Terima Kasih Teman

Walau kita tidak dapat selalu bertatap mata, namun ingatan selalu menyerta. Ingatan yang membuatku mau merangkai suara yang hadir dari dalam hati. Suara untukmu, temanku yang jauh di sana. Engkau teman yang baik. Engkau yang membaikiku dalam waktu-waktu kebersamaan kita. Namun kini, engkau jauh di mata. Jauh yang membuatku rindu padamu.

Sungguh, ingin ku tepikan ingatan saat ini. Supaya ku tahu, sedalam apa rindu menenggelamkanku ketika kita berjauhan raga. Agar ku tahu, sesering apa ku mampu mengingatmu, di antara ingatan demi ingatan yang silih berganti memenuhi pikiran ini. Sampai ku mengerti, sejauh apa ku dapat bertahan, meski engkau tidak membersamaiku dalam meneruskan perjalanan ini.

Perjalanan hidup yang terus berlangsung dan kita tidak mungkin selalu bersama-sama selalu. Aku menyadarinya. Sehingga, jarak yang menjadi perantara kita, ku jadikan sebagai alasan, saat ini ku kembali ke sini. Tujuanku adalah, supaya kita masih dapat intip-intipan. Walau tidak sepanjang hari, meski hanya beberapa waktu saja. Namun sungguh, ku bahagia, saat ku tahu engkau di sana baik-baik saja, semakin berjaya, sering bahagia dan mempunyai banyak cerita. Semua ku tahu melalui cerita-ceritamu. Cerita yang engkau sampaikan melalui kata-kata atau suara ketika kita sempatkan waktu menukar suara. Cerita yang engkau selipkan pada catatan kecilmu di dunia maya dan ku luangkan waktu untuk membacanya juga.

Semua ini membuatku ingin terus membersamaimu. Walau kita berjauhan raga. Dengan begini, aku tidak merasa kalau engkau jauh lagi. Namun kita semakin dekat, bahkan dapat berbagi kapan saja kita mau.

Terima kasih teman, untuk sering mengingatkanku. Walau kita tidak dapat bertatap mata. Namun ingatanmu padaku, lalu menanya dan menyapaku, sudah cukup menjadi alasanku bergerak lagi.

Semoga, suatu hari, tetiba kita bersua tanpa sengaja yaa. Pada saat itu, engkau masih mengingatku. Lalu kita menghabiskan waktu bersama dengan saling bercerita lagi. Engkau meneruskan cerita-cerita tentang hari-harimu, sedangkan aku masih dan akan selalu menjadi pendengar terbaik untukmu.

Engkau yang mempunyai cerita berantai tentang hari-hari penuh kesanmu, membuatku terkesan juga. Sehingga ku ceritai juga engkau tentang hari-hari penuh kesanku, walau tanpa bersuara. Namun dengan merangkai kata seperti ini, aku juga seperti bercerita denganmu. Meski aslinya, ketika kita bersama dan bertatap mata, ku sering diam memperhatikanmu, menyimak dan mendengarkan ceritamu saja. Tapi tahukah engkau, dari sana ku belajar bercerita juga. Hehee. Karena beginilah aku adanya, temanmu yang tidak bisa selalu banyak bicara.

Dalam cerita-ceritaku, ada waktu engkau menjadi seorang yang menarik untuk ku ceritakan. Agar engkau tahu, bagaimana pentingnya engkau bagi diriku. Lain waktu, aku bercerita tentang lingkungan sekitar ku untukmu. Namun saat ini, aku sedang tidak mempunyai satu ceritapun untuk ku kisahkan padamu. Entah mengapa, aku juga tidak tahu. Padahal seharian ini ku baik-baik saja, seperti biasanya. Termasuk aktivitas yang ku lakukan juga tidak berbeda dari hari-hari yang lalu. Hari-hari yang ku lalui bersama cerita-cerita ku tentangnya. Tapi hari ini, sungguh, waktu terasa sangat cepat berlalu. Sejak pagi tadi, aku meneruskan aktivitasku juga seperti biasa. Dan tetiba sudah menjelang sore saja. Padahal hari ini aku belum menuliskan satu ceritapun. Apakah karena ku sedang tidak mempunyai mood untuk menulis, ya?

