Tentang Kita

My SuryaTentang kita. Engkau, Aku, Hujan, Angin dan Mentari

Aku…

Perjalanan panjang menuju impian, ku tempuh juga dengan tenang. Meskipun tidak selamanya ketenangan menemani dalam perjalanan. Apalagi ketika debu-debu menempel di hati. Seraya menepikan debu-debu yang mengenainya, ku melanjutkan perjalanan.

Hati yang ku bawa melangkah, karena ia adalah bagian dari diriku. Seperti halnya engkau yang tidak dapat terpisahkan dariku. Maunya begitu, tapi, apa boleh buat. Terkadang aku tidak pedulikanmu. Terkadang aku lalai darimu. Terkadang ku sibukkan diri dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Nah, saat pikiran mengambil alih diriku, hatiku terabaikan sudah. Termasuk suaranya yang terdengar, ku pikir tiada.

Sejauh ku masih dan selalu mengembalikan ingatan kepada-Nya, ketenangan kembali menyapa. Sapaan halus dan lembut, membuat airmata sering berderai. Sapaan yang menenteramkan jiwa saat ia sempat bergejolak. Sapaan yang mendamaikannya ketika ia bergelombang. Sapaan yang membuat hati terasa ringan melanjutkan perjalanan. Sapaan yang selalu ingin ku dengarkan dan menjadi bagian dari hari-hari. Sapaan yang selamanya ku rindui saat ku jauh dari ketenangan. Sapaan yang ku rela-relakan menjemputnya, meski jauh dan memenatkan badan. Sapaan yang untuk memperolehnya memang tidak semudah membalik telapak tangan. Karena memerlukan keyakinan dan kekuatan tekad, teman…

Melangkah lagi, selangkah demi selangkah. Berjalan lagi, tanpa ku tahu apa itu lelah. Bergerak lagi, meski pernah merasa lemah. Berusaha mengalahkan segala rintangan dan halangan. Supaya jalan yang ada di depan mata dapat ku lewati tepat pada waktunya. Tidak hanya melihat indah fatamorgana, namun membuktikan apakah benar ia ada. Dengan demikian, harapan demi harapan bermunculan.

Langkah demi langkah kembali ku jejakkan, saat ku mengerti fatamorgana bukan benar-benar ada. Saat ku tahu ternyata fatamorgana itu tiada, maka ku jadikan ia pengindah pemandangan saat melangkah. Ku perlu terus berjalan, meski fatamorgana sering kali menampakkan diri. Terlebih saat panas begitu menyengat. Dan aku sedang melanjutkan langkah menuju jalan lurus membentang di depan. Di sana, fatamorgana sering bermunculan. Ia datang lagi dan lagi, memperlihatkan dirinya. Ia yang sebenarnya tiada.

Intinya yaa, kalau melangkah yaa, teruskan langkah. Jangan sampai karena ada sejenis genangan air terlihat di depan, kita tidak jadi melanjutkan perjalanan. Karena takut menjadi halangan saat kita ingin lewat, misalnya.

Saat melangkah jangan hanya fokuskan pandangan ke depan saja.  Sesekali, lihat-lihatlah juga sekeliling. Luangkan waktu memperhatikan pemandangan yang ada di belakang. Lalu, boleh juga berhenti sejenak sambil duduk-duduk di bawah pohon yang rindang. Supaya semilir angin terasa sejuknya. Agar tidak selalu berpanasan di bawah terik mentari, seperti ketika berjalan.

Sesekali, melintaslah di tepi sungai. Perhatikan bagaimana aliran air di bawah sana. Lihat juga ke atas, tapi sekali lagi, sesekali saja. Untuk menikmati indahnya pemandangan langit. Jangan kelamaan melihat semua itu. Ingatlah dengan tujuan di depan sana. Jadikan ingatan pada tujuan sebagai penggerak raga. Saat ia sudah merasakan nyamannya berhenti. Ingat tujuan masih ada di depan sana. Walaupun jauh, bergeraklah lagi.

