Belajar dari Kegigihan Tukang Ojek

Waiting for You

Engkau duduk manis memandang langit. Langit biru berhias awan memutih. Sesekali engkau menggerakkan kaki-kakimu yang menjuntai. Seringnya memperhati laju kendaraan yang saling berkejaran. Mengapa engkau ada di sana, kawan? Bukankah mestinya engkau melanjutkan langkah-langkahmu?

Aku melihatmu begitu terpesona dengan pemandangan yang ada. Karena engkau asyik memperhati dengan sepenuh jiwa, terhadap sekeliling yang tampak nyata. Untuk tujuan itukah engkau ada di sana? Masih betah, yaaa?

Lama sekali engkau menunggu. Sudah lebih dari empat puluh lima menit. Sudah lebih, lho. Namun engkau masih tenang-tenang saja. Hingga seseorang mendekat ke arahmu, lalu menyapa, “Mau ke mana?” Engkau membalas dengan senyuman, lalu bilang, “Lagi menunggu.”

“Hai, mengapa mau menunggu begitu lama, hayo ikut saja denganku,” tambahnya menegaskan. Sepertinya ia juga memperhatikanmu sejak tadi. Ya, dari awal engkau duduk di sana. Walau begitu, aku juga tidak ingat. Apakah aku yang memperhatikanmu lebih awal atau dia? Karena perhatianku begitu fokus padamu. Sehingga aku pun abai padanya. Siapa dia? Bagaimana bisa dia menyapamu lebih awal? Sedangkan aku adalah sahabatmu. Bagaimana bisa aku kalah cepat dengannya?

“Engga, terima kasih,” jawabmu masih bersama senyuman. Sepertinya engkau tidak mau berurusan dengannya. Buktinya, engkau hanya menjawab singkat. Lalu  engkau memilih tersenyum lagi untuk menutup pembicaraan. Ketika ia masih saja bersiteguh mengajakmu dengannya. Siapakah ia yang bersedia mengajakmu? Lalu, bagaimana bisa engkau tidak mau ikut dengannya? Aku tidak tahu yang engkau tahu, tentangnya.

“Aku masih mau setia di sini. Karena ku yakin, yang ku tunggu akan datang juga. Tapi kok masih lama,” bisikmu bergumam pada dirimu sendiri. Engkau mulai terlihat risau. Kerisauan yang terpantau oleh mataku.

Kyaaaaaa… selalu saja begitu. Engkau steel heart-ku. Seorang yang tidak mudah tergoda, kalau ada yang bersedia mengajakmu. Meskipun engkau sebenarnya ingin segera berangkat dari posisi dudukmu. Untuk meneruskan perjalanan berikutnya. Namun, karena sudah berjanji untuk menanti, maka engkau tidak mau pergi sebelum ia datang. Sesetia itukah dirimu, sayang? Apakah engkau yakin, ia benar-benar akan datang?

“Iya, lebih baik ikut saja dengannya. Ia yang mau berbaik hati padamu, untuk menebengi. Sehingga engkau tidak harus menunggu lama sekali seperti ini. Supaya waktumu tidak terbuang tersia begitu saja, dalam penantian yang belum tahu kapan berakhirnya,” aku mulai bersuara..

Engkau menggeleng dan memasang wajah tenang.  Begitu engkau berekspresi padaku. Engkau membuat ku tidak mengerti. Apa sesungguhnya yang engkau tunggu? Sepenting itukah menunggu bagimu? Sesetia itukah engkau menunggu?

***

Engkau sahabatku. Sahabat yang ku bersamai sejak kita berkenalan. Perkenalan yang membawa kita pada persahabatan tidak terputuskan oleh jarak. Walaupun kita tidak selalu dapat bersama-sama untuk meneruskan langkah. Namun, setiap kali ku mempunyai waktu luang, atau aku merindukan kebersamaan denganmu, maka aku rela datang dari jauh. Hanya untuk memperhatikanmu, lalu menyapa. Meski hanya mendengarkan kisahmu, lalu kita tenggelam bersama dalam lautan rasa yang engkau ciptakan.

Seperti saat ini. Ketika engkau sedang menunggu. Lalu aku mendekati, menyapa dan ikut-ikut menggodamu. Sama seperti yang mereka-mereka lakukan saat melihatmu sedang duduk, menunggu. Supaya mereka dapat bersapa denganmu dan mendengarkan suaramu. Walaupun ujung-ujungnya mereka berlalu, karena godaannya tidak engkau gubris. Atau setelah engkau menolak dengan sopan dan halus, mereka pun mengerti. Kemudian pergi.

***

Setelah mereka pergi, kita pun duduk bersama. Aku menemanimu menunggu. Menunggu dengan senyuman. Mensenyumi keadaan. Mensenyumi detik-detik waktu yang terus berjalan.

