My SuryaPerjalanan masih berlangsung kini. Perjalanan yang ku tempuh dari hari ke hari, dari waktu ke waktu dengan jadual tertentu. Jadual yang mengingatkanku lagi pada tujuan. Supaya ketika jadual datang, ku bersemangat dan rajin. Untuk bangkit dan kemudian melanjutkan langkah dengan pasti. Seperti halnya hari ini.

Aku masih melangkah. Melangkah lagi, berjalan kaki. Meneruskan perjalanan yang ku mulai dengan niat baik. Untuk menjemput sejumput rezeki, memperluas pengalaman dan menambah pengetahuan. Untuk selanjutnya ku jadikan sebagai bagian dari kenangan di masa nanti. Untuk ku jadikan oleh-oleh dari perjalanan.

Perjalanan panjang yang masih berlangsung kini. Perjalanan yang membuatku ingin menepikannya bersama jemari menjadi rangkaian kalimat-kalimat mensenyumkan. Walaupun terkadang, saat merangkai kalimat, tiada senyuman di pipi. Yah, seperti sebelum ini. Tiada senyuman di wajahku. Akan tetapi, ku ingin tersenyum. Lalu, bagaimana caranya?

Salah satu tips sukses untuk dapat tersenyum adalah dengan menulis. Ya, merangkai barisan kalimat yang ku susun semampu ku bisa. Tidak mudah, sungguh melelahkan, dan membuatku ingin henti pada kalimat ini. Namun sebelum itu, aku berpikir lagi, bagaimana bisa aku berhenti? Padahal ku sangat ingin mengabadikan tentang hari ini. Apakah ku bisa menyelesaikan sebuah catatan lagi saat ini?

Belum dapat kita pastikan hasil yang ada. Kalau kita tidak berjuang dan berusaha menjadikannya ada. Maka, berjuanglah, bergeraklah, berusahalah. Walau lelah, meski berat. Kalau engkau masih mempunyai tujuan. Akan tetapi, kalau sudah tidak ada tujuan lagi, berhentilah saja, duduk-duduk dan menikmati segala yang ada.

Kisah bermula…

Tepat setelah ku jauh dari orang tua, melanjutkan perjalanan di rantau. Jarak yang lumayan jauh dari keluarga, membuatku semakin sering menangis. Menangis karena tidak percaya dengan kenyataan. Menangis karena ingatan pada orang-orang tersayang. Ingatan pada beliau semua yang membuatku ingin segera bertemu. Namun apa daya, membutuhkan waktu dan biaya yang tidak ku tahu berapa jumlahnya. Tapi pasti banyak, sehingga ku tidak dapat berkutik untuk dapat menemui mereka semua yang tercinta. Begini pikiranku awalnya. Pikiran yang masih sering asyik dengan dirinya sendiri. Asyik dengan kesedihanku saja. Sibuk dengan ingatanku sendiri. Sehingga, apa pun yang ku alami di luar keinginanku, membuatku tersedihkan, terluka, dan kemudian mengharu biru di dalam kalbu.

Untuk menetralisirnya, ku rangkai catatan sebagai penenang pikiran. Ku cipta barisan kalimat untuk bercermin diri. Ku pandangi ia setelah terukir sempurna menurutku. Lalu, kami menangis lagi, karena di dalamnya banyak kesedihan. Sangat jarang ku senyumi mereka semua. Karena ku masih sibuk dengan kenyataan hari iniku saja.

Namun tidak mau kalah dengan keadaan, ku masih uraikan segala rasa dengan segala kemauan. Mau saja memberai segala ingatan menjadi tulisan. Mau saja menitipkan segala keadaan menjadi catatan sebagai kenangan. Hingga, sampai detik ini, ku terkenang proses perjalanan. Tepatnya dalam perjalanan tadi, ku sedang menuju bahagia. Lalu, ingin ku kenang jalan-jalan lalu yang pernah ku tempuh juga. Jalan-jalan yang membuatku mau bergerak lagi. Karena semua telah berlalu.

Ku ingat lokasi-lokasi yang ku tuju sebagai tempat beraktivitas. Tempat beraktivitas yang, apakah hanya menjadi pelepas lelah atau untuk menitipkan kontribusi berarti. Semua tempat tersebut terekap dalam tiga bagian yang bisa ku simpulkan menjadi :

  1. Menuju Bahagia
  2. Menuju Rumah
  3. Menuju Sukses

Baiklah…

Untuk menghemat waktu yang tidak boleh terbuang percuma, ku ingin mengukir senyuman bersamanya sejak saat ini. Berhubung sebelum ini, ku belum bisa tersenyum. Karena kenanganku kembali pada masa-masa yang penuh dengan kepiluan saat menempuh hidup di perantauan.

