Engkau Teman Berbagi

My Surya

“Assalamu’alaykum,” sapanya seraya mengimbangi berat tempat tidur yang kami dorong bersama. Ia yang masuk duluan, sedangkan aku di ujung lainnya.

“Wa’alaykumussalam, selamat datang di rumah baru,” sambutku mengembalikan salam terhangat untuknya. Lalu, kami melanjutkan beres-beres dan membenahi perabotan yang ada. Menggeser lemari pelan-pelan, menepis debu dengan telaten, dan kemudian mengepel lantai. Eits, sebelumnya menyapu dulu. Kami bekerja sama dengan semangat. Kami bergotong royong supaya selesai tepat waktu.

Saat adzan berkumandang, aku pamit sebentar untuk shalat Magrib. Sedangkan beliau lanjut bersih-bersih. Karena mendapat cuti tidak shalat dalam pekan ini.

***

Hari yang sejuk kami tutup dengan bergerak lebih cepat. Yah, karena sebentar lagi malam menjelang. Ini berarti bahwa, waktu kami tidak banyak. Maka, berjuanglah kami dengan segala kekuatan yang ada, melakukan semampu yang dapat kami laksana. Hingga akhirnya, proses pindahan pun selesai, tepat setelah adzan Isya berkumandang. Sungguh, benar-benar perjuangan yang mengundang lelah.

Kami memang pindahannya masih dalam satu rumah. Hanya dari satu kamar ke kamar lainnya. Namun, ternyata untuk pindahan itu perlu ada berbagai alasan untuk bilang, “Nanti aja, masih betah di sini, aaaaa… ko’ mesti pindah siiich?” Karena yang ada dalam bayangan, barangkali yang sulitnya. Coba saja pikirkan keindahan setelahnya, pasti kita mau bergerak lebih awal.

Selalu saja begitu. Untuk sebuah perubahan, terkadang kita suka berkilah, mencari-cari alasan dan maunya betah dengan kenyamanan yang selama ini menaungi. Padahal di balik kepindahan, ada nuansa baru yang berbeda dari sebelumnya. Ditambah lagi, berada di tempat baru dapat menghiasi hari kita dengan cerita-cerita baru, bukan?

Perubahan terkadang sulit kita lakukan. Karena kita tidak mengerti ada apa setelah perubahan. Namun kalau kita mau berubah, mengikuti perkembangan, bergerak sesuai keadaan, tidak menolak perbedaan, maka kita bisa maju. Begini pesan singkat yang ku petik hari ini. Pesan berikutnya yang ku peroleh dari teman baikku. Saat beliau mau berbagi tentang pengalaman yang beliau tempuh terkait perubahan. Karena perubahan selalu dan akan selamanya ada. Maka, apakah kita siap dengan segala perubahan yang pasti saja menemui kita?  

“Iyap, ternyata tidak sesulit yang ku bayangkan,” bisiknya mengakui seraya selonjoran di lantai merehat kaki-kaki yang pegal setelah mondar mandir dan lama bergerak.

“Buktinya, selesai juga kita pindahan, hehee,” ia menambahkan dengan segaris senyuman yang ia izinkan terbit pada wajahnya. Sedangkan dua bibirnya membentuk garis lurus karena tertarik rata ke kiri dan kanan bersamaan.

Ia anak yang sangat manis. Tidak banyak omong, suka mengalah. Sesekali terdiam, lalu tetiba histeris ketika datang ke kostan. Setelah ku telusuri, ternyata nilai ujiannya C. Padahal ia sudah berusaha dengan seluruh kemampuan, belajar tekun setiap hari. Sering asyik dengan leptop, menyelesaikan rumus-rumus yang sulit ku mengerti. Ia seorang yang rajin, rapi dan gemar berbagi.

Ia gadis ayu yang lahir di pulau Sumatera. Namun aslinya, ayah dan ibunya berasal dari pulau Jawa. Karena orang tuanya sudah lama merantau ke sini, mereka pun menetap sebagai penduduk. Dan kemudian mempunyai keturunan di pulau ini.

