Emak Punya Cerita

Anak Amak.jpg

Kembali dari perjalanan panjang yang mengesankan. Ku ingin rehat sejenak di pemberhentian ini. Untuk menitipkan sebuah kisah. Kisah tentang kita yang tidak pernah henti dan menyerah. Karena maunya melangkah lagi dengan semangat demi melanjutkan perjuangan. Setelah kegagalan sempat menyapa.

Haii! Hari ini ada saja celah untuk mencari-cari cara menemukan secuplik kisah mensenyumkan, kawan.

Hari ini adalah hari yang indah. Sangat indah, bahkan. Keindahan yang tidak indah kalau hanya terucapkan. Sehingga ku selalu saja ingin mengabadikannya dalam tulisan. Tulisan singkat sebagai pengingat. Bahwa ku pernah ada di hari ini. Ini tentang pengalaman gagalku. Gagal karena kurang cepat. Gagal karena ‘mungkin’ ini yang terbaik. Kebaikan yang ku intip-intip agar terlihat. Supaya dapat ku petik hikmahnya.

Senin ini, dibuka dengan gerimis sejak dini hari. Gerimis romantis yang menetes pelan di atap. Tetesan demi tetesan yang menghasilkan nada-nada menenteramkan. Sehingga membuat pikiran menjadi terbuai oleh suaranya yang sampai ke telinga. Ketenteraman yang akan menghanyutkan, kalau raga tidak bangkit, berjalan, dan melangkah lagi.

Lalu, ku melanjutkan perjalanan sejak pagi. Lebih awal dari biasanya. Tujuannya adalah untuk jalan-jalan… “Yeesss! Jalan-jalan lagiiii  😀

Bahagia berada di sini. Setidaknya, dua kali sebulan ku dapat jalan-jalan untuk memperhati situasi, pada jam-jam sibuk. Sehingga kesempatan ini ku manfaatkan untuk melihat lebih banyak, mendengarkan lebih sering, merasakan lebih dari yang ku rasa.

Bahagia karena waktu memberiku kesempatan untuk belajar lagi dengan adanya perjalanan yang ku tempuh. Perjalanan yang pasti saja ada kenangannya, pengalaman atau pengetahuan baru. Boleh ku petik sebagai oleh-oleh ketika ku pulang nanti. Sebagai bahan cerita tentang pengalaman selama di perantauan.

Perjalanan pagi ini ku tempuh di bawah gerimis. Gerimis yang sangat imut dan halus. Sehingga saat berada di antara tetesannya tidak akan membasahi. Maka, ku tidak perlu pakai payung.

Melangkahlah aku dengan melodi yang ku ciptakan sendiri. Sesekali melirik ke belakang, kiri dan juga kanan. Lalu detik berikutnya fokus menatap ke depan, mengangkat dagu sejajar dan memasang wajah penuh senyuman. Senyuman sebagai bukti bahwa ku bersyukur melanjutkan perjalanan lagi.

Melangkah lagi, berjalan pasti. Hingga sampailah aku di halte tempat menunggu bus yang akan ku tumpangi.

Aku sudah ada di jembatan penyeberangan, saat satu bus datang. Maka, ku berusaha mempercepat langkah, supaya dapat ikut dengannya.. Melangkahku dengan gegas, menambah kecepatan dari sebelumnya. Namun ku kalah cepat dengan waktu. Sehingga, kegagalan menjadi temanku tersenyum sejak pagi ini. Gagal ikut dengan bus tersebut. Karena tepat saat ku sedang menuruni tangga jembatan penyeberangan, bus sudah melaju. Huhuuu… Ketinggalan dech aku. Jadi, ku mesti menunggu bus selanjutnya yang akan membawaku pada tujuan.

Tidak mau menunggu, ku ingin melangkah saja. Maka, melangkahlah aku menuju halte berikutnya. Jaraknya tidak jauh dengan halte tempat ku berada pertamakali. Setelah ku berjalan menuju ke sana, ternyata menguras energi juga.

“Iya, tidak mengapa. Dari pada duduk-duduk begitu saja, memandang laju kendaraan, lebih baik melangkah seperti ini,” bisikku pada diri sendiri. Supaya ia mau melanjutkan perjalanan lagi. Ah, dasar kurang kerjaan, yaa…?  Padahal duduk di kursi halte, menunggu saja apa sulitnya?