Pilu saja, karena sering menangis. Menangis saja, untuk meluahkan segala perasaan yang datang dari dalam diriku. Diriku yang sangat asyik dengan pikirannya sendiri saja. Huwwaaaa, semua telah berlalu. Semua menjadi pengalaman sangat berarti bagiku. Pengalaman yang membuatku tersenyum karena menyadari keadaan diriku yang sesungguhnya. Aku dulu, begitu, yaaa.  Sekarang aku bagaimana? 😀

  1. Menuju Bahagia

Bahagia adalah nama sebuah jalan di lokasi aktivitasku untuk pertama kalinya. Pengalaman pertama bekerja, tentu sangat banyak kesannya. Karena sebelumnya kita hanya tahu teori saja. Sebelumnya hanya mengenal pengalaman orang lain saja, tentang dunia kerja yang penuh warna. Dan benar adanya. Di sekitar bahagia inilah, aku sering menangis. Sering sangat. Mengapa menangis?

Apakah karena semua orang yang menjadi kolegaku menjahatiku? Mengusiliku? Atau membuatku tidak nyaman bersama mereka? Atau karena tidak ada satupun pekerjaan yang dapat ku lakukan? Sehingga bosku marah-marah dan membuatku menangis? Karena aku tidak bisa dimarahi. Ingatkan saja dengan lembut, maka hatiku menjadi luluh, lalu meneteslah airmata di pipi. Begitu cara memperlakukanku. Karena sangat sensitif, apa-apa masuk ke hati, suka menangis jadinya.

Sebab, aku masih ada di dunia. Dunia yang memang begitu adanya. Tersebab ia memperlihatkan pada kita kenyataan yang terkadang tidak pernah kita bayangkan, bukan? Kenyataan demi kenyataan itulah yang memberai airmata lebih sering di pipi. Sebelum kita tahu bagaimana menyikapinya dengan benar.

Kalau siang, ku menangis sampai mata bulet seperti mata panda. Sedangkan teman-teman yang menjadi saksi, menanyai, “Uni kenapa?” Setelah tiba-tiba mata merah ku bawa saat menemui mereka.

Saat itu, posisi dudukku membelakangi mereka rekan-rekanku. Sehingga, ketika ku ingin menangis, aku menangis saja. Tanpa sepengetahuan mereka. Nah, alangkah semakin sedihnya aku, saat mengetahui kesedihan mereka dengan kondisiku. Aku yang sering larut dengan pikiran dan perasaanku sendiri. Lalu, setelah sore dan malam harinya, aku menangis lagi. Besoknya kami bertemu, mata panda lagi yang ku bawa. Sungguh, perjalanan menuju bahagia adalah tema yang ku tulis, setelah ku sering-sering menangis. Setelah ku menyadari diri, “Kalau nangis terus, kapan lagi aku tersenyumnya? Kalau sedih-sedih berkepanjangan, aku kapan bahagianya? Padahal hampir setiap hari ku bilang pada supir angkot yang mengantarkanku ke tempat aktivitas, “Sampai Bahagia, Pa..?” Beliau sudah mengerti, kalau tujuanku adalah jalan bahagia.

Aku sering menangis setelah beberapa orang rekan memilih melanjutkan perjalanan tanpa mengajakku. Karena aku yang sangat betahan ini, sangat betah di satu tempat dalam waktu lama. Ini ku ketahui, setelah sekian lama ku melangkah yang ku sebut “Menuju bahagia” ini. Sebab beberapa teman memilih resign, melanjutkan pendidikan di luar kota, atau pindah kerja ke tempat lain, namun masih di kota yang sama.

Kesedihanku semakin bertambah, setelah ku tahu bahwa teman-temanku berkurang. Setelah kami sama-sama lulus dari pendidikan yang sama, lalu teman-teman telah bekerja juga. Sehingga pertemuan kami semakin sangat jarang, komunikasi juga berkurang. Aku semakin jauh dari keramaian. Jauh dari kehidupan yang selama ini ku jalani. Duniaku menjadi sunyi, seperti gua. Yah, seperti berada di dalam gua, aku mengakui. Karena bertapa dan bermeditasi.

