Kasih Ibu Sepanjang Jalan

Aku kembali ingat dan tersadar,

engkau masih ada berdoa untukku,

maka meneteslah airmataku pelan,

membasahi pangkuan,

Terima kasih Ibu untuk kesabaran dan ikhlas doa yang engkau kirimkan,

Mengembalikan pengabdian sepenuhnya dengan seluruh ketundukan. Memberikan pelayanan sesungguhnya dengan seluruh ketulusan. Ketika ku lelah… engkau menguatkan. Saat ku lemah… engkau menggerakkan. Melalui doa-doamu yang terus engkau kucurkan, membasahi ruang ingatan. Sehingga pantas saja kalau airmataku menetes setiap kali ingatan padamu hadir dalam pikiran. Jelas saja gemuruh menderu di ruang hatiku, saat kebersamaanku denganmu menyapanya, lagi.

Sejenak ku tertegun, membersamai ingatan dan kesadaran. Bahkan ku tidak sempat bergerak selain hanya terdiam. Diam bersama pikiranku, tenang dengan kehadiranmu dalam ingatan.

Ya, engkau kembali hadir dalam ingatan, menyerupai sekelopak bunga yang sedang mekar. Engkau membawa semerbak untuk ku hirup dengan penuh penghayatan. Selebihnya, waktu-waktu kita habiskan bersama tanpa mengenal lagi keadaan. Tenggelam dalam ketenteraman, keteduhan dan kesejukkan.

Damai bersamamu ku rasakan, walau dalam ingatan.

***

Aku masih dan sedang berjalan meneruskan perjuangan dalam kehidupan. Aku terus menanya diri dan keadaan. Bagaimana bisa kita masih belum bertemuan? Padahal, kawan-kawan dan teman sudah menemani sobat hebatnya untuk melanjutkan langkah bersama. Sedangkan kita, masih saja berjuang dengan segala keadaan dalam kondisi berjauhan. Jauh dalam kenyataan. Kenyataan yang sama-sama kita perjuangkan. Engkau teman baikku. Doa ibuku juga ada untukmu, kawan.

Haaaaaai, terkadang ingatan membuatku mau memberai bulir-bulir permata kehidupan seperti ini. Supaya ia menyejukkan wajahku lagi. Gapapa, khannnn…? Tapi yakinlah bahwa keadaan ini hanya berlangsung sebentar saja, kok. Selanjutnya, aku siap melanjutkan perjalanan lagi, bersama senyuman. Seperti saat ini, aku sedang tersenyum mengingatmu. Ingatan yang hadir, sebagai pencerahku. Supaya ku tidak larut dengan perasaan yang ku ciptakan sendiri.

Lagi pula, kita memang tidak dapat dipisahkan dengan kesenduan, bukan? Maka, sendulah aku saat ingatan bermunculan. Apakah ingatan padamu yang jauh dari kenyataan. Kenyataan yang sedang ku jalani. Apalagi ingatan terhadap beliau-beliau yang sangat ku sayangi. Beliau yang jauh di mata dan untuk saat ini, kami berjumpa di dalam doa saja.

Ingatan yang membuatku menggenggam jemari erat-erat, lalu ku kepalkan lebih kuat. Kemudian menariknya ke atas menghadap matahari sambil meneriakkan kalimah penghebat jiwa, “Allahu Akbar” dengan lantang. Selanjutnya ku pandang matahari yang bersinar cemerlang. Ia yang tersenyum padaku, mana bisa tidak ku senyumi balik? 

Masih dengan sisa-sisa airmata di pipi, ku berteguh-teguh melanjutkan perjalanan. Bersama senyuman yang awalnya berat ku tebarkan. Lama kelamaan menjadi semakin ringan menghias wajah. Ditambah lagi, beliau yang ada di sekitarku pun tersenyum. Senyuman yang menjadi penerang pikiran. Senyuman ibu dalam ingatan.

Aku mulai berpikir jernih, setelah sebelumnya meluahkan perasaan. Yah, rasa rindu yang hadir saat mengingatmu. Engkau, siapa engkau yang ku rindu?

Tidak terlihat mata, namun engkau ada. Tidak terdengar telinga, namun engkau bersuara. Tidak, sekali lagi tidak. Aku tidak akan sedih lama-lama. Sedihku sebentar saja. Tenang… Aku mulai menyikapi keadaan dengan berpikir ulang. Berpikir ulang sebelum tenggelam lama dalam lautan kesedihan.

***

Tidak banyak aktivitas yang ku lakukan saat liburan datang. Kecuali menyibukkan diri dengan kesibukan yang ku ciptakan sendiri. Seperti jalan-jalan ke toko buku, lalu singgah di masjid terdekat untuk menyulam rindu kepada-Nya. Ini untuk aktivitas outdoor. Kalau indoor, berkemas sekitar rumah dan memasak ala emak-emak.

