Bagaimana Persahabatan dan Kebersamaan menjadi Berkesan?

Sweet LovePersahabatan dan kebersamaan adalah dua kata yang membuat hari-hari menjadi semakin berkesan. Apakah kebersamaan kita berlangsung sebentar saja atau persahabatan kita baru saja terjalin. Karena kesan tidak tergantung pada kuantitas kebersamaan dan persahabatan tersebut, namun pada kualitasnya. Saat kebersamaan kita berkualitas, maka kesan pun tercipta. Ketika persahabatan kita berkualitas, kesan yang tercipta menjadi hampir tak terlupakan.

Sekalipun akhirnya kita tidak dapat bersama-sama lagi. Karena jauhnya jarak membuat kita tidak bisa bertemu kapan saja kita mau. Akan tetapi, begitu jarak tercipta, ia memperindah kebersamaan. Ia membuat sebuah kebersamaan dengan kebersamaan berikutnya semakin berkesan. Seperti halnya kata demi kata dalam kalimat ini. Satu kata tercipta, terdiri dari kebersamaan beberapa huruf yang berbeda.

Kata demi kata yang berjarak, tidak selalu berdekatan dalam kebersamaan. Namun adanya spasi di antara kata demi kata, membuat kita mau membacanya dengan semangat. Demikian juga dengan kebersamaan dan persahabatan yang tentu ada jarak di dalamnya. Jarak yang membuat kita saling mengingat, merindukan, kemudian ingin bersama lagi. Jarak yang memberi kita ruang mendata ulang niat, untuk apa kita menjalin persahabatan. Jarak yang memberi kita jeda untuk mengingatkan diri, dalam rangka apa kita bersama.

Di sini, saat ini, sejak pagi hari. Kebersamaan dan persahabatan kita jalani. Kebersamaan sebentar saja, namun berkesan. Persahabatan yang tercipta dari hari ke hari, membuatnya semakin berkesan. Ia akan menjadi kenangan tidak terlupakan, sampai nanti. Saat jarak sudah memisahkan kita. Sehingga kita tidak lagi bisa sarapan bersama atau makan siang seperti tadi. Jarak yang membuat kita perlu terus saling ingat dan mengingatkan, agar kebersamaan dapat tercipta lagi, setelah jarak sempat memisahkan.

Kini…. Beberapa saat yang lalu kita benar-benar sudah harus berjarak raga. Kebersamaan pun terputus sejenak. Persahabatan juga berjarak sebentar. Kalau sudah sendiri begini, aku ngapain aja biasanya?

Ada-ada saja yang ku lakukan kalau sedang sendiri. Intinya adalah bergerak dan tetap bergerak. Melakukan apa saja, seperti berberes dan berbenah, bersih-bersih dan merapikan segalanya. Sehingga kebiasaan di dunia nyata pun terbawa-bawa ke sini. Sampai, lembaran catatan di dunia maya sering ku ubek-ubek. Apakah hanya sekadar gonta-ganti tema, memindahkan barang-barang dan kemudian memasang pigura. Atau, ku juga tidak jarang membersihkan laba-laba sejenis spam di lembaran tersembunyi. Supaya penampilan luar dan dalam blog semakin berseri, bersih dan tanpa debu. Hohooo… 😀 Ku pikir begitu.

Oiya, sesekali juga ku bertanam bebungaan di pinggir halaman. Seperti ini juga kebiasaanku di dunia nyata. Karena aku suka bertanam segalanya, saat sedang di rumah. Menyapu sampah-sampah atau dedaunan di halaman, dan tentu saja tidak mengepel lantai. Karena lantai dasar rumah kami bukan keramik yang mesti dipel supaya cantik. Namun masih memerlukan sapu saja untuk menepikan debu-debunya. Berbeda sedikit dengan ketika di kostan saat merantau, lantainya memang keramik. Maka, sesekali ku pel dan sapu supaya bersih. Supaya kecemerlangannya terjaga. Tidak setiap hari, memang. Karena yang ada di lokasi hanya beberapa orang saja. Jadinya, debu dan tingkat kebersihannya bisa terpantau dengan baik setiap waktu. Yuhu.

