Apakah yang Berubah?

Home Sweet Home

Hai kawan, selamat berjumpa lagi hari ini. Pertemuan dengan perantara paragraf-paragraf sahaja. Paragraf-paragraf yang menjadi jalan bersapanya kita lagi.

Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga keadaan terbaik menyertai langkah-langkah ringanmu, ya. Begitupun dengan senyuman yang menepi di pipimu. Senyuman riang nan ceria engkau bagikan, membuat bahagia sesiapapun yang menemuimu atau engkau temui. Sehingga membuat hari ini engkau jalani menjadi lebih berseri.

Bahagia rasanya kita kembali bersua hari ini. Setelah beberapa waktu terakhir tersibukkan oleh aktivitas tidak terprediksi. Termasuk pertemuan dengan orang-orang yang tidak pernah kita sangka.

Bagaimana kenanganmu bersama beliau semua, teman? Apakah ada butiran hikmah yang dapat engkau petik? Sehingga menjadi penyemangat diri melangkah lagi? Karena ternyata, di luar sana, saat kita mau memperhati, ada warna-warni unik yang menarik untuk kita selami maknanya. Meskipun pertemuan kita dengan beliau semua, hanya sebentar saja. Walaupun sebelumnya kita tidak saling mengenal dengan mereka yang akhirnya menitipi kita pengalamannya.

Sekalipun tidak kita minta, namun atas kehendak sendiri, beliau mau berbagi cerita. Supaya kita tahu, bahwa “Ada yang lebih tahu dari yang tahu. Ada yang lebih berpengalaman dari yang berpengalaman. Ada yang mengerti dari yang mengerti, begitu seterusnya. Maka, belajarlah lagi dari mereka yang mau berbagi. Belajarlah dari seluruh alam yang kita perhati. Maka senyuman pun hadir membersamai ruang hati. Meski pun wajah tidak mampu tersenyum karena suatu kondisi tertentu.”

Bagaimana hari-hari terakhirmu teman? Apakah keadaan demi keadaan membuatmu terinspirasi? Apakah semua dapat mengingatkanmu lagi? Bahwa perubahan demi perubahan terus terjadi di dunia ini. Karena beberapa keadaan tertentu berubah, maka berubahlah bersama perubahan. Lalu berangkat bersamanya meraih mimpi. Supaya hidupmu menjadi lebih hidup lagi, harapanmu bertumbuhan menjamur. Agar bumi menjadi tempat yang baik untuk engkau huni. Bumi yang semakin tua, terlihat semakin indah, bersama perubahan demi perubahan yang ada di atasnya.

Tentang perubahan ini, ku teringat-ingat dengan kalimat-kalimat singkat. Kalimat yang ku peroleh saat berinteraksi dengan beberapa orang pada hari-hari terakhir, diantaranya, “Perbaiki sikap, ……………………… perhatikan sekeliling, pedulilah dengan sesiapapun yang dekat atau jauh, jeli dan petik hikmah dari sekitar.”

Ya, saat berinteraksi dengan seseorang, aku mau saja menyelami kata demi kata yang beliau alirkan melalui suara. Seperti yang lainnya lagi, ketika ku sedang menanti. Yah, menanti seseorang yang akan menjemputku. Jemputan yang memberiku jalan supaya ku dapat bertemu dengan keluarga lagi. Jemputan yang akhirnya ku jemput di sebuah pertigaan. Karena ku jelas sudah tidak mau menunggu.

Ehiya, bukan ini alasan pastinya. Namun, karena ku ingin menghirup udara malam sambil melangkahkan kaki, ini lebih tepatnya. Jadi tidak hanya duduk-duduk manis, menanti begitu saja. Memanfaatkan waktu menanti seseorang yang entah kapan datangnya, aku melangkah. Melangkah di tengah sunyi, temaram dan sendiri. Namun, tidak selamanya ku sendiri. Mengapa?

Tepat saat ku telah sampai di pertigaan, seseorang datang menghampiriku, lalu menyapa, “Hai, lagi tunggu siapa? Nunggu saya, yaa…? Iya? Nunggu saya?” Beliau yang datang tiba-tiba, mendekatiku dan bersikap ramah. Sampai jarak kami hanya beberapa langkah saja. Aku memaklumi di mana aku berada? Sehingga beliau sampai menyapa dan mendekatiku?

Sambil tersenyum, ku menjawab pelan, “Nunggu jemputan, Pa.”

