Tentang Kita yang Sebaya

Hai, engkau.

Hai, EngkauTahukah engkau bahwa aku tidak suka menunggu? Ya, menunggumu seperti ini membuatku tidak tenang dalam dudukku. Mau berjalan saat berdiriku. Mau bangkit lagi saat ku berusaha duduk. Bahkan ketika ku sudah berjalan mondar-mandir dan melayangkan tatap ke ujung jalan, engkau tidak juga kelihatan. Lalu aku duduk lagi, meneruskan menunggumu. Menunggu yang membuatku tidak mau tidak, menuliskan tentang hal ini. Supaya ketika engkau datang nanti, ku dapat menyampaikan padamu, sebanyak apa kalimat yang ku rangkai saat menunggumu.

Hai, engkau.

Oiya, aku ingat. Aku belum pernah menyampaikan tentang ketidaksukaanku saat menunggu, padamu. Akankah ku sampaikan saja padamu melalui telepon? Ku panggil engkau dan meminta segera datang? Ah, aku tidak mempunyai nomor kontakmu, juga, ternyata. Makanya, saat ini pun engkau belum datang, aku masih menunggumu.

Hai, engkau.

Seharusnya engkau sudah datang jam segini. Seperti biasanya. Namun hari ini berbeda, pada jadual seperti biasa, engkau belum datang juga. Apakah terjadi sesuatu di sana? Aku mulai mencemaskanmu. Tapi apa yang dapat ku lakukan untuk mengetahui kabar terbaru darimu?

Hai, engkau.

Engkau yang sebelumnya sangat asing bagiku, namun dalam waktu terakhir kita lebih dekat dan sering bertukar suara. Engkau yang ku kenal pendiam sejak awal kita berkenalan, ternyata tidak selamanya begitu. Buktinya, kita dapat bertukar cerita juga, berbagi makanan dan kemudian nonton TV berdua. Ketika teman-teman yang lain belum datang dan engkau sudah pulang, kita juga sempatkan waktu berjalan-jalan berdua.

Engkau mengajakku dan bilang, “Mari kita cari angin, supaya engkau dapat jalan-jalan juga.  Karena seharian engga ke mana-mana, kan?

Hai, engkau.

Ah, sungguh. Engkau mempedulikanku seperti ini. Kepedulian yang tidak pernah ku sangka akan ku dapatkan darimu. Aku tidak pernah menyangka, ternyata engkau betul-betul care sama aku. Tahukah engkau bahwa? Sejak awal kita berkenalan dan kita sangat jarang bicara, aku pernah membayangkan kita dapat jalan berdua suatu hari. Benar saja, akhir-akhir ini kita dapat jalan berdua, menghabiskan waktu bersama, terkadang bercanda dan tertawa. Sampai bisa bertukar kisah perjalanan hidup masing-masing. Hingga terungkaplah bahwa kita sebaya.

Ya, kita sebaya. Sehingga membuat kita lebih mudah bercerita apa saja. Tidak seperti dengan teman-teman kita yang lain. Mereka yang lebih muda juga darimu, kiranya. Padahal ku pikir kalian yang sebaya, lho. Surprised, saat ku tahu bahwa, aku tidak lebih berusia dari semua di sini. Yah, aku bahagia karena ada teman senasib seperjuangan lainnya.

Hai, engkau.

Engkau yang sering menenangkanku, pernah bilang, “Tenang, kakak juga sama kok.” Sungguh, rasanya di hati ini seperti tersiram air segar dari langit. Air yang membuatnya sejuk dan kembali tenteram. Terima kasih, yaa.

Hai, engkau.

Ya, engkau yang sebelumnya terkesan misterius bagiku, namun tidak selamanya begitu. Engkau tidak semisterius sebagaimana pikiranku berkata. Engkau juga tidak selalu pendiam, seperti yang ku lihat. Memang engkau tidak banyak bicara, tapi bicara seperlunya saja. Selain itu, engkau juga bisa bercanda dan kita dapat saling melengkapi saat bertukar suara. Seperti, saat kita makan bersama dengan teman-teman yang lain dan makanan di piringku habis duluan, sedangkan engkau yang berikutnya.

Aku bilang, “Aku juara satuuuu…”

Engkau menimpali, “Aku juara duaaaa…”

Lalu kita tertawa bersama. Tawa ringan dan lepas. Tertawamu pendek saja, tapi bagiku sangat berkesan. Begitu juga dengan suaramu yang halus dan khas saat tertawa. Tawa yang mengingatkanku pada masa kecil dulu. Saat selesai atau sedang makan bersama keluarga, aku dan kakakku suka senyum-senyuman hingga kami sampai tertawa juga. Entah apa yang lucu saat itu. Aku juga tidak mengingatnya sampai saat ini. Kami hanya tertawa saja. Sampai butiran nasi pernah keluar lewat hidungku. Atau tersedak saat minum air. Uh, perih rasanya.

