Sepanjang Kebersamaan Kita

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu“.  Dan Jarir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum“. – Sumber –

***

Bagaimana caranya, bagaimana? Bagaimana bisa tersenyum dan berwajah cerah? Bila di dalam hati ada gundah dan resah? Sedangkan pikiran penuh dengan masalah? Atau karena baru saja menunggu sangat lama. Sehingga membuat sendi-sendi kaki-kaki seakan mau berpisah?

Yah. Sungguh tidak bisa tersenyum dalam kondisi begini. Namun ingatan pada sebaris sabda Rasulullah kembali hadir menyapa di depan mata. Ia datang menjadi pengingat, untuk memperlihatkan wajah berseri, ketika bertemu dengan saudara sesama muslim, bagaimana pun kondisi hati.

My SuryaTidak ada yang dapat kita laksana dengan sempurna, kalau kita tidak belajar dan berlatih melakukannya.

Termasuk hasil yang optimal, merupakan ujung dari latihan terus menerus. Bermula dari niat baik dan kebiasaan yang kita rutinkan. Maka tersenyum pun menjadi mudah.

Ya, ingat-ingatlah saja manfaat dari tersenyum. Jadikan sunnah Rasul dan kitabullah sebagai pedoman. Alhasil, kemudahan demi kemudahan kita temui dalam perjalanan hidup ini.

Perjalanan hidup, memang tidak semudah yang terlihat. Walaupun sulit, berlatihlah terus. Meskipun berat, tersenyumlah. Sampaikan pada diri sendiri, untuk tersenyum dan menjadi lebih baik hari ini. Dengan melakukan kebaikan yang benar. Kebenaran yang memang harus kita lakukan. Walau awalnya tidak bisa. Mungkin karena kita belum terbiasa saja. Setelah biasa, kemudahan pun menyerta.

Sebelumnya aku merasa kaki-kakiku pegal dan ia bilang lelah. Hingga akhirnya aku pun bisa duduk manis. Duduk untuk membugarkannya lagi. Supaya kaki-kakiku dapat berehat sejenak. Namun tiba-tiba, saat ku baru saja duduk, ada yang datang menemuiku. Kedatangannya tanpa senyuman pula. Ia memintaku untuk berjalan dan meneruskan langkah-langkah lagi. Apakah dia tidak memperhatikan dan mengetahui kelelahanku? Atau hanya perasaanku saja yang lelah?

Sebuah permintaan yang ia sampaikan, membuatku mesti dan harus kembali bangkit, lalu melangkah. Langkah-langkah yang memang harus ku lakukan. Akan tetapi aku tidak akan dapat melangkah dengan ringan, tanpa hati yang membersamai. Maka pertama kali ku sapa ia dengan hati-hati. Memberinya pengertian tentang kebersamaan kami. Karena dia tidak boleh lagi memperturutkan maunya saja. Namun harus memengerti orang lain, memahami keperluan orang lain padanya. Supaya ia mau bergerak bersamaku saat kami melangkah lagi.

Tidak lama membujuknya, ia mau tersenyum juga. Senyuman yang ia sampaikan dengan sempurna. Walaupun tidak langsung ceria, namun membutuhkan waktu. Setelah ia tersenyum, aku pun mensenyumkan wajah. Wajah yang menjadi sumringah dan kaki-kaki pun mulai melangkah. Kaki-kaki yang bergerak sesuai kata hati, untuk bergerak lagi. Sedangkan pikiran pun  mencair. Ia belajar mengenali situasi. Karena ia sangat senang kalau kami melangkah lagi. Melangkah untuk menemukan hikmah di perjalanan, juga memetik inspirasi di sepanjang jalan yang kami lalui. Setelah semua bersinergi, semua terasa mudah ku jalani. Langkah-langkah yang ringan, hati yang kembali tenang, dan pikiran yang semakin senang.

Dalam hal ini, aku ingat untuk belajar bersyukur lagi. Kalau ku langsung mengomel-ngomel dan menyampaikan keadaanku sendiri? Belum tentu ia yang memintaku melangkah langsung memahami. Ujung-ujungnya malah mengomeliku balik.

“Haaaiii, tahukah engkau bahwa, aku tidak suka keberisikan dan perseteruan. Namun sangat suka dengan suasana teduh dan tenteram. Memilih berdamai dengan diri sendiri awalnya, lalu kedamaian dengan dunia di luar diri pun tercipta,” begini caraku menyikapi situasi yang berada di luar rencana.