Di pulau Sumatera kami bertemu. Pertemuan tanpa kami prediksi. Iyah, kalau ku tidak pulang kampung lalu merantau ke sini, tentu saja kami tidak bertemu. Kalau saja ku tidak memilih tinggal sementara di rumah ini, tentu juga kami tidak dapat bersapa dan bersama seperti ini. Kalau saja ku tidak mau pergi-pergi untuk menjemput sekelumit inspirasi, maka entah sudah berada di mana ku hari ini. Yang jelas, hari ini ku masih di sini untuk meneruskan perjalanan hidup. Mengurai impian sedikit demi sedikit, seraya menyatukannya dengan kenyataan. Kenyataan yang mensenyumkan, kalau ku mau memetik hikmah yang tersembunyi dari balik situasi apapun.

Ia adalah salah seorang temanku di sini. Teman baik yang masih muda. Ahiya, ingatkah engkau teman, sebelum ini ku pernah berkisah, bahwa ada temanku yang menawarkan kakaknya untuk menjadi bagian dari masa depanku? Nah, inilah dia pelakunya. Dia bersedia menjadikanku kakak ipar, supaya kami bisa lebih dekat dan selalu bersama di masa yang akan datang. Akankah semua menjadi kenyataan? Atau hanya tinggal kenangan tentang sebuah candaan? Untuk menghangatkan suasana kebersamaan. Supaya kami masih dapat bersenyuman dan tertawa bersama atas segala keadaan yang kami alami? Wallahu a’lam.

Jangan hanya bertanya-tanya dengan segala yang belum pasti. Namun bertanyalah pada diri saat ini. Apakah yang dapat ku lakukan untuk menjadikan hari ke hari semakin berseri?

Berbagi. Yah, dengan berbagi. Salah satunya adalah berbagi. Karena berbagi menjadikan kita semakin semangat meneruskan langkah. Sebab, sepanjang proses berbagi, kita mengenal karakter selain diri kita sendiri. Dengan berbagi pula, kita dapat merasakan perasaan orang lain. Dengan berbagi engkau tidak pernah rugi, maka berbagilah.

Berbagilah dengan cara termudah dan dekat denganmu. Berbagilah, walau masih belajar. Berbagilah, untuk mensenyumkan sesiapa saja yang engkau inginkan. Berbagilah, apapun yang engkau bisa.

***

Ceritanya, kami berbagi kamar. Aku dan seorang teman baikku ini, mulai bersama sejak tadi malam. Karena adanya peraturan tambahan di rumah ini. Rumah kost yang sebelumnya memang disediakan perkamarnya untuk dua orang. Namun belakangan ini, kami sama-sama satu kamar masing-masing. Kami anggap ini rumah sendiri. Rumah tempat kami bernaung, menjadikan orang-orang yang ada di dalamnya sebagai bagian dari keluarga kami. Ahaaaaa… senangnyaaaaaa.  😀

Hingga pada suatu hari, ibu kost berkunjung dan bertanya segala-gala yang kami laksana. Lalu, memberi kami pilihan. Apakah tetap satu kamar satu orang, namun biayanya standar? Atau berdua satu kamar dengan biaya yang lumayan lebih berkurang. Pilihan kembali pada masing-masing. Pertimbangkan segalanya, lalu mulailah bergerak!

“Iiiiiihiii, ibu kostnya baik sekali”, bisikku dalam hati. Saat beliau berkunjung pada pagi hari, pekan lalu. Kunjungan pertama kalinya selama aku di sini. Beliau ramah dan aku melihat beliau seperti memperhati nenekku sendiri. Karena usia beliau memang sudah tidak muda lagi.

