Status

Mengapa Menulis Lagi?

My SuryaOiyaa, sebelumnya, aku membaca sebuah tanggapan dari seorang teman tentang menulisku yang konsisten maksaindiri? bahkan hampir setiap hari.

Hai, buat sahabat yang kembali menjadi inspirasiku untuk menulis lagi hari ini :  “Iya, Mas Nur : Kadang sebuah kisah tercipta dengan sendirinya.. Terima kasih yaa untuk membaca catatan-catatanku dan konsisten berteman serta menjadi bagian dari tulisan ini. Seperti tulisan-tulisan yang terangkai, semoga persahabatan kita abadi. Mau balas panjang, yaaa… melalui catatan ini. Karena menulisku lagi saat ini, ada hubungannya dengan “Tujuan dan Jalan”.

Mengapa ku menulis lagi saat ini? Lalu memunculkan sebuah catatan tentang apa saja? Aku ingin membahasnya saat ini, sebagai sebuah kenangan tentang komentar beliau, boleh yaaa?

  1. Mempunyai Tujuan

Menulislah karena engkau memang benar-benar mempunyai tujuan. Jangan menulis asal-asalan. Tapi ada yang ingin engkau rengkuh dengan menulis. Setelah engkau menetapkan tujuan, tentukan jalan untuk sampai di sana. Karena adanya tujuan tentu ada jalan. Nah, untuk mencapai tujuan, kita tentu harus menempuh jalan-jalan yang ada.

Seperti halnya peribahasa yang mengatakan bahwa banyak jalan menuju Roma, maka ku ciptakan juga banyak jalan untuk mencapai tujuanku. Jalan-jalan yang ku tempuh agar dapat menyampaikanku pada tujuan, salah satunya ya dengan menulis begini. Jadi, kapanpun ku mau mencapai tujuan atau ingin mengunjunginya lagi sering-sering, ku gerakkan jemari.  Supaya mereka pun mau jalan-jalan di atas tuts-tuts atau keypad. Agar bahagia yang menjadi tujuan, semakin dekat menemani. Maka, ku anggap saja tulisan-tulisan yang hadir sebagai jalan mencapai tujuan. Makin sering menulis, makin sering tersenyum, bahagia pun lebih dekat dan semakin sering terasa.

  1. Bertemu Para Sahabat yang Berbagi Ilmu dan Pengalaman

Adapun alasan sederhana lainnya untuk masih dan konsisten menulisnya aku di blog, ya ini. Selain sembari memanfaatkan waktu-waktu luang sebelum tersibukkan dengan kesibukan di masa mendatang. Semoga terus berkelanjutan, walau pun kelak sudah bersamai aktivitas-aktivitas baru. Alasan lainnya adalah karena dengan menulis ku dapat bertemu sahabat-sahabat baru dari mana saja, siapa saja, kapan saja. Apakah untuk saling berbagi pengalaman atau mengetahui pengalaman mereka di sana melalui tulisan-tulisan mereka yang ku baca juga.

  1. Membagi Ekspresi

Dulu memang menulisnya aku ketika sedang bersedih. Apalagi saat kesedihanku bertambah-tambah. Kesedihan  yang membuatku menangis lebih sering. Setelah merasa lelah meneteskan airmata di pipi, ku lanjutkan dengan menulis. Karena masih ada rasa yang ingin ku luahkan.

Yah, tahukah engkau bahwa menangis itu sungguh melelahkan? Akibatnya, mata menjadi berat dan sipit serta pandangan pun memburam. Tatapan menjadi tidak jelas lagi. Apalagi wajah, ia menjadi pegal dan tidak mampu berekspresi sama sekali. Karena seluruh rasa telah menumpuk di sana, membuatnya jadi cemberut dan tidak dapat berekspresi ceria.

Maka, sedapat mungkin, senyumkanlah orang-orang yang ada di sekelilingmu. Jangan buat mereka menangis, lagi, yah… Apabila menangisnya mereka karena ulahmu. Apalagi menangis untuk jangka waktu lama. Begitu juga denganku. Senyumkanlah aku dengan caramu, sebisamu, supaya ku tidak menangis…

Sebab salah satu pengalamanku dan memang ku akui, kalau sudah menangis, aku suka sangat lama hingga berjam-jam. Airmata yang engga reda-reda, walaupun hati sudah melega. Begitulah penderitaanku kalau sudah menangis. Maka akhir-akhir ini ku memilih mensenyumi atau tersenyum atas situasi demi situasi yang ku alami. Walau mereka semua bersiteguh membuatku bersedih. Tapi dengan menuliskan kesedihan, membuatku mensenyuminya beberapa jam kemudian.

Namun kini, mulai berbeda. Aku menulis tidak lagi kalau sedang bersedih saja. Namun saat bahagia, aku juga suka menuliskannya. Supaya kebahagiaanku bertambah setelah sebuah tulisan hadir di hadapanku.