Engkau masih duduk menunggu. Tanpa bosan, tidak mengenal jenuh. Walau sempat ku lihat engkau mulai risau, namun bukan begitu aslinya. Ternyata ini hanya perkiraanku saja. Karena detik-detik berikutnya, engkau terlihat semakin menghayati waktumu. Seperti sedang merangkai sebuah kisah tentang menunggu. Walau tanpa mencatat, engkau sedang berusaha mengingat-ingat. Mengingat setiap gerakan yang mendekatimu, atau menjauh darimu. Mengingat sesiapa saja yang menyapamu, lalu engkau senyumi.

Karena sudah akrab sebagai sahabat, maka duduknya kita berdua, bukan diam-diaman. Namun ada saja yang kita perbincangkan. Termasuk mengingatkan diri masing-masing untuk saling menasihati. Supaya kita tidak selalu dan kembali lagi merasa menjadi korban atas situasi. Namun kita harus belajar menyikapi keadaan dengan cara terbaik yang kita bisa.

Walau mesti menunggu lebih lama lagi. Jangan merasa menjadi korban dari orang yang kita tunggu. Agar engkau bahagia. Semoga engkau menikmati waktu-waktumu. Karena kalau pun engkau menyampaikan padanya, bahwa engkau menjadi korbannya atau tidak, ia tidak akan mengerti yang benar-benar engkau rasakan. Apalagi karena ia tidak berada di pihakmu. Maka, sedapat mungkin, enjoy your time.

Sepanjang kebersamaan kita, engkau lebih banyak berbicara. Sedangkan aku berperan sebagai pendengar yang baik. Pendengar yang masih dan sedang belajar untuk benar-benar mendengarkan dan menyimak. Supaya ku dapat memasuki diri dan duniamu. Sehingga, kalau engkau berbicara tentang kegembiraan yang engkau rasakan, aku merasa gembira juga. Begitu pun dengan himpitan masalah yang membebani pikiranmu, lalu engkau sampaikan padaku. Maka, sebagai pendengar yang baik, aku bisa saja terhimpit. Namun, kalau kita sudah berdua memanggulnya, semoga beban pikiranmu berkurang, yaa. Ah, indahnya kebersamaan kita seperti hari ini.

Hari ini engkau bercerita tentang seseorang yang sebelumnya menyapamu. Ya, ia yang menyapamu sebelum aku datang. Kemudian menjadi pikiran olehmu. Kepikiran lebih tepatnya. Engkau memikirkan kebaikannya yang belum sampai padamu. Engkau menjadi terkesan, lalu ingin mengabadikan tentang beliau dalam harimu. Caranya yaa, dengan menceritakan padaku. Supaya aku dapat memetik intinya. Inti dari kebaikan yang membuatmu kepikiran begitu.

“Oiya, siapa? Hai, kapan dan di mana?” aku penasaran.

Engkau mulai berkisah.

Iya, kami bertemu sebelum aku sampai di sini. Ia yang melihatku pertama kali. Lalu, ia pun menyapaku dengan suaranya yang lumayan kuat. Karena posisiku dengannya berjauhan. Suara yang membuatku segera mencari-cari sumbernya. Dari mana? Ahaaa, ternyata ia yang memanggilku, sekaligus menawarkan tebengan. Aku sudah mengenalnya.

Beliau adalah seorang tukang ojek. Kami sering berjumpa akhir-akhir ini di tempat lain ku terbiasa menunggu juga. Jadi, kami sudah pernah saling sapa dan bertukar suara. Beliau yang sering menanya padaku saat pertemuan pertama kami. Lalu  menawarkan juga ojeknya ketika itu. Aku menolak, karena memang tidak sedang ingin melanjutkan perjalanan. Namun masih betah menunggu, menunggu yang sedang ku tunggu. Begitu kesan pertama perkenalan kami. Kesan yang ‘mungkin’ membuatnya kecewa, karena tidak sukses menawarkan jasanya padaku. Tapi, aku sudah menolaknya dengan halus dan sopan, jadi ku pikir, it’s fine.

Berikutnya, hari-hari yang terus bergerak mempertemukan kami lagi di lokasi sama. Ketika beliau melihatku sedang menunggu juga. Kemudian beliau menyapa dan menawarkan lagi ojeknya. Aku masih menolak, karena bukan beliau yang ku tunggu. Oke, beres. Beliau pun berlalu. Sudah dua kali ku tidak mau menerima tawaran beliau untuk mengantarkanku.

Bulan depan juga sama, kisahnya. Aku lagi dan lagi, masih menunggu. Duduk manis sekali. Berjuntai kaki di kursi halte. Untuk menunggu yang ku tunggu. Aku setia sungguh sangat padanya. Kehadiranku di tempat penantian tersebut, minimal dua kali dalam sebulan. Ai! Lumayan, bukan? Untuk ganti jalan-jalan. Supaya dapat memperluas pengalaman dan membuka pemikiran. Agar dapat kusaksikan alam lain di sana.