“Begitu kau Dek… sebelum menikah, kau pikirkan semua. Jangan kayak kami ini,” pesan beliau sebelum berlalu. Pesan yang ku ingat di saat ku sedang melanjutkan perjalanan ini. Pesan penting dari beliau yang sudah berumahtangga, lalu berbagi kisah dan pengalaman yang penuh warna.

“Jadi, pesan intinya, komunikasi, ya?” aku mengulang kalimat tersebut. Sebagai pesan yang beliau selipkan diantara jeda percakapan kami.

“Iya, komunikasikan semua. Tentang segala yang penting untuk dikomunikasikan. Supaya sama-sama tahu,” tambah beliau bersama senyuman.

Di antara langkah-langkah, ku menepi sejenak dan memperhati sekitaran. Saat itu ku memang sedang membutuhkan asupan energi. Nah! Di sini pentingnya memperhatikan sekitar, walau sesekali ku abai. Tidak selalu peduli dengan suara. Tidak selalu ‘ngeh‘ dengan sedikit keberisikan. Ini lah satu hal yang masih ku pelajari. Supaya menjadi bagian dari prosesku mencapai tujuan. Kepedulian pada sekitar, meski suara sekecil apapun, dengar-dengarlah, kawan. Jadikan perhatian.

***

Aku dan Hujan…

Bahagia dari awal pertemuanku dengannya. Hujan yang peduli, segera menyapaku. Lalu bertanya dan terus bersuara. Semua membuatku tidak nyaman dan ingin menjauh darinya. Tidak nyaman karena kepeduliannya berlebih padaku. Kepedulian yang membuatku teringatkan lagi untuk segera berlalu darinya atau Hujan yang berlalu dari hadapanku. Tapi tidak bisa secepat keinginanku, karena kami masih harus tetap bersama. Lalu ku berdoa dalam diamku. Doa yang ku peruntukkan baginya dan juga diriku. Agar kebersamaan kami tetap dalam lindungan-Nya.

Aku dan Engkau…

Ingatan untuk belajar peduli ini, ku alami langsung terkait engkau. Pengalaman yang tidak mudah ku lupakan. Karena masih teringat-ingat lagi, walau sudah berlalu. Ingatan yang masih mencuri-curi tempat dalam pikiran. Sekalipun sudah ku alami. Pengalaman sangat berkesan tentangmu yang meninggalkan jejak pada suatu hari. Saat aku bersamamu. Siapakah engkau?

Aku, Engkau dan Hujan…

Saat aku, engkau dan hujan bertemu dalam perjalanan. Tetiba ada suara asing terdengar olehku. Saat mendengarnya, aku biarkan saja. Suara yang ku pikir hanya suara biasa dan tidak ada hubungannya dengan ku. Setelah beberapa detik berikutnya, aku baru tersadar. Suara tersebut ternyata berasal dari arah belakangku. Bahkan sangat dekat denganku. Meskipun halus dan tidak terlalu mengusik perhatian, seharusnya ku perhatikan.

Ah! Aku!

Meskipun telah berlalu, yang namanya pengalaman membuatku teringat-ingat. Untuk menjadi peduli dan memperhatikan sekitar. Mendengarkan apa yang mestinya ku dengarkan. Melihat yang seharusnya ku lihat. Bukan hanya asyik dengan pikiran yang ku bawa. Di saat sekitar membutuhkan perhatianku juga.

Note to myself:

Walaupun sedesau angin bertiup, dengarkanlah…

Walaupun sekilat sinar berkelebat, lihatlah…

Walaupun setetes air, rasakanlah kesejukkannya…

Karena, segala yang ada di sekitar, memerlukan kepedulian dan perhatian kita padanya.

Perhatikan dengan hati, pedulilah dengan sepenuhnya.

Karena ada baiknya untuk diri.

Setidaknya, menjadi inspirasi untuk menulis lagi.

Ingatlah, untuk peduli, dear me.

Karena masih jodoh dan engkau benar-benar milik ku, engkau tidak jadi pergi. Meskipun kita sempat berjarak, tapi engkau kembali berada dalam genggaman. Bersyukurku dengan kebersamaan kita. Teringat lagi untuk bersabar. Kalau pun engkau harus pergi lebih jauh.