Mengetahui kelakuan kami, Ayah yang juga sedang duduk bersama kami mengingatkan, “Makanya, kalau makan yang benar saja. Bisa-bisanya pakai tertawa.”

Hai, engkau.

Pada pagi harinya, karena jadual kita senada, maka kita juga mulai sering berangkat barengan. Berhubung jalan yang kita lewati juga sama. Hanya saja, setelah kita sampai di persimpangan, engkau melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota, sedangkan aku terus berjalan kaki. Sebab jarak lokasi aktivitasmu lumayan jauh sedangkan aku lebih dekat dengan tempat tinggal kita. Jadi, dengan berjalan kaki, ku pikir lebih hemat dan juga sehat. Apalagi berjalan pagi hari saat berangkat bertepatan saat sinar mentari belum terlalu tinggi dan sore hari ketika pulang, sinar mentari mulai berkurang hangatnya.

Kembali dari aktivitas, jadualku selalu teratur, setiap hari. Aku bersyukur, bisa mengatur aktivitas  berikutnya setelah kembali. Sedangkan engkau, terkadang pulang lebih awal dan kadang pulang menjelang tengah malam. Begitulah, perjuanganmu mengumpul gemerincing rupiah. Semoga berkah yaa. Seperti hari ini. Aku masih menunggumu karena engkau belum juga kembali. Padahal seharusnya sudah sampai di sini, jam segini, hari ini.

Hai, engkau.

Ya, aku sengaja menunggu. Menunggumu yang masih di sana. Semoga perjalananmu selamat, yaa, kawan. Sampai kita berjumpa lagi, berkumpul di sini, bercerita dan nonton bersama lagi.

Tidak seperti biasanya, hari ini aku benar-benar menantimu. Rencananya tadi ku ajak engkau makan malam bersama, atau engkau mengajakku jalan-jalan menghirup angin malam sambil bercerita tentang masa ‘muda’ kita lagi. Namun, engkau belum kembali. Jadinya aku memilih merangkai kata tentang menunggumu saja.

Ya, menunggu yang ku lakukan dengan sengaja. Bukan karena ku sedang tidak ada kerjaan, namun ku menunggu di sela-sela aktivitasku juga. Seperti melipat pakaian kering sebelum ku setrika, memasak menu makan malam dan juga bersantai di depan TV sebentar saja. Nah, karena akhirnya ku mulai lapar, aku makan sendirian dech jadinya.

“Iyaaa, benar tidak enak makan sendiri,” seperti yang engkau bilang kemarin. Saat ku menawarimu nasi goreng special untukmu. Tapi engkau mengajakku makan bersamamu. Namun karena ku sudah selesai makan, engkau masih ku temani dengan mencicipi cemilan di meja. Lalu, ku lihat engkau menyantap nasi goreng dengan lahap.

“Oiya, bagaimana kalau ku beli kerupuk dulu di bawah, yaa, supaya lebiiih mantab makannya,” ungkapmu setelah mengunyah sendok demi sendok nasi goreng.

“Oke, silakan,” jawabku yang sibuk menyemil keripik dan kerupuk yang tersedia di dalam kaleng. Cemilan buat bersama, ceritanya.

“Baiklah, aku ke bawah dulu yaa. Ada nitip?” engkau bertanya, barangkali ku ada pengen ‘ngidam’ sesuatu.

“Ooo.. engga ada, hati-hati yaa,” tanggapku dan memperhatikanmu yang kemudian berlalu.

Tidak berapa lama kemudian, engkau telah kembali. Kembali membawa beberapa bungkus kerupuk kotak-kotak dan juga kacang goreng serta dua buah es kacang hijau.

Silakan, es-nyaaa, kerupuknya juga, untuk bersama,” ucapmu sambil membuka sebungkus kerupuk untuk menemani nasi goreng.

“Oiiaaa, ada es jugaa? Malam-malam begini, minum es kita?” aku tidak menyangka, kalau engkau bawakan juga es untuk kita santap bersama.

Iyaa, engga apa-apa, biar segar,” engkau menjelaskan dan masih sibuk dengan suapan demi suapan nasi goreng.

“Baiklah, aku mau satu yaa, es kacang hijaunya,” ku ambil sebuah es berbungkus plastik panjang. Es kacang hijau yang mengingatkanku pada zaman sekolah dasar dulu. Jajanan kami es serupa. Mungkin engkau juga menemukan jajanan serupa, yaa. Karena kita sebaya. Ternyata saat ini masih ada orang jualnya.

