Status

Mengagumimu dalam Diam

My Surya“Hari ini, masuklah ke kantor dan tunjukkan seluruh semangat yang ada di dalam diri Anda. Jadilah seorang yang luar biasa energik dan sangat hidup. Lihatlah yang terbaik dalam diri orang lain. Lakukanlah usaha ekstra untuk menyenangkan customer. Lihatlah kesempatan untuk belajar dan melakukan perubahan personal di tengah kesulitan. Rangkullah perubahan sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Tertawalah bersama teman-teman satu tim. Katakan kepada orang yang Anda cintai bahwa Anda memujanya. Sebarkan gairah. Saya akan menjadi orang pertama yang sepakat bahwa Anda tidak dapat mengendalikan apa yang terjadi pada Anda setiap hari. Namun dengan sebongkah semangat, saya tidak meragukan bahwa apapun yang akan muncul pada jam-jam berikutnya, akan dapat Anda atasi dengan keanggunan, kekuatan dan sebuah senyuman.” –The Greatness Guide oleh Robin Sharma (hal 98)

***

Berikanlah yang terbaik. Bagikanlah kebaikan. Kembali, aku hanya ingin mengingatkan diri. Yah, mengingatkan diri sendiri lebih utama. Kalau dia pernah merasa terlukai oleh seseorang, jangan sampai ia melimpahkan luka serupa pada yang lainnya. Orang-orang yang mungkin saja tidak tahu menahu tentang lukanya. Supaya ia ingat lagi untuk tidak memperlebar ‘dendam’ yang mungkin saja pernah melekat pada seseorang. Sehingga tidak teringat-ingat lagi. Dengan begitu, langkah-langkahnya menjadi lebih ringan terasa. Ya, tanpa sering-sering mengingat keburukan orang lain padanya, namun mengingat kebaikan orang lain, lebih sering. Karena ia tidak selalu baik, ia juga tidak seburuk yang orang pikirkan tentangnya. Ya, untuk mengingatkan diri saja.

Nah, begitu juga dengan hal-hal remeh yang ia besar-besarkan. Hingga berakibat pada sikapnya dalam menanggapi keadaan. Sikap yang  akhirnya menjadi kebiasaan tanpa ia sadari. Semoga, semoga ia juga tidak selalu meremehkan sesuatu, sekecil apapun itu. Baik selembar senyuman apalagi pesan berharga yang seseorang titipkan padanya. Begitu pula dengan sebuah tanya apalagi penawaran untuknya. Penawaran yang memang tidak selalu harus ia terima. Namun menolaknya dengan halus dan sopan, semoga ia biasakan. Tanya yang tidak semuanya dapat ia jawab, untuk hal-hal yang tidak ia kuasai. Agar tidak ada yang tersakiti hatinya. Karena ia pun pernah merasakan bagaimana rasanya sakit di hati atas perlakuan orang lain yang kasar dan tidak sopan padanya. Semoga, diri ini teringatkan lagi. Maka, ia kembali mau menebarkan sebaris senyuman tentang apa saja, saat ini. Senyuman untuk diri sendiri, mulanya. Semoga mensenyumkanmu juga, kawan. Engkau yang ku kagumi. Kagum, sangat.

Kekaguman yang membawaku ke dalam hari-hari berseri. Kekaguman yang melekat pada pribadimu karena teladan yang ada pada dirimu. Saat ku merasa, yang ada padamu menjadi harapanku, maka aku pun berharap begitu. Saat ku ingin menanya padamu, akan tetapi bibirku kelu. Hanya mengagumi, akhirnya. Mengagumi dalam diam.

Pagi hari ini, pagi-pagi sekali. Ketika ku mengagumimu dalam diam. Saat suasana alam damai dan tenteram. Ku pandang engkau dari kejauhan. Karena kita tidak sedang bersama. Ku ingat engkau dalam pikiran, menjadi bagian dari impian. Ku jadikan kekaguman ini sebagai caraku supaya engkau menjadi bagian dari diriku. Mengapa mengagumimu?

Entah mengapa, mengagumimu seperti ini, menambah tumbuhkan semangat hidup ku lagi. Kalau ku tidur tidak bisa lama. Kalau berjalan tidak bisa sebentar. Karena mengagumi adalah caraku untuk menjadi lebih baik, bersamamu.