  1. Menjadi Bagian dari Perubahan

Waktu yang terus bergulir, mengakibatkan perubahan juga lebih sering hadir. Meski kita menyadari atau tidak, kita sedang berada di dalam perguliran waktu tersebut, bersama perubahan demi perubahannya. Lalu, apakah yang dapat kita lakukan bersama waktu? Agar kita dapat membersamainya selalu? Supaya kita dapat meneruskan langkah-langkah lebih ringan bersamanya? Agar keadaan tidak membuat kita terbuai? Supaya kita dapat memberikan sikap yang lebih baik pada detik-detik berikutnya? Tentu saja dengan memberaikannya dalam tulisan. Supaya waktu bersama perubahannya mengajak kita serta dengannya. Melaju menuju masa depan bersama senyuman saat menjalaninya.

  1. Mengingatkan Diri

Belajar dari pengalaman orang lain dengan membaca. Berjalan menjemput harapan dan menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa ingat dan mengenal diri dengan menulis.

Saat kita bahagia, ada yang sedang tidak bahagia. Ketika kita dalam kesedihan, jangan terlalu larut. Karena pelangi hadir setelah hujan membasahi alam bersama sinar mentari yang tersenyum. Ingatlah bahwa kesedihan pasti berlalu. Seiring dengan kemauan kita untuk belajar tentang cara menyikapi keadaan demi keadaan yang datang dan pergi. Selagi kita mau menyadari, bahwa kita masih di bumi. Untuk sering ingat dan kemudian melangkah lagi.

Menulis juga menjadi alasan lain bagiku untuk mengingatkan diri, supaya mau berbuat baik. Seperti halnya bacaan demi bacaan yang sampai padaku, yang berisi tentang ajakan untuk berbuat baik. Maka, kalau aku belum terbiasa dengan kebaikan yang ku baca, aku berusaha menuliskannya. Supaya mudah teringat, lalu mudah pula menjalankannya.

Pengalaman tentang hal ini, baru saja ku alami pada malam kemarin. Ketika ku membahas tentang kebaikan pada keluarga yang sangat penting untuk kita lakukan. Maka, muncullah ia dalam kenyataan, sebagai sebuah tantangan bagiku. Apakah ku mau berbuat sebagaimana yang ku tuliskan? Dengan belajar dari pengalaman orang lain dan meneladani kebaikan orang lain padaku? Relakah aku? Ikhlaskah? Meski tiada yang tahu? Kecuali hanya aku dan Tuhan serta malaikat-malaikat bersayap di sekitar kami.

Hujan sangat deras dan lebat, diiringi angin kencang dan petir bersahutan. Di tambah lagi dengan kilat yang menampakkan sinarnya silih berganti, membuat alam menjadi benderang dalam sekejap di tengah hujan. Ia datang menemuiku dengan kondisi basah kuyup di sekujur tubuh.

Sungguh …

Untuk mendapatkan hasil, harus ada usaha yang sungguh-sungguh juga. Dan yang namanya usaha, terkadang ada rintangan. Ia mau menembus hujan, menembus kegelapan malam, demi menemuiku…  –A Story about My Lovely Brother

  1. Menyemangati Diri ketika ia sempat Terpuruk

Saat ada yang menyudutkan. Jadikan sudut sebagai tempat merenung, menanya diri, dan mengintrospeksi diri, sebelum menyalahkan balik atau berkilah. Apakah aku begitu atau tidak? Setelah merenung, selanjutnya, bangun dan bergeraklah.

Bangkitlah. Sampaikan terima kasih padanya, sebagai apresiasi atas kepeduliannya yang telah menyudutkanmu. Sampaikan senyuman terbaik padanya. Sebab telah mau mengingatkanmu dan engkau pun merasa tersudut. Walau semua itu hanya perasaanmu saja, sebenarnya. Sampaikan bahwa, ia sangat berarti. Sehingga menjadi jalan sampaikan ingatan padanya. Ketika engkau ada di masa depan. Berikan hadiah padanya, berupa sebaris senyuman yang indah dari kejauhan.

“Semangati dirimu lagi dengan menulis dan berpikir baik tentangnya. Mengajaknya agar mau membersamai langkah-langkah lagi. Hidup masih dan terus berlangsung. Boleh ada yang menjatuhkanmu atau membuatmu sakit, namun engkau harus ingat untuk bangkit setelah sembuh,” pesan seorang teman dari kejauhan, ketika ia melihatku tertunduk dan mulai kehilangan semangat hidup.

