Thank You for Your Kindness

Mentari Sore“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S Al Qashash : 77)

Ya, berbuat baiklah dengan benar. Allah memerintahkan kita untuk berbuat baik. Karena Allah selalu berbuat baik untuk kita. Ingatan tentang ayat ini, memudahkanmu untuk berbuat baik. Ya, berbuat baiklah, karena-Nya. Untuk menjalankan perintah-Nya. Kebaikan yang engkau lakukan karena ingat kepada-Nya. Membuatmu ringan melakukan kebaikan, dengan sepenuh hati. Kebaikan yang bukan memandang penilaian dari sesiapapun. Namun menyadari, Allah selalu memandang dan menilaimu. Apakah kebaikan yang engkau lakukan benar-benar karena Allah semata?

Untuk berbuat baik, kita harus mempunyai latar belakang dan alasan, memang. Supaya saat berbuat baik, kita tergerak begitu saja. Dengan panggilan hati, memenuhi ajakan ingatan pada perintah-Nya. Sehingga, hanya mengharap kepada-Nya, balasan dari kebaikan yang kita lakukan. Terlepas dari adanya yang melihat atau tidak. Sempurna.

Ada kebaikan yang dapat kita lakukan dan terlihat oleh orang lain. Ada juga kebaikan yang tersembunyi, namun masih dapat kita lakukan. Temukanlah celah tersebut. Celah untuk melakukan kebaikan. Ketika melakukan kebaikan terang-terangan, kita masih ragu, maka berbuat baiklah sembunyi-sembunyi. Bahkan dapat menjadi cara untuk menjaga diri supaya tetap melakukan kebaikan, meski tiada yang memuji. Kalau engkau mungkin belum terlalu kuat atas pujian atas kebaikanmu. Barangkali maksud berbuat baik ternodai oleh adanya kebanggaan atas pujian. Meski awalnya tidak ada, mungkin dalam perjalanan bisa tergoda. Maka, untuk berjaga-jaga, tetap sembunyikan kebaikanmu. Karena terkadang, manusia senang mendapat pujian. Ia akan semakin banyak berbuat baik saat ada yang memujinya. Nah, jika cara ini membuatmu yakin untuk tetap berbuat baik, maka perlihatkanlah. Sebab semua juga kembali pada niat. Untuk apa engkau memperlihatkan kebaikanmu? Apakah hanya untuk pamer dan mengharapkan penilaian orang lain? Atau sebagai motivasi bagi yang lain juga untuk melakukan hal serupa? Sehingga semakin banyak kebaikan yang hadir, dengan adanya kebaikan yang engkau perlihatkan. Tentu lebih baik. Dalam hal ini, niat di dalam hati, selalu saja urusanmu dengan-Nya.

Kebaikan itu berantai, saling sambung menyambung, memang benar adanya. Maka, ingatlah ingat lagi kebaikan demi kebaikan yang engkau terima. Sehingga dapat menjadi motivasimu untuk berbuat baik juga. Kalau engkau sangat bahagia mendapatkan kebaikan, maka mereka yang engkau baiki pun mengalami hal serupa.

Alangkah indahnya berbagi kebahagiaan. Bersamanya, hari-hari semakin berseri, sungguh menyenangkan. Selain membahagiakan dirimu sendiri karena ia berbuat baik, kebahagiaan dapat engkau lihat pada orang yang engkau baiki. Itu pun salah satu cara untuk menambah kebaikanmu.

Pada kesempatan ku berkunjung ke sebuah lokasi yang membutuhkan antrian, aku mendapat nomor antrian sangat jauh. Sehingga, untuk dapat sampai di nomor antrianku, membutuhkan waktu lama. Entah berapa jam, aku tidak tahu juga. Tidak mau memperkirakan, apalagi menerka-nerka. Hasilnya adalah, ku mesti menunggu hingga nomor antrian terpanggil. Namun ku pikir-pikir, berapa lama? Haruskah menanti sampai sebanyak ini? Dengan risiko tertunda semua jadual yang telah harus mesti ku hiasi dengan aktivitas berikutnya? Maka solusinya adalah mencari kebaikan. Yah.

Kebaikan, sering kita terima begitu saja. Kebaikan yang orang lain berikan pada kita, karena ia mau berbuat baik. Kalau menerima kebaikan tanpa kita minta, maka bersyukurlah dan terima dengan bahagia. Supaya dapat membahagiakan beliau yang memberi kita. Ya, terima saja. Terimalah kebaikan yang datang, tanpa alasan engga jelas untuk menolaknya.

