Just Do It, Now or Never

My Surya

Engkau menginginkan yang terbaik menjadi bagian dari kehidupanmu?

Belajarlah lebih baik. Menjadilah yang terbaik. Berbuatlah dengan tulus. Lakukan semua dengan sepenuh hati. Sehingga mereka yang menerima kebaikanmu pun merasakan ketulusan. Lanjutkanlah, teruskanlah. Walau saat melakukannya engkau tidak bilang kalau engkau tulus. Karena ini adalah perkara hati. Tiada seorang pun yang tahu. Tapi, pandangan mata hati tidak dapat berdusta. Ia hanya akan menyampaikan yang ia rasakan.

“Iya, temanmu orangnya tulus,” ibuku bilang begitu. Ungkap salah seorang temanku tentang temanku. Ia menyampaikan padaku, tentang adanya ketulusan pada temanku. Ketulusan yang seorang ibu lihat, dari ucapan, lelaku dan sikap yang temanku perlihatkan. Walaupun kebersamaan kami baru beberapa jam saja.

Ya, kami sempat melakukan kunjungan ke rumah teman kami, akhir pekan lalu. Kunjungan pertama yang akhirnya terlaksana juga. Setelah sangat lama hanya merencana-rencana. Namun enggaaaaaa… terealisasi juga. Hingga sampailah waktunya, kun fayakun-Nya berlaku. Jadilah, maka terjadilah segala sesuatu. Tanpa rencana-rencana lagi, kami memilih berangkat.  Hari itu juga. Kalau tidak, kapan lagi? Sore itu juga. Karena tidak mau menunda lagi.

Hanya modal becanda-becanda saja awalnya. Ketika temanku berkunjung ke tempatku. Kunjungannya bersama beberapa bungkus ice cream untuk ia bagi pada kami. Ice cream yang mengingatkan kami untuk berkunjung ke rumah baru temanku. Pada waktu sama, temanku yang akhirnya kami kunjungi juga ada di dekatku.  Ia bilang, di rumahnya juga ada banyak ice cream. Ia mau, kami datang ke sana, sambil menikmati ice cream. Atau menyantap semangkok mie rebus yang tuan rumah sajikan. Yah, sudah lama temanku bilang pada kami, “Mainlah ke rumah baru kami, nanti ku hidangkan kalian mie rebus enak buatanku pakai cabe kecil –cabe rawit– Ayolah…”

Aku dan temanku mau sangat berkunjung. Akan tetapi, lagi dan lagi kami mempunyai alasan-alasan yang tidak jelas. Alasan demi alasan yang akhirnya menggagalkan rencana kami. Kegagalan yang tidak menyampaikan kami ke rumah baru temanku. Nun jauh, memang lokasi rumahnya. Jauh di sana. Jauh yang baru bisa kami bayangkan dari ceritanya. Karena kami belum menempuh jalan menuju ke sana. Bayangan jauhnya yang lagi-lagi menyurutkan niat kami untuk berangkat. Ditambah lagi dengan alasan ini atau itu yang kami ciptakan sendiri. Jadinya, kalau jalan-jalan bersama, kami malah memilih ke tempat lain. Lagi dan lagi, engga jadi ke sana. Mungkin, memang belum waktunya.

Kalau sudah tertakdir sampai di sana, walau pun jauh tentu ada jalannya. Meskipun tidak sempat, kami sempatkan. Maka, sampailah kami di rumah baru temanku, bersama seorang teman.  Teman baik yang hampir setiap akhir pekan membersamaiku. Ia yang mengajakku ke mana-mana. Apakah hanya untuk menemaninya, atau kami sengaja ingin jalan-jalan keliling kota. Dia rela mengajakku.

Bersama teman, menuju teman. Pertemanan temanku dan temanku lainnya pun akrab. Keakraban yang membuat mereka ingin saling membantu dalam kebaikan.

“Semoga jodohmu semakin dekat, ya, Nduk…, dengan berbuat baik dan baik lagi, seperti ini,” doaku untuknya.

Kunjungan kami ke rumah temanku yang akhirnya juga menjadi temannya, bukan hanya kunjungan biasa. Namun ada misi lain yang sedang kami perjuangkan. Ceritanya, ada yang mau berikhtiar menjemput jodoh. Semoga, jalan yang kami tempuh ini dalam ridha-Nya. Lalu, memuluskan proses yang kami tempuh untuk menjumpa pasangan jiwa.