Wajahku tersenyum, ia yang menemuiku dan memintaku melangkah tadi pun tersenyum. Senyuman yang ia sampaikan untuk membalas senyumanku. Ku lihat ada kebahagiaan memancar pada sinar matanya yang berkerling. Kerlingan yang menambah kebahagiaanku. Aku suka melihat orang-orang di sekitarku tersenyum, seperti ini. Sangat suka.

***

Hari ini engkau bertemu dengan siapa saja, teman? Apakah mereka tersenyum saat menemuimu atau engkau menyambut mereka dengan senyuman? Lalu, bagaimana tentang kebersamaan yang engkau jalani bersamanya? Apakah menyenangkan sehingga menjadi berkesan? Sehingga membuatmu sangat bahagia membersamainya? Atau membuatmu harus berpikir ulang dan menanya diri, “Bagaimana bisa ku harus bersama dengannya sepanjang hari ini? Dia yang membuatku tidak sabaran. Atau dia – dia – dia lainnya yang membuatmu terkecewakan?

Kebersamaanmu dengan siapa saja. Baik orang-orang yang engkau temui atau menemui, pasti ada alasan. Apakah sudah terdeteksi di awal pertemuan atau di ujung kebersamaan baru ketahuan alasannya?

***

Sedapat mungkin, bawalah wajah yang cerah ketika bertemu dengan orang lain. Sekalipun mereka datang, bersama cemberut. Tapi kalau engkau tersenyum, mereka juga balas mensenyumi. Percayalah dan cobalah. Aku sering mempraktikkan seperti ini. Walau senyuman tersebut terlihat hambar atau berwarna abu-abu, namun ada senyuman di wajahnya. Sekalipun matanya tidak berbinar, namun sedikit terbuka dan menyipit seiring muncul senyuman di wajahnya.

Aku sebenarnya hanya ingin mengingatkan diri sendiri. Apalagi saat ia bertemu dengan orang-orang yang tidak mensenyuminya. Sedapat mungkin ku berusaha untuk berwajah cerah. Karena seperti halnya ia yang tidak tahu ada apa dalam pikiranku, begitu pula denganku. Aku tidak tahu bagaimana suasana hatinya, termasuk pikiran yang ia bawa saat menemuiku. Namun dengan selembar senyuman, kami dapat bersapa bahagia. Selanjutnya, mengalirlah cerita dan kisah yang sebelumnya tidak ku bayangkan akan ku peroleh darinya. Ya, ia mudah bercerita padaku. Sebab tidak pada sembarang orang ia mau menyampaikan cerita-ceritanya. Sungguh, betapa senang aku mendengarkannya.

Pertemuan dengan siapapun, mengingatkanku lagi betapa sangat indah rencana-Nya. IA yang telah menuliskan jalan-jalan untuk ku lalui. Sehingga proses demi proses ku jalani dari waktu ke waktu. Termasuk keadaan dan situasi yang ku temui saat ini di sini. Dengan segala ketidaksukaan atau kesukaanku membersamainya.

Sesungguhnya, semua dalam rencana-Nya. Maka sedapat mungkin ku berusaha agar ingatanku dapat kembali ke masa ini, dengan menuliskannya. Karena aku memang –pelupajuga-. Tidak mudah mengingat lama sesuatu, kalau tidak ada yang mengingatkan. Tetapi, menulis cukup membantuku untuk mengembalikan ingatan pada sesuatu yang penting dan seharusnya ku ingat.

***

Melanjutkan langkah-langkah lagi hari ini sejak tadi di sana, menyampaikan pula aku ke sini. Untuk apa? Kok mampir lagi di sini? Yes, salah satu tujuan ku mampir di sini adalah untuk menepi sejenak. Selonjoran melepas lelah. Kipas-kipas merasakan kesejukkan. Memejamkan mata rapat-rapat, lalu merangkai huruf pelan-pelan. Kemudian membuka mata lagi, memperhati segala yang ada. Sehingga dari sini ku dapat memerhati pemandangan alam yang megah dan keindahan nun jauh di sana.

Ku berharap begini, “Ya Allah, sampaikan juga aku di sana, di lokasi yang ku damba. Untuk ku jejakkan pula kaki-kaki ini di sana, bersama mereka semua. Mereka yang sedang menikmati pemandangan alam rupawan. Karena sedang menghabiskan masa liburan yang berkesan. Sedangkan aku, menghibur diri dengan menjejakkan jemari. Masih asyik dengan tariannya yang mengajakku tersenyum. Sambil tidak henti menyemangati diri, –Ayo, bergerak lagi.”