Barangkali iya. Aku menyadarinya. Apakah karena aktivitas yang ku lakukan sangat rutin, yaa? Sehingga membuat pikiranku tersendat untuk mengalirkan ide-ide yang ada? Atau, karena ku butuh asupan gizi ya? Agar ide cemerlang terbit di depan mata, lalu ku bersenyuman dengannya.

Aha! Aku punya ide. Bagaimana kalau ku ceritakan engkau tentang sesuatu? Apakah itu? Tidak terlalu aneh, memang. Karena ia adalah sesuatu yang sangat mudah engkau temukan. Di mana-mana ada dia. Apakah dia?

Dia yang ku maksud adalah seplastik minuman segar. Namanya air kelapa muda. Lalu, bagaimana ceritanya, bisa sampai padaku? Padahal sejak tadi kerjaanku duduk-duduk saja, tidak ke mana-mana. Malah sangat asyik meneruskan perjuangan hari-hari kemarin yang belum kelar-kelar juga. Ya, mengerjakannya harus bolak balik, revisi lagi, dan sering ada tambahan atau perbaikan-perbaikan. Sempat juga ku berpikir, seperti sedang mengerjakan skripsi atau tugas akhir aja, rasanya. Karena masih ada yang perlu dilengkapi, diperbaiki supaya hasilnya sempurna.

Ya, seperti berhadapan dengan pembimbing skripsi, aku akhir-akhir ini. Berhubung ada-ada saja yang kurang lengkap. Aku yang sedang menyusun sebuah laporan, ceritanya. Laporan yang sebelumnya sempat membuatku merasa tidak mampu mengerjakannya. Karena belum pernah, siich. Namun saat menjalani, ternyata tidak sesulit saat membayangkan.

Caranya, dengan langsung mengerjakannya, bermula dari hal-hal kecil, meneruskan dan memperbaiki, menambah, serta mempercantik, laporan pun hampir selesai. Tinggal melengkapi beberapa bagian saja, laporan sempurna pun jadi. Begitulah kesibukkan ku akhir-akhir ini. Kesibukan yang mengingatkanku tentang pentingnya belajar lagi, berlatih terus menerus, kalau lelah rehat sejenak, kalau pusssying refresh sebentar, dan tentunya tidak pernah menyerah, serta terus berjibaku dengan waktu, gemar bertanya, senang mendapatkan masukan. Supaya hasil memuaskan ada di hadapan.

Saat ku sibuk-sibuk sendiri, seorang temanku masih sempat pergi-pergi. Karena kesibukan kami berbeda. Kebetulan, hari ini ia ada kesibukan di luar. Nah, pulang-pulang membawa dua plastik minuman segar. Ia membagiku satu, karena kami hanya tersisa berdua saja.

“Terima kasih teman, atas pemberianmu yang ku terima dengan senyuman. Karena pas saja, hari ini ku dapat menikmati minuman segar siang hari yang terik, bersamamu.”

Tentang hal ini, aku ingat untuk membawa sesuatu kalau ku pergi-pergi. Sesuai pengalaman pribadiku, kalau ada yang pergi-pergi dan kemudian ia kembali dan membawa sesuatu untuk ia bagi, maka aku senang sekaliii. 😀 Seperti yang ku alami baru saja. Ketika temanku membagiku oleh-oleh yang ia bawa saat kembali. So, inilah hikmah dalam hari ini.

