Persahabatan dan Kebersamaan Menambah Kebahagiaan

My Surya
“Akhirnya, beberapa lembar rupiah berada dalam genggaman. Setelah beberapa hari berjuang mengumpulkannya.”

***

Bagaimana perasaanmu kawan? Ketika memiliki uang ribuan, puluhan ribu, ratusan ribu, berjuta-juta, milyaran, atau trilliunan? Hai, dari beberapa kata terakhir, bagian mana yang sangat engkau sukai untuk mewakili banyak uangmu? Apakah bersamanya engkau bahagia?

Aku masih ingat. Dalam sebuah kesempatan kebersamaan kami, beliau (orang yang sangat banyak uangnya) bilang di depanku, “Aaaaaa… punya uang susah, ga punya uang susah.” Lalu saat ini ku berpikir, “Baik punya uang atau engga, sama-sama susah. Lha, kapan dong, bahagianya?”

Atau, jangan-jangan uang berpengaruh sedikit terhadap kebahagiaan sebagian orang? Atau pengaruhnya tidak ada sama sekali bagi sebagian orang lainnya? Ai! Bagaimana kalau dengan sebagian orang lainnya? Apakah banyak sedikitnya uang sangat berpengaruh pada kebahagiaannya? Kalau begitu, aku ada pada bagian mana?

***

Aku sedang menghitung beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Ketika seseorang mengetuk pintu. Pintu yang ku tutup rapat. Kemudian ku kunci seerat-eratnya. Karena aku orangnya ‘takutan’. Aslinya engga berani kalau tinggal sendirian. Tapi, beda ceritanya kalau ku merasa aman, maka ku mau walau sendiri.

Senja, selepas Maghrib, ketika itu. Berhubung beberapa orang teman sudah pulang kampung sejak Jum’at siang. Sedangkan beberapa orang lagi memang selalu kembali dari aktivitas setelah jam sembilan malam. Ya, demi mengumpulkan gemerincing rupiah, mereka berjuang sampai melewati senja. Bahkan hampir tengah malam, baru kembali untuk berkumpul dengan kami. Untuk selanjutnya bersama merehat raga di bawah atap yang sama.

Sungguh, ku tahu. Bahwa mereka bekerja bukan hanya demi uang. Seperti halnya yang ku lakukan juga. Namun untuk menjemput kebahagiaan demi kebahagiaan. Baik saat kami dapat berkontribusi pada bidang yang kami mampu, maupun saat berbagi sejumput rezeki untuk orang-orang yang kami sayang. So, sedikit banyaknya, kebersamaan dengan uang mempengaruhi tingkat kebahagiaan kami. Hihiii. 😀 Eh, kami? Aku aja kali yaa. Atau kalau teman-teman juga merasakan hal yang sama seperti ku, boleh ikut.

Lalu, siapakah yang mengetuk pintu senja-senja begini?

Malam akhir pekanku yang damai, sunyi, sepi, tetiba menjadi riuh oleh kedatangannya. Kedatangannya yang tidak ia kabari. Tiba-tiba sudah ada di depan pintu. Tanpa suara juga. Walau setelah ku bersuara dari dalam, “Iyaaaaaa, sebentaaaaaaarrr, siapaaaaaaaaaaa?” Beberapa saat berikutnya, ia belum bersuara juga. Sambil berlari-lari kecil menuju pintu, aku masih membawa tanya.

Eits, sebelum ku benar-benar sampai di depan pintu, sekelebat bayangan terlihat dari balik kaca, di luar. Karena gorden tidak menutupi seluruh kaca, sempurna. Ada wajah yang tersenyum. Selembar wajah cantik yang ku kenali. Lembar wajah yang tidak ku sangka akan terlihat secepat itu, membuatku histeris, “Aaaaaaaa… hahahaa. Ai miss you, Tyaaaaaaaa,” sambutku bahagia. Begitulah kelakuan terseringnya kalau berkunjung ke kostan kami. Bikin kaget, namun mengundang senyuman. Karena ia cantik dan baik.

Ku sambut Tya dengan senyuman. Senyuman bahagia. Sebab ku selesai menghitung uang. Uang yang membahagiakanku juga saat kami bersama. Senyuman bahagia, sebab ku kembali berjumpa dengannya. Seorang sahabat yang membahagiakanku juga saat kami bersama. Senyuman bahagia, karena kami masih dapat bertemu, bersama dan bercerita tentang apa saja. Termasuk menyimak secuplik dua cuplik kisah hidupnya sepanjang kami tidak bersama.

