Angin, Senyuman dan Hujan yang Menyejukkan

My Surya

Hujan… biarlah turun mengguyur alam.

Angin… biarlah hadir menerpa wajah.

Senyuman… biarlah terbit dari dalam hati.

Semoga kesejukkan sering terasa, di manapun kita berada, bersamanya.

***

Angin berhembus sepoi, ketika ku memulai catatan ini. Sepoi yang membuatku merasa sejuk, tenang, semakin damai, dan siap menyambut bahagia yang segera menyapa. Karena beberapa puluh menit ke depan akan muncul sebuah catatan lagi. Catatan tentang apakah yang akan tercipta hari ini?

Awal datang ke sini tidak ada ide sama sekali untuk ku tuliskan. Namun aku masih dan sangat ingin menulis sesuatu. Makanya, sepoi angin seakan menyapaku untuk membahas ia saja. Angin yang ada dan sering menjadi bagian dari hari-hariku. Akan tetapi, terkadang aku melupakannya.

Yah, seakan tidak mau ku lupakan saat ini, ia pun berhembus lebih ramai. Sehingga membuat taplak meja yang ada di depanku ikut bergerak pelan. Sesekali ia terangkat ke atas, lalu turun dan begitulah berulang kali. Pemandangan yang membuatku tersenyum menyaksikannya.

Angin. Ya, catatan kali ini tentang angin saja yaa. Angin yang tidak berwujud, namun ia ada. Hadirnya membawa kesejukkan, walau tidak selamanya kita sadari.

…  (hening)

Ups! Pada paragraf ini aku kehilangan kata-kata. Sehingga membuat jemari terhenti. Jemari yang bertanya pada hati, mau menekan tombol apa lagi? Sejenak ku berpikir dan memandang cermin yang ada di depanku. Cermin berbingkai hijau di sekelilingnya. Ya, cermin ini bentuknya bulat, kawan. Tidak seperti angin yang tanpa wujud.

Ku lihat wajah yang ada di dalam cermin senyum-senyum gitu. Ku perhatikan ia lagi. Ia masih tersenyum. Malah senyumannya lebih lebar, sampai gigi-giginya terlihat oleh ku.

Hey! Siapakah engkau yang ada di depanku? Mengapa senyum-senyum sendiri? Apakah ada yang aneh di sekitar?,” ku sapa ia tanpa suara. Hanya dengan ekspresi mata saja yang bertanya.

Ia diam menjaga senyuman yang masih menghiasi wajahnya. Beberapa detik lalu ia berdehem. Ehem… Tampaknya ia meledekku. Yaaa. Tapi aku tidak mau melayaninya. Maka ku memilih meneruskan merangkai catatan ini. Sedangkan ia ku biarkan masih senyum-senyum saja.

Olalaaa, aku baru menyadari sebelum memulai catatan, sengaja ku letakkan cermin di atas meja. Posisinya di sebelah kanan. Tepat di sisi note book. Sangat dekat dengan tangan kananku. Kalau note book ku geser sedikit saja, tentu saja ia akan terjatuh. Yups! Tapi aku tidak seiseng itu. Karena ku mengerti siapa dia. Cermin yang akan retak dan atau pecah kalau terjatuh. Seperti itulah ia tercipta. Sangat rapuh, mudah pecah. Kalau sudah pecah dan retak, tidak akan utuh lagi. Ia akan bercerai berai dengan dirinya yang lain. Sehingga bentuknya tidak sempurna. Berderai. Rusak. Saat ku mau bercermin padanya lagi, maka ia tidak dapat menampilkan wajahku dengan baik lagi.

Sesuatu yang berbentuk, memang begitu. Ia tidak akan lagi sempurna setelah rusak ataupun pecah. Berbeda dengan yang tidak berbentuk. Tidak dapat kita lihat perubahannya. Apakah ia pernah rusak atau pecah? Seperti halnya angin. Karena ia tidak dapat kita lihat, maka hanya dapat kita rasakan keberadaannya di sekitar kita.

Yap, apakah engkau dapat merasakan angin di sekitarmu teman? Sepoinya yang menyejukkan, menenteramkan, bahkan membuat mata bisa terkantuk-kantuk kalau berlama-lama membersamainya.

Ketika ia bersemilir, maka benda-benda ringan yang ada di sekitar kita ikut bergerak bersamanya. Lalu berhenti dan tenang lagi, setelah angin menjauh darinya. Sesekali, ku lirik juga tamplak meja yang bergerak-gerak terangkat. Tapi karena ada cermin dan tanganku juga note book di atas meja, maka taplak meja yang memang ringan ini, hanya bergerak di bagian ujungnya saja.