Ini tentang masa yang telah berlalu. Ketika sekejap engkau luput dari perhatianku. Ini tentang kebersamaan kita yang sempat terhenti sejenak. Karena engkau sempat terjatuh, terhempas dan remuk. Lalu aku? Bagaimana aku menyikapi keadaan yang menimpamu?

Aku yang tidak sepenuhnya memberikan perhatian padamu sepanjang waktuku, tersentuh untuk membahas tentangmu saat ini. Karena ingatanku padamu, masih ada hingga saat ini. Padahal sudah terjadi. Sungguh, sungguh ku tidak ingin teringat-ingat lagi. Tentang kondisimu yang membuatku pilu.

Sempat ku tidak merasakan yang engkau rasakan, namun mana bisa selamanya? Meski engkau hanya sebuah benda tanpa nyawa. Walau untuk merasakan sakitpun engkau tidak mungkin mengalaminya. Tapi, aku sungguh akan bertanya-tanya, bila ada yang membawamu pergi. Engkau ke mana? Sama siapa? Tepat setelah engkau terlepas dari perhatianku.

Engkau, Hujan dan Mentari …

Tapi, lagi dan lagi kebaikan mengelilingiku. Mentari yang membaikimu, menyerahkanmu pada Hujan. Sungguh, kebaikan Mentari yang tidak ku tahu siapa dia, membuatku tak ragu membahasnya. Karena Hujan baik, aku juga ingin menepikan sejumput kebaikan padanya. Alhasil, ‘bakarilaan’ yang sempat kami setujui di awal pertemuanku dengannya, ku buktikan hingga akhir kebersamaan kami.

 Aku dan Hujan…

“Silakan, aku rela. Iyaaa… “

Tenang, tenang, Hujan memang bukan dirimu. Catatan ini ku titipkan untuk Hujan-ku, teman. Seorang yang tidak ku sangka menjadi inspirasi juga. Ah! Kok bisa, yaa? Padahal Hujan bukan siapa-siapa. Tapi karena itulah aku ingin mendekatkannya pada masa depanku. Dengan cara mengabadikan ingatan tentangnya, saat ini. Supaya kata ‘bakarilaan’ yang ia  sampaikan, lebih mudah mengingatkanku lagi padanya. Ketika kelak kami kembali bertemu.

“Yah, bukankah kita sudah bakarilaan, jadi, Angin menjadi milikmu. Aku rela, silakan. Terima kasih yaa, untuk melanjutkan kebaikan dari Mentari padaku,” yang akan ku sampaikan kelak. Semoga aku ingat.

Pada akhirnya nanti, aku teringatkan dengan kebaikan demi kebaikan yang mengelilingku. Meski aku dan Hujan sempat berjarak sebentar. Lalu aku memilih berjalan sendiri. Membawa beban berat yang tidak semestinya ku panggul di pundak. Akibatnya, karena ku masih memaksakan diri, membuatku terhuyung dengan tubuhku yang tidak seimbang.

Nah, atas semua ini, aku sangat ingin menyalahkannya. Yah, ku salahkan saja ia yang ku sebut Hujan. Karena ia mau menduakanku dengan Angin yang jelas-jelas datang lebih akhir di antara kami. Mana bisa ku terima?

Iya, aku memilih mengalah, dong yaa. Dari pada bagaimana-bagaimana. Karena ku suka kedamaian. Aku pun memberi Angin tempat di sisi Hujan. Sedangkan aku memilih pergi dan meneruskan langkah-langkahku. Sejenak, tanpa engkau ataupun Hujan di sisiku. Karena aku ingin melangkah dengan ringan.

Setelah Angin pergi beberapa waktu berikutnya, Hujan menyapaku lagi dan bertanya, “Apakah engkau baik-baik saja?”

Aku menjawab, “Tentu tidak. Karena engkau telah membuatku menangis.”

“Hai, lalu mengapa pergi? Kalau akhirnya menangis?,” Hujan bertanya lagi dan masih bertanya.