Ia sahabatku, sejak lama. Persahabatan yang kami rawat dengan sepenuh jiwa. Sehingga sudah sekian lama kami berteman.

“Hehee, heheee…,” ia tersenyum-senyum manis saja saat mengetahui keterkejutan serta kebahagiaanku atas kedatangannya. Setelah mengucap salam, tentunya. Lalu ku jawab salam hangatnya dengan senyuman.

***

Yah, kami sudah tidak bercerita, bertemu dan bertukar pandang selama hampir dua pekan lamanya. Sehingga, membuat ku sangat merindukannya. Akhir bertemu, ketika ku demam, lalu kami nonton bareng di bioskop dua pekan lalu. Kebersamaan yang membuat demamku sembuh. Karena ia meneraktirku nonton bareng. Ia selalu punya cara untuk membahagiakanku. Lalu, apakah yang ku lakukan untuk membuatnya bahagia? Sahabat baikku yang unik dan menarik.

Salah satu cara yaitu menyimak curhatannya, menenangkan kerisauannya, membuat ia lega dengan bercerita, menjadi tumpahan keluhannya. Semua ku lakukan, demi membahagiakannya. Termasuk juga menemaninya ke mana ia mau mengajakku. Walau dalam berbagai kondisi yang tidak memungkinkanku untuk ikut. Akan tetapi, nilai dari sebuah kebersamaan mengingatkanku lagi, sebelum menolak. Karena pasti saja ada kesan dalam kebersamaan. Ada pesan untuk ku petik sebagai bagian dari pengalaman.

Begini yang ku lakukan sejak awal kami berkenalan, berteman, dan ke mana-mana ia mengajakku untuk menemaninya. Seperti ke salon untuk pertama kali, beberapa tahun yang lalu, dia yang mengajariku. Kesan yang pernah membuatku sangat termanjakan saat berada di salon. Ya, gitu dech. Karena kesan dari pengalaman pertama selalu menarik untuk ku kenang.

Maka, sepanjang kebersamaan kami, aku bersyukur. Berbeda ketika kami berjauhan raga, membuat ku pun merindukannya. Jarak yang membuat ku teringat-ingat padanya. Jarak yang membuatku bertanya, “Tyaaaaa, gimana kabarnya, yaa. Sekarang dia main sama siapa yaa? Apakah dia menikmati waktu-waktunya yaa?” Begitu juga yang ibuku tanyakan padaku, saat ku jauh dari beliau. Ketika ku ada di kota yang sama dengan Tya. Berhubung ku selalu bercerita pada beliau, siapa-siapa saja teman-temanku. Bagaimana mereka membaikiku, membersamaiku dan sebagainya yang mensenyumkan beliau.

Beliau sangat bahagia atas kebaikan demi kebaikan yang menemaniku, saat jauh dari beliau. Kebaikan dari teman-temanku atau orang-orang baik yang ku temui dan menemuiku. Terima kasih ibu, untuk seluruhnya, semuanya.

Menit-menit sebelum Tya datang…

Mengingat kebaikan demi kebaikan yang menyerta, di ujung hari yang sunyi, selepas shalat, biasanya ku tersedu. Hampir saja airmataku berguguran, karena tenggelam di lautan introspeksi diri. Namun semua urung. Karena suara ketukan dari pintu. Aaaaaa… ku mesti tersenyum bahagia. Walau di dalam hati masih bertumpuk serasa dua rasa haru yang mulai menyapa.

Beginikah kehidupan memperlihatkan wajahnya? Saat kita hendak berduka, ingatlah ada yang dukanya lebih dalam. Maka, sedapat dan semampumu, hayatilah semua yang ada kemudian senyumi. Supaya masih ada yang tersenyum di sekitarmu, ketika yang lainnya terlarut lara.

Sukses tidak menangis di penghujung hari ini, berganti dengan senyuman membersamai. Mengapa tersenyum? Karena masih ada syukur yang menepi di ruang hati. Syukur yang membuat wajah tersenyum. Aku masih beruntung, ternyata. Dengan syukur yang menyerta, bersama kesabaran yang memenuhi ruang jiwa. Merasa banggakah aku dengan semua? Tidak, tidak bisa. Namun menghayati semua sebagai jalan mengingati-Nya. Atas kebahagiaan yang IA titipkan di ruang hati, menjadi syukur. Atas keharuan yang IA selipkan di ruang hati, mensenyumkan wajah. Atas kebersamaan yang indah, membuahkan hikmah.