Yah, saat ada teman bertanya, “Apa kesibukkannya sekarang?

“Lagi bermeditasi,” jawabku tega.

***

Setelah ku berada di hari ini, lalu flashback sejenak seperti saat ini, maka ku mengenal masa-masa menuju bahagia ini sebagai titik balik diriku. Saat ku mulai mengenali, siapa saja yang selalu dekat denganku dalam berbagai kondisi ku alami? Siapa saja yang benar-benar peduli denganku? Lalu siapa saja yang ku pedulikan?

Jawabannya adalah keluarga. Maka, jangan sia-siakan keluarga. Karena mereka adalah tempat kita kembali. Apakah keluarga kita berada atau masih jauh dari kecukupan, terimalah mereka dengan bahagia. Bersamai mereka dengan segenap cinta dan kasih sayang yang kita punya. Karena keluarga adalah segalanya. Keluarga yang mempedulikan kita, meskipun kita tidak peduli. Keluarga yang mengingatkan kita, sering-sering tanpa jemu, walau kita pernah merasa jemu dengan nasihat mereka. Keluarga adalah surga di dunia. Maka, untuk merasakan indahnya surga, menjadilah bagian dari keluarga yang sesungguhnya.

Untuk keluarga yang saat ini jauh di mata, sapalah mereka sering-sering atau dalam berbagai waktu terbaik kita. Sebagai ingatan pada mereka, untuk menyampaikan cinta yang kita punya pada keluarga. Karena keluarga, walau jauh di sana, senantiasa dekat di dalam ingatan.  So, apapun yang terjadi dengan keluarga kita, kita merupakan bagian dari solusinya. Termasuk menjadi pendengar yang baik untuk cerita-cerita yang mereka bagikan. Jadikan sebagai bagian dari diri kita juga, saat ada anggota keluarga yang merasakan sesuatu. Apakah kebahagiaan atau kesedihan yang mereka alami. Bahagianya keluarga, kita turut bahagia. Sedangkan saat ada salah seorang yang sakit, rawatlah dengan baik. Karena mereka juga melakukan hal yang sama pada kita.

“Tentang kembali pada keluarga, ku ingat dengan cerita seorang teman. Teman yang baru ku kenal. Walau kami belum pernah bertemu, namun ia mau bercerita padaku segala yang ia alami. Cerita tentang perjalanan hidupnya yang penuh ujian. Cerita yang ia bagikan dengan sepenuh hati, sehingga aku menjadi empati.

Aku pun merasa turut mengalami yang pernah ia alami. Ia melanjutkan cerita, sampai akhirnya, ia mengalami sakit. Lalu, ia pun kembali pada keluarganya. Keluarga yang mau merawatnya dengan sepenuh hati. Keluarga yang memberinya perhatian tulus. Keluarga yang membuatnya kembali merasa hidup dan semangat hidupnya bertambah-tambah. Lalu, kembali berkarya setelah sembuh dari sakit. Sampai akhirnya, ia merasa sangat bahagia dengan keluarga yang ia punya. Aku turut bahagia.”

Walau sedih, sering menangis, jauh dari keluarga, menempuh hari-hari yang penuh liku, ku hayati semua sebagai proses. Ku ciptakan alasan untuk terus melangkah, kalau ku lelah setelah menangis. Ku ciptakan alasan untuk mau bergerak, walau ku sakit sekalipun. Yah, sampai akhirnya, episode menuju bahagia pun terlewati… berlanjut dengan menuju rumah.

  1. Menuju Rumah

Menuju rumah bersama kebahagiaan yang ku rasa. Karena episode-episode hidup sebelumnya mengajarkanku bagaimana cara menjemput bahagia. Saat bahagia membersamai, aku pun siap menuju rumah. Rumah yang dalam beberapa waktu berikutnya, menjadi tempatku beraktivitas bersama bahagia.

Sangat bahagia aku ketika berada di rumah. Rumah yang mengenalkanku dengan orang-orang baru, sebagaimana impianku. Rumah yang mempertemukanku dengan kisah hidup berikutnya yang penuh warna. Rumah yang ku tuju hampir setiap hari dengan sangat-sangat bahagia. Walaupun hujan, ataupun banjir menghadang, ku menuju rumah dengan tanpa merasa halangan. Sampai ku merasa, tempat aktivitasku seperti rumah sendiri. Aku pun sering betah di sana, bahkan sampai menjelang malam. Karena ada bahagia di sana.

