Bersahabat dengan Alam

Other Side
Engkau adalah bagian dari alam-Nya

Alam adalah tempat kita berada kini. Bersama alam kita menghabiskan waktu demi waktu sambil meneruskan perjalanan. Di sekitar alam kita melakukan semua aktivitas.

Alam memajangkan keindahan demi keindahan, untuk kita. Alam yang ramah, penuh kelembutan. Alam yang selalu memberi kita kesempatan memperhatikannya. Karena alam adalah anugerah terindah dari-Nya untuk kita. Maka, apakah yang kita lakukan dengan semua anugerah tersebut?

Bersyukur, bertafakur, memikirkan segala yang ada di alam, dapat mengembalikan ingatan kita kepada-Nya. Ingatan yang membuat kita segera melanjutkan langkah-langkah lagi, bila sempat berhenti sejenak. Ingatan yang mengembalikan kesegaran raga. Sehingga ia bersedia meneruskan perjalanan.

Ingatan yang memberi kita kemauan untuk meneruskan perjalanan, walau sebelumnya merasakan lelah. Karena kita ingat, di depan sana ada pemandangan yang berbeda. Yah, saat kita masih mau melangkah, ada tampilan mempesona di depan sana. Tampilan alam yang mungkin saja belum pernah kita saksikan sebelumnya. Tampilan alam yang menambah tumbuhkan rasa syukur kita. Sehingga kita semakin bersemangat melangkah.

Alam yang baik, kalau kita jaga dengan sebaik-baiknya, maka ia dapat mensenyumkan kita balik. Saat kita merawatnya dengan sepenuh jiwa, alam bisa membuat kita berlama-lama menatapnya. Apabila kita ingin menemukan pesan-pesan penuh cinta dari alam, maka kita dapat menepikan penglihatan ke seluruh sudutnya. Saat kita ingin menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang ada, maka bersama alam kita menemukan jawabannya.

Yah, alam yang dapat menjadi sahabat kita, kalau kita mau bercerita. Alam yang meski hanya bisa diam, sesungguhnya ia pendengar paling setia. Alam yang meski tidak bicara, ia dapat mengungkapkan segalanya. Bahkan melebihi nalar kita sebagai manusia.

Pagi ini, sebelum berangkat aktivitas. Seperti biasanya, ku sempatkan waktu memperhati alam sekitar. Kali ini, objek yang menjadi perhatianku adalah pergerakkan awan di atas sana. Berkebetulan, pagi ini mentari tidak memperlihatkan sinarnya dengan jelas. Sehingga awan yang mendominasi lengkung langit, menampakkan dirinya lebih sering. Sejauh-jauh mataku menatap, hanya ada putih dan kelabu di atas sana. Pemandangan yang sahaja.

Terus saja ku perhatikan awan tipis yang bergerak pelan-pelan, ternyata. Ia membentuk formasi berbeda-beda. Terkadang membentuk garis lurus, di sekitarnya ada kelabu-kelabu gitu. Terkadang membentuk kumpulan seperti kapas. Sungguh, pemandangan pagi yang mengingatkanku tentang catatan seorang teman. Teman yang ku kenal tahun lalu. Teman yang menitipkanku barisan kalimat tentang langit. Langit yang hampa, namun ia senantiasa memamerkan pemandangan berbeda dari waktu ke waktu.

Langit yang satu, melengkung indah menjadi lembar terluas untuk meluahkan kegalauan. Yah, temanku tersebut menatap langit saat ia sedang galau. Lalu muncul sebuah catatan singkat tentang langit. Catatan yang pernah ku abadikan di Galau Never End.

Aku? Lalu bagaimana denganku? Galau jugakah aku saat menatap langit? Hmm, gimana yaa? Bilang galau engga, yaa?

Begini. Ku pastikan galauku sangat luas. Sehingga, ku tidak hanya menatap langit saja pagi ini. Namun sekeliling ku perhatikan. Termasuk lembar dedaunan yang bergoyang menyambut salam dari angin. Bebatuan dan kerikil kecil yang ku injak-injak saat berjalan. Ku perhatikan mereka semua, bersama galau yang menyertaku saat melangkah.

Yah, luasnya galau ini, mengajakku meneruskan langkah. Sambil memperhatikan apa saja yang ada di dekatku. Sayangnya, tiada dirimu yang sedang melangkah di sampingku. Sehingga membuat galauku bertambah-tambah. Sampai menyamudera, luasnya. Luas yang tidak dapat lagi ku prediksi. Hanya ku jalani kebersamaan dengannya.