Aku kagum padamu karena hatimu luas sekali ruangnya. Sehingga apapun engkau terima dengan lapang dada. Padahal malaikat juga tahu bahwa engkau manusia biasa. Hai, memang tidak pernah adakah gerutu dalam hatimu pada keadaan tertentu? Seperti yang ku lihat?  Atau karena engkau sangat pintar menata kalbumu yang satu? Hatimu itu terbuat dari apa? Sehingga terlihat baik-baik saja walau ada yang menorehkan sembilu di sana?

Yah, tidak sekalipun ku melihat engkau berduka karena perlakuan orang lain padamu. Saat ku tanya, bagaimana bisa? Engkau tersenyum saja.

Kekaguman berikutnya hadir ketika kita sedang melangkah bersama. Tiba-tiba engkau menerima sapa. Sapa dari orang-orang di jalan yang engkau lalui. Mereka menyapamu bersama keusilan yang mengikuti. Ku lihat engkau berlalu dari mereka, membuat tanyaku hadir. Apakah mereka memang tidak pantas engkau layani? Atau karena engkau mempunyai kepentingan untuk segera engkau lakukan?

Kekagumanku semakin bertambah, saat engkau pernah bilang padaku bahwa kita mesti dan harus lebih baik dari diri kita sendiri. Sehingga tidak perlu iri dengan keberhasilan orang lain. Tugas kita adalah menjadikannya semakin giat. Kalau diri kita pun mau berhasil. Lagi pula, buat apa iri-irian? Toch, segala ketetapan sudah terukir. Takdir juga telah lahir sebelum kita lahir. Maka, kalau ingin berubah, maka ubahlah diri sendiri. Sikap dan lelakunya yang terakhir bagaimana? Apakah sudah mendekatkannya pada harapan dan keberhasilan? Beginilah cara dapat bersinergi dengan diri sendiri. Buat dia mau bangkit dan bergerak, untuk berhasil. Dukung ia dalam mengubah takdir. Dan kemudian jadikan kebersamaan dengan diri sendiri sebagai jalan menjemput keberhasilan. Dalam diamnya, ketika ia sedang berpikir, saat ia rehat. Buatlah ia tersenyum dengan melakukan hal-hal yang ia sukai. Kalau pun dia bertemu dengan ketidaksukaan sampaikan padanya bahwa semua akan berakhir. Lalu, bagaimanakah ia menyikapi keadaan yang hadir? Bagaimana ia bersikap, maka seperti itulah hasil akhir yang akan ia panen.

Engkau hadir kapan saja dalam pikiran. Engkau datang sering-sering menjadi pengingat. Supaya aku dapat berpikir, tidak selalu perasa. Ah, bukankah aku perempuan yang kebanyakan rasa daripada pikir? Sering juga ini menjadi alasan supaya dapat meluahkan rasa yang hadir. Namun lagi lagi engkau buat berbagai cara supaya ku mau berpikir.  Meski tidak mesti sepertimu yang pemikir. Maka, aku juga berpikir. Pikiran yang sering menautkanku denganmu. Pikiran yang mendekatkanku padamu.

Wahai, terima kasih untuk hadir lagi hari ini, mencerahkan pikir dan menerangi alam sadarku. Sehingga, meski perlahan, dari waktu ke waktu, aku berpikir bagaimana cara mengagumimu. Kekaguman yang ku alirkan dengan tulisan, membuatku sangat bersyukur, saat kita bisa bersama seperti ini. Untuk meneruskan pikir, mengalirkan rasa yang menepi sesekali.

Aku tahu bahwa engkau hadir sebagai bagian dari takdirku. Maka, untuk apa lagi menganggapmu sebagai pemenuh pikir? Setiap kali ingatan padamu hadir menyapanya? Bagaimana kalau engkau ku jadikan sebagai jalan supaya ku dapat meneruskan pikir? Memikirkan tentang makna keberadaanmu sebagai bagian dari hariku. Ya, engkau menjadi bagian dari diriku.

***

Bacaanku baru sampai pada halaman ke sembilan puluh delapan. Ketika suara sandal yang menaiki tangga terdengar. Di sini, aku berhenti sejenak. Untuk selanjutnya bersiap menyambut siapapun yang hadir. Sambutan yang ku pikir biasa saja.

Aku sedang bersantai di lantai atas. Ketika seseorang datang dan kemudian kaget. Siapakah dia? Keterkagetan karena melihatku yang tidak ia sangka, duduk di sana. Hiii, horror ga tuch.

“Iiiiicccccc…. Kakak, aku kagetttt!,” ekspresi kagetnya terlihat. Apalagi saat ia menempelkan telapak tangan di dada. Masih berusaha menetralisir suasana hatinya yang mungkin berdegub.