Lalu saat sendiri seperti ini, apa lagi hal lain yang ku kerjakan? Bisa baca-baca, tulis-tulis, atau memandang alam sekitar dan kemudian tersenyum bersamanya. Senyuman yang ia teladankan padaku. Sehingga sendirian tidak mesti membuatku bersedi-iih selalu. Namun bisa juga tersenyum. Senyuman yang selanjutnya ku bagikan dalam kebersamaan kita. Saat tersenyumnya engkau juga, semakin menambah senyumanku.

Kebersamaan dengan senyuman yang saling kita pertukarkan, di sanalah kesan terbaik hadir. Ini menurutku, ya. Ya, bagiku yang orangnya mudah merasa, melihat kebahagiaan terpancar pada wajahmu saat kita bersama, serta merta membuatku merasa bahagia. Begitu juga dengan hal-hal yang engkau sampaikan dan kemudian terpikirkan olehku, maka kepikir-pikir dan aku pun memikirkannya terus-terusan. Sampai ku lelah. Beruntung kalau ku segera ingat menuliskannya untuk meluahkan isi pikiran. Maka, pikiran yang sama tidak sampai menerorku lagi dalam langkah-langkahku. Sehingga ku dapat melangkah dengan ringan, menjalani kebersamaan dengan jalan-jalan yang ku tempuh.

Seperti saat ini. Ketika pikiranku sedang penuh oleh kebersamaan dan persahabatan kita, maka ku segera menepikannya di sini. Agar semua ku rasa terluahkan segera. Selanjutnya ku dapat meneruskan perjalanan hari ini lagi. Tanpa harus membawa-bawa pikiran yang sama. Karena semua telah ku berai menjadi tulisan. Semoga engkau ingat, tentang kebersamaan dan persahabatan kita yang berkesan hari ini, teman.

“Nah, bagaimana kebersamaan dan persahabatan yang berkesan tersebut? Dari tadi muter-muter, keliling-keliling, sampai sempat beres-beres juga,” mungkin pertanyaan mu seperti ini.

“Okee, kebersamaan dan persahabatan kita membuatku terkesan dengan adanya kepedulianmu. Ya, engkau sangat peduli padaku, bahkan melebihi kepedulianku pada diriku sendiri. Sehingga kesan tersebut membuatku ingat untuk peduli juga padamu. Contohnya? Engkau peduli dengan memberiku masukan, pertanyaan dan juga tantangan. Haaah! Tantangan apa lagi ini…?”

Begini ceritanya. Berhubung akhir-akhir ini dalam setiap menu yang ada, kami (aku dan seorang teman) masak itu lagi itu lagi, engkau pun tergerak menantang kami dengan menu baru. Menu baru yang bagiku menjadi tantangan.

Yah, karena aku sangat jarang sekali berinteraksi dengannya. Bukan karena tidak suka seluruhnya yang membuat kebersamaan kami sedikit saja. Namun, ada beberapa jenis yang ku suka, sedangkan jenis lainnya tidak ku suka. Itupun kalau masaknya digoreng. Apakah dia?

Ikan. Yah, aku tidak suka semua ikan. Karena sejak dulu memang begitu. Apakah karena tidak terbiasa mengkonsumsi ikan dari kecil? Ini bisa juga salah satu alasannya. Tapi, bukan bawaan keturunan, yaa. Hanya tidak suka aja. Sesekali ku coba juga sich beberapa jenis ikan dan aku bisa menikmati kebersamaan kami. Sehingga ikan-ikan yang ada di hadapanku pun tersisa tulang. Lalu, bagaimana bisa memasak ikan menjadi tantangan?

