Serba Salah

My Surya

“Ku tata hati yang berbicara, agar dia tahu, bahwa dia ada di dunia. Dunia yang penuh warna. Meski ku tahu, ia tidak selalu rela dengan yang ada di depan mata. Namun begitulah dunia adanya. Semua terkadang berbeda dengan harapan dan kehendak hati. Maka saat itulah ia perlu menyadari, berusaha untuk menemani diri meneruskan perjalanan mewujudkan harapannya dengan sepenuh hati.”

***

Hai teman, apakah engkau pernah merasa serba salah? Serba salah yang membuatmu tidak menentu? Sehingga ujung-ujungnya tidak melakukan apapun. Karena sudah merasa serba salah. Serba salah yang membuatmu tidak nyaman, bahkan dengan dirimu sendiri. Serba salah yang hadir begitu saja pada sebagian waktumu. Serba salah yang tidak engkau minta, namun ia ada. Serba salah, ya, serba salah. Mengapa bisa terjadi?

Apakah serba salah hanya perasaanmu saja? Atau, serba salah terjadi setelah engkau menerima penyalahan demi penyalahan? Kalau mau begini salah, begitu pun salah. Sehingga engkau bilang, aku jadi serba salah.

***

“Aaawww…,” aku terbangun dari lamunan. Ketika sehelai mie panas hinggap di punggung tangan kiriku. Lamunan yang memberi kesempatan sehelai mie keluar dari penggorengan. Ia mengagetkanku. Kekagetan yang membuatku teriak ga jelas, hingga mengejutkan seisi ruangan.

Yaaah, pagi-pagi sudah melamun. Melamunkan apa, Nduk? Sampai serius begitu?

Aku sedang memasak. Saat ingatan tentang serba salah ini hadir. Ingatan yang muncul begitu saja. Ingatan yang membuatku berpikir bersamanya. Ingatan yang mengajakku pada beberapa skenario dalam perjalanan hidupku. Ingatan yang mengembalikanku pada situasi serba salah yang pernah ku alami. Situasi yang memberiku kesimpulan saat ini, bahwa ternyata serba salah yang pernah ku alami tersebut, hanya perasaanku saja.

Ya, saat serba salah, aku tidak dapat melakukan apapun dengan leluasa. Sebab, perasaanku berkata, kalau ku begitu, salah. Kalau ku begini, juga salah. Akibatnya yaa, aku tidak melakukan apapun. Aku hanya diam, lalu asyik dengan perasaanku saja. Perasaan yang terlanjur hadir dengan serba salahnya. Perasaan yang membuatku tidak dapat berpikir jernih, kecuali hanya mengikuti perasaan saja. Sehingga aku tidak melakukan apa-apa sama sekali. Lalu, bagaimana caranya supaya tidak serba salah?

Berkebalikan dari tidak melakukan apa-apa, ku pikir jawabannya adalah memberikan kontribusi. Lakukan apapun yang dapat kita lakukan, sesuai dengan kemampuan kita. Maka perasaan serba salah akan hilang dan tidak mejeng-mejeng dalam ingatan. Karena kita dapat menjalani waktu dengan memberikan kontribusi.

 “Ooo, begitu, yaa?” hatiku bertanya.

“Iya, iya, betul,” jawab pikirku memberikan penekanan. Mereka berdua kembali bercakap. Percakapan yang membuatku tidak menyadari, bahwa aku telah melamun.

Menyadari telah melamun, aku pun tersenyum. Seraya membersihkan mie yang menempel di punggung tangan kiriku. Kemudian meneruskan adukan dan mengangkatnya setelah benar-benar menjadi sebuah makanan yang ku sebut mie goreng.

Mie goreng. Pagi hari di hari libur, aku sarapan dengan mie goreng. Karena aku sedang pengen, itu saja. Maka, ku masak mie goreng teri ala aku. Menu sederhana akhir pekan yang cara mengolahnya tidak membutuhkan banyak waktu. Apalagi bahan-bahan yang beraneka ragam. Cukup sediakan bahan-bahannya :

  • 1 (satu) siung bawang merah – iris tipis
  • 1 (satu) siung bawang putih – iris tipis
  • 1 (satu) butir tomat sedang – potong delapan
  • 1 (satu) sendok makan cabe yang digiling halus
  • 1 (satu) sendok makan minyak goreng atau secukupnya
  • 5 (lima) ekor ikan teri kering – cuci bersih
  • Sehelai daun bawang dan penyedap; dan
  • Mie mentah sesuai selera sebagai bahan utama

Cara memasak :