Kemarin, ku libur dari aktivitas seperti hari-hari biasanya. Maka, kesempatan tersebut ku manfaatkan untuk bernostalgia dengan para sahabat di toko buku. Sebuah toku buku pun ku kunjungi. Kunjungan yang mengingatkanku lagi pada hari-hari penuh senyuman. Karena, dengan berada di sana, aku dapat bersapa dan bersama dengan beliau-beliau yang hebat. Kehebatan yang pernah ku bayangkan dalam ingatan. Ingatan yang mensenyumkan. Untuk dapat bersama-sama, menghabiskan waktu berdua. Berdua saja, aku dan dia. Maka, bercakap-cakaplah kami dengan santai, rileks dan sopan. Lebih sering, aku yang mendengarkan. Sedangkan yang berbicara adalah mereka.

Yes, dengan membaca, kita belajar menjadi pendengar yang baik. Lalu, bila saatnya tiba, menjadilah juga pembicara yang baik untuk para pendengar kita. Pembicaraan yang bernas dan ada yang pendengar bawa setelah bersama dengan kita. Pembicaraan yang mengena di dalam hati, karena kita berbicara dari hati.

***

Di masjid, aku pernah mengimpi berjumpa denganmu. Nah, ingatan ini yang mengembangkan senyuman di wajahku lebih cemerlang. Setiap kali aku melihat sebuah masjid, lalu ku mendekatinya. Rasanya, seperti sedang mendekat ke arahmu. Engkau yang ku rindu. Semoga impian menjadi nyata.

Ku langkahkan kaki selangkah demi selangkah. Meneruskan langkah-langkah tidak terlalu cepat, tidak juga pelan. Namun ku atur sesuai dengan kebutuhan. Sehingga tidak terlalu terburu-buru, namun menghayati setiap langkah.

Melangkahku, bukan di bawah payung. Walau perlahan gerimis turun sedikit demi sedikit dan kecil-kecil. Namun tidak membuat pundakku basah saat bersentuhan dengan tetesannya.

Berjalan, masih membawa rindu. Untuk ku beraikan sedikit demi sedikit, melalui doa. Berdoa di bawah hujan, berdoa memohon kebahagiaan. Memohon keselamatan di sepanjang perjalanan hingga sampai tujuan. Berdoa dalam berbagai keadaan, selepas hujan mereda. Berdoa dalam tangisan, saat airmata membasuh wajah. Berdoa ketika wajah cerah, secemerlang mentari tersenyum sumringah. Berdoa untuk mengubah takdir. Berdoa untuk kebaikan, agar senantiasa menaungi dalam perjalanan.

Selangkah lagi, mari bergerak. Bersatu dengan alam, menikmati semilir angin menepi di wajah. Sesekali menadahkan tangan ke arah langit, supaya gerimis menyejukkannya. Sesekali menengadahkan wajah, memperhati langit bermendung, kelabu. Aku semakin rindu. Rindu bersatu dengan harapanku.  Rindu, mentari bersinar lagi. Bersinar cerah, mensenyumi alam. Mensenyumiku.

Kerinduan yang hadir dari waktu ke waktu, berulang dan terus saja begitu. Kerinduan yang mengajakku mendekat, karena ada yang menarikku untuk mendekatinya. Kerinduan yang mengembalikan ingatanku pada kebaikan-kebaikan yang ku perjuangkan. Kebaikan yang tidak mudah melakukannya. Karena pasti saja ada godaan dan kendala.

Apakah karena keimanan yang turun naik dan jalannya berliku-liku, juga tidak selalu datar?

Ku sering mencoba menguatkan tekad untuk bisa bangun dini hari. Lalu ku pasang alarm supaya ia berdering. Namun saat ku terbangun oleh deringnya, godaan datang menggerakkan jemariku untuk menekan tombol offIiiiccch, sepenuh kesadaran. Tanpa rasa menyesal. Padahal saat ku menyetel alarm dalam kesadaran penuh, bersama tekad untuk bangkit dan kemudian bergegas bergerak. Namun, lagi dan lagi,… aku kalah. Tapi, akankah selamanya kekalahan menyerang?

Bukankah masih ada kesempatan untuk bersinergi dengan kemauan?

Selalu saja begitu. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Meski jalan berliku, walau berbelok-belok. Sekalipun tidak selalu mulus jalannya, namun kalau ada kemauan, ada kesempatan, rengkuhlah erat membersamaimu dalam perjalanan. Bagaimana caranya?