“Cukup, cukup. Karena semua telah berlalu. Cukup menjadi pelajaran dan ingatan untukku. Supaya berkata tidak, kalau ku harus berkata tidak. Cepat memberai segala rasa yang ada, karena ku mesti mengeluarkannya. Bersama senyuman hatiku berkata.”

Hujan yang cukup peduli. Walau ia sempat membiarkanku menjauh. Uh! Dan aku pun perlu terus menjauh, jauh darinya. Supaya Hujan tahu, bahwa diriku bukan Angin yang bisa datang dan pergi kapan saja. Ya, aku tetap diriku dengan begini adanya aku. Aku yang menyukai perdamaian, ketenangan, dan membutuhkan penenangan. Termasuk belajar legowo dan menerima keadaan. Supaya kehidupan yang ku jalani lebih ringan terasa.

Selamat berjumpa lagi Hujan, di hari yang akan datang. Hari-hari yang akan menghadirkan senyumanku lagi. Saat ku ingat bahwa kami (Aku dan Hujan) pernah bersama dan  kami telah ‘bakarilaan.’

Terima kasihku pada Hujan. Untuk pengalaman, cerita, kisah yang ia bagikan dan pertanyaan yang membuatku harus memberikan jawaban. Termasuk penjagaan dan kepeduliannya padamu. Kepedulian yang ku acungi jempol dan senyuman tanda persahabatan. Karena kami pantasnya bersahabat.

Ya, berteman dan bersahabat. Bukan sebagai adik atau kakak. Seperti yang Hujan sampaikan padaku di awal pertemuan kami.

Engkau dan Aku…

Engkau juga bilang begitu, khan? Walau sebelumnya sempat ragu menyampaikan. Karena engkau tidak terlalu mempermasalahkan, bagaimana cara Hujan dan Angin atau Mentari memanggilmu saat menyapa. Bagimu, semua sama, saja. Selagi mereka memahami bagaimana engkau menanggapi sapaan dan panggilan mereka padamu. Semudah itu.

Engkau yang tetap tinggal bersamaku setelah Angin dan Hujan berlalu, ku peluk erat. Yah, ku dekatkan engkau lebih dekat dari sebelumnya. Supaya engkau tahu, bahwa aku sangat memedulikanmu. Terlepas dari pernahnya aku mengabaikanmu. Namun semua sudah berlalu, bukan?

Saat kita masih bersama seperti ini, tolong maafkan aku, boleh? Supaya ku dapat meneruskan perjalanan ini lagi, dengan lega. Supaya tidak tersisa lagi rasa bersalah di sudut hatiku, padamu. Agar aku dapat tersenyum lagi saat melangkah. Senyuman yang ku tebarkan pada sesiapapun yang ku temui. Termasuk pada Hujan, Angin dan Mentari yang pasti saja akan ku temui lagi. Entah kapan dan di mana kami berjumpa nanti. Maka, sepotong maaf darimu, sudah cukup membuatku percaya diri melangkah lagi.

Aku…

Saat ini, ketika engkau, Hujan, Angin dan Mentari jauh di sana, aku masih ingin melanjutkan langkah-langkahku lagi. Langkah-langkah yang semula telah ku jejakkan. Meski tidak lagi di tempat sama, ketika kita bertemu dulu. Tapi, tempat ini sudah berbeda. Tempat yang lebih sering memberiku peluang untuk duduk-duduk manis menikmati alam. Tempat yang menaungiku dari tetesan Hujan bila ia turun lagi dan mendekatiku. Tempat yang memberiku kesejukan tambahan, ketika Angin bersemilir sedikit saja. Tempat yang meneduhiku dari teriknya sinar Mentari. Tempat yang tidak hanya ku jadikan untuk duduk-duduk manis. Namun, aku masih melangkah.

Melangkah lagi dengan senyuman, membawa kenangan dan ingatan yang masih tersisa. Meski sudah ku usaha meluruhkan sebagiannya dalam tulisan yang ku rangkai, namun ingatan tetaplah ingatan kalau ia masih menempel dalam pikiran.