  1. Panaskan air secukupnya untuk merebus mie, lalu tiriskan
  2. Masukkan minyak goreng ke dalam wajan, lalu goreng bawang merah dan bawang putih yang sudah diiris sampai harum
  3. Goreng teri sampai kering, jangan gosong
  4. Goreng cabe dan tomat yang sudah dipotong-potong, aduk sampai semua matang
  5. Terakhir, masukkan mie, bawang goreng dan teri ke dalam adonan cabe tomat. Bisa tambahkan sehelai daun bawang biar ada hijau-hijaunya dan juga tambahkan penyedap, yaa  😉
  6. Mie siap disajikan sebagai sarapan akhir pekan

***

Serba salah. Mengapa harus serba salah? Bagaimana bisa ku merasa serba salah? Aku masih  memikirkan tentang hal ini. Pikiran yang terus saja menari-nari dalam ingatan. Sehingga membuatku terlelap sejenak karena tidak mampu lagi memikirkannya. Lalu ku tidur siang sebentar dan meninggalkan catatan ini yang masih terpotong. Dan kemudian setelah ku terbangun lagi, ku masih terpikir tentang kelanjutannya.

Ada apa dengan serba salah? Mengapa perlu ku bahas? Sepenting itukah ia bagiku? Serba salah yang telah berlalu, namun membuatku merindukannya untuk ku ingat saat ini.

Aku yang pernah serba salah. Lalu, bagaimana ku menyikapi serba salah tersebut?

Hingga tidak serba salah lagi, maka ku belajar dari keadaan. Ku melihat orang-orang yang menjalani hidupnya dengan ringan. Ku memperhati orang-orang yang dapat membaur dalam kenyataan. Ku jadikan mereka sebagai bagian dari pencerahan. Supaya kalau  ke mana-mana, aku tidak serba salah lagi. Apalagi yang namanya kehidupan, tidak mau tidak, ada interaksi dengan sesama. Ke utara, barat, selatan dan juga timur kita menghadap, di sana ada orang yang memperhatikan dan atau berinteraksi dengan kita. Baik kita minta atau tidak. Lalu, kalau selalu serba salah saja.

Bagaimana ku dapat meneruskan kehidupan dengan senyuman?

Sebagai bagian dari pengalaman dalam perjalanan, berikut beberapa tips yang sukses ku lakukan dalam rangka menepikan rasa serba salah :

  1. Mengenali Diri Sendiri

Diri kita adalah seseorang yang ke mana-mana kita bersamai. Ia barangkali tidak kita kenali. Siapa dia? Mau ke mana? Bersama siapa? Dari mana saja? Bagaimana ia bisa sampai di sana? Apa yang ia lakukan?

Sebanyak-banyaknya ku ajukan pertanyaan pada seseorang yang sering membersamaiku dalam hari-hari. Ia yang pernah tidak ku sapa-sapa, walaupun kami sering bersama. Karena aku tidak mengenalinya. Ia yang ku pikir hanya raga, meskipun kami sedang bergerak bersama. Ia yang pernah tidak menyadari siapa dia sesungguhnya? Sampai akhirnya harus berhadapan dengan kenyataan yang membuatnya menjadi serba salah.

Ia menjadi serba salah. Karena ia tidak mengenal dirinya sendiri. Diri yang sepenuhnya ada, namun tidak tahu harus bagaimana. Diri yang berbicara, akan tetapi tidak tahu yang ia bicarakan. Diri yang melangkah begitu saja, tanpa mengerti, ia mau ke mana? Diri yang sempat membuatku tersedu membersamainya. Diri yang juga bukan milikku namun membersamaiku selalu. Sehingga ku berpikir, bagaimana cara membawanya?

Dengan mengenal diri sendiri, memberi kita peluang besar membawa diri. Baik dalam pergaulan dengan orang lain, maupun saat sendiri. Karena salah satu kunci dalam menjalani kehidupan ini adalah kita harus bisa mengenal diri.

Apakah kita mengenalnya sebagai seorang yang tidak bisa ngapa-ngapain? Sehingga apa-apa harus belajar dulu, baru kemudian bisa? Ya, belajarlah kalau begitu. Karena semua orang yang bisa dan ahli di bidangnya, tidak bisa begitu saja. Mereka juga pernah menempuh proses yang membawa mereka pada keadaan sekarang. Maka ingatlah untuk mau belajar, kalau memang diri kita tidak bisa.

Belajar saja, kalau ada yang meminta kita mempelajari sesuatu. Karena mungkin mereka tahu yang kita tidak tahu dari diri kita sendiri. Walaupun belajar tidak selalu menyenangkan, senangilah proses belajar. Supaya, kita dapat mengenali diri dengan baik. Pengenalan yang menjadikan kita lebih mantab melangkah. Mudah bergaul dan tahu dengan diri. Harus berada di mana, bersama siapa, dan apa yang dapat kita lakukan?

