When you are there, I am here
Morning ‘Wonderful View’

Saat kita berjarak dan berjauhan, ada kesedihan…
Saat kita bersama dan berdekatan, ada kebahagiaan…
Namun jangan salahkan jarak… di ujungnya ada pertemuan

Jarak yang mengajari kita arti rindu, bagaimana mengembalikan ingatan satu sama lain,
Selama kita dapat dan mau saling mengingat, jarak sesungguhnya tiada.

***

Pagi yang syahdu hari ini. Ku ingat engkau dari kejauhan. Masih jauh, kita belum berdekatan. Jauh yang membuatku teringat-ingat. Jauh yang memberiku kesadaran, bahwa engkau masih ada. Karena ku masih ada. Begini ku senantiasa menenangkan diri, ketika ia mau beraikan sekumpulan rindu melalui derai airmata yang bersiap tumpah. Hah! 

Tidak mau menangis sejak pagi, maka ku luahkan rindu yang ada melalui untaian kalimat mensenyumkan. Untuk ku senyumi ketika ia terbit. Seperti terbitmu yang ku nantikan, selalu. Mentari.

Tepat setelah ia menampakkan diri, aku dapat sedikit lega, sedikiiiit awalnya. Akan tetapi, lama-lama ada yang berbeda. Ketika semakin banyak perasaan yang ku punya dan ku ketahui akhirnya. Setelah semakin banyak ku berjumpa dengan orang-orang yang membuatku tercerahkan. Setelah sekian banyak yang menemuiku, lalu ku abadikan tentang kami, melalui catatan-catatan kecil yang ku jaga ada.

Sampai akhirnya, semua terjawab sudah. Buat apa semua ada? Untuk mu yang jauh di mata, untukku yang membersamainya. Maka, rela ku berjibaku dengan waktu dan diriku sendiri. Untuk menuliskan tentang sebutir airmata yang hadir. Untuk mengukir pigura tentang senyuman yang terbit. Semua membuatku tidak lagi larut dengan kesedihan.  Walau sesekali nangis juga, tapi berbeda nuansanya.

***

Aku juga pernah merasakan bagaimana tidak mudahnya bertahan. Bagaimana sulitnya bangkit dari keterpurukan. Namun selalu saja ada jalan yang membentang untuk ku tempuh. Saat kemudian ku percaya dan yakin bisa berlari kencang. Untuk meninggalkan keterpurukan. Untuk menjemput harapan yang membayang-bayang di dalam pikiran. Untuk mencapai semua asa dan impian yang pernah ku cetuskan.

Semua tidak terjadi begitu saja dalam sekejap, teman… Akan tetapi, goyah dan lelah tentu pernah menemani. Termasuk keletihan dan kelemahan yang sering-sering mencandai. Supaya ku berteman dengan mereka, agar kami bersama-sama selalu. Tapi, ku tidak mau. Makanya ku berlalu dari semua. Bagaimana caranya?

Ku dekat-dekati mereka yang ku kagumi. Ku cari-cari cara untuk mengikuti mereka yang ku teladani. Ku petik-petik bunga senyuman yang mereka tebarkan. Ku telusuri jalan yang pernah mereka tempuh. Ku pungut jejak-jejak yang mereka bekaskan. Ku rasakan juga kesejukkan yang mereka alami. Setelah sekian lama, seiring bergulirnya waktu, kami pun dapat melangkah bersama.

Sedapat mungkin, kami tidak boleh berjauhan. Karena memang ku inginkan begitu. Akan tetapi, yang namanya kehidupan, tentu penuh dengan ujian. Termasuk jarak yang membentang antara kami (aku dan orang-orang yang pernah ku bersamai). Ada saja cabaran yang mengorek-ngorek keteguhan. Ada juga kehampaan yang meruntuhkan kekuatan tekad. Semua bersinergi membuatku pernah goyang dan gamang. Seluruhnya berjuang untuk membuatku berhenti. Karena mereka menarik-narikku untuk jangan bergerak. Ia berkata, “Ayo berhenti, mari duduk di sini. Kita bercengkerama tentang hari ini saja. Tidak usah beranjak pergi. Karena ku merasa nyaman di dekatmu.”