Aku bilang, alasannya adalah proses pengolahannya yang lama, ribet dan membutuhkan bahan-bahan rumit.

“Ahaaa… mana lama? Mana ribetnya? Bahannya itu-itu juga kok. Cara masaknya juga sama, seperti kalian mengolah tahu, tempe, kentang, terong, dan apa lagi … oiya keripik-keripik. Karena ikan juga bisa diolah dengan menggorengnya. Minta bersihin aja langsung sama bapak penjual, kalau engga mau membersihkannya. Nanti tinggal cuci dan lumuri bumbu sebelum digoreng,” engkau mulai membeberkan tipsmu memasak ikan.

“Iiiiiiiy…. (aku sedikit bergidik). Namun aslinya, aku juga pernah masak ikan digoreng. Ikan teri… Hihihii.  😀  Tapi, tantangan ini ku terima. Aku siap mencoba, tapi jangan sekarang yaa. Di lain waktu, saat liburan, ku olah ikan menjadi lezat,” senyumku yang engkau sambut dengan senyuman juga. Siapakah engkau yang memberikan tantangan pada kami?

Iyah, engkau teman sebayaku. Teman yang juga rutin memasak ternyata, di sana. Lalu, engkau pun berbagi cara mengolah seekor ikan supaya menjadi menu. Sehingga kami tidak lagi masak itu-itu saja, seperti yang engkau lihat.

Terima kasih teman, untuk memantau kami dan mempedulikan. Walaupun engkau tidak pernah terlihat memasak di dapur, namun sesekali membersamai kami sarapan saja. Saat itulah engkau bisa memberikan masukan berarti untuk kami. Agar kami mau mencoba menu-menu baru dan berbeda. Supaya ada variasi dalam menu hari esok. Begitu, bisikmu mencandai kami. Sedangkan aku hanya tergelak saja, sambil terus memberikan alasan asalan. Alasan yang mengungkapkan bahwa ku tidak pintar masak.

“Hahahaa… Ternyata. Ternyata,” engkau pun geleng-geleng kepala. Lalu memberi kami tantangan. Supaya dapat mempraktekkannya, mencoba dan mencari tahu.

“Siiap Sist,” jawabku.

Inilah bagian berkesan lainnya dari kebersamaan dan persahabatan kita. Kesan yang membuatku tergerak menjalaninya. Supaya tidak hanya teringat-ingat saja. Apalagi setelah menepikan ingatan dalam rangkaian kalimat. Tujuannya memotivasiku untuk bergiat. Tidak hanya pelecut semangat, namun berubah tekad yang kuat. Sebagai jalan menjadinyatakan segala niat. Melalui proses yang ku tempuh dalam waktu dekat.

Walau pesannya sederhana, tapi kalau bermakna, ikutilah.

Walau kesannya biasa saja, tapi kalau baik, lakukanlah.

Sehingga kebersamaan kita ada harganya. Begitu juga dengan persahabatan. Ada yang dapat kita jadikan sebagai pengingat satu dengan lainnya. Saat ada yang memberikan nasihat, timang-timanglah lalu jalankan. Kalau pun belum dapat menjalankan langsung, catatlah sebagai pengingat. Supaya pada suatu hari nanti berkesempatan membacanya lagi, dapat menjadi pertimbangan. Karena orang yang berpesan tentu mempunyai alasan. Mengapa ia menyampaikannya pada kita, bukan? Ya, terimalah masukan, hadapilah kenyataan. Jadikan sebagai jalan untuk mencapai tujuan.

Memang tidak selalu masukan yang datang dapat kita lakukan segera. Seperti hari ini, ada lagi seorang yang menemuiku dan memberikan masukan berharga padaku. Masukan yang ku timang-timang dan akhirnya tidak ku terima. Tapi ku selipkan dalam catatan hari ini, sebagai pengingat. Supaya ku tidak melupakan atau terlupa.