Detik-detik setelah Tya datang…

“Tyaaaa, aku lagi ngehitung uang banyak sekali. Setelah ku bagi-bagi, hihiii. 😀 Terus,  ada sisanya” bahagiaku menyambut kehadirannya. Sekaligus melanjutkan bicara tentang uang. Setelah menanya kabar, ke mana aja, sehingga baru memperlihatkan rupanya.

“Ooaaaaaalah, 😀 mana uangnyaaa?,” tanyanya sambil melangkah masuk dengan ekspresi senang.

Ku perlihatkan beberapa lembar uang yang masih tergeletak di kasur.

“Manaa untukku,” ia menadahkan telapak tangan (pertanda mau).

“Tya belum kebagian yaa, untuk saat ini” tanggapku. Lalu menceritainya tentang pergeseran uang sebelum ia ku hitung-hitung. Untuk ini dan itu, sehingga sisanya segini. Ia memaklumi dan rela untuk tidak ku bagi.

Begini yang kami lakukan, saling berbagi cerita tentang berbagai kebutuhan penting dan tidak penting. Kalau yang penting tidak bisa pending, ku anggarkan. Namun kalau yang tidak terlalu penting, maka tidak ku pikirkan untuk menjadi kebutuhan. Langsung skip dari anggaran.

Menit-menit berikutnya ia menitipkanku pesan lagi, “Bunddoo tuch, begitu. Kalau boleh ku sarankan yaa, bisa nyari kerja yang lebih baik lagi dengan pendapatan yang lebih juga. Supaya kebutuhan yang belum terpenuhi dapat tertutupi. Ini enggaaaaa… menurutku Bunddo terlalu sangat penyabar. Mau aja terima seadanya. Kalau boleh ku bilang juga yaa, Bundo tidak punya ambisi untuk mendapatkan lebih. Khan, Bundo juga harus memikirkan diri sendiri dan masa depan. Terus, tentang jodoh juga. Engga ada usahanya sama sekali, ku lihat. Aku aja yaa, yang udah keliling-keliling ke sana kemari, berjuang optimal, belum dapat jodoh juga. Masih macam gini juga, Bundoo,”  lalu kami tertawa bersama karena ia sukses menceramahiku ala Emak emak aja. Walau begitu, kami sangat menikmati masa kini yang kami jalani. Tentang suka dukanya, tentang harapan dan impian yang belum menjadi nyata. Kami jalani semua proses dengan saling mengingatkan. Untuk terus bergerak maju, melangkah dan berjibaku dengan diri sendiri.

Memang, kisah hidup kami semirip. Aku begini dan beliau begitu. Kami sama-sama belum bertemu jodoh. Syukurlah, kami masih bisa menghayati kebersamaan ini lalu berbagi tentang kesendirian. Bedanya yaa, aku masih suka mudah puas, begitu yang ia selipkan pesan tentang diriku. Lalu tidak terpikirkah bagiku untuk mendapatkan yang lebih baik lagi?

***

Kebersamaan yang kami jalani, pada menit-menit berikutnya membuatku lupa dengan segala permasalahan yang ku punya. Lalu, larut dengan semua yang ia kisahkan padaku. Tentang bagaimana ia mencoba dan berusaha menyikapi keadaan dengan sedewasa mungkin. Atas orang-orang yang membuatnya harus berpikir keras, bagaimana cara menanggapi mereka. Sampai dia bilang, “Aku hampir sempat mengalami krisis kepercayaan diri, jadinya, dalam beberapa hari terakhir.”

“Haiii, apa pula itu, Tyaaa. Bagaimana ia dapat menghinggapimu?” tanyaku tidak percaya. Karena ku pikir, ia baik-baik saja sepanjang kami tidak bertukar suara dan bersua. Berhubung kebaikannya yang sering ku lihat dan ku rasakan. Baik saat kami bersama atau berjauhan raga.

“Iya, karena begitu dan begini… Ada ini dan itu… bla… bla…” melepas segala penat pikiran, ia sampaikan segalanya.

“Mengapa aku begini? Karena mereka tidak mengerti aku? Atau aku mempunyai kekurangan yang tidak ku tahu? Salahku apa pada mereka? Huuwwaaaaa…  Aku sudah berusaha mengalihkan pikiranku dari mereka yang tidak baik padaku. Tapi kami masih bersama. Bagaimana bisa ku bertemu dengan orang-orang seperti mereka dalam hidupku? Kalau ini ujian bagiku, ya Tuhan…. Kuatkan aku,” ungkapnya tentang  orang-orang sekeliling yang membuatnya pusing dengan tingkah mereka.