Bersama kegalauan yang ada, ku tahu apa yang ku mau. Ku mencari tahu, apa saja yang perlu ku ketahui. Sehingga, dengan kegalauan ini, ku banyak belajar. Belajar bersama alam, belajar mengalaminya.

Dari hal-hal kecil, terdekat, aku belajar. Belajar untuk mengenali galau. Belajar untuk memaknai galau. Belajar menata kegalauan, supaya kenangan tentangnya juga berkesan.

Belajar, dari hal-hal sangat detail yang mungkin saja luput dari perhatianku. Hal-hal kecil yang bisa membuatku galau. Maka, dengan adanya galau ini, aku tergerak untuk mengulik-nguliknya.

Tentang hal ini, ku juga ingat pesan dari sahabat baikku di sini. Beliau yang hari ini membersamaiku lagi, sebagai sahabat. Beliau yang ku perhati, saat bicara. Ku tatap bayangan dua bola matanya, melalui ruang kosong di antara dua alisnya. Sesekali ku lihat gerak bibirnya saat bicara. Sesekali ku perhatikan matanya yang mengerling ceria. Bahkan gerak-gerik kelopak matanya tidak luput dari perhatianku juga. Kelopak mata yang seakan menenggelamkan dua bola matanya, hingga tidak terlihat, saat ia tertawa. Kemudian, ia kedip-kedipkan matanya yang lucu, sambil terus berbicara. Sehingga kecantikan alami yang ia bawa, membuatku tersenyum sepanjang kebersamaan kami.

Kebersamaan kami hari ini, menambah kegalauanku, rupanya. Galau yang masih dan harus ku hadapi. Karena ia ada bersamaku, hari ini. Galau yang ku biarkan menemani diri. Sebab, dengan adanya kegalauan ini juga, aku masih mau mampir di sini. Untuk berbagi tentangnya. Kalau tidak galau seperti ini, aku mungkin tidak datang ke sini dan berjumpa lagi denganmu, teman. Lalu, bagaimana denganmu? Apakah galaumu kemarin sudah sembuh, teman? Apakah hari ini ada lagi galau baru yang membuatmu sibuk menyibaknya? Supaya ia tidak mengganggu pemandanganmu? Atau, ada lagi galau jenis baru yang mengintip-intipmu? Galau yang membuatmu memperhatikannya juga?

Hari ini, di lokasi sama, kami kembali duduk bersama. Ya, di antara jeda ku melangkah, ia mengajakku menemaninya. Supaya ia dapat menyampaikan beberapa nasihat lagi, pesan dan juga kesan. Untuk ku petik, menjadi kenangan tentang kebersamaan kami.

Pesan yang beliau sampaikan, menambah-nambah galauku. Karena, pesan tersebut mengembalikan ingatanku pada masa-masa penuh kegalauan dulu. Yah, galauku tidak hari ini saja, memang. Namun sejak dulu-dulu, sudah lamaaa sekali, aku sangat sering bergalau ria. Kegalauan yang membawaku ke sini juga. Kegalauan yang membuatku mau meneruskan perjalanan, saat ia menghinggapiku. Kegalauan yang membuatku sering-sering menangis.

Hikss. Kenangan tentang kegalauan di masa lalu, malah membuatku tersenyum sambil terharu. Hampir saja airmata menitik di pipiku, ketika beliau menitip pesan. Namun urung, karena semua telah berlalu, ku pikir. Aih! Sedikit-sedikit ku belajar berpikir dengan adanya galau. Kalau saja ku tidak pernah galau dulu, maka aku tidak tahu, apakah kami dapat duduk berhadapan seperti ini.

Kami duduk pada dua kursi berbeda, namun satu meja yang sama. Sehingga kami dapat berhadapan. Meja bulat, terbuat dari kaca dengan lembaran kertas di atasnya. Meja kecil yang menjadi saksi betapa ku bahagia, karena beliau mengingatkanku pada masa-masa galau lagi. Padahal, ku tahu beliau tidak pernah tahu tentang kegalauanku.