Kenyamanan sementara, selanjutnya akan berlalu pergi. Kalau ku biarkan mereka mempengaruhiku, maka ku tidak akan pernah dapat melanjutkan langkah-langkah lagi. Karena mereka juga menakutiku dengan segala kegilaan yang mereka punyai. Supaya ku luluh dan tertunduk di hadapan mereka. Agar ku mau bertekuk lutut lalu menjadi mangsa yang siap mereka lahap. Semudah itu mereka menaklukkanku?

Padahal sejak kami belum bertemu, aku pernah berteguh untuk tidak henti sebelum sampai di tujuan. Aku membulatkan niat untuk terus berjalan dan melangkah, walau beraneka ujian menjadi hiasan dalam perjalanan. Sedapat mungkin ku harus menjauh dan kemudian menemukan udara yang lebih segar, ketika sumpek ku rasakan.

Semampu ku terus berlari kencang, meninggalkan kesuntukan yang membuatku kelelahan. Sebisaku mau bergerak walau pun sesungguhnya ragaku sudah tidak mampu lagi berjalan. Karena jauhnya jarak yang ku tempuh sepanjang perjalanan. Jarak yang memisahkanku dengan mereka semua. Semua yang ku kagumi, ku sayangi, ku teladani dan mengajakku bergerak bersama mereka.

***

Ya, begitulah kehidupan. Ia terus mempertontonkan keindahannya. Ada masa kita bertemu dengan banyak ujian dan cobaan. Ada masa juga kita bersama dengan kelelahan dan kengerian yang membuat nyali ciut. Lalu ujung-ujungnya mundur perlahan, berbalik arah dari tujuan. Kalau begitu, kapan kita sampai di tujuan?

Selagi masih ingat dengan tujuan, alangkah baik untuk terus berjalan. Dan kemudian berlalu dari segala ujian dan godaan. Karena sudah lumrah dan pasti ada ujian di dalam perjuangan. Ada yang ingin mendorong supaya kita lengah atau tersemangatkan? Ada yang memberikan motivasi supaya kita tergerak untuk berubah atau tetap dengan pendirian?

Dalam perjalanan, ada yang sangat peduli dengan kita. Namun kita tidak mempedulikannya? Ada juga yang hanya ingin tahu tentang kita namun tanpa kepedulian. Ada yang membuat kita sedih berkepanjangan. Ada yang memberikan kebaikan? Semua kembali pada sikap yang kita berikan. Semua kembali pada pilihan yang menyadarkan kita. Bahwa selamanya, segalanya, yang hadir dalam kehidupan kita adalah bagian dari kisah perjalanan. Supaya kita mau memetik hikmahnya.

Buktikan bahwa kebersamaan kita dengan apapun saja, memberi kita ruang untuk berekspresi lebih baik. Memberi kita kesempatan untuk bersinergi dengannya. Memberikan kita ingatan untuk sering-sering membersamai kebaikan. Karena banyaknya kebaikan demi kebaikan yang kita terima, walau kita tidak menyadari. Maka, baik-baiklah, berbuat baiklah, dalam kebaikan yang kita yakini membahagiakan orang yang kita baiki.

***

Tentang pertemuan pertama kita, 

Awalnya ia seperti masih berjarak denganku. Karena kita belum saling mengenalkah? Kami hanya berdekatan raga, namun hati belum tertaut. Ini sebelum kami bersenyuman. Namun setelah bersenyuman, suasana menjadi cair.  Yah, ini salah satu yang ku rasakan. Mengapa ia masih asing bagiku. Lalu, ia memperkenalkan diri, setelah kami bersenyuman lama. Masih canggung.

Beliau tersenyum, beberapa saat setelah kami bertemu. Pertemuan untuk pertama kali. Pertemuan yang mengingatkanku pada seseorang. Ku masih mengingat-ingat. Karena ia bukan orang asing dalam ingatanku.

Yah, memang benar. Ia teman dari teman baikku. Aku pernah mendengar tentangnya dari temanku. Akhirnya kami bertemu juga. Aku tidak menyangka, ia menemuiku seperti ini. Aku suka, bahagia dan senang saja. Apakah karena teman baikku bercerita padanya tentangku? Teman baik yang akhir-akhir ini menjadi bagian dari hari-hariku. Teman baik yang memberiku banyak inspirasi dan nasihat berharga sepanjang kebersamaan kami yang tidak lama. Sehingga ku memperoleh kebaikan demi kebaikan dari beliau.

Tentang ingatan pada teman yang saat ini jauh,

“Jangan sampai untuk kepentingan kita sendiri, lalu mengorbankan orang lain,” begini pesan penting yang ku terima hari ini. Dari beliau yang peduli dan sering-sering pun tidak jemu menitipkanku pesan berharga.