Sebagai pendengar yang baik, ku rela menopang gundahnya dengan menyediakan sepotong hatiku dan pendengaran sempurna. Supaya ia tahu, bahwa aku ada untuknya. Sepanjang bercerita, ekspresinya berubah-rubah, terkadang sendu, lalu hanyut bersama inti cerita. Ooo, bukan cerita. Namun kisah nyata tentang kesehariannya, kesibukkannya, kegundah-gulanaannya.  Orang-orang yang selalu saja mengusiknya dan membuat ia terganggu.

“Teman, engkau tidak sendirian dan tidak benar-benar sendiri. Yakinlah selalu ada kebaikan di dalamnya,” begini ku hanya dapat bergumam di dengan diriku. Sepanjang ia beraikan kisah. Selebihnya, ku anggukkan wajah, tersenyum, bertanya, lalu menatap dua bola matanya yang sendu.  Karena dukanya sangat dalam. Lukanya lebam di dalam hati. Kemudian ia hapus lagi dengan senyuman.

Aku teringat dengan perjalananku. Ketika ku mengalami hal serupa juga, dulu. Memperhatikan apa yang orang bilang tentangku, walau tidak sepenuhnya aku begitu.

Sampai akhirnya ku mau kembali bangkit, maju dan melangkah bersama sekeping hatiku. Ya, membawa hati yang terluka, hati yang menangis, perih. Karena segala-galanya masuk ke hati. Masih sambil meneruskan perjalanan, ku tanya diri, kalau terus begini, bagaimana ku bisa meneruskan hidup? Kalau sedikit-sedikit menangis lagi, sedikit-sedikit sedih dan pilu? Sambil juga berpikir saat meneruskan perjalanan, “Seharusnya aku menyadari, bahwa aku tidak sejelek itu. Kalau mereka menjelekkanku. Mungkin mereka tidak mengerti bagaimana perasaanku atas sikap mereka, maka ku belajar memaafkan, memengerti dan memahami sikap mereka padaku. Begitu juga tentang masa depanku yang tidak mereka ketahui, apalagi aku? Maka, buat apa ku risau dengan usikan mereka?”

Hingga, sejauh ini, semua yang ku temui baik-baik padaku. Tepatnya saat ku berpikir baik dan mengingatkan pada diriku sering-sering, -hal-hal yang ku harapkan saat berinteraksi dengan orang lain, itulah yang harus ku pikirkan-. Interaksi yang tidak bisa tidak, kita jalani dalam perjalanan hidup ini. Karena kita insan sosial yang saling terhubung. Apakah untuk urusan bisnis, pertemanan, keluarga atau hiburan. Sungguh, pikiran kita tentang diri sendiri dan sikapnya pada orang lain, sangat berefek terhadap hubungan kita dengan orang lain.

Kalau kita sudah baik dan berpikir baik, namun masih saja ada yang menyambut dengan ketidakbaikan, anggap sebagai … deru bayu. Semua akan tenang dan berlalu, seiring waktu. Lalu kita? Kita hanya perlu menata kalbu untuk berbaik sangka pada pemiliknya. Supaya mereka mendapat hidayah selalu. Sehingga tidak mengusik kehidupan kita lagi.

“Iya, mengapa aku tidak pernah mau bergosip, salah satunya karena ku ingin orang lain hidup tenang dengan pilihannya. Sedangkan mereka yang menggosipiku? Sangat mengusik kenyamananku. Aku masih tidak mengerti, mengapa mereka rela berbuat begitu, padaku,” urainya masih tersendu.

Namun menit-menit berikutnya, ia kembali memberai senyuman. Teman yang kuat, hebat dan sering ku jadikan inspirasi untuk menguatkan dalam kondisiku yang sangat memprihatinkan.

Detik-detik berikutnya berjalan. Tanpa terasa sudah lebih dua jam kami bersama. Sampai pukul sepuluh malam. Setelah teman-teman yang lain datang, kami pun berpisah. Karena Tya harus kembali… Entah kapan lagi kami bertemu dan menghabiskan waktu bersama seperti ini. Hati-hati di jalan, sampai berjumpa lagi, kawan. Semoga hari esok lebih baik.