Beliau yang memberikan masukan, mulai sedikit menerka, “Engga apa-apa lah… kalau ga mau. Karena engkau engga boleh, yaa?”

Di sana ada perasaan berbeda yang hadir, aku pun tahu. Terlihat juga dari ekspresi muka yang ku perhati.

Tapi, beginilah adanya. Saat ku memang tidak ingin menerima sesuatu, aku bisa saja tidak menerima. Setelah ku pertimbangkan, ku pikir-pikir. Pikir yang datang saat ingatan ku sampai pada beliau yang juga pernah menitipkan kesan padaku. Untuk berpikir, pikir… pikir…

Eits, tapi jangan kelamaan mikir. Tanpa sempat melakukan apa-apa juga yaa. Akan tetapi, sembari berpikir, bergeraklah, melangkahlah dan nikmati prosesnya. Apapun hasil yang muncul di ujung perjalanan, senyumilah. Jadikan sebagai alasan untuk bergerak lagi besok, nanti dan seterusnya.

Yah, hanya bergerak, melangkah dan terus berpikir, ku menjejakkan jemari. Jemari yang ingin menepikan sebuah lagi catatan tentang hari ini. Supaya dapat kami senyumi di hari-hari nanti. Entah seperti apa hasilnya, aku masih terus menjejakkan jemari. Karena, sebelum mampir di sini, hanya ingatan yang ku bawa awalnya. Ingatan tentang kebersamaan dan persahabatan.

Kebersamaan dan persahabatan juga yang menjadi alasanku saat mulai mengurai rasa-rasa yang hadir. Kebersamaan dan persahabatan menjadi alasanku mengeluarkan uneg-uneg yang menyerang pikir. Supaya ia dapat menempati posisi terbaik dan berada di bagiannya masing-masing. Agar pikiranku tidak penuh oleh hal-hal yang semestinya tidak selalu ku ingat. Supaya perasaan dan ruang hatiku dapat mengenali, apa saja yang boleh berada di sana. Dan satu lagi, ke mana saja raga ku bergerak, apa yang ia lakukan, bersama siapa? Akhirnya ku menjadi tahu dengan menuliskannya.

Menulisku lagi, terus dan begitu seterusnya. Proses yang ku tempuh saat ku benar-benar sedang sendiri. Ketika tiada lagi sesiapa di sekitarku. Maka, aku menjadi lebih mudah merangkai kalimat. Berbeda saat bersama, maka ku pastikan tidak dapat merangkai kalimat seperti yang ada. Mengapa bisa terjadi? Padahal ku ingin mengabadikan tentang kebersamaan dan persahabatan? Bukankah lebih mudah kalau merangkainya di tengah keramaian dan saat dekat dengan sahabat?

Inilah titik temunya.

Kalau ingin kebersamaaan kita berkesan, maka hayatilah benar-benar dengan kesungguhan. Sebisanya, alihkan perhatian dari selain orang yang ada di depan kita. Seperti gadget dan atau televisi serta peralatan lainnya yang dapat mendominasi perhatian. Karena …

“Tahukah kita bahwa, yang ada di depan kita adalah manusia sesungguhnya. Alangkah menyedihkan dan sayang kiranya, kalau kita ternyata asyik bertukar cerita dan berkomunikasi dengan orang lain di sana, jauh di mata. Lalu mengabaikan orang yang benar-benar ada di depan kita. Sungguh, sungguh tentang hal ini aku sangat prihatin sekali.”

Kecuali, saat kita memang ingin berkomunikasi dengan orang lain di sana, kemudian meminta izin terlebih dahulu pada mereka yang sedang kita bersamai. Ini menjadi bagian dari kesopanan. Namun sediihhh sekali yaaa, ketika seseorang berada di depan kita, bersama kita, tapi malah asyik bercengkerama dengan entah siapa di sana.