***

Sungguh, ketulusannya ku rasakan sejak lama. Kebaikannya menebariku sepanjang kebersamaan kami. Saat ia jauh, aku merinduinya. Ketika ia dekat, ada saja yang ia bagikan padaku. Apakah oleh-oleh untuk kami santap bersama atau cemilan apa saja.

Saling mengunjungi sesama teman ada baiknya. Kunjungan yang semoga berbuah kebaikan demi kebaikan, begini ku senantiasa menenangkan diri. Supaya ia senang melanjutkan perjalanan. Karena kita tidak pernah tahu, ada hikmah apa di sana? Walaupun dalam perjalanan harus ada pegal dan capeknya. Meski hanya duduk manis menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.

Pada diriku masih tersedia stok ‘ngeri, kalau ikut boncengan dengan motor. Apalagi melihat kondisi jalan raya dan para pengendara lainnya yang selalu terlihat sangat ingin cepat sampai. Akan tetapi, perjalanan harus tetap berlangsung.

Karena mesti nebeng juga, aku kembali menguatkan diri. Ketika rasa takutku kambuh dan ngeri hadir berkali-kali. Sehingga menjadi kesempatan bagi ku memberikan tantangan pada diri ku sendiri. Supaya semakin yakin, pertolongan-Nya selalu dekat. Semakin menambah keimanan, memperluas pemahaman tentang takdir dan keyakinan kepada-Nya. Berpikir yang baik-baik saja sepanjang perjalanan, hingga selamat sampai tujuan. Aamiin.

Aku duduk manis di belakang, sedangkan temanku mengendarai motor. Selalu begitu kalau kami pergi-pergi bersama ke tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Sesekali, ia mencandaiku begini, “Bundo, belajar motor lah. Supaya nanti kalau aku capek, kita gantian.

Kalau sudah begini, aku hanya membalas dengan senyuman. Karena keberanianku belum sampai ke sana. Walau ku pernah mencanangkan bisa mengendarai sepeda motor menjelang lebaran tahun ini. Akankah menjadi kenyataan?

Aku masih saja belum berani belajar? Wahai, diriku. Will you always ‘berjalan kaki’? Kalau ada yang selalu mau memboncengi, tidak masalah. Tapi, bagaimana kalau engkau ingin pergi-pergi ke tempat-tempat lebih jauh lagi? Bukankah lebih praktis kalau bisa motoran sendiri?

Sampai saat ini pun aku belum kebayang. Betapa diriku masih sulit meyakinkan diri untuk belajar motor. Tapi, ku usaha juga sesekali mengingatkan Berbi, temanku yang lain. Supaya ia mau mengajariku. Berbi setuju, hanya saja belum ada kesempatan waktu yang pas untuk belajar.

Apakah aku perlu memberanikan diri dulu? Seiring sudah mantabnya keberanian, kesempatan bisa datang kapan saja? Dari mana saja? Bisa belajar sama siapa saja? Apakah betul begitu? Bagaimana, bagaimana ini? Ataukah harus ada inspirasi dulu?

Olalaa… tidak mau membahas lebih lanjut. Kalau mau belajar ya, belajar saja. Jangan malah membahas di sini? Hihiii. 😀 Tapi, bagiku, dengan menuliskannya seperti ini, bisa menjadi pengingat diri. Supaya ia mau bersinergi dengan waktu. Menjadikan waktu-waktu yang ada, sebagai lahan belajar lebih banyak. Belajar lagi, yuuk mari, semangat!”

Kami belajar lagi, walau malam semakin pekat. Kami masih belajar, meski senja sudah berlalu. Aku bersama beliau-beliau di sekitar. Beliau yang sedang berbagi, menitipkan kami cuplikan nasihat. Beliau yang kami senyumi dan bersamai, untuk pertama kali.

Kami bertemu saat kunjungan kami di rumah temanku. Beliau adalah orang tua temanku. Seorang ibu yang ramah, baik dan menitipkan kami hikmah demi hikmah. Untuk kami bawa pulang, menjadi bekal melanjutkan perjalanan hidup ini.

***

Ba’da Magrib ketika itu. Akhir pekan yang menawan. Setelah kami sempat naik-naik ke lantai tiga sebuah ruko. Dari tempat yang pertama kali kami datangi ini, kami dapat melihat pemandangan berbeda dari biasanya. Yah, masih bersamamu, kawan. Engkau teman baikku. Setelah duduk-duduk sebentar di ruang dalam yang luas, kami pamit mau melihat lantai atas. Karena kami penasaran, ada apa di sana?  Tuan rumah pun menceritakan dan mengizinkan kami.