  1. Memanfaatkan Waktu Luang

Aku juga masih mau menulis lagi, setelah berjumpa dengan orang-orang yang mengingatkanku untuk bergerak walau dalam diam. Juga setelah membaca sesuatu yang membuatku ingin membacanya lagi. Maka aku menuliskannya dalam catatan. Selain itu, karena ku ingin menggerakkan jemari setelah ia lama tidak bergerak. Atau ketika ku jenuh dengan sebuah aktivitas, maka menulis juga menjadi pendobrak semangat untuk beraktivitas lagi. Supaya ku tidak diam berlama-lama, walau sekadar berehat. Supaya masih ada yang dapat ku lakukan, meskipun aku sedang baring-baring atau duduk-duduk manis. Maka, menulislah aku untuk memanfaatkan waktu-waktu luang.

  1. Adanya Hal atau Kejadian Berkesan pada Waktu Tertentu

Aku ingin tersenyum lagi. Saat ku bertemu dengan keadaan yang membuatku tersenyum. Apakah karena tingkah orang asing yang tiba-tiba ada di depanku, atau orang yang sering ku temui dan mereka membuat hatiku tergelitik untuk menuliskan tentang lelakunya. Semua, dapat saja menjadi alasanku untuk menulis lagi.

Kapan saja ku ingin mengabadikan sebuah peristiwa, ku ingin selalu merangkainya menjadi tulisan. Apalagi ku tidak selalu membersamai kamera untuk mengabadikan sebuah gambar. Sehingga melalui sebaris catatan kecil, ku ingin menjadikannya ada. Selanjutnya membentuk sebuah potret tentang hari ini dengan tulisan yang terangkai.

Setelah aku bertemu dengan seseorang, lalu kami sudah harus berpisah lagi. Padahal masih banyak yang mau ku bagikan atau tanya padanya. Namun kami sudah harus berjauhan. Mereka yang pergi membawa kepingan hatiku bersamanya. Sungguh akan memberatkan, kalau tidak segera ku tuliskan. Namun kembali lega di dalam hati, setelah ku abadikan tentang berjaraknya kami atau harus berjauhan raga.

Dengan menulis, ku sedang mengabadikan waktu. Ya, waktu yang terus bergulir, tidak dapat ku hentikan. Maka, menuliskan apa saja yang ku temukan dalam waktu-waktu tertentu menjadi pilihan. Supaya mengingatkanku padanya lagi. Sehingga, sebuah tulisan juga dapat menjadi reminder bagi diriku tentang sesuatu. Apakah hal-hal yang menyenangkan, mengesankan, atau menjadi harapan di masa depan. Namun aku teringat untuk menuliskannya sejak ia hadir dalam pikiran. Nah, kebanyakan, hal-hal yang hadir dalam ingatan dan kemudian ku tuliskan, pun bermunculan dalam kenyataan. Sehingga saat mengalaminya, aku seakan pernah mengalami, tapi kapan dan di mana? Aku akan teringatkan lagi setelah membaca beberapa catatan yang sebelumnya masih impian.

Saat engkau mempunyai harapan atau impian, engkau pun dapat menuliskannya teman. InsyaAllah, engkau bertemu dengannya di masa depan. Entah esok, lusa dan kapan-kapan. Bahkan setelah engkau lupa dengannya. Kalau engkau sempat menuliskan, ia dapat mengingatkanmu lagi. Begitu, pengalamanku teman.

  1. Merehat dan Menenangkan Raga, Pikir dan Hati

Ketika ku tidak dapat melakukan apapun lagi, maka aku bisa membaca atau menulis. Setelah kaki-kakiku lelah melangkah, dalam kesempatan rehat sejenak.

Supaya apa-apa saja tidak selalu keingat-ingat. Namun dapat menepi sejenak, setelah ku tuliskan. Dengan demikian, ku dapat melenggangkan tangan dan melangkahkan kaki lebih ringan, dibandingkan sebelum merangkai sebaris tulisan tentang isi pikiran atau yang terasa-rasa di dalam hati. Sebagai alasan untuk meluahkan uneg-uneg, begini lebih tepatnya mengapa aku menulis lagi.

  1. Meneruskan Peradaban

Sejak zaman dahulu sudah banyak orang  yang menulis juga. Sebelum kita lahir dan kemudian belajar lalu terbiasa menulis. Sehingga kita dapat membaca sejarah melalui tulisan yang ada. Sejarah yang mengenalkan kita pada masa-masa dulu. Sejarah yang mengenalkan kita dengan orang-orang yang hidup pada masa itu. Masa yang tidak pernah kita temui, namun kita memperoleh gambaran tentang zaman dahulu melalui tulisan yang kita baca.

Maka dengan menulis, aku pun ingin menjadi bagian dari sejarah. Sejarah tentang seseorang yang pernah melangkah di zaman ini. Bersama orang-orang yang menjadi bagian dari kehidupanku. Sehingga orang-orang di masa depan pun tahu, tentang kami. Supaya mereka dapat pula mengenali kehidupan kami dari masa depan mereka nanti.