Dengan posisi berdiri, aku melangkah sedikit sampai kami sejajar. Aha, aku tenang saja, walau kami baru bertemu. Karena kostum yang beliau pakai membuatku merasa aman. His security costum membuatku mau menjawab tanya demi tanya yang beliau ajukan.

Yah, aku menyadari diri, sedang berada di wilayah kekuasaan beliau. Lalu, melihatku sedang berdiri, sendiri, beliau menyapa, beramah tamah dan kami pun berbagi suara hati. Eits, maksudnya saling menanyai.

Sepanjang percakapan berlangsung, beliau yang lebih sering bertanya. Sedangkan aku sibuk memberi jawaban dan teralihkan juga dengan pikiranku sendiri, sambil sesekali memperhati sekeliling. Karena yang ku nanti belum kunjung datang.

Kebersamaan kami di tempat tersebut, bukan saat sepi. Karena ada banyak orang di sekitar kami. Mereka menjalani aktiviitasnya masing-masing. Ada juga yang duduk-duduk menikmati alam dan berjualan.

Pertanyaan demi pertanyaan beliau lontarkan, untuk mencairkan suasana dalam kebersamaan kami. Aku lama kelamaan membaur dengan pertanyaan beliau. Lalu menanya balik, segala pertanyaan yang beliau sampaikan padaku.

Konon ternyata, kami senasib dan sepenanggungan di akhir pekan yang kelam. Beliau adalah seorang yang bahkan sudah berusia lebih dariku, namun belum berkeluarga. Ceritanya begitu. Aku siiich, percaya-percaya saja. Percaya bahwa semua ada waktunya. Termasuk beliau yang bilang sangat susah bertemu teman. Apalagi dapat shift kerjanya malam. Siapa yang bisa ku kenal saat kelam? Seperti begini ungkapan suara hati beliau yang ku deteksi. Membuatku sangat ingin mengabadikan tentang kebersamaan sejenak kami. Pertemuan yang tercipta ketika ku juga sedang menanti. Menanti atau menjemput jemputan?

Tidak terlalu lama kami bertukar sapa, berbagi pertanyaan dan jawaban, sebuah panggilan masuk pun datang. Yap, jemputanku sudah datang. Sebuah mobil silver terlihat berhenti tepat di depan kami. Ku tahu yang ku nanti masih mencari-cari. Di mana aku yang ia cari? Ternyata kami sudah berpapasan. Ketika sempat ku lambaikan tangan ke arahnya dan bapak security juga ikut membantuku dengan bersuara. Penjemput terlihat bahagia karena kami akhirnya bersua. Beliau tersenyum dan beberapa saat berikutnya aku pun ikut dengan mobil tersebut. Tidak lupa pamitan dulu, sebelum meninggalkan bapak security. Aku tidak tahu nama beliau. Karena tidak ku perhati name tag beliau. Kami tidak berkenalan lebih jauh. Sayang sekali.

Perjalanan malam menuju kampung halaman, ku mulai dengan sebaris doa. Semoga perjalanan yang tidak sebentar ini berujung selamat sampai tujuan. Perjalanan di tengah kelam, jauh dari kenyamanan. Sungguh, sangat tidak nyaman ku rasakan. Akan tetapi, ku percaya selagi mobilnya bergerak dan terus melaju, sampai juga kami di tujuan.

Keesokan harinya, menjelang subuh selepas dini hari, ku menginjakkan kaki kembali di bumi. Setelah semalaman duduk manis di belakang supir yang mengemudi. Alhamdulillah, sampai dengan selamat dan tidak banyak halangan berarti. Termasuk kondisi fisikku yang segar, tidak m-4buk seperti yang lalu-lalu. Karena, terkadang ketidaknyamanan di perjalanan membuatku sangat mu4l dan lalu terjadilah yang terjadi. Hihiii.  😀

Sudah dekat dengan rumah, ku sapa alam yang menyambutku berseri. Meskipun mentari belum terbit, namun alam mulai terlihat melalui penerangan yang ada di sekitar. Menginjak tanah lagi dengan hati-hati, aku mensyukuri sejuknya udara pagi. Pagi-pagi melangkah lagi, dengan senyuman menghias pipi. Melangkah lagi sambil ku panggil Chef Onna dengan alat komunikasi.

“Onnnaaaaaaa…. Jempuuuuuuut,” sapa sekaligus permintaanku dengan suara sedikit berat nan manja.

Iya, aku terkadang bisa bermanja. Setelah belajar tegar dan menguat-nguatkan hati saat kami berjauhan. Setelah membulatkan tekad saat kami berjarak. Maka, ketika tiba masanya bermanja, aku pun menjadi adik yang sangat manis. Sedangkan Chef Onna yang sudah bersiaga sejak tadi, menyusulku yang masih melangkah.