  1. Mengenali Lingkungan

Setelah kita mengenali diri, maka langkah berikutnya adalah mengenali lingkungan. Mengenali lingkungan dapat kita lakukan dengan menanya atau memperhati, untuk mendapatkan informasi. Karena dalam pengenalan membutuhkan komunikasi, kenalilah lingkungan dengan cara kita. Kalau kita pendiam, kenali lingkungan dengan memperhatikan. Kalau kita mudah bicara dan gemar bersuara, maka cara mengenali lingkungan bisa dengan bertanya. Bertanyalah, maka engkau memperoleh jawaban yang engkau butuhkan. Bertanya saja.

Tanyalah siapapun yang ingin kita kenali dalam lingkungan sekitar. Bertanyalah dengan baik, sopan dan bermaksud membuka pembicaraan. Bertanyalah dengan ekspresi terbaik. Bertanyalah dengan ramah. Sehingga siapapun orangnya yang kita tanya dapat memberikan jawaban sesuai kebutuhan kita. Termasuk bertanya pada diri sendiri, kalau perlu. Karena terkadang, kita melupakannya saat bertanya. Tanya-tanyalah diri, karena bersamanya ada sekeping hati yang dapat memberikan jawaban. Ia dapat bersuara, meski tidak selalu terdengar. Akan tetapi, sejeli mungkin dengarkanlah suara hati. Semoga ia dapat memberikan jawaban terbaik atas pertanyaan kita.

Perhatikan siapa saja yang ada di lingkungan sekitar. Lihatlah dengan saksama apa yang mereka lakukan. Lalu berpikirlah di bagian mana ku bisa berperan? Karena kita mau mengalahkan rasa serba salah, bukan? Jadi tidak mungkin hanya diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Setelah tertemukan celah untuk menjadi bagian, masuklah dengan tenang, lalu berbaurlah dengan benar di lingkungan sekitar.

  1. Berbuat dan Berkontribusilah

Dalam hal ini, aku suka serba salah kalau sedang berada di tengah-tengah lingkungan keluarga. Lebih spesifiknya adalah sebuah keluarga yang di dalamnya ada aktivitas memasak. Because of, aku tidak terlalu ahli dalam hal masak memasak, rupanya.

Nah, kalau sudah melihat ibu-ibu memasak, aku pun menjadi serba salah. Rasaku saja, memang. Rasa serba salah. Karena ku lihat, orang-orang di sekitar biasa-biasa saja. Mereka juga tidak menyalahkanku. Meski tanpa ku bantu pun, mereka tetap melanjutkan proses memasak dengan lancar jaya. Lalu, setelah hidangan tersaji, aku juga dapat menyantapnya. Tapi, mengapa dari dalam diriku muncul rasa serba salah? Aku juga menanya, bagaimana bisa, ya?

Rasa serba salah yang telah terlanjur bercokol di relung hati ini, membuatku sangat tidak nyaman. Bahkan dengan diriku sendiri.

Seiring bergulirnya waktu, masa yang terus melaju, hari yang bergerak maju dan aku yang berasal dari masa lalu, sedikit demi sedikit ku belajar. Aku belajar mengenal diri, belajar mengenal lingkungan, berbuat yang bisa ku lakukan. Hingga akhirnya ku selesai memasak juga. Memasak mie goreng teri sambil melamunkan tentang serba salah.

Ahaaaa… walau baru bisa memasak mie goreng sederhana, sungguh sangat membuatku bahagia kiranya. Karena dari pengalaman demi pengalaman yang ku lewati, sudah ada kemajuan. Selama ini yang dapat ku laksana dalam proses memasak hanya menjadi bagian iris-iris dan cuci-cuci saja. Sedangkan saat ini, ku dapat berkreasi dari awal sampai akhir proses memasak.

Sungguh, kesempatan ini membuatku tersenyum bahagia. Meski yang turut menyantap masakanku baru teman-teman saja, aku bahagia. Selain aku, juga ada teman yang juga sedang belajar memasak seperti aku. Jadi, kalau kami mengkreasi menu berbeda, saling icip-icip dech. Hehee.  Lalu ku tanya-tanya apa resepnya, bisa rasa begitu dan begitu. Ia mau saja berbagi, karena kami berteman. Itulah baiknya, teman yang senang berbagi, mengingatkanku untuk meneladaninya.

Saat belajar memasak sendiri dari awal sampai akhir, seperti ini, ku mulai mengenali rasa-rasa yang ada. Sehingga kalau mau manis banyakin apa? Kalau mau pedas kurangin apa? Kalau mau gurih kurangin apa, kalau mau asin harus banyakin apa. Sehingga asin garam dapat ku rasa, manis gula sesekali ku coba.