Supaya ku masih dan tetap ada, walaupun sudah tiada.

Teringat pesan dari beliau yang sudah sepuh, aku kembali menyadari diri. Beliau yang bertemu denganku dalam usia beliau yang sudah lanjut. Beliau yang sering berpesan pada kami, tentang pergaulan masa kini. Beliau yang mewanti-wanti untuk tetap menjaga diri. Jangan terbawa arus, akan tetapi menjadi teguh. Beliau bilang, zaman sekarang berbeda dengan zaman beliau dulu. Iya, benar saja.

Beliau berbagi kisah tentang masa-masa sulit yang beliau alami. Masa-masa yang penuh perjuangan, hingga saat usia beliau beranjak, ada kenangan tentang semua. Beliau dapat tersenyum bahagia, setelah melewatinya.

“Sungguh sangat bahagia, terlihat dari pancaran bola mata yang berbinar.

Sungguh terdengar jelas, dari nada suara beliau yang ramah, lembut dan menenangkan.

Beliau tetap… santun dan ramah serta mau berbagi kisah.

Saat hari-hari beliau jalani hanya menikmati masa tua yang damai.

Dari satu orang anak ke satu orang anak lainnya, beliau berpindah untuk jalan-jalan saja.

Turun naik mobil nan mewah untuk berkunjung menghabiskan waktu.

Di hadapan kami, beliau tersenyum lebih sering.

Senangnyaaaaaaa jadi orang kaya…”

Namun kayanya hati lebih utama. Karena dapat berbagi segala dengan suka. Tidak hanya materi, namun juga pengalaman dan inspirasi. Beginilah aku ingin menjadi di hari tua nanti. Hihiiii…  😀  #menjadinenekdalamsekejap#

Ku lihat diriku hari ini, sebagai seorang yang masih muda, energik dan penuh motivasi dengan pandangan seorang nenek di usia senja. Bagaimana ku ingin mengenang diriku nanti? Apakah yang dapat mensenyumkanku saat ku tidak dapat melangkah secepat hari ini lagi? Apakah yang memberiku semangat untuk masih bertahan hidup, ketika aku tidak dapat lagi tersenyum manis seperti hari ini? Ketika wajah sudah keriput, ada banyak kerutan di sana sini. Apakah yang dapat ku berikan dengan usiaku yang sudah tidak lama lagi?  Maka menulisku lagi.

  1. Menemukan Ide Baru

Selesai sebuah tulisan tercipta dan kemudian ku baca lagi, ia mengingatkanku untuk menulis lagi. Menulis lagi untuk melanjutkan ujung beberapa kalimat tertentu, menjadi kalimat-kalimat baru. Seringnya, aku menulis untuk melanjutkan sebuah kalimat yang ku pikir masih menggantung. Atau sudah tidak layak lagi untuk ku baca. Maka, memperluasnya menjadi tulisan baru, menjadi pilihanku agar dapat menghasilkan tulisan lagi.

Menulis saja. Untuk menemukan ide baru. Menulis lagi, supaya ingatan demi ingatan bertemu dalam senyuman. Menuliskan segalanya, membacanya lagi. Dan kemudian menulis lagi untuk mempelajari bagaimana cara menulis yang baik.

Dari bacaan demi bacaan yang ku baca, untuk dapat menulis dengan baik, maka kita perlu menulis lebih sering. Ya, menulis apa saja kapan saja. Termasuk menulis tentang perasaan kita sendiri. Baik saat kita senang, atau pun tidak. Apakah kita benar-benar mau membagikannya atau hanya untuk kita konsumsi sendiri. Setelah kenyang mengkonsumsi hasil tulisan sendiri, saatnya membagikan. Hingga hadirlah sarana berbagi seperti ini. Sehingga, walau bagaimana pun, berada di sini, sangat membantuku untuk menemukan ide-ide baru. Maka, sesekali mampir di sini, ku manfaatkan untuk menulis. Agar ide-ide pun bermunculan.

  1. Melihat Dunia dengan Cara Pandang Berbeda

Menjalani hari seperti adanya kita, dengan aktivitas sehari-hari yang kita lakukan, terkadang membuat kita bosan dan jenuh, bukan? Apalagi adanya aktivitas yang tidak kita senangi namun kita harus melakukannya. Apakah sudah menjadi kewajiban sehingga kita harus menjalankan? Atau ketika kita suntuk dan ingin melakukan hal berbeda? Maka menulis juga dapat menjadi solusinya. Karena kalau kita menulis atas panggilan hati, ia dapat menjadi semacam hiburan yang menyenangkan.

Rangkailah sebuah tulisan. Beberapa saat berikutnya ia dapat mensenyumkanmu. Engkau juga dapat menemukan kesukaanmu atau ketidaksukaanmu dari tulisan yang engkau hadirkan.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements