Sweet Love

Selalu begitu.

Dalam kebersamaan, ada-ada saja yang mereka titipkan padaku. Apakah secuplik kisah, selembar nasihat, sehelai hikmah, setitik kesejukan, hangatnya senyuman, kepedulian berlebih, pengertian, pemahaman, bahkan sampai membuatku terharu.

Haru.

Ya, aku sering terharu kalau sudah mau berpisah. Berpisah dengan sesiapapun saja. Apalagi dengan mereka yang sering membersamaiku dalam hari-hari. Maka, ketika waktu berpisah tiba, ada yang menyentuh ruang hatiku. Sentuhan yang membuatku ingin menitikkan bulir bening permata kehidupan di pipi, lalu menangis.

Menangis adalah caraku meluahkan rasa yang ada. Apakah menangis ku karena haru, atau pilu. Apalagi atas sebuah perpisahan yang terjadi. Perpisahan yang membuat kami berjarak raga. Jarak yang tidak sedepa.

Perpisahan? Kali ini, kami akan berjarak tidak lagi sebatas satu kolong tempat tidur atau sebuah dinding pembatas.  Namun kami akan berjarak sejauh satu propinsi. Yah, masih di pulau yang sama, memang, kami akan berjarak. Akan tetapi, tetap saja perpisahan ini menyediakan secangkir haru untuk ku teguk pelan-pelan. Lalu, ia akan habis ku minum seluruhnya, seiring waktu yang terus bergulir.

Atas sebuah perpisahan, aku mungkin masih bisa tersenyum melalui wajah. Namun tahukah engkau bahwa, di dalam hatiku ada haru, pilu atau apalah nama sejenisnya.

Pasti saja, begitu. Walaupun ku masih berusaha mendekapnya erat, agar tak memberai airmata di pipi. Meski ku coba merekatnya kuat supaya tak lepas menebar di wajah. Agar semua cukup tentang perasaanku saja. Tapi, tidak semudah itu, ternyata. Karena ada-ada saja cara untuk mengungkapkannya, walau tidak selalu melalui airmata.

Seperti saat ini. Ya.

Selain meluahkan keharuan atau kepiluan melalui ekspresi terlihat di wajah, aku juga punya cara lain. Beginilah cara yang ku temukan supaya semua terlihat juga. Dengan mengeluarkannya melalui tulisan. Sambil menangis, terpilu, terharu, yang ku yakin, ujung-ujungnya mensenyumkan. Karena ku tidak menyadari, dari semua yang ada, ternyata hikmah terselip di dalamnya. Hikmah yang bisa saja tidak ku temukan saat terjadi dan ku alami. Akan tetapi, setelah ia mengendap sejenak sampai beberapa bulan atau bertahun-tahun, aku mengerti, rencana-Nya berperan selalu untukku jalani.

Kalau kami harus berpisah, aku mungkin terharu atau terpilu. Atau ada rasa lain yang menyerta, aku juga tidak tahu kalau ku tidak mengeluarkannya. Bahkan bila ku memilih diam meresapi semua sambil merenung, itu pun caraku untuk menyelami hikmah yang ada. Maka, sesekali engkau melihat ku terdiam, di sudut ruangan setelah tersedu, biarkanlah. Cukup biarkan, dengan terus memantauku. Karena setelah itu aku akan bangkit lagi, bergerak dan tersenyum, setelah tercerahkan.

Seperti hari ini. Aku sungguh terharu, Sejak tadi malam, kemarin-kemarin, dan hari-hari setelah ku kabarkan mereka tentang rencana keberangkatanku. Ya, engga jauh-jauh siih, hanya ke kampung halaman. Itu pun rencananya beberapa hari saja. Kampung halaman yang sudah lebih dekat dari perantauanku kini.

Jarak tempuh perjalanannya sekitar tujuh sampai delapan jam saja melalui jalan darat. Lalu sampailah aku di kampung halaman, untuk berjumpa keluarga tercinta, tetangga, pepohonan, tepi rimba dan juga sawah-sawah di sepanjang perjalanan. Ingatan pada pertemuan kami yang membuatku semangat pulang. Walau sangat pasti, di perjalanan nanti tidak ada nyamannya sama sekali. Juga tidak ada ketenangan ku rasakan. Sebelumnya ku berpengalaman seperti ini. Ditambah lagi dengan perjalanan yang akan ku tempuh cukup lama. Semua, membuat ingatan menepi kian kemari.

Saat ini, ku afirmasi diri supaya ia siap menjalani. Bagaimanapun perjalanan nanti, merupakan proses mencapai tujuan. Butuh perjuangan meski ku hanya duduk manis di belakang supir yang sedang mengemudi. Memerlukan pikiran positif supaya selamat sampai tujuan dan kembali lagi. Memohon doa dari semua yang ku tinggalkan dan akan ku temui. Supaya, kami masih dapat berjumpa lagi, dengan senyuman menghias pipi. Kalau pun … (*)tepat di sini, kalimat ku terhenti. Karena ku yakin, semua yang kita jalani dalam rencana-Nya. Tetap ingat kepada-Nya, where ever you are.  I remind myself.

Seperti halnya perjalanan menuju kampung halaman yang tidak nyaman sama sekali, namun masih tetap harus ku alami. Begitu pula dengan perjalanan hidup kita di dunia ini. Selama nyawa masih membersamai diri, selama itu pula kita menempuh perjalanan ini. Perjalanan hidup yang masih berlangsung.

Sepanjang perjalanan hidup itu, juga ada ketidaknyamannya. Karena kita dapat saja bertemu dengan hal-hal yang tidak kita sukai. Namun di sinilah peran sikap berfungsi. Kita dapat menyikapi keadaan dengan baik. Untuk hal-hal yang kita sukai dan kita temui, bersikap baiklah juga menjalaninya. Lakukan apapun yang dapat kita lakukan untuk menyikapinya. Supaya perjalanan hidup kita menjadi lebih berarti dari hari ke hari.

Seperti perjalanan menuju kampung halaman yang tidak ku tahu akan bertemu dengan siapa saja di perjalanan nanti, begitu juga dengan kehidupan ini. Esok, lusa atau di hari-hari nanti, kita tidak tahu akan bertemu dengan siapa. Apakah pertemuan tersebut kita rencana atau tidak. Namun yakinlah lagi, semua dalam ketentuan-Nya. Fokus pada tujuan, hayati proses dan perjalanan. Semoga segala yang kita temui dalam perjalanan menjadi penyemangat diri saat menjalani.

***

Sore hari yang cerah, kemarin…

Di ujung hari yang berseri, mentari masih menyisakan sinar terbaiknya. Sehingga, saat ku memalingkan wajah dan tatapan ke sisi langit Barat, di sana ada silau dan hangat. Silau, saat mata kami saling bertemu. Hangat, ketika sinarnya menepi di pipi. Maka, untuk masih dapat memperhati kondisi terbarunya, ku angkat tangan sejajar alis, menempelkannya sebentar di pelipis. Supaya dapat ku lihat jalan dengan jelas. Karena silaunya yang super fantastis, membuat tatapan tidak sempurna menatap ke depan.

Mentari, sore hari ketika ia hendak pergi, ia menitipkan silau terbaiknya. Silau yang sempat ku tatap sesekali di sepanjang perjalanan. Terkadang ku membelakanginya, kalau arah jalan bertolak belakang dengan posisinya. Atau ia berada di sisi kiriku, saat ku masih melangkah.

Mentari, sore hari saat kembali ke rumah lagi, ia memantauku dari jauh. Ia masih memperhatikanku yang sedang melangkah. Ia membuatku tersenyum, saat kesadaranku kembali. Ia membuatku sangat tenang melangkah, karena ku tahu, sinarnya sedang menerangiku. Ia menemaniku.

Ku langkahkan kaki lagi. Setelah sukses menyeberang jalan yang ramai. Melangkah dengan hati-hati, meskipun tiada sesiapa di sekitar. Memperhati sekeliling, sesekali melihat ke belakang. Inilah keasyikan saat berjalan yang ku rasakan. Karena kita dapat melirik-lirik, memperhati, menghayati, sesekali juga memetik lembaran dedaunan di sepanjang jalan, memetik bunga di tepi jalan, atau cukup memperhatikannya saja karena cantik.

Setelah sekian lama melanjutkan perjalanan, aku pun sampai di tujuan. Menaiki tangga hingga sampai di lantai dua, lalu mengetuk pintu perlahan. Berikutnya, ada pemandangan yang menarik perhatian.

Ia tersenyum lagi, senyuman yang menebar rapi. Tepat setelah aku kembali. Ada dua orang anak yang tersisa. Saat yang lainnya pergi dan menjalani aktivitasnya masing-masing. Dua orang saja, tidak seperti biasanya.

Pertemuan kami lagi sore hari, setelah seharian berjarak raga, membuat senyuman kembali bertautan. Ia tersenyum, aku juga. Meski membawa lelah, ku ajak mereka menikmati waktu di ujung hari yang tersisa. Agar waktu tidak terasa melambat, hiasi ia dengan aktivitas saja.

“Makan apa ya, malam ini?,” tanyaku seraya menepikan perlengkapan yang ku bawa. Lalu duduk selonjor di lantai yang dingin. Sempat mau rebahan sejenak, tapi tidak jadi. Karena kalau sudah begitu, aku akan tidak mudah bangkit lagi. Biasanya begitu. Maka, ku duduk lagi, kemudian berdiri, setelah ada inspirasi.