Seperti asinnya garam, manisnya gula, hidup juga seperti itu. Semua rasa bisa ada dalam satu masa yang sama. Hanya saja kejelian kita menakarnya yang menentukan. Apakah kita dapat menghasilkan masakan yang lezat dan enak di lidah? Apakah kita dapat menghabiskan menu seluruhnya? Apakah harus kita olah lagi, karena keasinan? Hai, pernah ku memasak mie goreng keasinan juga lho, lalu mengkreasi ulang hingga menjadi pergedel mie+jagung. Hingga akhirnya habis juga. Ya, karena coba-coba awalnya, gagal akhirnya. Sudahlah yaa, kapan-kapan ulangi lagi. 😀 Semoga sukses untuk selanjutnya.

Supaya rasa sesuai selera, maka kita perlu pintar mendata rasa yang ada:

Rasai bagaimana asin mengikat lidah…

Rasai dulu bagaimana manis membuat sumringah…

Rasai juga bagaimana pedas membuat kita bilang, “Hauuaaahah”

Rasai asam membuat mata seketika terpejam, mengerutkan wajah…

***

Sejauh perjalanan hidupku di dunia ini, sebelum hari ini hadir, aku hanya tahu sesudut saja dari sebuah masakan. Apakah hanya mencuci atau memotong sayuran saja, sedangkan yang memasaknya sudah ada. Apakah hanya mengaduk-aduk saja, sedangkan yang menakar bumbunya sudah ada. Sehingga saat masakan jadi, ku tidak mencari tahu berapa takaran garam, cabe dan gula untuk sebuah menu?

Lha, jadinya, aku sempat tidak mengenali bumbu-bumbu apa saja yang ada di dapur. Walaupun saat remaja pernah memasak juga, namun masakan sederhana seperti telur dadar, goreng kerupuk atau mengolah nasi goreng. Pokoknya semua yang tidak memerlukan bahan-bahan beragam seperti; merica, ketumbar, daun jeruk, buah pala, asam kandis, kemiri, daun salam, serai, jahe, kunyit, laos atau lengkuas, jeruk nipis dan sebagainya. Ramai yaaa, bumbu-bumbu yang perlu ku pelajari untuk dipakai apa saja dan bagaimana takarannya, saat ku mau menjadi chef andal saat memasak.

Saat memasak, ku rindu pada chef Onna yang selalu asyik di dapur. Chef yang sudah teruji keandalannya dalam memasak apapun. Tentu tidak lupa juga beliau sering bertanya pada ibunda sebagai chef ahli dalam keluarga kami. Keahlian yang beliau turunkan sedikit demi sedikit pada chef Onna yang rajin memasak.

Chef Onna juga mulai pintar memasak, setelah berkeluarga. Dengan belajar setiap hari, mencoba beraneka menu dalam sepekan. Aku jadi rindu Chef Onna yang pantang menyerah, saat membersihkan seekor ayam untuk beliau olah menjadi aneka masakan. Chef Onna yang sangat gemar memasak hingga saat ini, dulu juga sangat jarang bersentuhan dengan peralatan dapur. Tapi, setelah berkeluarga, beliau bisa menjadi ibunda yang memasakkan aneka makanan kesukaan semua anggota keluarga di rumah kami. Sehingga membuat duo ponakanku yang masih balita, suka dengan aneka cemilan kreasi ibunda. Begitulah adanya, beliau bisa karena biasa.

Lalu, apakah hubungan catatan ini dengan foto di atas? Ini menjadi sebuah kisah untuk ku ceritakan. Ketika kami berencana menikah, seseorang bertanya padaku, “When I marry you, will you cook delicious fried rice for me?

“Hihiiiii… Nasi goreng? Sejenis apa, ya, Bang…?”, tanyaku.

“Hahahaa… Masak engga tahu?,” Abang bertanya balik.

“Iya, Bang. Baru dengar juga soalnya,” Adek becanda.

Karena mulai paham, lalu Abang bilang gini, “Engga apa-apa, engga bisa masak juga. Kalau mau belajar, nanti juga bisa. Intinya, kita tetap jadi menikah, yaa…”

” … “, (adek terdiam. Lagi-lagi, Adek serba salah. Mau jawab iya atau tidak?)

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

2 thoughts on “Serba Salah

  1. Serba salah duh serba salah…. 😥😥😥 Awkward moment.

    Like

    1. Awkward moment. Heheee, Mba Tetik pernah serba salah jugaaa, serba salah tentang apa yaaa Mbaa?? 😀

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close