“Aaaaa, masa ssich, khan ini udah pagiii…,” sambutku tanpa merasa bersalah. Masih saja, keusilanku terkadang kambuh. Usil karena mau membuat waktu semakin terkesan. Keusilan yang ku lakukan sesekali saja, dalam kesempatan terbaik.

Ia tidak melihatku sebelumnya. Bahkan tidak menyangka kalau ia sedang mendekatiku. Sehingga, melangkahlah ia dengan tenang, tanpa suara, membawa seember hasil cucian. Sedangkan aku, sudah memperhatikannya dari tadi. Mulai sejak bunyi telapak terdengar menaiki tangga, ku sudah tersenyum. Aku tersenyum bersiap menyambutnya. Aku tidak ada maksud membuatnya terkaget seperti itu. Tapi ternyata ada kesempatan, ya, ku manfaatkan dengan baik.

Aku tersenyum. Senyuman yang ia tidak menyangka akan menerimanya. Apakah ia kaget karena senyuman manisku? Atau entah bagian mana lagi yang ia perhati pertama kali dari diriku. Aku pun tidak tahu. Sampai mengagetkannya sebegitu kaget. Hingga detik-detik berikutnya sejak melihatku, ia masih merasa belum percaya dengan keberadaanku di lantai atas.

Beberapa menit berikutnya, ia pun menjemur pakaian. Lalu, aku bangkit.

“Wait, jangan sentuh yaa. Apalagi kena tetesan air. Apalagi kalau nanti gelasnya jadi penuh oleh air tetesan jemuran. Jangan sampai yaa. Aku mau ambil hape dulu, soalnya dia mau pemotretan,” tanpa memikirkan apakah ia mengerti maksudku, aku langsung menuruni tangga. Meninggalkannya yang masih bersama sisa-sisa kaget dan tersenyum penuh makna padaku.

Beberapa menit kemudian, aku kembali. Ia masih menjemur pakaian.

“Aaaaah, belum selesai jemurnya,” aku bicara gitu aja.  Ia masih tersenyum, memperhatiku.

Lalu aku pun sibuk mengambil gambar. Ia memperhatikan saja, sambil bilang, “Terkadang heran, sama Kakak.”

“Haa? Iya, sich, terkadang aku begini,” tanggapku tidak ambil pusing dengan apa yang ia bicarakan. Selanjutnya mengumpulkan kembali benda-benda yang selesai ku jepret. Setelah mengabadikan kebersamaan kami pada pagi hari yang mulai cerah.

“Yuuu… aku ke bawah dulu yaaaa,” ku tinggalkan ia yang masih melanjutkan sisa jemuran.

***

Hidup terkadang memang begitu. Saat kita sedang melangkah, ternyata bertemu dengan hal-hal yang membuat kita kaget. Karena kita tidak mengetahui keadaan, ini salah satu alasannya. Berbeda kalau kita sudah mengenali keadaan, maka kita pun menjalaninya biasa saja. Lalu apa kerennya coba? Kalau menjalani hidup ini biasa saja? Tidak ada surprise? Tanpa kesan yang membuat kita tersenyum. Tanpa kesulitan yang membuat kita berpikir keras menemukan solusi? Tanpa orang-orang yang membuat kita terluka? Tanpa semua, mungkin kita tidak akan pernah berubah apalagi mau belajar. Maka, seperti yang beliau pesankan, pada awal paragraf catatan ini, -hadapilah jam-jam berikutnya dengan bongkahan semangat menemani. Sehingga apapun yang akan kita temui, ia dapat menjadi motivasi untuk bergerak lagi. Tidak mundur, namun bersinergi dengan diri sendiri. Untuk menjadi lebih baik bersamanya. Lebih baik dari dirinya yang lalu.

Pun, kalau tidak ada yang membuat kita kaget dalam menjalani waktu, kita tentu tidak mengenal adanya orang lain di sekeliling kita. Kita akan selalu sibuk dengan pikiran kita sendiri saja, asyik dengan perasaan yang kita ciptakan. Sehingga, hilanglah yang namanya kepedulian pada sekitar.

Adanya hal-hal yang membuat kita terkaget, mengingatkan diri lagi. Supaya memperhatikan sekitar. Karena bukan hanya kita yang hidup di dunia ini, tapi masih banyak yang lainnya. Apakah mereka memperhatikan kita, bergerak bersama kita, atau menjadi teman kita saat bergerak lagi.