Pesan yang ku selipkan dalam ingatan, lalu ku tata di dalam ruang hati. Supaya ia mengingatkanku lagi, padanya. Pesan yang beliau sampaikan padaku, saat kami bertemu lagi. Pertemuan yang tidak lama, sebentar saja. Namun kebersamaan kami sangat berkualitas. Buktinya?

Dari adanya pesan demi pesan yang beliau titipkan setiap kali kami bertemu. Terima kasih, teman, untuk segala kebaikan yang engkau tebarkan. Walau ada orang yang bilang ada ketidakbaikan padamu, namun menurutku engkau baik. Sebab dari kebersamaan kita, ku petik kebaikan demi kebaikan darimu. Sedangkan apa kata orang, terserah mereka. Mereka mempunyai penilaian tersendiri dan berhak untuk itu.

Ya, sepanjang kebersamaan kita sejauh ini, engkau ku kenal baik… Kebaikan yang ku perhati, ku rasakan, juga ku terima darimu. Tetaplah baik, sekalipun kelak kita berjarak raga.  Saat itu, ku kenang engkau masih sebagai temanku yang baik.

Ya, kita akan bersapa sebagai teman. Teman yang engkau persiapkan sejak dini, saat kita masih bersama. So, selamanya, ku ingin menjadi temanmu. Sebagaimana harapanmu, untuk memiliki teman-teman ketika usiamu menanjak. Saat anak-anak menjalani kehidupannya, setelah mereka dewasa dan jauh darimu.

Pada saat itu, ketika ingatan kita bertemu, kita kembali dapat bersua dalam sapa. Sapa untuk mengurai rindu dan menepikan kenangan yang pernah kita semai saat bersama seperti ini. Terima kasihku, untuk segalanyaaaaa… darimu. Semua akan kembali padamu, engkau temanku. Selalu begitu.

Dengan adanya jarak, kita dapat saling bertanya padanya. Tanya yang saling kita pertukarkan melaluinya, walau tanpa jawaban darinya. Sebab jawabannya ada pada cara pandang kita terhadap jarak itu sendiri.

Tanya yang membuat kita berpikir sebelum mengambil jalan pintas. Tanya yang memberi kita keleluasaan untuk berakraban dengan kesabaran. Sehingga, tidak ada lagi tangisan tanpa alasan, termasuk karena berjaraknya kita. Seperti ketika tiba-tiba rindu datang, lalu menetes airmata untuk meleburnya.

Sungguh, dengan adanya jarak kita belajar mengenali, “Siapa engkau, jarak dan aku?

Engkau teman baikku. Engkau yang saat ini jauh dariku. Jauh di mata, namun dekat di dalam ingatan. Teman yang mengakrabiku dengan segenap kelembutan dan seluruh keikhlasan. Teman yang membaikiku kapan saja, dalam berbagai keadaan. Teman yang lebih dari teman biasa. Namun engkau mau berteman denganku. Ibu. Bahagianya menjadi temanmu. Teman lama yang berjumpa lagi, setelah kita berjarak jauh. Tidak lagi sedepa.

Menghitung hari untuk bertemu denganmu, membuatku semakin rindu. Rindu yang menjadikanku teringat-ingat tentang kebersamaan kita. Ya, saat kita bersama-sama menjalani hari dengan segala aktivitas yang kita lakukan berdua. Semua menjadi kenangan dan ingatan yang segar. Ingatan yang mensenyumkan.

Rencananya, menjelang akhir bulan ini aku datang padamu, ibu. Untuk menerima kebaikan berikutnya darimu. Kebaikan yang selalu engkau alirkan, baik saat ku jauh atau dekat. Lalu, kebaikan apakah lagi yang sedang menungguku? Engkau bilang, “Datanglah dulu, nanti kita ‘cerita-cerita kecil’,” saat kami bertukar suara untuk saling berbagi kabar.  Dari gelagat dan nada bicara beliau, ku tahu ada hal penting yang beliau siapkan. Ada juga berita sangat istimewa, yang tidak dapat kami bicarakan hanya melalui suara tanpa bertatap mata. Tentang apakah gerangan, ya?