Saat kedatangan beliau, kami semua sedang sibuk dengan aktivitas pagi masing-masing. Ada yang masih bersantai, ada yang memasak, selesai mandi, atau nongkrong di depan televisi di ruang tengah. Memperhati keadaan kami, beliau pun menasihati kami tentang kehidupan ini. Salah satunya, beliau singgung tentang keadaan setelah berumah tangga nanti.

“Kelak, kalau kalian sudah berkeluarga, tidak bisa lagi seperti ini. Karena pagi-pagi sudah harus begini dan begini…  (beliau tersenyum penuh arti, kami mensenyumi beliau yang asyik berbagi nasihat). Sehingga tidak boleh lagi memperturutkan kemauan sendiri. Kalian mesti belajar mengerti, belajar memahami. Karena kalian tidak lagi hidup sendiri, namun ada yang menjadi bagian dari hari-hari untuk kalian perhati,” begini lebih kurang inti nasihat yang beliau sampaikan.

Beberapa hari berikutnya setelah kedatangan ibu kost dari RT sebelah, kami pun berembug, siapa yang mau sekamar dengan siapa? Akhirnya, beberapa orang teman sudah bertemu dengan ‘teman sekamarnya’. Kemudian mereka pun pindahan lebih awal dari kami. Pindahan untuk tinggal berdua dalam satu kamar. Supaya ada kamar yang kosong. Nah, kalau ada yang mau lihat-lihat kamar untuk ngekost juga, bisa masuk.

Walaupun dua orang teman sudah tinggal bersama dalam satu kamar, namun berbeda dengan ku dan teman baikku ini. Kami masih saja merencana-rencana. Rencana yang belum kami realisasikan. Ya, karena berbagai alasan tadi. Karena masih betah di sini, masih nyaman dengan begini. Masih saja ada alasan. Nunggu bulan Maret ini habis? Aaaaa, ini ide bagus. Begini alasan lain, alasan yang kami ciptakan sendiri.

Hingga akhirnya kami sadar dan menjadi tahu diri. Lalu membuat keputusan untuk pindahan senja hari, kemarin. Sebelum bulan Maret berlalu. Hihiii, mumpung lagi sepi, teman-teman masih ada yang belum kembali. Jadi, beres-beresnya lebih leluasa, tidak mengganggu kenyamanan teman-teman lainnya. Begini kami belajar menghargai. Kami belajar menghormati. Supaya, saat teman-teman sudah kembali, ia dapat beristirahat dengan tenang tanpa ada gangguan dan keriuhan dari kami. Seperti halnya yang teman-teman lain lakukan ketika mereka pindahan. Yah, mereka pindahan saat ku tidak ada di rumah. Dan pulang-pulang, semua sudah berbenah. Super sekali. Mereka sungguh mengerti, bahwa ketika sampai di rumah, kami maunya ya, beristirahat dengan sumringah.

***

Setelah ku ingat-ingat, ku tanya-tanya, ternyata bulan-bulan ini mendekati tahun ajaran baru. Sehingga akan dan ada yang melihat-lihat tempat kost. Siapakah dia the next new arrivals in our home sweet home? 

Selama ini, siang hari kami tidak ada di rumah, sedangkan semua pintu kami kunci. Alhasil, kalau ada yang datang mau nyari kostan, jadi tidak bisa lihat-lihat kamar kosong, khan?

Alasannya begini, mengapa ibu kost meminta kami berdua sekamar. Sungguh, ini adalah pengalaman pertamaku sekamar berdua dengan warga kost lainnya, sejauh perjalanan ngekost-ku. Bisa, ngga yaa? Kami menyesuaikan diri, untuk saling memahami dan menghargai? Karena pasti saja ada perbedaan yang kami bawa. Ada saja kebiasaan-kebiasaan yang menemani. Kebiasaan yang belum tentu menjadi kebiasaan bagi teman yang lainnya.