Atas kebaikan temanku hari ini, ku ingin menjadi cerita kami nanti. Karena tidak selamanya kami bersama seperti ini, di sini. Sebab akan tiba masanya nanti, kami berjauhan raga hingga jarak tidak lagi sebatas dua meja. Dua meja yang memang berjarak, namun sangat dekat. Sehingga kami masih dapat bertukar suara, berbagi cerita, bertatap mata, langsung dan sangat perlu menyediakan dan meluangkan waktu saja. Supaya kami dapat saling membagi cerita. Dalam hal ini, aku pun masih sama. Aku tetap setia menjadi pendengar yang baik baginya. Ya, masih sebagai pendengar yang baik, aku suka. Mendengarkan temanku bercerita, ketika ia ingin membagikan kisah-kisah hidupnya. Menyimaknya saat bersuara, ketika ia ingin meluahkan segala rasa dan uneg-uneg yang ia punya. Dengan mendengarkan, secara tidak langsung, ku sedang menyelami dirinya. Siapakah dia, dari mana asalnya, bagaimana karakternya, apa saja harapan dan impiannya, bagaimana masa lalunya? Walau tidak seluruhnya ku tahu, setidaknya ku punya gambaran dari cerita yang ia bagikan padaku.

Teman-teman kami yang lain bilang, kalau temanku yang satu ini sudah banyak berubah. Perubahan dari dirinya yang dulu, sudah sampai dua ratus derajat perputarannya. Woow!, sungguh angka yang fantastis, bukan? Saatku melihat dirinya saat ini dan mengembalikan ingatan pada dirinya dua ratus derajat sebelum seperti ini? Sungguh, ku tidak dapat membayangkan. Seperti apakah dia dulu, yaa?

Aku beruntung, bertemu dengan orang-orang baik di sekitarku. Termasuk temanku ini. Ia yang sudah berubah dua ratus derajat ke arah kebaikan. Ia yang masih dirinya, namun bagi orang lain yang mengetahui dirinya sejak lama, ia juga masih dirinya. Ia masih sama dari bentuk wajah dan fisik yang tampak oleh mata. Namun dari segi kepribadian, karakter, sungguh sangat banyak perubahannya ke arah kebaikan. Karena apa semua terjadi?

Ia mau berubah. Ia mau belajar dari pengalaman masa lalunya. Ia belajar juga dari lingkungan dan orang-orang yang ia temui. Ia mau mencari tahu, bagaimana orang lain bisa begitu dan begitu?

Sepanjang kebersamaan kami, yang ia dengarkan seringnya ceramah-ceramah agama sebagai pengingat baginya. Lama kelamaan, ia menjadi lebih lembut dan sabar. Ia yang tidak sabaran dan suka tergesa-gesa, lebih bisa mengendalikan diri dan menjalani hidup lebih teratur.

Sungguh, perubahan itu dapat menjadi bagian dari diri kita, kalau kita mau membersamainya. Tentu saja tidak terjadi secepat kilat dan begitu saja. Lalu, apa lagi yang ia butuhkan? Waktu.

Ia menjadi dirinya seperti sekarang, membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bukan harian, bulanan, namun tahunan. Yah, tahunan, kawan. Bertahun-tahun ia menjalani kehidupan dengan ketidak sabarannya. Bertahun-tahun juga ia mau mengubah diri untuk mensabari sesuatu yang terkadang di luar kehendaknya.

Ia yang juga bercerita tentang orang terdekatnya yang sudah banyak berubah. Tenang sekali ia berkisah. Kisah yang ia sampaikan tentang orang terdekat yang juga sama-sama berjuang dengannya. Bersama mereka saling mengingatkan, bila yang lainnya terlepas dari komitmen untuk berubah ke arah yang baik.

Ia adalah dirinya. Ia tetap dirinya. Sejak kami bersama, ia menjadi sahabat baikku. Sangat baik. Sama seperti dirimu teman. Engkau yang juga membaikiku dalam waktu-waktu kebersamaan kita. Ia juga sama, membaiki dengan kebaikan terbaiknya. Sempat juga ia menasihatiku banyak hal tentang tips-tips yang ia terapkan untuk menjadi dirinya saat ini. Intinya adalah, mau belajar.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s