Ternyata keberadaan cermin di dekat kami, ada tujuannya. Yah, sebagai penahan taplak meja supaya tidak bergerak-gerak atau terangkat lebih tinggi, yaa?

“Ooo… begitu, Cer… yaa?,” ku tanya cermin yang hanya diam, membisu tanpa kata-kata.

Namun selembar wajah yang masih terpantau di dalam cermin, tersenyum lagi.

“Hai, mengapa senyum-senyum sendiri? Aku tidak bicara denganmu? Mengapa engkau yang senyum-senyum?,” aku mulai penasaran dengannya. Siapa ia sesungguhnya? Sejak tadi menarik perhatianku juga untuk ku bahas dalam catatan ini? Sepenting itukah ia?

“Iya dong, iyaaaa…,” Ia mulai bersuara. Suara hati yang menjawab. Sedangkan bibirnya masih menutup rapat dan tersenyum.

***

Angin masih bertiup sepoi. Angin yang datang dari arah pintu. Pintu yang terbuka utuh. Sejuk yang angin bawa mengingatkanku pada kampung halaman tercinta. Di tepi rimba yang banyak pepohonannya, angin sering bersemilir. Cara mengetahuinya, bagaimana? Ya, dengan memperhatikan dedaunan yang melambai-lambai. Begitulah kami mengetahui bahwa angin sering berhembus lembut. Apalagi menjelang turun hujan seperti saat ini. Maka, kehadirannya lebih sangat terasa.

Sejuknya angin saat ini, juga menandakan akan turun hujan. Karena di atas sana, awan mendung mulai menggelap. Sedangkan mentari? Bagaimana dengannya? Sinarnya perlahan meredup sampai ke bumi. Seiring adanya awan tebal yang menghalangi sampainya sinar mentari ke alam ini. Sebuah pemandangan yang membuatku ingin berlama-lama menengadahkan tatap ke atas. Sebab sinar mentari tidak mungkin membasuh wajah ini. Apalagi menyilaukan mata. Sama sekali tidak lagi.

Ya, menengadahkan wajah menyambut semilir angin yang menepi di wajah, sangat menenangkan. Kesejukkan yang ia bawa, sampai ke dalam hati. Sehingga hati yang sejak tadi teduh, semakin segar dan kemudian mulai dingin.

Dingin perlahan datang, semenjak sinar mentari tertutup awan. Sedangkan angin, tidak henti bertiup, membuat wajah yang sejak tadi senyum-senyum di depan cermin, semakin nyaman meneruskan catatannya. Malah, ia menertawaiku yang bertanya tentang siapa dia, tadi.

“Hihiiii. 😀 Tak hendak membahasmu lebih lanjut, tapi aku sedang menceritakan tentang suasana alam di sini, yaa. Semoga engkau memaklumi,” bisikku hati-hati padanya. Supaya ia mengerti.

Sampainya jemari pada paragraf ini setelah ku berdiri sejenak menatap ke atas sana. Ketika mendung sudah berubah menjadi tetesan air membasahi bumi. Tetesan yang mulanya sedikit, sedikit, lama-lama menjadi ramai, lalu mengguyur alam. Maka terjadilah yang namanya hujan.

Yach, hujan sudah turun, kawan. Hujan yang akhirnya datang juga. Hujan yang membuat sepoi angin semakin kencang menggerakkan taplak meja ini. Semakin lama angin bergerak terus. Sampai seluruh wajahku pun tidak menyadari, ia sedang menikmati sepoi angin yang membuatnya senyum lagi.

Sungguh, angin yang datang saat ini, sangat menarik untuk ku bahas. Karena angin mengakrabi alam tanpa peduli apakah ia dikenal, diingat atau tidak. Namun, sesekali ia memperlihatkan siapa dia, melalui dedaunan yang kita perhati melambai-lambai. Atau, saat sebuah kertas kita kipas-kipaskan ke  wajah, angin pun berkata, “Aku ada di sini. Selamat sejuk bersama kami, yaa.”