Yah, untuk sampai di rumah kami, perlu menempuh jalan setapak. Sebelumnya begitu. Tapi kini sudah berubah, kawan. Haaa? Apakah yang berubah? Secepat itukah perubahan terjadi? Apakah selama ini ku tidak turut membersamai perubahan tersebut? Lalu terkaget dengan perubahan yang memampangkan diri di depan mata?

Aku berkedip sekali lagi. Ku kucek mata berulang. Ini bukan mimpi, karena sudah pagi. Ini yang terjadi di bumi yang ku singgahi. Semua bisa terjadi, dengan kemauan untuk mengubah keadaan. Semua secepat itu?

Kini, jalan menuju rumah kami sudah bisa dilewati mobil. Senangnya hati. Namun masih berproses. Semoga jalan cantik di depan rumah segera jadi. Sehingga kalau hujan turun, kami tidak becek-becekan lagi dengan tanah merah yang lengket di kaki. Kan sayang, kendaraan roda dua yang suka Kak Ipar kendarai harus maju mundur tidak terkendali? Sayang kan? Namun sejauh ini, ku berterima kasih sekali pada para pengembang lingkungan kami. Yah, beliau yang mempunyai andil, visi dan misi untuk kemajuan negeri. Terima kasih sekali lagi, buat pemerhati lingkungan. Sehingga, penawaran beliau kami sahuti. Lalu, jadilah jalan yang melingkar menuju desa tetangga melalui belakang rumah kami. Sungguh, ini perubahan terkini di lingkungan kami.

Sampai di rumah, keluarga menyambutku dengan senang hati. Ku kabari juga adik tercinta dan kakak tersayang yang jauh di mata. Beliau yang senantiasa memantau perjalanan diri, meski hanya melalui suara.

Dear brother, terima kasih atas segala kelonggaran hati memberi pelayanan terbaik pada diri ini. Walaupun hanya sejenis sapa, tanya dan juga pinta. Aku senang, kita masih ada di bumi hingga saat ini. Lanjutkan perjuanganmu juga di sana, bersama senyuman menghiasi pipi. Senyuman yang terbit dari relung hati. Tersenyumlah hari ini.

Duo imut yang sudah bertumbuh, ku perhati dalam pertemuan kami lagi. Alira sang adik masih tertidur pulas saat ku datang. Sedangkan kakak Khayla menyambutku sambil berlari. Selanjutnya ia duduk di pojokan dan malu-malu saat menantapku. Beginilah anak kecil bisa berekspresi. Ia sering memperhati dulu, kemudian lengket tidak terlepas ketika sudah kita akrabi.

Saat mentari pagi mulai tersenyum, aku bersama duo imut bermain-main hingga menjelang siang. Bahkan sampai sore hari. Ya, bermain-main dengan mereka ku lakoni saat di rumah lagi. Kami berlari-lari menempelkan telapak kaki tanpa alas di tanah, lalu lesehan tanpa tikar. Semua membuat tingkat kekotoran pakaian kami menjadi-jadi. Sesekali, kami memang begini. Apalagi adik terkecil Alira yang sudah mulai bisa bicara dua kata namun masih belum lengkap. Ia sering asyik perosotan di tanah merah.

Beberapa waktu kemudian menghampiri kami, ibu-ibu di dapur dan bilang, “Ndaaaaa piss…” Hahaaa, 😀 aku pun tertawa. Sedangkan ibundanya memaklumi. Tidak lama-lama, sesiapa saja langsung bergerak cepat, memberinya pakaian ganti. Untuk selanjutnya ia akan pergi lagi, berlari-lari dan perosotan di tanah.

Biarlah, masa kecil mereka bahagia, sering berakraban dengan bumi. Supaya mereka bertumbuh menjadi anak-anak yang kebal dan kuat.

Berada di rumah lagi untuk beberapa hari, sukses ku jalani dengan beraneka aktivitas. Termasuk mengunjungi tetangga yang lama tidak ku temui. Salah satunya mampir di rumah ‘inyiak’ -nenek tertua– tetangga kami. Beliau yang sudah kembali menjadi anak-anak, menjadi salah satu bukti kekuasaan-Nya. Sehingga melihat beliau, dapat mengembalikan ingatan kami kepada-Nya. Saat masih bayi kita tidak bisa ngapa-ngapain, kecuali merengek dan menangis. Kelak usia lanjut, akan kembali menjalani kondisi serupa. Sampai lupa-lupa segala yang pernah kita ingat. Kemudian bicara apa saja dan bermain-main lagi.

