingga nanti, perjalanan pun berakhir, ku mau masih mensenyuminya.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

3 thoughts on “Lega

  1. Intinya jadilah pribadi yg baiiiik aja ….dan slalu mencoba jadikan diri untk menjadi pendengar yg baik setiap sesiapa yg datang untk berbicara kepadamu saudaraku apapun yg akan lawan bicara bicarakan kpd kita ambil intisari dari pembicaraan…dan jaga2 betuuul…gundah yg ada di dalam hati..sebelum org lain beriteraksi kepada kita untk berbicara..dan selalulah berpikir positip akan org lain yg akan berbicara pada kita….dan slalulah tanamkan dalam hati bahwa menilai org lain tak hrs selalu negativ…dan sering1000 beristiqfar itu lebih baik…kenapa coba? Sering 1000… ya sering2 beristiqfar geteo….

    Liked by 1 person

    1. Hallo Maryadi di sanaaaa (di mana kah? …..), aku suka pesan ini, sangat suka. Meski tidak mudah menjalankannya, setidaknya mencoba dulu, begitu? 😀

      Okeee. Menjadi sebuah tantangan untuk ku taklukkan dalam waktu dekat. Semangatt!
      Terima kasih untuk berbagi, yaaa.

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close