Beliau bilang, “Memang kita harus memulai sesuatu dari hal-hal kecil dulu. Supaya kita dapat memahami juga yang lebih besar kemudian. Ini lebih baik. Saat kita tahu betapa tidak mudahnya mengerjakan sesuatu yang lebih besar, maka memulai dari hal-hal kecil dapat mempermudah kita saat melakukan hal-hal besar. Karena kita menjadi terbiasa dengan berlatih dari hal-hal kecil. Karena sudah punya dasar dan landasan saat melakukan hal-hal kecil.” Inti pesan beliau gitu, sich yang bisa ku tangkap di tengah kegalauanku.

“Sebenarnya, hal-hal besar pun tidak sepenuhnya serumit yang kita bayangkan. Kalau kita tahu caranya, mengerti alurnya, dan kembali lagi pada kebiasaan melakukan hal-hal kecil. Saat hal-hal kecil sudah kita pahami dengan baik, maka memahami dari mana datangnya hal-hal yang besar juga tidak rumit. Jadi, kita perlu membuka cara pandang, memperluas paradigma,” beliau menambahkan. Sedangkan aku, menganggukkan kepala, tersenyum, terus beriya-iya ria karena bahagia. Bahagia, sangat. Hari ini kami bertemu di sini.

“Kalau kamu tidak pernah melakukan hal-hal kecil terlebih dahulu, maka belum tentu kita bertemu di sini, hari ini, bukan?” beliau teruskan berpesan untukku. Memberi keyakinan bahwa ku dapat menyelesaikan hal besar yang beliau tawarkan. Hal besar yang sepenuhnya ku terima dengan senang hati. Walaupun sebelumnya ku membawa hati yang galau. Di tambah lagi dengan hal besar yang beliau titipkan padaku. Namun di sini, hari ini, ku belajar memandang dunia dengan cara berbeda. Yah, berbeda dengan dulu. Karena hari ini adalah kesempatan terbaik untukku.

Sehingga, setelah menerima pencerahan tersebut, galauku mulai menyusut sedikit demi sedikit. Sangat penting beliau menitipkanku pesan. Pesan yang membuat semangatku hidup lagi. Bahkan saat menatap tumpukan besar kertas untuk ku lahap sepanjang hari ini. Kertas-kertas selama setahun, untuk ku teliti hal-hal kecilnya. Pesan yang sukses membuatku tersenyum menatap kertas-kertas tersebut, dan berjibaku mengerahkan tenaga, pikiran serta sepenuh-penuhnya hati. Agar ia mau memulai dan kemudian melanjutkan membalik lembar demi lembar dengan perasaan ringan.

Ringan, ringan sekali ku melangkah. Melangkah lagi dengan senyuman. Tersenyum saja, menikmati segala yang ada. Tersenyum saja, membuka lembaran demi lembaran. Hingga sebulan pun selesai. Yaph! Januari telah berlalu, berikutnya memasuki bulan Februari. Setelah Februari tuntas, selanjutnya Maret, April, Mei, Juni, Juli, dan Agustus. Ketika sampai di bulan Agustus, ku teringat denganmu. Yah, engkau yang sempat mengukir kisah perjalananku dengan kehadiranmu. Agustus dengan cerita-cerita unik yang engkau kisahkan padaku. Agustus awal mula ku mengenalmu. Oke, tidak lama-lama mengenang, ku meneruskan langkah ke bulan September, Oktober, November, hingga Desember.

Selama dua belas bulan sepanjang tahun 2016 pun terlewati sudah. Memasuki bulan Desember 2016, lega mulai terasa. Karena semua lembaran terkupas sudah. Akhirnya meneliti hal-hal kecil pun tuntas. Hasilnya adalah, sekelumit kenangan untuk ku ingat tentang tahun lalu. Tahun yang telah ku tinggalkan dengan kenangannya. Tahun yang mempertemukanku dengan jalan hidup baru lagi. Jalan hidup untuk ku tempuh dengan sukacita, semangat dan penuh harapan. Sehingga apapun yang ku temukan di dalamnya, mengajakku untuk mensenyumi, mensyukuri dari pada merut-uki. Karena, pasti saja ada hikmahnya kalau ku jeli memperhati sekitar.

Hari ini masih dalam tahun 2017, tanggal 19 April. Menghitung beberapa hari lagi, kami akan bertemu. Ya, yang ku maksud adalah engkau. Engkau yang turut menjadi sebab tergalaunya aku hari ini. Galau karena ingatanku pun menepi padamu. Bermula sejak awal hari ini. Eiya, malah sejak semalam, pun.