Seringnya memang begitu, kebaikan datang tanpa kita cari. Akan tetapi, kita juga dapat mencari kebaikan, menjemputnya, meminta dan lakukan semua hanya pada orang yang kira-kira tepat. Sebab, meminta kebaikan dari orang yang tidak mungkin memberikannya, tentu membuatnya repot atau tidak rela, bukan?

Dalam hal ini, ku mau berikhtiar. Saat duduk manis di kursi antrian, aku melirik kiri dan kanan. Di kiriku ada seorang laki-laki muda yang sibuk dengan gadgetnya. Ku pastikan saja, yaa, bahwa ku tidak dapat mengganggunya. Kalau ku sapa pun, ia mungkin tidak sudi. Mungkin juga ia sedang mengalahkan jenuhnya menjadi pengantri. Maka, mengulik-ngulik android canggihnya menjadi pilihan. Begini pikiran yang hadir tentang beliau. Sehingga, ku tidak mau menyapa, sekadar untuk bertanya sesuatu terkait antrian.

“Saat ini, ku ingat dengan pesan seseorang jauh-jauh hari sebelumnya. Bahwa untuk melanjutkan langkah, kita perlu menemukan peluang. Supaya cepat sampai, jangan hanya berjalan kaki tapi naiklah kendaraan, bisa sepeda motor atau mobil. Kalau tidak mau kehujanan, nebeng lah dengan orang yang bermobil. Inti pesannya begitu. Pesan tentang cara mencapai tujuan dengan menemukan peluang.”

Ketika di bagian kiri tidak memungkinkan untuk memperoleh kebaikan maka ku melirik ke kanan. Di sebelah kananku, duduk beberapa orang. Terdiri dari bapak-bapak dan seorang perempuan muda. Ia duduk tepat di kursi yang bersebelahan dan sejajar denganku. Ia yang terdekat denganku, seorang gadis manis berwajah ayu. Masih muda, sama sepertiku. Terlihat dari penampilannya, ku pikir ia dapat menjadi solusi.

Ku menyapanya, saat ia pun melirik padaku,”Lagi antri buat apa, Kak…?” Ku tahu antrian di sini banyak jenisnya. Berkebetulan, antriannya sama dengan keperluanku. Hingga akhirnya, kami terlibat percakapan demi percakapan yang membuat ia mau menerima titipanku. Sungguh, ku merasa sangat terbantu. Meski untuk sampai pada nomor antrian yang ia punya dan ternyata sangat jauh lebih kecil angkanya, kami mesti masih dan harus menunggu lebih lama juga. Namun, lumayan dari pada ku harus mengantri dengan nomor antrian dalam genggaman. Apalagi melihat kondisi pelayanan yang sedang berlangsung, harus sampai kapan ku duduk manis terus?

Karena tidak mau mengalami sama dengan seorang lainnya yang duduk di sebelah kiriku. Ketika kami akhirnya pindah kursi untuk menemukan suasana baru. Beliau telah antri sejak dua jam yang lalu, sempat pulang dulu, dan kembali lagi. Namun pelayanan belum juga sampai pada nomor antrian yang ia genggam.

Maka, bersyukurku, dan berterima kasih atas kebaikan gadis ayu yang membaikiku. Kebaikannya ku ingat-ingat. Ingatan yang membuatku sangat mau memberikan kebaikan serupa. Walau belum terlihat siapa yang akan ku baiki juga? Hingga terpanggillah nomor antriannya, aku menitip berkas yang ku punya. Ia bilang, “Kakak jangan ke mana-mana yaa. Aku bawa berkasnya. Nanti kalau ada apa-apa ku bisa bertanya.”

“Baik, aku duduk di sini, yaa. Terima kasiiiiih,” senyumku padanya. Ia pun sama. Aku merasa, ia sudah pernah ku kenali. Tapi asli kami baru pertama kali bertemu. Mungkin karena kebaikan seperti yang ia bawa, pernah ku terima juga. Sehingga mengingatkanku pada orang yang pernah membaikiku. Sehingga melihatnya, seperti melihat orang-orang yang membaikiku sebelumnya.

Saat ku masih duduk sendiri dan bangku di sampingku kosong, seseorang mendekatiku. Seorang ibu separuh baya. Beliau menyapaku lebih awal. Setelah kami bersenyuman, sebelum beliau duduk. Saat baru duduk di kursi sampingku, beliau langsung bertanya, semirip dengan pertanyaan yang ku ajukan pada kakak yang membaikiku dan rela nomor antriannya ku tebengi.