Awalnya, milikilah dulu kemauan, terhadap apapun yang ingin engkau lakukan. Miliki kemauan dengan niat yang bulat. Untuk apapun yang engkau mau. Maka, sepanjang perjalanan mewujudkannya, pasti ada godaan… Pasti ada yang meragukan keyakinan, pasti saja ada cobaan. Tapi, kalau kemauanmu sudah kuat, engkau dapat mencari bantuan. Bergeraklah. Melangkahlah. Dengan kemauan. Berdoalah, minta pertolongan, memohon kemudahan.

“Engkau tidak dapat melakukan semuanya sendiri,” begini salah satu kalimat bening yang pernah ku dengarkan. Kalimat yang berasal dari suara seseorang di sana. Kalimat yang mengingatkanku pada perjalanan hidup ini. Bahwa kita tidak dapat melakukan semuanya sendiri. Oleh karena itulah, sebagai makhluk sosial kita membutuhkan orang lain.

***

Selepas menghabiskan berjam-jam di toko buku, aku pun mampir di masjid terdekat. Tujuannya adalah untuk shalat Zuhur. Adzan pun berkumandang, beberapa menit setelah ku sampai. Kemudian, mendirikan shalat berjamaah. Selanjutnya, kami melingkar untuk menyimak kajian siang ba’da Zuhur.

Di masjid ar Rahman aku berada. Ketika rintik hujan semakin ramai. Gerimis yang turun ke bumi terus berkelanjutan. Sehingga, kesejukkan menaungi sekitar. Damai. Tenteram.

Kajian bermula dengan menerima tiga pertanyaan dari beberapa jamaah. Selanjutnya, mufti masjid memberikan jawaban sekaligus pemaparan tentang masalah yang jamaah tanyakan. Adapun pertanyaan yang muncul yaitu tentang bagaimana memberikan “Pendidikan Terbaik terhadap Anak?”

  1. Mendoakan kebaikan untuk anak sepanjang usia, dengan sabar… selalu…
  2. Menjadi suami soleh/istri solehah dan meneladankan pada anak nilai-nilai agama sejak dini (untuk dapat membedakan baik/buruk, halal/haram)
  3. Memilih lingkungan terbaik sebagai tempat tinggal sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak
  4. Memperhatikan pergaulan anak dalam keseharian
  5. Memilihkan pesantren yang terbaik tingkat disiplinnya agar anak-anak kita terjaga saat menempuh pendidikan di luar rumah

@kajian ba’da Zuhur masjid Ar Rahman 28-03-2017 yang mensenyumkanku. Karena kalau tidak mampir di sini, aku tidak dapat membersamai para orang tua yang ‘gemas’ dengan perilaku anaknya. Lalu bertanya, bagaimana menyikapi mereka? 

Sang mufti memberikan percerahan dengan sangat memukau. Walaupun hanya terdengar nada suara beliau, namun sangat jelas bahwa beliau sangat prihatin dengan kondisi anak-anak zaman sekarang dengan segala keadaannya. Apakah kemewahan yang orang tua berikan sebagai tanda sayang pada anak-anak. Termasuk juga pergaulan dengan teman-teman yang ‘dapat saja’ memberikan pengaruh tidak baik bagi masa depan anak-anak. Namun orang tua yang peduli dan benar-benar menyayangi anak-anaknya, memberikan pendidikan terbaik sejak dini. Sejak dini… bahkan sebelum menjadi orang tua, mereka sudah mempersiapkan dirinya untuk menjadi orang tua terbaik bagi anak-anaknya.

“Sabar dan ikhlas, yaa… dalam mendoakan,” tutup sang Mufti di ujung pencerahan beliau tentang memberikan pendidikan terbaik pada anak.

***

Dalam sehari, ada banyak orang yang kita ajak berinteraksi. Apakah kita sapa atau senyumi, apakah kita bantu atau membantu kita. Pasti ada saja. Apakah yang kita kunjungi atau mengunjungi. Apakah kita bertanya padanya, atau mereka yang bertanya pada kita. Sehingga menjalani kehidupan ini dengan beranekaragam penerimaan atau penolakan, juga tidak dapat kita pungkiri lagi. Semua adalah bagian dari kisah perjalanan. Maka, ketika kita menemukan kebahagiaan dalam berinteraksi dengan orang lain, kenanglah ia sebagai jalan kebaikan dari-Nya. Begitu juga sebaliknya, jadikan ia sebagai pengingat kita kepada-Nya. Atas kesedihan yang ia titipkan pada ruang hati kita. Semoga, dengan sering berinteraksi dengan sesama, ataupun makhluk hidup dan benda mati, kita semakin sering teringat kepada-Nya.

Ingatan yang semoga berbuah ketenangan di dalam hati.

Suatu hari nanti, ku menjadi orang tua juga. Maka, persiapan apakah yang ku lakukan sejak dini untuk mendidik anak-anak kami dengan pendidikan terbaik? Sesiap apakah aku menjadi orang tua yang menggenggam tanggungjawab untuk memberikan pendidikan terbaik pada anak-anak?  Karena anak adalah amanah, maka tanggungjawab orang tua ada untuknya.