Dari Anas bin Malik ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, pikun, bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan fitnah hidup dan mati.” (HR. Muslim) Sumber

Berkunjung ke rumah-rumah tetangga, memperhati perubahan yang ada, lalu main ayunan di halaman depan. Iyyaaaa, masa kecilku memang kurang bahagia. Maka, saat melihat permainan-permainan anak-anak yang masih bisa ku lakukan, maka aku tidak tinggal diam. Lalu main ayunan dech saat duo imut dan anak-anak tetangga tidak memakainya. Bahkan menjelang malam, aku sempat duduk-duduk di ayunan. Menikmati semilir angin malam, ibunda sebagai saksi. Beliau tidak mau turut, hanya memperhati. Setelah lama, kami pun kembali ke dalam. Karena nyamuk-nyamuk malam tidak bisa kompromi kalau kami di luar berlama-lama. Maklum, posisi rumah kami yang di tepi rimba ini, memungkinkan nyamuk-nyamuk malam bebas beraksi.

Kalau kita mau berkunjung, maka kita juga akan menerima kunjungan. Karena ada yang mengunjungi pula. Barangkali bukan orang yang sama, tapi ada-ada saja. Begini hikmah yang dapat ku petik sepanjang hari pertama di rumah lagi.

Sore harinya, ada beberapa orang teman yang jalan-jalan menikmati udara sore, hingga mereka pun sampai ke jalan di depan rumah kami. Mereka duduk-duduk sambil bercerita. Aku pun nimbrung bernostalgia, mengingat-ingat masa lalu kami. Berjumpa teman-teman lama seperti ini, pasti bahasan updatenya tentang perubahan. Lalu, apakah yang berubah dari diriku? Apakah perubahan yang mereka jalani? Sehingga menjadi bahasan yang menarik.

Menariknya adalah, mereka sudah tidak lagi sendiri sendiri. Namun masing-masing sudah bawa anak-anak. Minimal satu orang anak. Hohooo. Seorang ibu yang sebaya adikku, sembilan bulan lalu masih hamil, saat kami bertemu lagi kemarin, anaknya sudah bisa duduk. Teman lainnya yang sembilan bulan lalu baru lahiran, kemarin anaknya sudah bisa berdiri dan berlari-lari.  😀

Perubahan yang cepat ini membuatku tersenyum lagi. Perubahan ini, mengingatkanku untuk tidak lama-lama duduk-duduk saja. Namun, perlu bergerak lagi, melangkah dan boleh juga berlari. Apalagi saat mereka menanyaiku tentang hal ini. Kapan mengirimkan undangan yang segera ku pahami dan ku jawab dengan senyuman di pipi. Hatiku berkata, “Where is he, ya Rabb-ku?”

Menjelang senja, mereka pun bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan aku, melanjutkan aktivitas di dalam rumah. Ala-ala anak pingit gitu dan memang begitulah aku adanya. Sangat senang berdiam di rumah, lalu menyibukkan diri dengan segala yang bisa ku lakukan. Tentu saja bersama ibunda yang sangat ku sayangi. Beliau, tersenyum lagi dan lagi sepanjang kebersamaan kami. Sampai waktunya kami pun dinner together.

Hari kedua di rumah, keesokannya, kami menghabiskan waktu di dapur dengan masak-masak. Kami bekerjasama menyiapkan bekal untuk ku bawa di perjalanan nanti. Bersama ibunda dan chef Onna yang gemar memasak. Beliau mengajakku membersamai sebagai bagian dari ibu-ibu. Kami sibuk-sibuk mengolah menu, mengerjakan apa saja yang tidak selesai-selesai, ternyata. Hingga tidak terasa, hari sudah menepi. Sore berkunjung membawa keteduhan dan angin yang menyejukkan hingga menjelang tengah malam. Hujan yang sempat turun menjelang Ashar, membuat alam sangat adem.

Lepas senja, ku sudah bersiap-siap. Waktunya merantau lagi.

Keluarga kecil kakakku yang meramaikan hari-hariku, mengantarkanku sampai ke mobil travel yang akan mengantarkanku. Selanjutnya, menempuh jalan kelam berliku, naik turun menuju Riau. Pas menjelang sampai, tingkat konsentrasiku buyar. Karena di sekitarku ada ketidaknyamanan, namun tidak sampai membuatku tepar.