Teman-temanku bertambah, mereka semua ramah-ramah, anggun dan penuh cinta. Kepeduliannya melimpah padaku, membuatku segera ingat untuk berbenah. Bahwa aku tidak sebaik yang mereka bilang, ketika mereka memujiku yang sering tersenyum membersamai mereka. Senyuman yang tidak seringan itu, ketika mereka mengingatkanku untuk tersenyum lagi esok, ketika kami bersama. Mereka mengingatkanku untuk menjadi diriku sendiri. Tetaplah menjadi diri sendiri, pesannya untukku.

Mereka adalah teman-teman yang mengingatkanku pada nuansa surga. Dan benar saja, berada bersama mereka, ku rasakan bahagiaku bertambah-tambah. Kebahagiaan yang serta merta menerbitkan senyuman di ruang hati, lalu wajahku pun mencerah. Mereka bilang aku sering mensenyumi mereka, padahal ku merasa tidak tersenyum. Namun karena bahagiaku dari dalam hati, maka wajah pun sumringah. Begini kesan dan pesan penting mereka untukku saat melangkah. Tetap tersenyum, dalam berbagai situasi, yaah…

Di rumah, kami sering mengaji bersama, mendengarkan ceramah dan hikmah. Lalu sering mengingatkan pada kebaikan. Intinya adalah, nuansa rumah benar-benar tercipta dalam kebersamaan kami. Kami menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Saat di rumah, kebanyakan teman-teman memanggilku Uni juga. Karena mereka tahu aku berasal dari ranah Minang. Di sini juga ku mengerti bahasa-bahasa unik yang mereka biasakan, seperti adanya – boci (bobo ciang) – pada jam-jam istirahat. Haaaaah? Awalnya aku kaget dan ternyata kebiasaan tidur siang bisa kita lakukan di sini. Karena jam istirahatnya tertata. Tepat saat adzan berkumandang, maka jam istirahat pun berlaku. Tepat ketika adzan Ashar sayup-sayup terdengar dari kejauhan, maka semua siap shalat berjamaah. Aku rindu nuansa sakinah, mawaddah wa rahmah seperti ini.

Jannah… adalah ingatan yang sering ku bersamai sepanjang hari. Kami sama-sama ingin berkumpul lagi di sana, setelah bersama di dunia seperti ini. Maka, kami pun membiasakan aktivitas para penghuni surga. Untuk saling mengingatkan bila yang lainnya lupa, untuk saling menyemangati bila yang lainnya terlelah. Supaya semua bisa berkemas dan bergegas agar tidak ketinggalan jauh dari yang lain. Supaya semua dapat berjalan beriringan, bergandengan mesra dalam bahagia yang menyerta.

Sungguh, rinduku… kembali hadir pada nuansa rumah. Seringnya ketika akan dan sedang mengaji, sendiri, maka teman-teman satu lingkaran membayang di dalam ingatan. Air mataku menetes pelan, merindukan kebersamaanku kami dulu. Namun semua telah berlalu. Ku kenang mereka sebagai sahabat yang selalu dan selamanya ku rindu. Sampai bertemu teman, engkau bagian dari diriku. Walau hingga saat ini kita belum lagi dapat bertemu atau bertukar suara, aku masih dan selalu ingat kebaikan demi kebaikanmu. Termasuk pesan dan nasihat yang engkau titipkan padaku, untuk masih tersenyum…  🙂  This smile for you, all. I miss you, teteh-tetehku.

Kebersamaan kami di rumah, tidak selamanya, ternyata. Karena sudah ada sukses yang menungguku. Sukses yang mengingatkanku pada pesan ibunda. Pesan untuk tidak kembali sebelum sukses.

Heheee. Ibunda selalu punya cara untuk membuatku semangat. Karena beliau memesankan begitu, dalam berbagai kesempatan kami bertukar suara. Semangat yang beliau alirkan melalui suara ceria, bahwa beliau baik dan sehat di sana, saat kami berjauhan. Maka, aku pun bahagia walau ada sendu karena kami berjarak raga. Hingga akhirnya, panggilan beliau menggerakkanku untuk berlalu dari rumah…. Meninggalkan teman-teman semua yang ramah, baik, anggun, dan nuansa surganya rumah.