Mariii, kita masak-masak. Tadi pagi ku tidak jadi masak. Tuchh, masih ada bahannya di dapur. Namun kurang telur. Aku beli dulu yaaa,” ajak Nana yang terlihat semangat.

Melihat Nana yang semangat, semangatku tumbuh lagi. Meski tidak sepenuhnya, aku pun bergerak sebentar ke depan. Lalu menatap ke arah Barat. Apakah mentari masih terlihat? Ternyata masih ada. Ini pertanda, kalau senja semakin fantastis, megah dan indah.

“Belilah dulu, trus kita masak-masak, nanti makan malam di atap yuuuu,” isengku mengajak.

“Hayuu, hayuuu… Kayaknya seru,” tanggap Nana, kemudian bergegas siap-siap mau ke warung.

Sedangkan Scatzy yang terlihat malas-malasan dengan gadgetnya, ternyata sudah selesai makan dua jam lalu. Sehingga ia terlihat tidak begitu semangat. Namun kami selalu punya cara supaya kebersamaan tercipta. Walau bagaimanapun, kumpul-kumpul aja sudah menjadi kebiasaan.

“Oke, aku mau masak mie ajaaa, nanti kita makan di atap,” ia mulai bersuara.

“Eeeeeeeiya, aku juga punya satu stok mie, mau masak mie juga aajaaa,” aku jadi kebayang pedas-pedas dan segarnya kuah mie rebus bercampur telur.

Setelah deal, semua mulai bergerak. Karena masaknya tidak ribet-ribet, cukup sebentar dan masakan pun sudah jadi. Nana masak menu sederhana, telur dadar tahu yang konon katanya menyontek dari Emak. Ceritanya Nana mau nyoba bikin juga, karena sebelumnya Emak buat yang lezat dan Nana suka.

Menjelang Maghrib, semua sudah siap. Aku sudah cantik karena sempat mandi juga di sela-sela kami memasak. Begitu pun dengan Nana yang akhirnya sempat mandi sore juga. Sedangkan Scatzy memang sudah cantik sebelum ku datang. Karena sejak siang hari ia di kostan aja. Setelah ke kampus hanya beberapa jam sejak pagi.

Saat adzan Magrib berkumandang, semua khusyuk dan tidak melakukan aktivitas lain kecuali beribadah. Supaya anak-anakku nan shalelah segera lulus kuliah dengan nilai yang indah, yaaah. Berusaha, belajar, berjuanglah, Nak. Doa Emak menyertaimu.

Semua selesai setelah Maghrib berlalu. Kemudian kami pun berangkat ke atap, ceritanya dinner on the dark. Penerangan sekadarnya. Sesekali menerangi dengan kamera hape, menyantap menu makan malam sederhana dengan senyuman. Ada cerita yang saling kami pertukarkan. Di antaranya tentang masa depan. Ada menu yang saling kami pertukarkan juga. Sehingga satu sama lain merasakan menu temannya juga. Kebersamaan yang membuatku senang. Kami melakukan semua, karena terpikirkan begitu saja, lalu menjalaninya.

Makan malam selesai, tepat saat seorang anak lagi mulai datang dari aktivitas.  Kami yang mengetahui kedatangannya, memilih diam-diam untuk memberi kejutan. Yaa, kami tidak memberitahu kalau kami ada di atap.  Sengaja. Kami sempat mengintip dari balik kaca, rupanya ia memilih duduk manis di depan TV. Barangkali menanti teman yang lain, entah berada di mana.

Ujung-ujungnya, kami tidak tega. Lalu mengajaknya serta, “Mariiii ke atap.”

Mengetahui kami ada di sekitarnya, ia pun bahagia dan surpise juga. Karena ternyata ia tidak sendiri di kostan malam ini. Hihiiii. Hingga ujung-ujungnya, muncul ide untuk kemping di atap. Ceritanya kami mau tidur di lantai atas beratap langit penuh bintang. Sungguh menyenangkan, saat membayangkannya. Semua setuju. Kami pun bersiap, membawa segala perlengkapan, termasuk segelas minuman hangat masing-masing. Minuman yang segelas akhirnya tumpah sebelum habis. Entah milik siapa. Karena gelap, tidak terlihat. Ooo, rupanya minuman Nana. Hahaaa.  😀

Kami sudah kembali ke atap, setelah semua shalat Isya dulu. Begitu pun dengan teman terakhir yang juga sudah datang. Ia makan malam, kemudian bersih-bersih dan ikut gabung.

Rencana kemping yang tidak terlupakan ini, menjadi sebuah catatan penting di dalam hati masing-masing. Karena kemping yang kami rencanakan tersebut gagal. Gagall? Yah, gagal total. Kegagalan yang kami deteksi sejak pukul 10.30 PM.