Saat ku sedang menunggu, beliau datang juga. Masih belum kebal, kayaknya. Atau, memang begitu trik orang jualan jasa, yaa? Selalu saja menawarkan. Meski sudah mengalami penolakan.

Ahaa, ini ide bagus yang pantas ku tiru. Supaya ku tidak bosan-bosan memberikan penawaran, untuk sebuah kesempatan yang bisa saja datang, menjadi jalan rezekiku. Karena seorang tukang ojek lainnya yang sukses ku tolak saat beliau menawarkan jasa padaku, menitipku pesan, “Simpan nomor Bapak yaa, selain tukang ojek, Bapak juga jadi agen jual tanah. Barangkali nanti Ibuk mau tanya-tanya kalau ada saudara atau teman yang mau beli tanah, bisa sama Bapak. Siapa tahu, jalan rezeki kita dari mana dan siapa, kan ya? Boleh, boleh…? Beliau tersenyum ceria dengan suara bening, optimis”. Aku menyetujui. Senyum juga aku jadinya, melihat ekspresi beliau. Sambil ku berpikir, benar juga yaa.

“Okey, Paaa… 🙂 Jalan rezeki kita dari mana-mana dari siapa saja. Sepanjang jalan, rezeki mengalir. Tinggal bagaimana cara kita menemukan jalannya,” bahagiaku, bertemu orang baik di mana-mana. Mau mengingatkan tanpa mengenal kita siapa? Dia siapa? Sungguh, bahagia.

Seperti halnya beliau yang berprofesi sebagai tukang ojek. Namun masih berusaha sampingan juga, “Semoga ojek Bapak laku dan banyak pelanggan, Paa…” doaku di ujung pertemuan kami.

… Bulan berlalu, beberapa kali. Kemudian, bulan ini berkunjung. Aku pun berniat melanjutkan langkah-langkah lagi. Masih untuk kunjungan ke lokasi sama, tempat kami bertemu dulu. Eits, ternyata beliau masih ingat denganku. Malah kami menjadi akrab. Aku yang mensenyumi beliau pertama kali, saat kami bertemuan lagi. Beliau sama, tersenyum seperti awal pertemuan. Masih sama senyumannya. Ternyata kebaikan beliau asli adanya, bukan hanya karena ingin memperoleh pelanggan saja. Ketika di pertemuan kami yang ke sekian ini beliau masih gagal mengajakku serta. Namun beliau masih tersenyum.

Buktinya, pagi ini. Saat ku baru saja menyeberang jalan, tetiba beliau muncul dan memanggilku.

“Hai, ayo mari, mau ke sana khan? (Beliau menyebutkan sebuah lokasi di mana kami pertama kali bertemu. Beliau sudah sangat tahu, lokasi yang ku tuju. Beliau juga sangat yakin, kalau pagi ini aku juga mau ke sana). Abang juga mau ke sana, lho… Mari sekalian, ikut Abang,” ajak beliau masih dari jauh.

“Aaaa… engga, makasiiih. Engga Bang, lanjut aja,” jawabku. Aku masih belum percaya. Kalau ternyata beliau sedang menyapaku dan menawarkan kebaikan.

Karena kali ini, kami bertemu di lokasi lain. Bukan di tempat biasa kami bertemu. Ternyata beliau masih ingat denganku. Apakah karena seringnya kami bertemu, yaa? Atau beliau memperhatikanku begitu dalam? Sampai mengenaliku meski pertemuan kami di tempat tidak biasa? Padahal bajuku selalu ganti-ganti lho? Warna dan coraknya juga beda-beda. Semudah itukah beliau tahu, kalau aku ada di mana-mana? Di sini dan di sana? Aku sungguh tidak percaya. Walau begitu, masih ku belajar percaya dengan takdirnya. Bahwa jodoh pasti bertemu. Di mana-mana bisa bertemu. Kapan saja juga bisa berjumpa. Kalau sudah berjodoh, maka berjumpa.

“Begitulah ceritanya, kawan… Tentang kebaikan yang belum ku terima, namun sampai sekarang membuatku kepikiran. Lalu, ku coba mengurai semua ini padamu. Supaya engkau mengerti, bagaimana pengaruh niat baik seseorang padaku. Sungguh tidak mudah ku terlupa. Apalagi yang memberikan kebaikan padaku, maka mana bisa ku lupakan begitu saja? Maka, saat ini ku mulai berpikir. Berpikir seperti beliau yang tidak lelah mencari pelanggan. Nah, aku yang semula tidak berminat sama sekali, namun kalau lama-lama menerima penawaran dari beliau, bisa saja aku teringat beliau saat ku benar-benar membutuhkan jasa beliau. Lalu, keuntungannya bagi beliau memperoleh pelanggan setia sepertiku. Karena aku kan setia. Hahaa. 😀 ,” engkau mulai ngelantur. Aku juga ikut-ikutan terceriakan. Kita tertawa bersama, menertawai kepedeanmu tentang kesetiaan.