***

Dalam perjalanan hidup ini, ada hal-hal yang tidak kita prediksi, namun kita jalani. Maka, hargailah ia sebagai bagian dari takdir. Takdir yang menjadi bagian dari kisah hidup kita. Di sini, ku tertakdir bersama dengan Scatzy. Scatzy yang lucu, mudah tersenyum. Namun kalau lagi serius mikirin tugas-tugasnya, wajahnya berubah menjadi kotak seperti leptop yang ia bersamai sepanjang hari dan sepanjang malam.

Selamat berjuang, dear. Semoga masa-masa penuh perjuangan yang engkau jalani, berujung sukses yaa. Senyuman menantimu di ujung kelulusan, dan engkau bisa.

“Aku strong, yes!,” ungkapnya dalam berbagai kesempatan berekspresi saat mengerjakan tugas-tugas yang datang dan pergi silih berganti. Melihat perjuangannya memperjuangkan pendidikan, mengingatkanku pada masa-masa yang juga pernah ku lalui.

Sungguh, ada saja godaan dalam perjalanan. Namun kalau kita dapat melihat visi di ujung sana, godaan itu hanya menjadi penghias perjalanan. Seperti kumpul-kumpul dengan teman untuk mengukir kebersamaan, sesekali boleh. Akan tetapi, saat mengerjakan tugas harus berlangsung, maka dahulukan tugas daripada hanya ngerumpi ngga jelas.

***

“Okeey, Scatzy?, hihiii, aku suka bertemu denganmu di sini. Seperti menjadi anak sekolah lagi, tetap muda, berjibaku dengan diri sendiri,” terbersit dalam ingatanku untuk mengulang masa. Masa-masa sekolah dulu. Masa sekolah yang ku habiskan dengan melahap mata pelajaran hingga tuntas. Sampai, untuk berkumpul dengan teman-teman sekadar jalan-jalan atau cuci-cuci mata, sangat jarang ku lakukan. Kecuali sesekali saja, di waktu luang, ku menyempat diri menikmati kebersamaan.

“Namun, masa lalu telah berlalu. Ia telah menjadi sebait puisi saat ku menyimak pemaparan dosen di depan kelas. Ia abadi menjadi barisan kata-kata mutiara yang terbit dari hati, saat ku selesai membaca sebuah materi. Aku ingin kembali, namun tidak bisa. Yaaaaaaa… kalau masih mau begitu, bersamailah mereka yang masih dan sedang belajar. Maka engkau tersemangati lagi untuk ikut belajar seperti mereka. Atau di berbagai kesempatan, engkau dapat membaca-baca mata pelajaran yang mereka pelajari. Lalu bertanyalah bagaimana cara mereka memahaminya,” hiburku pada diri sendiri, ketika ia ingin sekolah lagi.

Scatzy adalah mahasiswa yang mengambil mata kuliah Jurusan Informatika. Sehingga hari ke hari, ia berkutik dengan angka-angka dan rumus-rumus yang rumit. Hi! Sungguh, saat membaca salah satu buku pelajarannya, aku tidak menemukan sebaris puisi atau kata-kata mutiara yang ku sukai.

“Hai, Scatzy, mana kalimat motivasinya, kok ga ada di sini?” tanyaku pada suatu hari. Ketika dalam sebuah kesempatan ku pinjam sebuah buku pelajarannya. Buku tebal penuh angka. Buku yang berhias rumus-rumus cantik, namun tidak mudah ku pahami. Sedangkan Scatzy hanya geleng-geleng kepala, menanggapi. Karena dia mengerti bagaimana aku adanya.

***

Perubahan sudah lumrah terjadi. Perubahan yang mungkin tidak kita sadari. Perubahan yang sangat berarti untuk kebaikan kita. Kita yang sedang meneruskan perjuangan. Maka, gemarlah memperhati perubahan. Lalu bergabunglah dalam perubahan yang terus berlangsung. Supaya bisa maju, berpikiran terbuka dan menjadi kesempatan terbaik untuk mengenal dunia. Dunia yang menghadirkan perubahan demi perubahan untuk kita. Karena zaman terus berubah. Tanpa kita sadari, dalam perubahan tersebut ada ketidaknyamanan. Maka, bagaimana menyikapinya?