“Walaupun kaki-kakimu bilang ia penat, namun tidak dengan jemari. Sambil engkau rehat sejenak, merangkai kalimat bisa engkau laksanai. Supaya ia mensenyumkanmu. Sambil menyeka keringat di puncak hidung. Atau menepikan aliran keringat yang tidak henti muncul di kening dan juga dahi. Begitu pula dengan pipi. Ia yang sejak tadi engkau ajak berpanas-panasan di bawah terik mentari, dapat engkau lenturkan dengan tersenyum. Menggerakkan ujung bibir ke kanan dan kiri bersamaan.  Tersenyumlah sendiri. Tersenyum saja pada dirimu sendiri, atau pada jemari yang berlari,” begini hati kadang bersuara. Ah, ada-ada saja.

Inti dari kebersamaan kami (aku dengan pribadi lain) yang ku temui di sini, “Untuk seimbang di dalam hidup. Sebab kalau hidup tidak seimbang tidak akan selaras,” lengkapnya berbicara padaku.

Aku menyimak dengan baik. Berikutnya, ia pun berpesan banyak hal padaku. Terkait upaya untuk terus mengembangkan diri. Kita harus sering belajar dan jangan puas dengan yang sudah ada saja. Apalagi untuk mundur tanpa mau melangkah lagi. Bekerjasamalah dengan orang-orang terdekat dengan kita. Supaya sesuatu yang kita rasakan sebagai beban, dapat kita bagikan.

Ku kenal ia sebagai seorang yang sangat baik padaku. Walaupun ia tidak menyadari, sebenarnya aku selalu memperhatikannya sebelum ia berbicara padaku. Seperti kebersamaan kami hari ini. Begitulah rencana-Nya bekerja untukku. Ia mempertemukanku dengan orang-orang yang mengingatkanku kepada-Nya lebih sering. Seperti sering ku pinta di dalam doa. Maka, bersyukur selalu dan senantiasa, hingga saat ini aku dapat menepikan lagi ingatan, di sini. Semoga engkau juga dalam kondisi mengingat-Nya, yaa. Allah yang mempunyai rencana untuk kita jalani.

“Jalanilah segala yang kita alami dalam hidup ini dengan sabar dan penuh syukur.”

Berikutnya, kebersamaan ku hari ini adalah dengan beliau yang telah sepuh. Beliau yang sering menarik perhatianku setiap kali kami bertemu lagi. Dengan cara, aku menyapa beliau atau beliau yang menyapaku lebih awal. Apakah hanya melalui lambaian tangan atau senyuman dari kejauhan. Sebelum akhirnya kami berdekatan dan berbicara.

Selanjutnya, ku abadikan tentang kami yang sempat bertukar suara. Karena kalimat demi kalimat yang beliau alirkan, sangat berarti bagiku. Sebab bertemu beliau, seperti berjumpa dengan orangtua ku sendiri.

Beliau yang sering menyampaikan nasihat, walau terkadang tidak langsung padaku. Seperti kali ini, beliau sedang berbicara dengan diri sendiri. Namun karena ada kami di sekitar, beliau pun tersenyum karena kami mendengarkan beliau. Kami bersenyuman.

“Urang sibuk pulo ruponyo. Jadi, ndak tau sibuknyo Awak…  Sabaaarrr…” begini ungkapan beliau sambil mengurut dada dan tersenyum. Setelah beliau mendapat informasi, kalau beliau harus menunggu hingga beberapa jam lagi. Supaya dapatkan barang yang sangat beliau butuhkan. Beliau benar-benar memerlukannya dalam waktu cepat. Kalau engga, mana bisa melanjutkan aktivitas? Tapi solusinya ya, harus mesti menunggu dulu, sebelum barang sampai di genggaman.

Beginilah orang tua menyikapi keadaan. Beliau mensabari dengan kesabaran yang beliau teladankan. Masih sambil tersenyum. Tapi suasana hati beliau tiada yang tahu, bukan? Senyuman yang membuatku turut menggumamkan kalimat yang sama. Kalimat yang ku sukai, sehingga ingin ku ingat juga.

Tentang beliau serta nasihat-nasihat dari seorang tua pada anak muda seperti kami, pernah ku ceritakan pada ibunda. Mengetahui di sini ada orang tua yang suka mengingatkanku, ibunda tentu sangat senang. Lalu beliau mengingatkan supaya aku sering-sering menyimak nasihat beliau. Menghayati dan mendengarkan pesan beliau. Karena sangat berguna. Lain hari, ketika kami bertukar suara lagi, ibunda bertanya kabar beliau. Karena ibunda pun terkesan dengan beliau.