Alhasil, ia pun ingin memperoleh kebaikan serupa. Ku tawarkan pada beliau kebaikan seperti yang ku terima. Karena keperluan kami sama, jadi ku pikir tidak mengganggu pengantri lain juga. Sampai akhirnya, kami menebeng di antrian sama, ahaa. 😀 Bonusnya adalah, beliau menceritaiku tentang kehidupan berumah tangga. Entah mengapa, tetiba saja beliau bercerita meski tanpa ku tanya mulanya.

Aku pun juga tidak tahu, awalnya bagaimana. Beliau sudah berkisah saja tentang pekerjaan dalam rumah tangga, sebagai seorang ibu yang bekerja, dan juga kehidupan asli dalam sebuah keluarga. Sepertinya beliau membaca, di mataku ada rencana berkeluarga juga? Lalu beliau memberaikan jawaban demi jawaban walau tidak ku tanyakan? Atau, beliau adalah perwakilan dari kebaikan demi kebaikan-Nya?

Aku perlu lebih sering menjaga kebaikan prasangka tentang hal ini. Supaya, dengan siapapun ku bertukar cerita, mengembalikan ingatan kepada-Nya. Lebih sering, semakin terbiasa. Mudah-mudahan, beliau juga dalam keadaan serupa. Sehingga frekuensi kami sama. Meski pun sepanjang kebersamaan, kami tidak ingat sama sekali untuk menukar nama. Siapapun beliau, dalam ingatan terlintas juga. Walau sebaris nama tidak dapat ku eja untuk mengingat beliau yang bercerita.

Berceritanya beliau tentang pengalaman sebagai ibu rumah tangga yang bekerja. Mengapa masih bekerja, padahal sudah ada yang memberi nafkah? Apakah tidak cukup materi yang suami bagikan? Atau bagaimana? Sampai ibu masih mau bekerja? Pertanyaan ini tidak ku sampaikan pada beliau, namun beliau menjelaskan seakan membaca pertanyaanku, dengan jawaban yang mengalir deras, beliau menetaskan uneg-uneg, “Demi menemukan aktivitas selain mencuci piring, merapikan pakaian, menyetrika, memasak, membersihkan rumah, yang tidak pernah selesai-selesainya. Meskipun sudah seharian di rumah. Karena setelah bersih kotor lagi, begitu selanjutnya. Booossa-nn, rasanya. Menghabiskan waktu dari hari ke hari, tanpa terasa sudah sore lagi. Esoknya sudah pagi lagi.

“Oooo…,” ekspresiku tanpa terduga pun muncul. Disusul oleh pertanyaan yang sempat ku ajukan, “Apakah ini salah satu alasan adanya ibu-ibu yang bekerja ya, Bu? Seperti yang ibu alami?

“Iyaa, betul. Beruntunglah kalau suami dapat mencukupi semua keperluan. Namun, bila sebaliknya? Sedangkan kita masih ingin beli bedak, lipstik, keperluan perempuan lainnya? Apalagi kalau sudah terbiasa pegang uang, dan tiba-tiba menjadi tidak punya uang juga? Pussyiiing, jadinya. Makanya, ibu memilih masih mau bekerja, meskipun di sela-sela waktu sebagai ibu rumah tangga, mengantar anak ke sekolah dan menjemputnya,” beliau berbagi dengan lega. Sedangkan aku senang berekspresi penuh senyuman. Sambil berpikir, bisa ada yaa yang mudah bercerita seperti ini, padahal kami bukan siapa-siapa. Maka, mana bisa ku mengabaikannya begitu saja? Kalau ternyata dapat mengingatkanku pada dunia ibu-ibu yang telah berkeluarga?

Semoga, segala kebutuhan beliau terpenuhi, dengan cara terbaik yang beliau pilih. Begitu juga dengan anggota lainnya dalam keluarga beliau. Meski bagaimanapun, aku sangat suka menerima pencerahan seperti ini. Walaupun aku belum menjadi ibu-ibu seperti beliau. Rasanya, luar biasa excited.

“Terima kasih ya Allah, mempertemukan kami di waktu yang tepat menurut-Mu. Sehingga ku dapat mempelajari sedikit demi sedikit kehidupan sebagai ibu-ibu. Sungguh, penuh warna, aneka cerita ada di sana. Dan bagaimanakah denganku kelak? Cerita seperti apakah yang dapat ku bagikan pada anak-anak muda yang belum berumah tangga, saat ku telah menjadi ibu-ibu juga? Untuk menjadi pesan bermakna bagi mereka dalam mempersiapkan diri menjadi sebaik-baiknya perhiasan dunia.”