“Kalau kita menyikapi perubahan dengan melihat sisi baiknya, maka kita bisa maju. Namun kalau tidak dapat memperhati kebaikan di dalamnya, kita akan selamanya begitu. Masih seperti diri kita yang lalu,” begini  nasihat berikutnya yang ku terima, tepat hari ini. Ketika teman baikku yang lain, masih memberikan waktunya untuk menitipku sebulir nasihat. Nasihat baik yang ku abadikan sepanjang kebersamaan kami. Bertemu dengannya dalam sehari, ada saja yang ia titipkan. Walau pun pertemuan kami tidak lama. Namun, kualitas dari pertemuan yang sangat ia kedepankaa.

Wahai, terima kasih teman, untuk masih ada menjadi bagian dari hari ini ku. Terima kasih untuk segala kebaikan yang engkau berikan walau tidak terlihat mata. Namun saat engkau beraikan nasihat demi nasihat untukku, teringatku lagi pada ibunda. Ya, ibunda yang pernah berpesan begini, “Semoga kebaikan demi kebaikan menyertamu, Nak,… di manapun engkau berada. Saat engkau jauh di sana, jauh dari ibunda.”

Hingga saat ini, pada hari-hari ini, aku masih dan selalu bersyukur. Karena masih ada orang-orang baik di sekelilingku. Mereka yang mau mengingatkan saat ku terlupa. Mereka yang  mungkin tidak pernah menyangka, bahwa mereka adalah jawaban dari doa-doa ibunda untukku. Mereka yang menjadi bagian dari harapanku. Mereka yang berjasa, walau tidak tertulis namanya. Semoga kebaikan senantiasa menyertainya.

Meski kelak kami tidak lagi dapat bersama-sama seperti hari ini, di sini, di tempat yang sama. Karena adanya perubahan yang meneriaki, supaya berpindah, bergerak, dan terus berkembang. Maka, ku ingati beliau ketika kami berjauhan raga, sebagai sahabat sejati. Sahabat yang tidak terlihat mata, namun sering hadir dalam ingatan. Karena beliau, mereka semua, pernah menasihatiku dengan kebaikan dari hati, sepanjang kebersamaan kami.

Terima kasih, untuk kehadiranmu dalam hari-hariku. Apakah karena aku yang datang padamu, atau engkau yang datang padaku. Sungguh, berterima kasihku padamu, karena setia berbagi. Walau secuplik kisah tentang perjalananmu di masa-masa penuh perjuangan.

Yah, saat engkau belum seberjaya ini. Engkau mau bercerita, betapa semua ini tidak engkau dapatkan dengan mudah. Semua engkau perjuangkan. Lalu, engkau berbagi tips dan nasihat untukku juga.

Senang bersama denganmu, wahai teman yang baik… 🙂

Walaupun kita tidak sebaya, engkau tidak menunjukkan bahwa engkau lebih. Namun dengan duduk bersama saling bersenyuman, rela sekali engkau berbagi. Berbagi nasihat untuk ku abadi.

Ah, engkau barangkali tidak tahu. Nun jauh di dalam lubuk hatiku, terselip senyuman untukmu. Senyuman yang mirip dengan senyumanmu, tadi. Senyuman yang tidak henti engkau tebarkan, mensenyumkanku saat ini. Tepat saat ku ingat, ekspresi wajahmu yang berseri-seri. Karena engkau senang bisa berbagi….

“Keberadaanku saat ini, di sini, untuk berbagi…,” jelasmu pada suatu hari.  Aku pun terinspirasi untuk meneladanimu. Ku petik kebaikan darimu untuk ku bagi. Sedangkan yang sebaliknya, ku simpan rapi di dalam memori. Sebagai ingatan, bahwa engkau juga manusia bukan malaikat bersayap.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s