Masa kecil kurang bahagiaku pun terbayang-bayang di pelupuk mata, membuatku terharu segera. Tapi tidak sampai meneteskan airmata, karena ku malu untuk meluahkannya kapan saja. Paling kalau harunya berlanjut, ku menangis saja di atas sajadah, supaya lepas tanpa sekat.

Ku potong es menjadi dua, lalu memasukkannya ke dalam gelas. Supaya es-nya mencair dulu. Setelah es mulai mencair, tidak langsung ku minum semuanya, tapi sedikit demi sedikit. Iya, ku seruput yang mulai mencair perlahan. Saat ku mencoba yang masih berbentuk batu es dan menepikan ke mulut, dinginnya membuatku tidak bisa bicara, hanya terbata-bata.

Ada apa…?” engkau bertanya meminta penjelasan, saat engkau mendengarku bilang sesuatu.

“Iniiii…. batu es-nya ada di mulut, dingiin,  😀  ” jawabku yang akhirnya mengeluarkan sepotong batu es dari mulut.

“Ahahaaaa…, ku pikir apa,” engkau tertawa.

Menit-menit berikutnya, engkau selesai makan. Sedangkan aku meneruskan aktivitasku yang sempat tertunda. Engkau juga sama, melanjutkan aktivitasmu juga dan kemudian bersantai melepas penat.

Begitulah kebersamaan kita dalam waktu terakhir. Kebersamaan yang bagiku sangat berkesan. Karena impian menjadi kenyataan. Kenyataan yang pernah ada dalam bayangan. Salah satunya, yaa, membersamaimu menghabiskan waktu-waktu kita. Kenyataan yang kita jalani, membuatku semakin percaya, bahwa segala sesuatu memang ada waktunya. Seiring waktu, kita bertemu juga dengan impian. Meski setelah kita lupa, bahwa kita pernah mengimpikannya. Tapi, impian untuk membersamaimu, masih teringat jelas olehku. Saat kita berkenalan dan engkau hanya bicara sepatah dua patah kata saja padaku. Selebihnya kita pun diam-diaman. Kecuali untuk hal-hal tertentu yang membuat kita bertukar suara lagi. Sejak saat itu, aku mulai mengagumimu. Tentang kepribadian yang menurutku unik. Keunikan yang membuatku tertarik, hingga terpikir-pikir.

Hai, engkau.

Tahukah engkau bahwa engkau juga pernah membersamaiku di dalam mimpi pada suatu hari. Sungguh, aku tidak mengerti.

Lalu, engkau? Bagaimanakah kesan pertamamu terhadapku? Semoga engkau pun sempat mampir di sini, pada suatu waktu. Dan kemudian menceritaiku tentang hal berkesanmu tentang pertemuan pertama kita, yaa. Siapapun engkau adanya, bagiku engkau sungguh menginspirasi. Engkau temanku yang baik, tidak banyak bicara. Namun sekali bersuara membuatku ingin mengingatnya selalu. Sebab bermaknanya kata yang engkau sampaikan untukku.

Hai, engkau.

Iya, engkau teman sebayaku. Pagi yang lalu ku dengar sebuah pesan darimu, “Jangan bilang kita sebaya, yaa.

aHa! Pesan yang membuatku ingin mengabadikannya. Karena memang kita sebaya, tapi aku mau yang lebih muda. Walau bukan begitu aslinya. Kita pun tertawa bersama. Karena engkau pun mau menjadi yang lebih muda.

Hai, engkau.

Sampai saat ini ku masih menunggumu, bersama ingatan demi ingatan yang berkelebat tentang kita. Namun, aku mau istirahat dulu, ya.

Ku berangkat dari sini, lalu menuju depan TV tempat kita duduk-duduk berdua. Ku nyalakan TV, untuk melihat ada apa di sana? Saat ini sudah lepas Maghrib. Aiya, aku ingat sesuatu. Ku setel channel Gl0b4lTV saja, yang menjadi favorit kita beberapa hari terakhir. Karena di sana sedang tayang film Fast and Furious, dari hari ke hari. Asyiiiik, seperti bernostalgia dengan masa lalu, engkau pun tidak sungkan menceritaiku potongan-potongan episodenya. Termasuk menjelaskan hal-hal yang ku tanyakan.