Walau menguras energi dan menghasilkan keringat berlebih di sekitar wajah, namun aku lega dan bahagia. Karena di sepanjang perjalanan menuju halte berikutnya, ku dapat melihat pemandangan-pemandangan baru. Pemandangan yang tidak pernah ku bayangkan. Pemandangan yang mungkin tidak akan pernah ku lihat, jika ku hanya duduk-duduk manis di halte. Pemandangan tersebut menjadi jalan hadirnya syukurku lagi.

Ya, aku bersyukur saat melihat beberapa orang tertidur pulas di depan ruko-ruko yang berjejer. Mereka sepertinya kelelahan dan memilih tidur di sana sampai pagi. Hingga ku memperhatikan mereka ketika berjalan. Sedangkan aku, tadi malam masih dapat tidur di bawah atap yang menaungi. Tidak di tempat terbuka dan atau di depan ruko seperti mereka.

Bersama syukur, ku melanjutkan langkah-langkah. Masih dalam perjalanan menuju halte, ada pemandangan lain lagi yang baru. Pemandangan yang menambah syukurku. Bersyukur karena masih bisa melangkah hari ini. Untuk jalan-jalan menikmati alam. Sedangkan orang-orang yang ku perhati, mereka berjibaku mengangkat beban-beban yang ada di pundaknya, ada juga yang mengayuh becak untuk mengais rezeki.

Tidak terlalu lama berjalan, sampailah aku di halte yang ku tuju. Masih beruntung, karena beberapa langkah lagi sebelum sampai, aku melirik ke belakang, kalau-saja bus sudah mendekat. Dan benar, terlihat bus hampir sampai di halte. Maka ku harus berlari dan atau berjalan lebih cepat, supaya sampai di halte bersamaan dengan bus. Alhasil, tidak ketinggalan bus kedua kalinya. Pesan: Sukses belajar dari pengalaman gagal. Bonusnya memperhatikan pemandangan di sepanjang jalan yang menambah syukurku hari ini.

Setelah duduk manis di dalam bus, ku ingat hikmah yang dapat ku petik :

Seperti halnya perjalanan hidup ini, begitu juga dengan perjalanan tadi. Perjalanan yang mengingatkanku pada berbagai jendela kesempatan untuk ku rengkuh. Jendela-jendela yang mengharuskanku bersuara, menyapa, atau melihatnya. Lalu mendekatinya segera, sebelum ia berlalu. Bukan hanya asyik dengan langkah-langkah ringan yang ku ayunkan tenang. Bukan juga senang dengan kenyamanan yang menaungi. Kalau ingin cepat sampai di tujuan, mesti bergerak lebih cepat juga. Kecuali hanya menikmati perjalanan dan tidak mempunyai tenggat waktu mencapai tujuan.

Karena selama ini yaaa begitu, tidak ada deadline mendesak yang membuatku harus berkejaran dengan waktu. Dan pagi ini ku diingatkan lagi dengan episode ketinggalan bus, “Deg! Hatiku langsung berdetak.” Membuatku tidak mau duduk saja setelah ia meninggalkanku. Makanya, ku memilih bergerak dan berjalan-jalan pagi menjemput kemewahan yang pagi hamparkan untuk ku perhati. Sambil menunggu bus selanjutnya. Sambil menyampaikan pada diri, “Jangan sampai ketinggalan lagi. Yakin sampai di halte, sebelum bus berikutnya datang.”

Terkadang untuk membuat diri bergerak, kita memang harus ‘kejam‘ padanya. Jangan biarkan ia terhanyut oleh situasi dan keadaan. Namun beri ia peluang untuk bersinergi dengan waktu. Untuk berjibaku dan bersaing dengan dirinya sedetik yang lalu.

***

Urusan telah usai, selanjutnya aku pun kembali. Kembali berada di naungan atap yang ku sebut “Sukses” tercinta. Sukses yang sampai saat ini membuatku nyaman bersamanya. Karena ia menjagaku dari terik panas mentari, melindungiku dari guyuran hujan membadai. Dalam ruang sukses, aku masih dapat tersenyum. Mensenyumi pengalaman gagal, yang telah berlalu. Mensenyumi kenangan yang ku tinggalkan. Memberi ruang pada diriku untuk bersyukur dengan keberadaanku di sini saat ini. Termasuk syukur yang hadir karena masih dapat membersamaimu, di sini.

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

1 thought on “Emak Punya Cerita

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close