***

Hujan turun semakin deras. Deras yang turun bertambah-tambah. Sehingga alam yang semula hening, berganti dengan gemuruh dan juga tetesan air di atap. Alam yang terang, berganti redup, menyejuk. Suasana yang sangat pas untuk tidur. Yes, suara tetesan hujan sebagai pe-ni-na-bo-bo-nya. Silakan…

Walau keadaan seperti ini sangat pas untuk tidur, tapi aku tidak mau tidur. Karena aku sedang tidak ngantuk. Maka, aku masih mau melanjutkan catatan saat ini, di sini. Catatan tentang angin, selembar wajah yang tersenyum, dan hujan.

Hujan turun semakin lebat. Malah sangat lebat. Sedangkan pintu yang terbuka, masih ku biarkan terbuka begitu saja. Supaya angin yang semakin kencang dapat menyapu seluruh ruangan dengan leluasa. Sedangkan suara hujan juga dapat ku dengarkan dengan jelas. Semua membuat suasana hatiku semakin sejuk. Bersama kesejukkan, ku melanjutkan catatan ini.

Angin datang membawa kesejukkan, begitu juga dengan senyuman. Selembar wajah yang tersenyum, kiranya membawa kesejukkan pula. Seperti halnya hujan yang menyejukkan, setelah terik mentari memenuhi alam. Begitu juga dengan senyuman yang menyejukkan, ketika suasana hati sedang tidak karuan. Makanya, aku sangat suka membersamai orang-orang atau wajah-wajah yang membawa senyuman, dari pada orang yang tidak tersenyum. Karena berbeda saja nuansanya.

Suasana bersama wajah-wajah yang tersenyum, menjadi lebih hidup dan cair. Sedangkan wajah-wajah tanpa senyuman, membuat suasana menjadi horor, mencekam dan pekat, hitam serta kelam rasanya di sekitar. Meskipun tidak malam, walaupun sangat terang. Begitulah pentingnya senyuman dalam kebersamaan, menurutku. Lha, bagaimana menurutmu teman? Sepenting ini juga selembar wajah dengan senyuman bagimu? Apakah ada perbedaannya terhadapmu? Apakah berpengaruh pada suasana hatimu juga? Antara wajah yang tersenyum atau pun tanpa senyuman saat membersamaimu?

Walaupun wajah-wajah tersebut baru pertama kali ku bersamai, kalau ia tersenyum, lebih mudah bagiku mencair dengannya. Berbeda dengan sebaliknya. Wajah yang tanpa senyuman, terkadang dapat membuatku memasang ekspresi serupa dengannya. Benar, betul, dan aku ingat tentang hal ini, baru-baru ini.

Saat ku sedang duduk manis dan asyik dengan tugas-tugasku, tetiba datang seseorang. Seseorang yang belum pernah menemuiku sama sekali. Kehadirannya di depanku baru pertama kali. Lalu tanpa senyuman, ia menyapaku. Ia menyampaikan maksud kedatangannya dan juga ngotot dengan tujuannya. Aku juga mengerti, bahwa ia datang dengan latar belakang tugas juga. Tapi, tidak begitu juga kali. Datang-datang langsung, tanpa mengetahui ada apa di sini? Aku sedang bagaimana? Apakah ku siap dengan kedatangannya atau belum? Ujung-ujungnya adalah… ku geleng-geleng kepala, setelah ia berlalu dan pergi juga. Tentu setelah keperluannya ku tunaikan. Ia masih terlihat tanpa senyuman, walaupun kami sudah deal-dealan. Aku memilih mengalah. Juga tanpa senyuman di wajah. Karena terlanjur larut dalam suasana yang ia bawa.

Ahaaa… Baru ku sadari, setelah ia pergi, aku masih tidak bisa tersenyum. Tetap saja wajahku terlipat rapi. Malah lebih rapi dari sebelum ia datang. Karena sedang berjibaku dengan keseriusan, ceritanya. Sejenak ku berpikir, sungguh, ia tidak mengerti, bagaimana perasaanku ini? Apakah ia tidak tahu, kami baru pertama kali berjumpa? Mengapa ia begitu tega, memperlakukanku seperti itu? Sehingga perlakuannya membuatku merasa asing dengan diriku sendiri. Asing. Sungguh asing. Aku tidak mengenali diriku lagi. Ia yang mudah saja menyampaikan kehendaknya, sehingga harus ku turuti? Padahal, aku juga bisa membela diri dan memberikan pendapatku?