Sebelum ada yang datang mendekatiku pun, aku sedang merangkai beberapa baris kalimat. Merangkainya sambil memandang langit. Tiduran di lantai tanpa alas. Sesekali melintas burung-burung kecil bersama cericitnya meramaikan sekitar. Ada juga sebuah pesawat melintas di atas sana. Semua hanya dapat ku pandangi, ku kagumi, ku jadikan sebagai inspirasi pagi. Begitu juga dengan sinar mentari yang mulai terlihat. Seiring ia meninggi, hangat pun menebar. Semua adalah bagian dari kehidupan ku hari ini yang ku kagumi.

Menit-menit berlalu, bersama rangkaian kalimat yang terus hadir. Kalimat-kalimat untuk mengingatkan diriku lagi. Bahwa hari ini ia perlu bergerak dan meneruskan langkah. Tidak hanya bersantai. Hari ini pun aku harus berpikir bagaimana supaya menjadi lebih baik dari kemarin. Salah satunya dengan melakukan yang terbaik, berpikir baik tentang orang lain yang ku temui, membersamai, bahkan berinteraksi denganku. Bukan malah menemukan kesalahan-kesalahan padanya, sehingga membuat hariku tercemari. Bukan, bukan untuk alasan itu ku masih ada hari ini. Akan tetapi, sedapat mungkin membuat orang lain merasa lebih baik dengan adanya aku bersama mereka. Sehingga mereka dapat menjalani hari dengan senyuman. Bahkan senyumannya bisa lebih indah dari senyumanku saat menanti sinar mentari sejak pagi.

Ya, hari ini aku ada untuk menjadi bagian dari orang-orang yang berarti. Mungkin ini masih menjadi harapan. Harapan yang ku teladani dari orang-orang yang ku kagumi. Kaguuum, sekali pada orang-orang yang berarti. Mereka yang dapat menebar manfaat bagi umat, bersama tekad bulat. Walaupun sepanjang prosesnya, mereka juga alami penat. Begitulah aku sering mengingatkan diri. Bahkan saat bertemu dengan orang-orang yang tanpa senyuman, aku berusaha untuk tersenyum lebih awal. Bukan untuk membahagiakan mereka, namun agar hatiku merasa lebih baik dari sebelumnya, kalau ia tidak sedang baik-baik saja, menjadi baik dan kebaikan itu ku inginkan ada di sekitar.

Mungkin, semua masih harapan. Akan tetapi, aku ingin terus melakukan. Melakukan hal-hal kecil yang mungkin ku lakukan. Karena, tidak ada yang tidak mungkin terjadi di dunia ini, bukan? Apalagi kalau kita melakukan sesuatu bukan hanya untuk diri kita sendiri. Namun demi kemaslahatan seluruh penduduk bumi.

Kagum, masih mengagumi. Ku kagumi mereka yang sering terlihat ringan saat melangkah. Walau ku juga tahu, bahwa mereka melangkah dengan masalahnya masing-masing. Suasana hati mereka juga tidak selalu dalam kondisi sumringah, meskipun mereka tersenyum cerah. Tapi, mereka tidak mau mencari-cari alasan untuk berkata lelah. Sehingga, wajah mereka memperlihatkan bahwa mereka membawa stok semangat yang melimpah. Sangat melimpah, hingga sampai padaku.

Aku juga kagum, pada mereka yang sering membuatku teringat agar meneruskan langkah. Sekalipun tidak selalu mudah. Meskipun pasti ada lelah. Juga ada halangan dan rintangan di sepanjang jalan. Tapi, mereka bilang, semua tidak dapat menjadi alasan. Selagi kaki masih mau melangkah, maka berjalanlah dengan indah. Melangkahlah dengan ringan. Bersama iringan semangat yang semakin bertambah.

Aku sangat kagum pada mereka yang mudah berpikir positif. Sekalipun di tengah kesemerawutan. Namun kehadirannya malah menjadi pencerah. Sehingga ke manapun ia pergi, ada-ada saja yang mensenyuminya. Apakah karena wajahnya memang sudah tertakdir cerah? Atau karena ia memunculkan pencerahan dari dalam dirinya terlebih dahulu? Lalu muncul pada wajahnya, walau tanpa ia sadari. Aku mensenyuminya juga. Senyuman karena ku mengaguminya. Meskipun kami berjauhan, walau tidak bertatapan. Begitulah, kagum ini ada. Lumrah, bukan?

🙂 🙂 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Mengagumimu dalam Diam

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s