Beruntunglah orangtua yang ‘sukses’ memberikan pendidikan terbaik pada anak-anaknya. Karena anak-anak adalah investasi akhirat bagi orang tuanya kelak. Anak shaleh yang mendoakan orangtuanya, menjadi amal yang tidak akan terputus pahalanya, terus mengalir pada orang tua.

***

Usia kita di dunia, tidak selamanya. Mungkin anak kita seorang atau dua orang saja. Bahkan ada yang tidak Allah titipkan anak-anak padanya. Nah, walaupun tidak mempunyai anak-anak, masih ada aliran amal yang tidak akan terputus pahalanya meskipun kita sudah tiada, yaitu pahala dari sedekah jariyah dan ilmu bermanfaat yang kita tebarkan. Semoga segala yang kita kerjakan, senantiasa dalam rangka memberi manfaat bagi sekitar. Sehingga tidak tersia segala gerak, tidak terpercumakan segala niat. Apakah sebagai anak atau sebagai orang tua yang mempunyai anak-anak untuk kita shaleh/shalehahkaan, yaaaa…

Senyuman hangat dari ku untukmu yang walau tidak terlihat, namun teringat. Siapa-siapa saja, di mana-mana berada. Senang bersama, suka berbagi cerita. Gemar berbagi, sudilah kiranya mengingatkan diri ini, saat ia masih asyik dengan pikiran sendiri. Sedangkan di sana, jauh di luar sana, masih banyak yang berlelah payah memberikan kontribusi di bumi. Mohon doanya yaaa, selalu yang terbaik, walau kita tidak saling mengenal.

My SuryaSaat doa-doamu terijabah terhadap saudaramu yang lain, jangan pernah merasa berjasa karena telah mendoakannya. Karena bisa jadi, kebaikannya sungguh sangat melimpah. Sehingga doamu untuknya menambah kebaikan baginya. Kebaikan yang akan kembali padamu, lama atau segera.

Yakinlah bahwa doamu untuk saudaramu adalah untukmu juga.

***

Ibu yang sabar dan ikhlas, selalu mendoakan yang terbaik untukku. Lalu beliau mengingatkan bahwa aku juga harus bergerak dan berusaha. Tidak cukup dengan doa yang ibu kirimkan saja. Karena akan “Seperti pasir jatuh di buluh, tidak menempel, namun berjatuhan,” begini beliau mengibaratkan. Kalau beliau saja yang selalu mendoakanku agar tercapai harapan dan impianku. Sedangkan aku tidak bergerak seiring dengan harapanku dan doa beliau.

Nah, ingatan pada barisan kalimat tersebut juga yang memberiku kekuatan di saat lemah. Ingatan untuk segera bangkit, ketika ku terpuruk terjatuh. Ingatan tentang sinergi antara pendoa dengan yang didoakan. Sinergi antara yang memberi dan yang terberi.

Wahai, kita tidak dapat melangkah sendiri. Untuk mencapai segala yang kita ingini. Karena ada banyak peran untuk kita. Mulai dari orang-orang yang turut berkontribusi dalam langkah-langkah kita, bahkan diri kita sendiri. Seperti orang tua yang tidak pernah melupakan kita dalam doa-doa beliau.

Walau kita tidak bersama dengan beliau dalam setiap langkah-langkah. Akan tetapi yakinlah bahwa, doa beliau ada di balik semua kebahagiaan yang kita rasakan. Pun, kalau kita bersedih, beliau juga turut merasakannya. Karena kita adalah anak-anak ibu dan ayah kita. Beliau merawat dan mendidik kita sejak kecil hingga akhir usia beliau. Beliau yang rela lelah berpayah-payah untuk menggaris sehelai senyuman pada wajah kita. Beliau yang mau berkorban untuk membahagiakan kita.

Yah, kita adalah anak-anak orang tua kita. Bukan putera matahari yang terbit setiap pagi. Maka, ingatlah bahwa kita tidak langsung segede ini dan tumbuh begitu saja. Semoga kita ingat, sebelum marah-marah pada beliau. Saat ada permintaan beliau yang berada di luar pemikiran kita. Semoga kita mau bersabar menghadapi beliau yang kita anggap ‘rewel’, tidak mengerti keadaan kita. Sebelumnya, ingatlah kita yang ‘rewel’ ketika kecil, tidak pandai apa-apa.

Ai! Aku menyayangkan, sungguh prihatin. Saat masih ada anak-anak yang mau bersuara lebih tinggi dari orangtuanya. Tidakkah mereka melihat luka hati orangtuanya, di sana?

Sadarkah kita bahwa hanya dengan sehelai benang kata yang kita ucapkan, mampu meruntuhkan airmata beliau?[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s