Lagi, aku memilih untuk tidak mau berdebat. Karena aku memilih damai dan menenangkan diriku lebih awal dalam interaksi kami. Sehingga, suasana tidak memanas. Begitu juga dengan ekspresi yang ia bawa. Ekspresi datar, tanpa senyuman. Ku alihkan dengan meneruskan langkah-langkah jemari di atas sebuah kertas. Masih belum rela dan tidak menyetujui, awalnya. Namun, demi kedamaian di bumi, ku serahkan pada beliau selembar kertas kecil yang telah ku tulisi. Seperti yang beliau inginkan. Selesai.

Aku meneruskan aktivitas lagi, setelah beliau pergi. Selanjutnya ku sampaikan juga uneg-unegku pada apapun yang ada di dekatku. Ya, salah satunya adalah lembaran diari yang setia menemani. –Tentang dia yang semestinya mengerti– begini rangkaian kalimat yang ku rangkai, singkat. Sehingga, ketika ku mempunyai kesempatan merangkai kalimat seperti ini, dapat ku jadikan sebagai salah satu inspirasi. Bahwa senyuman sangat berarti bagiku. Sekali lagi, apakah bagimu senyuman dari selembar wajah juga penting, teman?

Pesan penting untuk diriku sendiri yang dapat ku petik dari pengalaman bertemu dengan beliau tanpa senyuman baru-baru ini adalah : “Siapapun yang engkau temui atau menemuimu, berilah ia selembar senyummu. Senyuman ringan yang juga dapat meringankan hatinya. Hati yang mungkin berat sebelum menemuimu. Senyuman tulus yang mungkin tidak engkau sadari, dapat mensenyumkannya juga, walau di dalam hati. Senyuman yang engkau lakukan benar-benar dan sepenuh hati. Untuk dirimu juga, karena akan kembali padamu.

Tentang senyuman yang menyejukkan hati, lagi lagi ku ingin mengingatkan diri pada seseorang lainnya. Seseorang yang juga pertama kali ku temui. Kami tidak saling kenal. Namun saat menemuinya, ku senyumi ia pertama kali. Ia juga terlihat senyum penuh arti. Kami bertransaksi dengan kesan yang melekat di dalam hati. Ini tentang pagi hari yang menawan. Ketika aku dan seorang teman, melakukan aktivitas pagi kami. Lalu, tergerak hatiku mendekatinya, sambil membawa senyuman. Senyuman yang ku terima lagi, malah berlebih. Sehingga stoknya pun masih ku bawa sampai saat ini. Seiring ingatan yang datang, ingatan ini tentangnya, lalu aku tersenyum. Sungguh indah dan menyejukkan hati. Semoga senyumannya menebar lagi, pada sesiapapun yang ia bersamai. Meski mereka belum berkenalan, seperti senyuman yang ia beri padaku.

“Senyuman yang engkau lakukan dengan sepenuh hati, abadi di dalam hatiku. Apalagi dengan menuliskannya seperti ini, dapat mengembalikan ingatanku lagi pada senyumanmu. Senyuman yang akan terbit di wajah ini, nanti, kapan-kapan ku sampai di sini lagi.”

Seperti hujan yang turun ke bumi. Ia menyejukkan. Datangnya juga tidak selalu, namun lagi dan lagi. Saat kita ingat tentang hal ini, maka kita pun mau tersenyum. Senyuman yang terbit dari dalam hati, tidak mungkin juga selamanya, namun lagi dan lagi. Sesuai jadualnya, seperti bakti hujan pada bumi, untuk turun lagi menyejukkan alam. Seperti halnya janji mentari pada alam, untuk terbit lagi esok pagi. Ya, lagi dan lagi, saat pagi datang, mentari tersenyum. Semoga engkau juga yaa, tersenyum lagi dan lagi, walau tidak mungkin selalu. Karena senyum aja terus, tentu menjadi tidak normal. Namun dalam keadaan tertentu, pada masa-masa mensenyumkan, tersenyumlah. Supaya ruang hati yang sempat gersang, tersejukkan oleh senyuman.

Tersenyumlah dari hati, senyuman yang sampai ke hati. Sejukkanlah hatimu, maka sesiapa yang mengunjunginya pun akan tersejukkan. Seperti hujan yang sejuk, turun menyejukkan bumi. Seperti halnya angin yang datang, menyejukkan lembaran pipi.

Saat jemariku mengawali paragraf ini, hujan sudah mereda. Sehingga tersisa gerimis saja. Gerimis halus yang terus turun tidak seramai hujan lagi. Gerimis yang menandakan bahwa hujan akan benar-benar berhenti, seiring berkurangnya gerimis.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s