***

Perjalanan panjang semalaman memberikan kenangan terindah sepanjang usiaku. Inilah yang perlu ku catat.

Tanpa ku prediksi sebelumnya, kami meneruskan perjalanan ramai-ramai. Ada beberapa orang bapak di sekitarku. Bapak-bapak yang bercerita tentang pengalaman hidupnya di sepanjang perjalanan. Lama beliau bercerita, membuatku sangat tersentuh.

Selain itu, ada seorang perempuan muda yang memilih duduk di kursi terdepan. Aku lega, kami tidak jadi berbagi kursi yang sama. Karena sangat tidak nyaman, bukan? Intinya sich, begitu. Pesan pentingnya adalah apapun yang engkau temui dalam perjalanan hidup ini, syukuri keadaan, petik ilmu dan pengalaman dari cerita dan kisah hidup orang lain. Apalagi yang memesankan kita lebih berusia dan menjalani hidup lebih lama. Beliau yang lebih banyak merasakan asinnya garam kehidupan.

“Mereka yang komplain dengan pelayanan kita tandanya memberikan perhatian. Karena mereka tahu, bagaimana pelayanan yang semestinya. Maka, berilah perhatian pada mereka yang komplain demi kemajuan dan perubahan menjadi lebih baik ke depannya.”

Jadikan sekeliling sebagai inspirasi, catat inti-inti kata dalam waktu dan tempat yang terbatas. Lalu kembangkan pada waktu yang terluang. Supaya menjadi pengingatmu lagi sepanjang proses menemukan hikmah tersembunyi dalam berbagai situasi dari segala penjuru.

Tambahan lagi, ku mendengar juga kalimat serupa namun dari orang berbeda, “Rezeki kita tidak berpintu, bisa datang dari siapa saja. Maka, berubahlah dan ubah hal-hal yang dapat kita ubah. Sebab Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum kaum tersebut mau mengubah keadaannya.”

Dalam proses perubahan, jangan pernah mengharap balasan, sedikiiit pun. Kalau ini terjadi, kece-wa lah balasannya. Makanya, membantu orang, memang harus ikhlas, menolong karena Allah. Kalimat terakhir, menggerakkanku untuk tersenyum, lagi… mengingat kejutan-kejutan kecil yang ku alami di sepanjang perjalanan hingga hari ini. Semua tidak terduga. Begitu terjadi, aku mau menyadari, pasti semua dalam rencana-Nya untuk ku jalani.

Terima kasih untuk semua orang-orang baik yang berada di sekitarku dalam waktu terakhir. Walaupun tidak mungkin tertulis nama, namun artimu selalu ku jaga dalam ingatan.

  • Beliau yang membersamaiku saat ku berdiri sendiri menanti jemputan sebelum pulang adalah bapak security. Semoga beliau bertemu jodoh dalam waktu dekat.
  • Beliau yang mengantarkanku sampai tujuan dengan selamat adalah supir travel.
  • Beliau yang membersamaiku melepas senja. Doa dan harapan yang mereka sampaikan secara langsung ataupun tidak langsung adalah teman-teman sebaya.
  • Apalagi bumi tempatku berpijak yang menopang telapak kaki saat berdiri di atasnya.
  • Semuanya, termasuk juga mentari yang mencerahkan siang dan membuat hari-hari terang benderang.
  • Semuanyaaaa…

***

Begitulah kisah pulang kampungku sejenak dalam rangka menemui perubahan. Oleh-olehnya kesandung sudut tempat tidur yang membekas di kiri dan kanan lututku. Sempurna rasanya. Hingga saat ini masih terasa sakit dan terlihat lebam. Ibunda bilang, “Dia mau kenalan, sebagai pendatang baru di rumah kami. Sungguh, super romantisnya dia padaku.” Terima kasihku padanya juga. Walau sekarang kami sudah berjarak raga lagi. Sampai waktu tak terhingga dan kami bertemu kembali dengan perubahan berikutnya. Perubahan yang terus saja terjadi, berlangsung, menemani hari-hari.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

2 thoughts on “Apakah yang Berubah?

  1. Ya rabb…semoga apa yg sudah menjadi keinginanya bisa engkau wujudkan untuknya sebagai kasih sayang mu kepada beliyau..dan memberikan mimpi2 nya untuk bisa menjadi nyata akan masa depanya dan kebahagiaan yg memang ada untuknya do’aku pada mu untuknya allah…amiiiin..ya..rabbal… alamiin

    Liked by 1 person

    1. 🙂 Aamiin. Terima kasih yaa, Maryadi untuk doanya…

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close