Apakah betul yang teman-temanku bilang, kalau kepulanganku nanti untuk mengikuti acara ‘lamaran’? Ku iyakan saja dengan sangat semangat. Sebagai bagian dari doa yang beliau dekatkan. Supaya ku semakin semangat pulang. Semangat yang menjadikan hari-hari terakhir terasa lama berjalan. Waktu yang seakan menjadi pelan, tidak lagi secepat sebelumnya. Tepat setelah ku kabari mereka, atas rencana kepulanganku.

Sedangkan teman yang lain bilang, “Iiiich, gaya sekali, mentang-mentang rumahnya dekat, jadi pulang lagi dan pulang aja terus, sering-sering.” Sambil cemberut, ia memanyunkan bibir, seakan tidak setuju dengan rencanaku. Namun, semua ia lakukan, untuk candaan saja. Karena beberapa saat kemudian, ia tersenyum manis, lagi.

Sedangkan aku, sangat bersyukur dan bahagia. Karena nasihat ibunda benar adanya. Sebab, sejak dulu-dulu, jauh-jauh hari beliau bilang, supaya jarak kami tidak terlalu jauh saat ku mesti merantau lagi. Agar, ku bisa pulang-pulang dalam beberapa bulan sekali. Agar engga seperti Bang Toyyib selalu, yang lama ga pulang-pulang. 

Kini terasa, betapa beliau sangat memperhatikanku dan mempedulikanku. Bahkan saat aku tidak terpikirkan, beliau sudah berpikir jauh dan panjang sekali terkait masa depanku. Bahkan saat ku asyik dengan kesibukanku dan masa-masa yang membuatku terlena, beliau sering mengingatkanku untuk ingat pada tujuan.

Maka, sebagai pesan dariku, untuk mengingatkan diri juga : Untuk selalu ingat dan mendengarkan serta menjalankan apa saja nasihat dari orang tua. Karena orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Hanya saja, terkadang pikiran kita belum sampai sejauh pikiran beliau. Maka hal itu yang membuat kita abai. Padahal, jauh-jauh, beliau sedang merencanakan yang terbaik untuk kebaikan kita di masa depan. Sedapat mungkin, alihkan ego diri, lalu menjadi anak-anak yang berbakti dan mematuhi nasihat beliau. Karena demi kebaikan kita.

***

Mengingat masa-masa yang telah ku jalani, ternyata aku belum sepenuhnya menjadi anak manis yang selalu menurut pada orang tua. Karena ku juga pernah merasa berjarak dengan beliau. Namun lama kelamaan, setelah ku menyadari siapa aku? Akhirnya kami menjadi semakin dekat. Dengan dekat pada orang tua maka kehidupan yang kita jalani berbeda nuansanya. Saat jarak memisahkan, kita akan merindukan beliau lebih sering. Kita sangat ingin menemui beliau kapan saja. Karena ingatan beliau selamanya pada kita, membuat ingatan kita pun tertaut pada beliau. Beliau  yang menginginkan kebaikan selalu menemani kita.

Maka, sedapat mungkin, menjadilah anak yang baik. Kalau belum mampu membahagiakan beliau dengan prestasi dan juga kebaikan-kebaikan kita, jangan sampai membuat beliau susah dengan sikap dan prilaku kita. Buatlah beliau tenang dengan kabar baik yang kita sampaikan saat berjauhan jarak dengan beliau. Senyumkan beliau dengan suara bahagia yang kita keluarkan saat bertukar cerita. Berseri-serikanlah wajah pada beliau, sekalipun ada kesedihan yang menerpa ruang hati.

Aku pun tidak dapat menerka, apakah sepanjang hidup yang ku jalani, beliau bahagia denganku atau belum? Namun sepenuhnya ku bahagia dan sering terharu, saat ingatan pada beliau menepi dalam pikiran. Ibu yang baik. Beliau sedang merencanakan yang terbaik untukku. Sehingga kabar tentang rencana kepulanganku dalam waktu dekat membuat beliau bahagia.

Jarak antara kami, selalu saja menyisipkan tanya? Apakah beliau benar-benar sedang tersenyum ketika kami bertukar suara dengan ekspresi ceria? Apakah aku sedang benar-benar bahagia ketika kami bercerita tentang segala yang beliau rencana? Tentang pertemuan dengan jodoh yang mengingatkanku pada janji-Nya. Maka aku kembali tenang, saat mengingat bahwa rencana-Nya selalu sangat indah. Di balik rencana orang tua untuk menjodohkanku dengan seseorang di sana. Siapakah dia?

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s