“Aaaaaaaah, dasar tamu yang aneh!” Tapi, beginilah cara kami berteman. Supaya keakraban tercipta dan kesan yang ada melekat dalam ingatan. Namun lihat-lihat situasi dan kondisi juga. Engga mungkin khaaannn, kita menelusuri seluruh sudut rumah teman. Tapi, masih ingat aturan saat melakukan kunjungan.

Kami sudah sampai menjelang mentari tenggelam di ufuk Barat. Sehingga kami masih sempat meliriknya dari lantai atas ruko. Mentari yang mengedipi kami dengan tatapan tajamnya, membuat kami tidak langsung menatap sinarnya. Namun mau saja mencuri-curi pandang dari balik jemari. Mentari yang masih sama, tidak pernah berubah. Senyumannya masih sama dengan dulu, awal ku mengenalnya. Ia masih tersenyum, walau senja menjelang. Ia masih mau tersenyum, meski dari balik awan. Awan tipis membersamai sinar mentari yang masih hangat.

Setelah puas memandang sisi Barat, kami mengalihkan pandangan ke sisi Timur. Dari tempat kami berdiri, terlihat hamparan luas lazuardi menyambut tatapan mata.

“Sungguh, seperti tepi laut di kejauhan, begini ku pikir tadi. Tapi, ternyata, hanya susunan atap-atap rumah,” bisik temanku tidak henti mengagumi alam dari ketinggian. Lokasi rumah yang pas untuk menyaksikan sunrise dan sunset. Seperti ini kondisi rumah dalam impianku. Posisinya di tempat yang lebih tinggi dan menghadap ke arah Timur. Impian itu menjadi kenyataan, seiring dengan kunjungan ke rumah teman.

Di sinilah, ia kembali mengingatkanku untuk menata diri. Yah, menata diri.

“Ku perhati, Bundo tuch selalu begitu, begitu saja. Berubahlah, pelan-pelan. Jangan gitu terus, ichh,” nasihatnya mengingatkanku yang ku sambut dengan –Hihii….#nyengir 😀 Karena menyadari, memang begitulah adanya aku. Namun ku bersyukur, ada yang memperhatikanku, mengingatkan, dengan tulus…”

***

Tulus, lagi dan lagi ia memang tulus. Ketulusan yang terlihat, oleh beliau juga. Beliau yang baru pertama kali kami temui. Beliau yang menasihati kami tentang rupa-rupa kehidupan. Beliau yang walau tidak kami minta, seakan mengerti kebutuhan kami. Kami yang membutuhkan pencerahan demi pencerahan. Supaya kami dapat menempuh masa depan dengan langkah-langkah mantab. Melangkah dengan penerangan yang ada, supaya selamat di perjalanan.

Beliau sedang berada di tempat anak beliau, yang menjadi teman kami. Sangat bahagiaku, akhirnya bertemu juga dengan ibunya temanku. Karena selama ini memang begini. Dengan siapapun aku dekat, ku ingin sangat menemui ibunya juga. Untuk ku ketahui juga bagaimana beliau bercerita di depanku. Kalau selama ini ku hanya mendengar cerita dari putri beliau. Apalagi kami sudah berteman selama ini. Sudah hampir satu tahun.

Ya. Hampir setahun rupanya, kami menghabiskan waktu bersama. Temanku yang sering membagiku ilmu-ilmu yang ia tahu. Termasuk juga menceritaiku kisah-kisah hidupnya yang berwarna. Sehingga, aku –sungguh– merasa sangat beruntung bisa berjumpa dengannya sejak di dunia. Dan kini, giliran berjumpa dengan ibunya pula. Sungguh bahagia. Apalagi setelah ku tahu, ibunya tidak jauh beda dengan anaknya. Beliau senang berbagi cerita juga.

Ibu temanku, sebagaimana ibu-ibu yang lain, senang berbagi. Beliau ramah, senang bercerita. Meskipun kedatangan kami sudah sore hingga menjelang malam. Akan tetapi, tidak pernah terlihat sedikitpun keberatan di wajah ataupun nada suara beliau. Bahkan tatapan mata beliau sekalipun. Sungguh meneduhkan, sangat menenangkan, berada di hadapan beliau.

Saat pertama datang, ku melihat beliau tersenyum menyambut kami. Membawa wajah yang segar, bersih, berbinar. Beliau ibunda shalehah.

Sepanjang kebersamaan kami, beliau banyak berkisah, diantaranya, tentang kesibukan di kampung halaman. Beliau adalah guru mengaji (belajar membaca al Quran) untuk anak-anak di sekitar tempat tinggal. Nah, saat berkunjung ke tempat anak dan cucu di sini, beliau meninggalkan anak-anak didik sementara. Jarak yang membuat beliau masih teringat, semua.