Kalimat dan cara beliau berbicara, hampir semirip dengan Ayah. Ayah memang suka begitu. Beliau sangat penyabar, dan sering mau mendahulukan kepentingan orang lain untuk beliau penuhi. Karena keberadaan beliau memang dibutuhkan, maka beliau bersabar menjalaninya. Sampai saat ini pun sama. Di usia beliau yang mendekati senja, dalam waktu-waktu kebersamaan kami, beliau sering bilang, “Sabaaarrrr… Ya, selagi kita bisa bersabar, maka bersabarlah. Beliau selalu punya cara untuk mengembalikan ingatanku pada kesabaran. Apakah karakter beliau pun melekat pada diriku ini? Aku yang merasakan juga bagaimana kondisi beliau saat bersabar. Bersabar memang tidak mudah, namun indah saat menjalani.”

“Tidak mudah,” begini Ayah pernah bilang. Beliau yang sangat dan sangat sangat penyabar. Ayah yang baik. Aku belajar banyak dari beliau tentang kesabaran.

“Bersyukurlah karena masih bertemu dengan orang-orang yang mau mengingatkan kita kapan saja. Walaupun ia tidak mengenal kita dengan baik. Akan tetapi mudah baginya menyapa dan menyampaikan barisan nasihat untuk kebaikan kita. Supaya kita melangkah dengan benar, tidak semau kita saja.”

Dahulukanlah Allah, hidupmu menjadi mudah. Tentang hal ini, aku teringat lagi pada seorang teman. Teman yang sangat pendiam sehingga ku pikir ia diam-diam saja dalam hidupnya. Akan tetapi, orang yang pendiam tidak selamanya diam. Ketika kesempatan berbicara tiba, ia menyampaikan pesan bermakna.

Tadi malam, kami sekeluarga di kostan berencana menghirup udara malam bersama-sama sambil menikmati alam. Rencana yang terbit setelah selesai makan malam ba’da Magrib. Karena cuaca benderang, tidak mendung seperti malam sebelumnya. Ditambah lagi cahaya rembulan mulai terlihat di atas sana. Apalagi bebintang yang bertaburan, mempercantik tampilan langit malam. Nuansa yang membuat kami ingin keluar. Yah, sejenis jalan-jalan gitu.

Kami sedang bersiap-siap. Ketika temanku yang pendiam datang dan bilang gini,Kita kan mau pergi nich. Sepuluh menit lagi adzan Isya, kan? Kita shalat dulu aja yaa, baru berangkat.”

Beberapa orang langsung menyetujui, sedangkan yang lainnya seakan enggan. Terlihat dari ekspresi yang ia perlihatkan. Terdiam, sambil masih mematut-matut diri di depan kaca. Karena sudah bedakan dan memoles wajah menjadi lebih segar. Seakan sayang, bila bedaknya luntur lagi setelah berwudhu. Menerima ekspresi demikian, seakan mengerti, si pendiam pun menambahkan, “Dahulukan Allah… supaya perjalanan kita barakah. Aku juga baru bertaubat akhir-akhir ini. Karena ku terinspirasi dengan seorang temanku. Ku ceritakan yaa, Pernah pada suatu hari, ia akan pergi keluar dengan teman laki-lakinya (nge date). Ia pun siap-siap dan berhias dengan segala pernik dandan perempuan. Seperti bedak, mascara, eye shadow, eye liner, lipstick, dan lain-lain. Semua sudah nempel di wajahnya. Nah, setelah dia selesai, teman yang ia tunggu belum datang-datang juga. Sampai akhirnya adzan berkumandang. Ia yang sudah terbiasa shalat di awal waktu, memilih berwudhu dan kemudian shalat.”

“Trus, temannya jadi datang, Kak?” tanyaku penasaran sangat ingin tahu kelanjutan ceritanya.

“Jadi. Saat dia sedang shalat, temannya baru datang,” jawabnya.

“Waah, jadi temannya yang nunggu dong, yaa,” aku membalas sambil mendekatinya.

“Iyaa, biarin aja dia nunggu, bodo amat,” tanggapnya tegas.

“Trus, ku lihat hidupnya bahagia dan lancar-lancar aja, sampai sekarang,” tambahnya memantabkan kami untuk kemudian bersiap-siap shalat dulu sebelum kami berangkat. Pesan ini untuk menjadi ingatanku juga. Supaya kalau mau pergi-pergi dan jadual shalat sudah dekat, lebih baik shalat dulu. Kemudian berangkat.

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close