Tadi malam lebih tepatnya. Sejak aku dan beberapa orang teman kembali melingkar. Melingkar untuk membahas perjalanan hidup masing-masing. Kemudian berakting ala-ala seorang pengajar yang sedang menerangkan pelajaran pada murid-muridnya. Ceritanya seorang guru sedang menjelaskan pada murid-muridnya sebuah mata pelajaran. Dalam hal ini, mata pelajaran yang kami bahas adalah terkait dirimu. Engkau, siapakah engkau sesungguhnya?

Seorang guru yang telah bersiap menjelaskan pelajaran, membaca sebuah buku yang membuat murid-muridnya tergalaukan. Adapun beberapa baris kalimat yang membuat murid-murid semakin galau ketika belajar adalah :

“Saat engkau pertama berkenalan dengan seseorang, jangan sampaikan padanya, “Hai”. Tapi, cukup senyumi dan tatap matanya dalam-dalam. Setelah engkau mengenalnya, sampaikan dengan penuh kesungguhan, bahwa engkau sangat mencintainya.”

Cukup. Cukup. Cukup kalimat itu saja, sudah membuat murid-murid menjadi galau. Hingga akhirnya, Scatzy yang masih mempunyai stok kakak untuk beliau tawarkan, kembali mengajukan penawaran. Barangkali ada diantara kami yang berminat menjadi kakak iparnya. Sangat semangat pula ia membahas, kalau di rumah, saat kembali ke kampung halaman, bahasan tentang kegalauan kakaknya ia ceritakan. Lengkap sudah.

“Nah, kakakku mencari pasangan. Kakak-kakak juga sedang menunggu pasangan, bukan? Hayo, dengan kakakku sajaaaaa,” ceriwisnya lalu tersenyum manis.

“Haii Scatzy, setuju sekali. Bawalah kakaknya ke sini, kenalkan sama kita-kita,” tanggapku supaya suasana kembali semarak.

“Iyah, betul-betul,” seorang teman yang sebaya denganku menyetujui. Sedangkan yang lebih muda asyik dengan aktivitas mereka, tidak turut membahas. Karena masing-masing sudah punya sahabat baik, malah sangat baik. Karena kalau mereka jalan-jalan, pulangnya bawa oleh-oleh untuk kami.

Intinya adalah, tentang kebersamaan kami yang mengingatkanku lagi pada seseorang yang entah di mana rimbanya. Sempat pula membuatku teringat-ingat sampai malam berlalu. Kemudian galau dech pagi-pagi. Galau sambil menatap langit yang ternyata tak bermentari. Sehingga yang terlihat hanya awan tipis di atas sana. Awan yang tersibak sedikit demi sedikit oleh angin, menepikannya. Sehingga langit biru pun memperlihatkan diri sepanjang ku menatap ke atas sana.

Lama, sangat lama ku menatap langit. Tatapan yang membuatku berpikir, bagaimana cara mengabadikan momen ini? Apakah akan ku rangkai sebaris catatan saja, yaa? Tapi, pagi-pagi ku harus siap-siap lebih awal. Karena akan menunaikan tugas yang telah menanti di sana. Akhirnya, di sepanjang perjalanan ku membawa kegalauan. Kegalauan yang memberiku kesempatan memperhatikan apa saja yang ada di sekitarku. Memberikan senyuman pada alam yang membuatku kembali bersyukur. Karena sampai hari ini, aku masih dapat menjejakkan kaki-kaki ini di bumi.

Di atas bumi, ku masih membawa harapan. Harapan untuk pertemuan kami. Agar, saat melangkah seperti ini, aku tidak lagi sendiri. Namun ada yang menemaniku menikmati pemandangan alam.

Kami berada di alam yang sama, namun melihat dunia dengan cara pandang berbeda. Sehingga kami mengerti, bahwa cara pandang turut mempengaruhi sikap dan perilaku kami.

Apabila ada yang masih mau mengarahkanmu, maka terimalah arahannya. Apabila ada yang masih mau menasihatimu, maka bersyukurlah. Apabila ada yang mengingatkanmu lagi, tersenyumlah. Bahkan saat ada yang memudahkan urusanmu, mudahkanlah juga urusan orang lain denganmu. Maka, alam yang engkau tempati semakin menarik untuk engkau diami. Perjalananmu menjadi lebih ringan, pikiranmu pun lebih terbuka dan hati semakin tenang. Dalam kondisi begini, engkau semakin mudah berpikir positif dan baik. Ujung-ujungnya, semua kembali lagi padamu juga, bukan?

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s