Sedikit demi sedikit, ku usaha menepikannya, semoga tidak memberatkan. Percayalah… masih ku usahakan. Supaya, yang perlu saja yang ku ingat. Yang perlu saja yang ku izinkan ada di ruang hati. Hati yang tertempel debu-debu lagi, kalau ku tidak ingat membersihkannya. Hati yang sangat rentan terkena noda, jika ku tidak sering mendeteksinya.

Termasuk hujan yang sering turun, turut membasahi ruang hatiku ini.

Aku akan terus melangkah. Menikmati segarnya Hujan ketika turun, menghayati hangat sinar Mentari menyinari. Pun, tidak ku abaikan lagi semilir Angin yang menepi di pipi. Sambil menikmati kebahagiaan hati.

Benar, saat melangkah seperti ini, aku merasakan kehadiranmu. Engkau yang mungkin ku tepikan sejenak saat banyak ingatan dalam pikiran. Engkau yang mungkin ku abaikan sekilas, saat ku bersih-bersih debu yang menempel di hati. Engkau yang mungkin ku biarkan berlalu, ketika ku tersibukkan dengan langkah-langkahku. Tapi yakinlah bahwa, ketika ku tersadar lagi tentang artimu bagiku, aku akan menoleh ke sekeliling untuk memperhatimu yang memedulikanku. Pada saat itu, ketika pandangan kita bertemu, senyumanku untukmu. Maka, tersenyumlah juga pada saat yang sama. Karena tersenyum bersama-sama, berbeda bahagianya. Ingatan tentang tujuan inilah yang mengajakku mau melangkah lagi. Untuk tersenyum bersamamu di sepanjang perjalanan.

Bersenyuman denganmu, menambah syukurku. Lalu, bagaimana ku dapat melukiskan perasaan syukur yang ada di hatiku saat ini? Hati yang tidak dapat engkau lihat auranya. Hati yang tersembunyi jauh tanpa rupa, namun ia bersuara. Hati yang selamanya menjadi pengingat saat ku lupa. Hati yang berkata, dan harus jeli mendengarkannya perkataannya. Hati yang sepenuhnya mengharapkan kebaikan untukku. Maka, mana peduliku padanya? Apa yang ku lakukan untuk membuatnya mau tersenyum lagi meski sempat terluka? Bagaimana caraku memberinya ketenangan di tengah goncangan? Atau ku biarkan ia begitu saja, tanpa ku ajak serta dalam berbagai aktivitasku? Engkau tahu akibatnya?

Semua kembali lagi padaku. Segala yang ku lakukan dengan hati, mensenyumkannya kembali. Bila tanpa mengajaknya dan ku berjalan sendiri sekehendak diri, hanya wajah yang mungkin tersenyum. Sedangkan hati bertanya, “Ada apa di sana?” Bagaimana ia menjadi tidak mempedulikan dan memberikan perhatian padaku? Padahal aku senantiasa ada untuknya. Ku jawab saat ia bertanya, tapi sering ia mengabaikanku. Apakah karena suaraku sangat halus dan ia tidak mendengarnya? Apakah karena aku tidak terlihat walaupun ada? Atau, karena ia tidak menyadari kehadiranku bersamanya?

Inilah sekelumit suara hatiku yang perlu ku tahu. Ketika ia bertemu dengan sesiapa yang sempat mengusiknya. Maka, ku sebut saja mereka Hujan, Angin, Mentari, atau engkau. Engkau juga bisa saja Hujan, Angin, Mentari, atau bukan makhluk bernyawa yang ada di bumi. Akan tetapi menjadi bagian dari perjalananku.

***

Note : 

*)  Kali ini, engkau yang ku  maksud adalah sebuah kotak berisi benda-benda berharga. Sedangkan Hujan, Angin, Mentari adalah seseorang

**) Bakarilaan = Saling merelakan.

🙂 🙂 🙂

 

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

1 thought on “Tentang Kita

  1. Sllu ada do’a 2 baik utkmu saudaraku…

    Liked by 1 person

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close