Tepat, saat angin mulai bersemilir lebih ramai. Tepat, saat awan-awan di atas sana semakin mencerahkan malam. Tepat saat bintang-bintang kecil di atas sana, tidak terlihat lagi oleh pandangan mata cantik kami. Tepat, saat awan hitam terlihat di tepi langit. Tepat, saat sesekali pemotretan sedang berlangsung dari atas sana. Tepat, saat tanda-tanda mau hujan terlihat semua. Tepat saat lirik-lirik lagu Surat Cinta untuk Starla mengalun ke sekian kalinya. Sebuah lagu yang mereka persembahkan untukku, atas request dari seorang teman. Tepat saat ku bertanya, lirik ini judulnya apa, aku sangat sukaaaa… Tepat, saat kami benar-benar harus kembali ke dalam ruangan, meski teman sebayaku memilih ngesot-ngesot tidak terima, kalau kemping kami gagal. Tepat saat teman sebaya masih manyun sampai di dalam ruang tengah lagi, lalu duduk di depan TV.

“Seperti menjelang Shubuh,” Scatzy bersuara lagi, setelah ia sempat menutup mata dan kemudian membuka mata lagi.

***

Ya, rencana kemping ini kami lakukan melihat suasana malam yang benderang, awalnya. Namun beberapa jam kemudian, situasi alam perlahan berubah. Semua mengembalikan ingatan kami kepada-Nya. Karena mungkin kemping yang kami lakukan bukan pada tempat dan waktu yang tepat.

Yang benar saja, mau tidur di alam terbuka, hingga tengah malam dan menjelang dini hari? Beratap langit penuh bintang? 

Yang benar saja, mau berteman nyamuk-nyamuk malam yang gigitannya sangat menyakitkan? Meski sempat pakai 4-u-t4n sebelum terlelap? 

Yang benar saja, kawan…

Tentu saja, semua karena Tuhan belum mengizinkan kita sampai berdingin-dingin terkena angin malam. Ya, pasti karena DIA sangat sayang dan menjaga kita dengan memberi peringatan. Peringatan berupa tanda-tanda akan turun hujan. Lalu, kita mesti dan harus rela, rencana kemping mengalami kegagalan. 

Yang benar saja, kawan…

Meski kemping kita semalam gagal, namun di dalam hati ku kenang juga. Tentang percakapan kita saat semua sedang tidur-tiduran menatap langit malam penuh bintang. Agar pada suatu hari nanti, ketika kita semua sudah berjauhan raga. Ingatan demi ingatan kembali mempertemukan. Semoga, saat semua mencapai segala keinginan dan harapan yang menjadi kebutuhan, tetap ingat yaa, tentang kemping kita yang gagal. Karena Tuhan sayangi kita. Selalu, selamanya, dengan cara-Nya.

***

Malam tadi adalah puncak keharuan. Haru karena semua mengerti, perpisahan akan segera terjadi.  Perpisahan yang mewanti-wanti kami untuk menghayati kebersamaan dengan sebaik-baiknya. Agar saat perpisahan terjadi, semua dapat bersenyuman meskipun dari kejauhan. Kemudian kami saling menceritakan keadaan masing-masing, setelah sempat berpisah dan kemudian bersama lagi.

Sedangkan haru berikutnya berlanjut, saat pagi-pagi sekali semua kembali bersama, bersapa dan bersenyuman. Di antara mereka menitipku pesan, “Selamat jalan, semoga selamat sampai tujuan. Sampai bertemu lagi kemudian.” []

🙂 🙂 🙂

Iklan

15 tanggapan untuk “Kemping yang Gagal

  1. Yaaa…intinya kita mahkluk dunia nyata bukan dunia maya untk saling bisa membersamai…..biarpun modrn tetep aja nyata ya nyata dan maya ya maya….apa ada rasa dari maya

    1. “Sahabaaat..cobalah bersamakan persamaan dengan bersama dengan bentuk yang nyata pasti keinginan yg di dapat akan sama dan keinginan yg sama2…sama…yaaaaaah sekedar memberi solusi ajah biar tidak jadi dilema pribadi siiih…

      1. Terima kasih juga untuk solusinya, semoga dilema pribadi segera berlalu kalau sempat meneman diri, dan tidak datang-datang lagi, karena dilema pribadi itu sungguh-sungguh membuat hidup terasa berat dijalani #pengalamansejati

  2. Hahaaaaa….aduuuh peningnya jadi pemikir jadilah seorang pengukir yg hasil ukiranya dapat dinikmati banyak orang yg melihatnya dan akan jadi kesan tersendiri untuk sang pengukir..and tetap semangat untukmu sahabat…

    1. Walau jadi pemikir tidak selalu menyenangkan, tapi ada juga lho kesan yang terukir dengan berpikir, hasil yang mensenyumkan dan tentu saja membuat semangat hidup meningkat. 😀 Masih teruskan mikir.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s