Sediyyh, kahhh? Sediih, khan? Sedikit curhat saja sich, dengan kenyataan yang ku perhatikan di sekitar. Bukan berarti ku sedang dicu-eki oleh seseorang yang ada di depanku, lho, yaa. Namun melihat kenyataan di depan mata. Jelas-jelas ia bersama-sama dengan makhluk nyata di depannya, akan tetapi seakan tiada. Apalagi keduanya asyik dengan gadget masing-masing. Seakan mereka sedang berkomunikasi melalui media tersebut. Tapi, bukan demikian sesungguhnya. Mereka bicara, tapi tidak saling bertatap. Mereka bersama, namun tanpa ikatan batin.

Cieee, maunya begitu. Kebersamaan kita benar-benar terasa dan berkesan, bila ada ikatan batin, tatapan mata, apalagi bertukar senyuman nan sempurna. Sungguh kesannya luar biasa, woow kalau kita alami di zaman seperti ini.

Yah, menjadi mewah rasanya di zaman seperti ini kita masih dapat bertukar cerita dan berbagi suara  berhadapan, kemudian senyum-senyuman. Meskipun tidak berlangsung lama, namun saat menikmati sarapan bersama, atau makan malam seperti biasa. Mewah saja rasanya, ketika orang yang ada di depan kita benar-benar menikmati waktu yang ada dengan membersamai kita. Sepenuh hatinya, dengan seluruh jiwanya. Bersama kepeduliannya yang sempurna. Walaupun kesempatan untuk membersamai gadget-nya juga bisa ia lakukan, tapi ia tidak melakukan hal serupa. Karena ia menyadari, kebersamaan dengan orang-orang yang ada di depan mata. Saat kita benar-benar menikmati kebersamaan, merupakan kemewahan. Berbeda halnya, untuk sebuah keperluan sangat penting dan ia harus berbicara dengan orang lain di sana, maka ia pun mohon diri.

Aku juga mengerti, kita hidup di zaman yang tidak seperti dulu lagi. Ya, zaman ini semakin canggih dengan perkembangan teknologinya. Sehingga, ke mana-mana kita bisa bawa-bawa kecanggihan tersebut. Mau ngapa-ngapain juga bisa kita abadikan langsung. Tapi…

“Tolong… hargailah wwwoooy, hargailah,” sambil memetik sebuah pisang goreng dari dalam piring, ia mengajak teman-teman yang lain supaya berkumpul.

“Iyaaa, hargailah, mari hargai,” ajak yang lain sambil ikut menyantap.

Aku juga nimbrung.

Beginilah, kami belajar menghargai. Kalau ada seseorang yang datang, sedangkan yang lainnya masih asyik dengan gadgetnya. Maka, bersegeralah menepikan sejenak. Kemudian menghayati kebersamaan dan persahabatan. Meskipun tidak ada yang tahu, ada apa dengannya dan orang lain di luar sana.

Ia tepikan sejenak kepentingan dirinya sendiri, demi menghargai kebersamaan dan persahabatan dengan mereka yang ada di depan mata. Dengan begini, kebersamaan dan persahabatan menjadi berkesan.

Kita tidak dapat bersama selamanya, maka syukurilah kebersamaan dengan menghargai orang-orang yang ada di depan kita. Itu saja sich kesanku tentang kebersamaan dan persahabatan kami. Kesan yang mewah. Karena saat tersenyum, kami benar-benar saling menatap mata. Ketika tertawa, kami saling membagi suara terbaik. Saling menghargai, meski masing-masing bisa saja sibuk sendiri. Tapi mereka tidak melakukannya, demi kebersamaan dan persahabatan yang berkesan.

Kebersamaan dan persahabatan yang bagiku sangat berkesan ini, semoga bagi mereka juga, semoga. Sehingga setelah tidak bersama-sama lagi, kesannya masih terukir dengan baik di dalam hati, mengembangkan senyuman terbaik di lembaran pipi, saat mengenangkan semua.[]

🙂 🙂 🙂

 

Advertisements

3 Comments

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s