“Atau, bisa saja ku minta nomor kontak yang bisa terhubung dengan beliau. Lalu saat ada yang membutuhkan jasa ojek, beliau bisa ku rekomendasikan. Ini juga kebaikan,” tambahmu dengan perasaan senang bertambah-tambah.

“Yah, ide bagus, kawan, lanjutkan! Kebaikan tidak mesti berhenti pada satu orang. Sebab kebaikan itu menular, menebar. Maka tebarkanlah kebaikan supaya lebih banyak lagi kebaikan di muka bumi ini. Bertambah banyak orang-orang yang merasakan manfaat dari kebaikan. Engkau adalah salah satunya. Mulailah dengan niat baik, kemudian laksanakan dengan sungguh-sungguh,” ku pahami pemikiranmu. Aku mulai sepaham denganmu.

“Betul, karena aku sangat suka menerima kebaikan. Maka, aku sangat suka juga memberikan kebaikan,” ucapmu lega. Engkau terlihat sangat bahagia. Wajahmu tidak lagi berat oleh himpitan pikiran seperti sebelum ini. Karena engkau sudah sukses membagikannya denganku, dengan caramu. Lalu, detik-detik berikutnya, aku memperhatikanmu lagi. Lagi dan lagi, perhatianku penuh padamu. Sama seperti ketika kita belum bertukar suara. Saat engkau asyik dengan penantianmu.

Engkau benar-benar tersenyum sekarang. Senyuman bahagia yang engkau tebarkan, mensenyumkanku juga.

Engkau selalu punya cara untuk membuatku bisa menikmati waktu sepanjang kebersamaan kita. Terima kasih yaa, sudah mau berbagi cerita denganku. Walaupun aku lebih sering bisa menjadi pendengar bagimu. Meskipun untuk berbicara selancarmu, aku tidak biasa. Namun, aku juga sedang belajar menebarkan suara hati yang ku punya. Agar aku pun tahu, bagaimana ku berpikir. Apa yang ku rasakan. Apa yang ku alami. Apa yang ku harapkan. Apa yang sedang memenuhi ruang ingatku. Maka, aku pun beraikan ia dalam rangkaian tulisan.

Tahukah engkau, bahwa aku tidak dapat melakukan semua ini, kalau kita tidak bersama seperti tadi, kawan?

So, terima kasih ku ucapkan padamu, atas segalanya. Segala untaian kata yang engkau alirkan bebas, lalu ku serap sedikit demi sedikit dengan ingatanku yang tidak selamanya abadi, ini. Akan tetapi, ku bergiat merangkainya dalam tulisan. Supaya ia selalu ada.

Ketika kita ingin bernostalgia lagi dengan hari ini yang kita habiskan bersama, kita dapat membacanya lagi. Hari ini yang akan berlalu dengan cerita-ceritanya. Hari ini yang tidak dapat kita ulang lagi. Namun, kenangan tentangnya, semoga dapat menambah syukur kita di masa depan, yaa.

Kita bersyukur karena masih dapat berjumpa dengan sesiapa saja di mana saja. Engkau yang bertemu dengan orang-orang asing tanpa bersamaku, lalu engkau ceritai aku tentang kesanmu bersamanya. Sehingga aku pun tahu, bahwa engkau dalam kebaikan sepanjang tidak bersamaku.

Seperti halnya engkau, begitu juga denganku. Lain waktu, di saat kita tidak bersama, ku ceritai juga engkau tentang orang-orang yang ku temui dan bersamai. Termasuk pesan dan kesan penting yang ku terima dari beliau semua.

Beliau yang baik padaku, walau ku tidak meminta. Beliau yang membaikiku, tanpa harus mengenal dulu siapa aku. Sehingga kebaikan beliau dalam detik-detik waktu kebersamaan kami, membuatku teringat, tersentuh, pun ingin meneladaninya.

“Iya, sama-sama. Jaga diri baik-baik, saat kita tidak bersama, yaa. Aku juga melakukan hal yang sama, berusaha baik-baik menjaga diri,” engkau mensenyumiku, menatapku lekat. Tatapan yang ku selami hingga ke dasar bola matamu.

Di sana, ku lihat bayangan diriku. Dari dua bola matamu, ada aku yang tersenyum membalas senyumanmu. Senyuman persahabatan yang kita pertukarkan. Karena engkau pun tersenyum padaku. Engkau juga bisa melihat pantulan wajah dengan senyumanmu dalam dua bola mataku, kawan. Ada, khan? 😉 []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close