Serius, serius, serius sangat, saat kita menonton bersama. Ketika jeda iklan tiba, kita dengar-dengarkan juga potongan-potongannya. Hingga sampai pada sebuah iklan *Aku;juga;cintaa;sama kamu, hahahaaa… kalimat yang membuat kita spontan tertawa bersama. Ditambah iklannya muncul lagi dan lagi. Pertama kali aku tidak ngeh inti iklannya apa. Sampai pada suatu waktu, aku masih duduk manis di depan TV, sedangkan engkau lagi di kamar mandi. Menyaksikan dan menyelami iklan tersebut, membuatku tertawa sendiri.

“Haiii,kok ketawanya gitu banget, tadi engga gitu, (padahal iklannya sama),” engkau bersuara mengomentariku.

“Iyaa, barusan ku perhatiin iklannya fokus dan benar-benar, memang lucu. Kalau tadi engga benar-benar merhatiiin,” masih melanjutkan tertawa, aku. Ia pun sudah mengerti, harus bagaimana lagi.

Hai, engkau.

Sungguh. Aku masih menunggumu, saat ingatan pada iklan ini menyapaku. Saat ini juga film Fast and Furious-nya sudah mulai lagi. Ku ikuti tayangan yang sedang berlangsung, serius lagi. Karena ada balap-balapnya, haaaaa… seru. Hingga akhirnya, aku mendengar sesuatu dari arah pintu pertama yang membuatku terkaget. Karena pintu kedua yang terbuka, membuat suara terdengar sangat jelas.

“Blekk!,” bunyi kunci besi di pintu pertama saat ada yang menyentuhnya.

“Aaaaaaaa… Kagetttt!,” aku berekspresi histeris. Saat menonton, aku terlalu menghayati. Sehingga sebuah suara saja membuatku sangat kaget. Ku alihkan pandangan ke arah pintu, ternyata engkau yang sudah datang.

“Ooaaaaaa, kaget, tho. Assalamu’alaikum,” engkau menyampaikan salam padaku. Salam hangat atas pertemuan kita lagi. Ku jawab salam dengan senyuman, menyambutmu. Selanjutnya ku masih menikmati cemilan yang masih tersisa, sebuah lapek bugih yang hampir habis.

“Siniii, mari duduk, kita nonton lagi, Fast and Furious, sambil cemil-cemil,” sapaku.

“Sendirian? Lapek bugih?” engkau menanya, sambil menepikan sepatu dan siap-siap masuk.

“Iya, syeddiiih khannn? Seharian engga ke mana-mana. Iya, Nana yang bawa. Tadi Nana sempat pulang, terus pergi lagi,” ku sampaikan tentang suara hatiku dan sendiri sejak tadi.

Kesyiiaaan, nge-jaga kostan yaa,” hiburmu mengerti. Sambil membawa segunung pakaian hasil cucian tadi pagi untuk engkau lipat. Setelah menepikan semua perlengkapan yang engkau bawa. Ku lihat engkau mulai duduk manis di sampingku, di depan TV yang sedang menyala, berisi iklan demi iklan.

“Heheee… Iya, seharian engga ke mana-mana aku ternyata, menjaga kost aja,” ku baru ingat, tidak ke mana-mana dalam sehari, padahal libur. Tapi, waktu terasa cepat berlalu. Aku tidak pergi-pergi karena sudah ada aktivitas untuk ku selesaikan hari ini, seperti menyeterika pakaian yang tidak semuanya selesai. Karena tetiba ku ingin menulis-nulis tentang apa saja.

***

Tepat setelah catatan ini selesai, kami baru saja menghabiskan waktu bersama lagi. Ya, menonton TV bersama, sebagai teman sebaya. Di sela-sela menonton juga, seekor tikus kecil terlihat mondar mandir, dan berusaha menaiki meja kecil yang ada di depan TV. Sepertinya sang tikus mencium aroma menarik untuk ia santap. Tapi, karena ku ada di sana, ku coba mengusilinya dengan caraku. Meski tidak sampai menyentuhnya, namun sukses membuat tikus tidak jadi mendekat.

Engkau bilang, “Jangan ganggu tikus, kan dia engga ganggu. Kalau dia engga ganggu, nanti dia ganggu jangan marah yaa. Karena tikus itu pendendam lho,” engkau bicara gitu aja, seperti mengerti karakter tikus yang sesungguhnya.

Sedangkan aku yang baru tahu kalau karakter tikus yang pendendam, langsung bertanya, “Oiyaa? Tikus pendendam yaa? Aku baru tahu.”

Iya, makanya jangan ganggu kalau tidak mau diganggu,” jawabmu meyakinkanku.

Aku pun percaya saja dan tidak mau ganggu tikus kecil itu lagi. Sehingga, ku biarkan ia bergerak ke sana ke mari. Terlihat, sering ia sembunyi di bawah meja TV. Lalu lari-lari ke dapur dan balik lagi.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close