“Ibu sudah menitipkan pesan, selama ibu tidak mengajar kalian, tetap belajar di rumah yaa. Nanti selesai lebaran, kita belajar lagi,” kenang beliau tentang ingatan pada anak didik.

“Ibuku juga guru ngaji anak-anak tetangga dan sekitarnya, di rumah, Bu,” tambah temanku. Lalu bercerita tentang aktivitas ibunya juga. Percakapan yang nyambung. Sampai mengupas segala hal terkait dunia anak-anak dan kebiasaan mereka. Kupasan demi kupasan yang mengembalikan ingatan juga pada masa anak-anak yang sangat mengesankan.

Beliau, walaupun sudah menjadi seorang ibu, masih ingat dengan kenangan masa kecil. Lalu membagikan pada kami. Terlihat jelas, perbedaan kehidupan beliau dulu dari cerita yang beliau bagikan dengan nuasana hari ini. Ada perubahan, ya, ada yang berubah.

Kami sangat suka mendapatkan pencerahan lagi, tentang kehidupan berumahtangga. Termasuk kenangan yang beliau bagi sepanjang usia pernikahan. Pesan beliau yang lain, intinya, “Memilih suami orang beriman. Karena dengan keimanan, ia mengerti hak dan kewajibannya.”

Beliau juga berbagi tentang hal-hal yang tidak terlupakan di masa kecil. Membuat kami pun menceritakan hal-hal tidak terlupa yang kami alami. Hai, semakin seru kebersamaan kami, jadinya. Karena ternyata, pengalaman tidak terlupakan memang nempel terus dalam ingatan. Ingatan yang menjadi cerita.

“Sungguh, betapa menyenangkannya berbagi seperti ini,” pikirku sepanjang kebersamaan kami. Dengan begini, terbuka wawasan kami dan tercerahkan lagi untuk semangat menempuh hari.

Temanku pun sangat antusias. Ia bertanya dan juga bercerita. Ia berbagi segala yang ia rasakan. Termasuk harapan demi harapan yang ia pamerkan. Heheee, sedangkan aku lebih sering senyum-senyum sambil mengaminkan setiap harapan. Kami pun tersenyum bahagia.  Bahagia karena bertemu dengan seorang ibu yang mau menampung cerita kami. Bahagia karena kami bertemu dengan ibu yang baik.

Temanku yang kami kunjungi bilang, “Hayolah, semoga kalian, menemukan jodoh juga. Tapi siapa yang duluan yaa, di antara berdua ini? Ia menanyai.”

Temanku berharap, aku aja yang duluan. Kalau aku, terserah siapa yang lebih awal bertemu jodoh di antara kami berdua.  Karena waktu yang pas sudah ada. Sekarang saatnya meneruskan ikhtiar, mengiringi dengan doa dan sering berpikir positif.

Ujung-ujungnya, kami pun harus berpisah dengan beliau. Karena malam semakin larut dan kami harus kembali menempuh perjalanan panjang. Perjalanan menuju rumah masing-masing. Temanku mengantarkanku hingga gerbang, lalu melanjutkan perjalanannya. Beliau tidak mampir lagi di tempatku, karena sudah malam. Begitulah, kebersamaan akhir pekan kami yang indah. Temanya adalah : “Berkunjung ke rumah teman. Bonusnya, menerima nasihat, wawasan dan pencerahan serta pengalaman dari ibunya teman.”

***

Bagiku, pengalaman pertama selalu begitu. Menjadi sangat mudah menceritakannya. Tujuannya adalah untuk mengingatkan lagi, tentang kebersamaan kami. Karena aku pun menyadari, bahwa kebersamaan kami tidak selamanya. Ada masanya bersama, ada juga waktu untuk berjauhan raga. Maka ingatan yang menjadi sarana, supaya terkenang lagi dengan beliau. Semoga ibu sehat selalu, tetap tersenyum seperti saat-saat membersamai kami. Senantiasa berbagi atas panggilan hati. Sebagaimana yang beliau sampaikan dalam waktu-waktu membersamai kami.

Dalam perjalanan pulang, kami saling berbagi kesan tentang pertemuan dan kebersamaan kami yang bermakna. Semua tidak tercipta, kalau kami masih mencari alasan lagi untuk tidak datang. Maka, hikmah yang kami petik adalah, “Just do it. Now or never.”[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Just Do It, Now or Never

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s