Aku berat meninggalkan semua, namun ibu dan panggilan beliau lebih utama. Maka, terjadilah perpisahan itu. Perpisahan yang membuatku tersenyum, akhirnya. Karena giliranku yang memilih pergi, setelah sebelum-sebelumnya, aku yang ditinggal pergi. Perpisahan yang sangat berkesan. Kesan yang membuatku sumringah, walau airmata tidak henti menetes. Haru namanya.

Di hari-hari terakhir kebersamaan kami, airmata sering membasahi pipi. Namun di depan mereka semua, aku masih tersenyum. Sehingga kami tidak menangis berjamaah. Aku tahu beliau sedih, maka ku tidak mau menambah kesedihan dengan kesedihanku. Biarlah kebersamaan kami yang indah kami jalani dengan senyuman hingga ujungnya.

  1. Menuju Sukses

Sebuah kata sukses terngiang-ngiang dalam ingatan. Sukses yang pernah ibunda pesankan. Bahwa pulanglah setelah sukses, begini inti dari kalimat yang beliau sampaikan. Maka, tidak pulang-pulangnya aku dalam jangka waktu lama, adalah karena ku merasa belum sukses dalam kehidupanku. Sehingga, jauh di mata dengan beliau, membuatku sering ingat dengan kata ini. Termasuk ketika beliau pinta untuk kembali, sekalipun tidak lagi menyinggung satu kata ini. Namun, karena aku pernah mendengarnya dari beliau, aku teringat untuk sukses dulu, baru pulang.

Aku memang begini, terlalu lugu untuk melucu. Terlalu polos untuk bolos. Maka, sering saja rajin-rajin, walau ibu guru tidak datang ke sekolah hari ini. Aku masih mau belajar. Sehingga belajarlah aku dari alam, menikmati pemandangan, membaca perubahan, memperhati sekitaran. Sehingga ku artikan sukses dengan caraku sendiri. Agar panggilan ibunda ku sahuti. Supaya ku dapat pulang, menemui beliau tersayang. Maka pulanglah aku membawa sukses. Sukses yang ku ciptakan dalam ingatan. Masih menjadi impian.

Pertemuan kami lagi setelah lama tidak bertemu, menyiratkan bahagia di ruang wajah ibunda. Beliau sering tersenyum, bahagia membersamaiku. Sampai kebersamaan kami, mengakrabkanku dengan beliau. Lalu kami berteman, ke mana-mana bersama. Mengerjakan proyek demi proyek dengan lega. Menyelesaikan satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya dengan senyuman. Semua menjadi kenangan yang tidak pernah ku lupa. Seperti memasang pagar di sawah, menanam tanaman di halaman dan kebun ibu yang luas, memetik hasil kebun dan kemudian bercerita tentang apa saja. Aku pun sempatkan waktu mengabadikan hari-hari kami dalam tulisan, walau tidak setiap hari.

Terima kasih ibu, untuk segalanya. Untuk panggilan yang akhirnya ku sahuti, lalu engkau kembali mengizinkanku pergi merantau seperti ini. Dengan tanpa dan sangat tidak ku duga, di ruang sukses ku sedang tersenyum kini, dalam rangka menakar syukur. Untuk mengingatkan diriku lagi, saat ada yang mencolek-colek konsentrasiku saat menikmati waktu. Masihkah ku bersyukur hingga detik ini? Dengan segala yang ku temui? Menemuiku? Di sini juga banyak orang-orang baru yang ku temui, silih berganti, mereka tersenyum atau pun belum. Apakah sempat bersabar atau kah tidak, ku rekam dalam ingatan, tentang kebersamaan kami. Sesekali dalam waktu luang, ku urai melalui catatan. Supaya kebersamaan kami abadi, untuk menjadi kenangan lagi, nanti. Tentang kebersamaan kami di ruang sukses pun perjalananku menujunya.

Nah, inti dari catatan ini adalah hanya ingin mengabadikan tentang hari ini yang indah. Alhamdulillah, hari ini kita masih bertemu, kawan. Untuk bersenyuman dengan bahagia. Adakah engkau tersenyum dan bahagia juga di sana dengan naungan kesuksesanmu? I hope, you too. []

🙂 🙂 🙂

Iklan

4 tanggapan untuk “Menakar Syukur di Ruang Sukses

  1. 😀 Iya, Mas Nur. Terima kasih yaa untuk membaca catatan-catatanku dan konsisten berteman serta menjadi bagian dari tulisan ini, heheee. – Trim’s pake beeuuddh –

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s