Berikutnya, kami mengantar malam yang semakin gelap. Karena mati lampu juga, kami lanjutkan dengan bercerita lebih banyak lagi. Yah, tentang kebersamaanku dengan teman-teman seperjuangan di kostan dan juga tetangga yang berkunjung tengah malam. Aaa, aneh! Tapi keren, kannn? Kebersamaan yang indah mengundang sumringah. Beginilah jenis tetangga yang ku jumpa di sini.

***

Pesan persahabatan hari ini adalah  :

Saat sahabat bercerita, hanya dengarkan. Biarkan ia meluahkan kekesalannya, kesedihannya, kerisauannya dan juga kebahagiaannya. Ketika ia ingin melepaskan semua padamu, yakinlah bahwa ia bukan bermaksud memberatimu. Sebab ia sangat ingin membagikannya hanya padamu. Sahabatmu senang dan berbahagia denganmu. Atau, ia hanya ingin menghabiskan waktu-waktunya denganmu. Karena memang engkau pantas untuk itu, maka pantaskanlah dirimu. Jangan menceritakan lagi pada yang lain, kalau ada rahasia dan hal pribadi yang ia sampaikan padamu. Keep it as yours.

***

Keesokan harinya, pagi yang mendung…

“Hai, kita mau ke mana hari ini? Ayo jalan-jalan,” sapaku pada seorang teman yang tidak beraktivitas keluar di hari yang sama denganku. Kami libur bersama. Aku menanya barangkali kami dapat bepergian bersama.

“Aku kalau mau jalan-jalan, karena engga ada kendaraan, biasanya pergi ke mall atau toko buku,…” jawabnya sambil masih mikir terbiasa ke mana lagi.

“Oooooyaaa, kita ke toko buku aja. Aku juga sukaaa,” histeriaku karena ada kemungkinan kami berangkat bersama. Jadi ada teman seperti ini, kebahagiaanku bertambah.

“Baiklah, siang ini aku keluar dulu ya. Sepulangnya sore hari nanti, baru kita jalan-jalan  bersama,” ia tersenyum penuh arti padaku.

“Okeee, siap. Sekarang berangkatlah, hati-hati di jalan yaa,” ku melepasnya dengan senyuman. Ketika beberapa jam kemudian ia sudah siap berangkat. Karena sudah ada acara, ia keluar bersama temannya yang lain. Sedangkan aku melanjutkan aktivitas akhir pekanku juga. Tidak pergi-pergi, namun merangkai sebaris senyuman untuk ku abadi tentang hari liburku.

***

Malam harinya, kami berangkat ke toko buku terdekat. Melangkah bersama. Karena lokasi yang lumayan jauh dari tempat tinggal kami, aku menanya  sebelum kami berangkat. Tentang pengalamannya melangkah jalan-jalan malam hari, “Horor gaaa? Jalan malam-malam? Takut gaaa? Melangkah di kegelapan?,” 

“Sendiri aja aku berani, apalagi berdua,” ia menerangkan keberaniannya yang sudah mumpuni.

Sebuah jawaban yang membuatku berpikir, “Kami sehati. Ternyata ada juga pribadi lain semirip denganku. Ia yang juga pernah melangkah dengan berani, sendiri. Lalu aku? Sudah sejauh apa ku melanjutkan langkah-langkah menikmati kesendirianku? Masih belum terlalu jauh. Yuuk kita melanjutkan perjalanan, bersama.”

“Ahaaa… Boleh juga, mari kita berangkattt,” semangatku bertambah-tambah karena ada teman seperjalanan, seperjuangan. Kemudian kami melangkahkan kaki menikmati malam, seraya mengunggah senyuman, sekaligus mempercantik kisah tentang masa-masa sendiri yang berkesan. Kisah dan perjalanan yang sayang untuk dilupakan. Apalagi membiarkannya berlalu begitu saja tanpa hikmah yang dapat kami petik.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

3 Comments

  1. Cerita yang menarik…
    Kayaknya menyenangkan sekali punya sahabat seperti kalian berdua…
    Dulu sih aku juga pernah sahabat seperti itu, sering jalan berdua, sharing banyak hal.
    Tapi sekarang kita sudah menjalani kehidupan masing-masing…

    Like

    1. 😀 Eh, heheee. Iya Mas Nur, menyenangkan sekali, memang.
      Karena dengan bersahabat kita menjadi tahu, bahwa kita tidak sendiri di dunia ini, iya khannnn…?
      Sahabatnya ke mana, Mas Nur? Meski sudah memiliki kehidupan masing-masing, semoga persahabatan yang pernah ada tetap abadi di dalam hati, yaa. ^^

      Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s