Kita memang tidak dapat menduga, seperti apa dunia nyata yang akan kita hadapi. Akan tetapi, sekelumit impian menjadi penggerak diri untuk mau berjalan lagi. Berjalan meneruskan langkah-langkah, menuju impian tersebut. Walau apapun yang menghiasi perjalanan, senyuman mesti menjadi bagian diri. Supaya kebahagiaan tidak hanya milik kita sendiri. Namun mereka yang menerima senyuman pun merasakan, indahnya hidup dengan tersenyum.

So, apapun yang kenyataan tampilkan, siapkan hati, sediakan nyali, lalu melangkah lagi menembus harapan yang mungkin sangat lama mencapainya. Meski untuk menjadi seperti dalam impian, tidak semudah menyusun sebuah kata berimbuhan -I-M-P-I-A-N- ini, tetaplah menjaga impian terbaik.

Semoga ada kebaikan menyerta dalam segala proses menjadikannya nyata. Walau kenyataan tidak selalu sama dengan impian. Di sanalah keteguhan hati kita diuji, seberapa mampu kita bertahan? Di sana kesungguhan kita dicoba, seberapa kuat kita memperjuangkan impian?

Kalau ingin kebaikan menyerta dalam perjalanan, kelilingilah diri dengan kebaikan demi kebaikan. Walaupun sedikit, lazimkanlah menjadi sikap. Meskipun sembunyi, luruskanlah sesuai niat. Sekalipun terlihat, lanjutkanlah sobat! Karena engkau tidak pernah sendiri, kalau engkau baik. Sebab kebaikan itu bercabang, mengalir, saling mendekat, senantiasa terhubung dengan kebaikan lainnya.

Berbuat baiklah, saja, sebagaimana Allah berbuat baik pada kita. Membaiki kita dengan udara gratis tanpa bayaran, sehingga kita dapat bernafas tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Membaiki dengan sinar matahari yang menerangi siang, sehingga kita dapat berjalan dengan nyaman tanpa takut kegelapan. Memperlihatkan kita rembulan nan cantik ketika malam, supaya kita kembali mengingat-Nya. Ia mencurahkan hujan yang deras maupun ringan dari langit, berupa air yang bersih dan segar. Begitu juga dengan bebintang yang berkelipan, menghiasi gelap langit malam, menjadikannya indah untuk kita pandang. Dan lain-lainnya yang Allah hamparkan di seluruh penjuru bumi yang dapat kita saksikan langsung, semua… semoga memudahkan kita berbuat kebaikan. Karena Allah Maha Baik, maka, kalau kita berbuat baik, jangan ingat-ingat kebaikan yang kita lakukan, namun ingatlah kepada-Nya atas kebaikan apapun yang kita biasakan.”

Ingatan tentang berbuat baik ini hadir, saat ku berbincang-bincang dengan seorang lainnya. Beliau yang juga seorang ibu, mempunyai pengalaman hidup lebih beragam dariku. Beliau yang juga mau mengalirkan pesan-pesan untukku, tentang sebuah keluarga juga.

“Sesuai dengan pengalamanku dalam berkeluarga, maka, sikap sangat menentukan bagaimana nasib kita,” ungkap beliau.

“Oiya? Seberapa besar pengaruhnya, Kak?” tanyaku pada beliau.

“Sangat besar. Intinya adalah, perbaiki sikap, perjuangkan prinsip dan jangan lupa untuk berumah tanggal, memilih laki-laki yang pemahaman agamanya bagus lebih utama dari pada hanya mementingkan limpahan harta dan eloknya rupa. Sebab, kalau pemahaman agamanya sudah bagus, ia tahu bagaimana perannya dalam keluarga. Ini sesuai dengan pengalamanku, yaa. Dulu aku orangnya tidak sabaran. Tapi ke sini-sini, aku belajar memperbaiki sikap,” urai beliau menerawang. Dari sorot mata beliau, terlihat binar-binar harapan demi harapan.

“Semoga hari esok dan masa depan cerah menyertai perjalananmu, Kak….” bisikku di dalam hati. Karena beliau adalah seorang perempuan yang baik. Berjuang memenuhi nafkah dalam keluarga sebagai seorang ibu sekaligus istri. Subhanallah. Kuatkan hatimu, Kak. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close