My Surya

Selamat hari ini. Mari kita semangat lagiiii… 😀

“Lelah kemarin telah usai. Capek itu kemarin. Sekarang, segar lagi. Hari ini semangat lagiii, melangkah lagi dengan sepenuh hati. Sesungguh-sungguhnya diri.”

***

Sore hari kemarin. Aku sedang melangkah menatap ke depan, terkadang menunduk. Tiba-tiba sebuah sapaan mengalihkan perhatianku dari langkah-langkah. Sapaan yang membuatku bertanya pada diri, dalam langkah-langkah di sepanjang jalan berikutnya. Jalan-jalan sore menuju pulang dan aku terlihat capek, yaa…?

Iya, iya, aku capek. Capek setelah seharian beraktivitas dengan segala suka dukanya. Beraktivitas dengan aneka warnanya. Beraktivitas dengan cerita-ceritanya yang menyisakan nostalgia untuk ku kenang.

***

“Dari mana, Kak?” aku mendengar jelas suara seseorang bertanya. Secepat kilat ku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Untuk memperhatikan apakah ada orang lain di belakangku? Oh, ternyata tidak ada. Berarti pertanyaan tersebut beliau tujukan padaku. Suara tersebut berasal dari seorang pemuda. Beliau sedang berdiri di anak tangga menuju tower masjid.

“Oo, dari sana,” jawabku seraya mengangkat tangan kanan sejajar bahu dan mengarahkan telunjuk ke belakang. Lalu badanku sedikit berputar mengikuti arah pandangan yang menoleh ke arah sama. Aku berusaha bisa tersenyum, tapi wajahku berat. Mungkin senyumanku hanya di dalam hati.

“Capek kali tampaknya,” ia menambahkan. Tanggapan berikutnya yang ia sampaikan, membuatku senang karena ia tahu kondisiku.

Mengakui keadaan, ku sampaikan saja begini, “Iya, aku lelaah…” (Ah, andai dia tahu, hari ini ku memang tidak enak badan)

Percakapan berlangsung tanpa aku menghentikan langkah. Namun hanya memperlambat saja. Karena sejak tadi, gerak langkahku memang berat. Tapi masih ku usahakan bergerak sedikit demi sedikiiit. Karena ku ingin segera sampai di tujuan, lalu merebahkan badan. Maunya rehat dan baring-baring melepas lelah setelah sampai nanti.

Di perjalanan, ku nikmati langkah-langkah seraya memperhatikan sekitar, memandang jalan, menatap sepoi angin meniup dedaunan dan mengangkat wajah menengadah langit. Sore yang cerah bermentari di ufuk timur Barat, membuat kondisi alam menjadi lebih hidup. Ini yang terjadi sebelum kami bertemu. Pertemuan kami di jalan samping masjid yang ku lewati dan di sana ada dia. Siapakah dia? Entah siapa dia dan dirinya, aku tidak menanya.

Malam hari kemarin. Meski raga terlelah terlihat mata, namun jiwa semakin bergiat memperjuangkan tekadnya. Sekalipun suara yang keluar mulai memudar tersebab alasan kesehatan yang mencoba menjauh, namun jiwa masih bersuara untuk menyampaikan bahwa ia masih ada. Maka, sepanjang malam di awal-awalnya, kami riuhkan keheningan dengan cuplikan-cuplikan kisah yang kami rangkai, lagi. Yaitu kisah kebersamaan kami yang sangat sayang untuk kami biarkan berlalu tanpa mengabadikannya.

Yah, tidak seperti biasanya, tadi malam menjadi malam yang berbeda. Malam yang tidak mau berlalu dan pergi begitu saja, tanpa senyuman. Hingga teriak-teriak ga jelas pun sukses memperlihatkan eksistensinya sepanjang waktu kebersamaan kami. Apakah yang terjadi? 

Lagi dan lagi. Sesuatu yang baru dan pertama kali ku alami atau ku temui, menitipkan kesan tersendiri di dalam hati. Pengalaman pertama berikutnya yaitu, bermain bersama kawan-kawan di tengah sunyi. Sunyi yang tidak lagi sunyi sebagaimana adanya. Namun sunyi yang sudah berganti keramaian. Ramai yang kami ciptakan, karena ngantuk engga kunjung datang. Sehingga, biasanya ku berangkat tidur cepat sekali bahkan sangat awal, kini berbeda. Jadual tergeser oleh rasa penasaranku. Penasaran atas penawaran seorang teman.

“Haii, kita main ‘Ludo’, yuuu,” sapa seorang teman berwajah oriental berkulit putih.

“Apa itu? Sejenis apa permainannya?” tanggapku yang sejak tadi baring-baring cantik di ruang tengah.

“Ini lho,… begini… begini…,” jelasnya sambil memamerkan sebuah aplikasi di android canggihnya.

“Aaaa, seru kayaknya. Boleh, boleh kita mainkan, yuuu. Aku mau coba jugaaaa…,” jiwa anak-anakku datang menyerbu. Sedangkan teman-temanku geleng-geleng saja. Dia memahamiku. Aku suka.

“Sippp,” tanpa banyak bicara, si cantik mulai memperagakan caranya sebelum kami bermain sungguhan. Selanjutnya, aku dan dua orang teman pun sibuk bertempur.

Aku siiiih, mau main karena pengen coba hal baru yang sebelum ini tidak pernah ku lakukan. Dan ternyata, bermain itu menyenangkan, yaa. Mengembalikan kami ke masa kecil yang mana, ‘masa kecilku’ kurang bahagia ini. Hihiii. Namun ku percaya bahwa, “Semua ada masanya. Maka, bahagialah aku dengan caraku, di masa kini, di hari ini yang jelas sangat mengesankan.

Pada jam berikutnya, bertambah satu orang pemain lagi. Jadi lengkaplah pemainnya empat orang sesuai kotak ludo. Kami sibuk mengatur strategi ‘cantik’ masing-masing.

Lama kami bermain, asyik mempertunjukkan strategi dan kejelian serta trik-trik menumbangkan lawan. Di sini ku belajar, tentang sebuah kenangan baru. Kenangan tentang permainan. Bahwa yang namanya permainan, memang mesti dan harus menyenangkan. Bermain itu membahagiakan. Makanya, sepanjang waktu bermain kami, ku sangat menikmatinya. Begitu juga dengan teman-temanku yang baik. Ia membahagiakanku dengan cara mereka. Aku juga sama. Membahagiakan mereka dengan caraku, membuatku tersenyum bahagia.

Pesan dari main ludo online (bukan sepanjang malam, karena ujung-ujungnya kami ngantuk juga, membawa hikmah dari permainan menuju alam bertabur mimpi)  : “Tidak selalu yang kalah selamanya kalah dan tidak selalu yang menang selamanya menang. Karena selagi bergerak dan mempunyai perencanaan serta keyakinan, maka kemenangan ada dalam genggaman.”

“Horeeeee. Aku menangggg, tapi teman-temanku juga pernah menang. Kemenangan terjadi ketika kami sukses mengumpulkan/mengirimkan semua anak-anak (panggilan untuk kotak-kotak warna-warni) lebih awal ke dalam istana (ujung tanda panah) dan memperoleh mahkota sebagai ‘the winner’. Sepanjang permainan berlangsung, kami menang bergiliran. Hehee. Peace, girls! This play just for our fun. Thank you for all kindness.”

Pagi hari ini. Aku sedang duduk manis di bawah naungan atap yang ku sebut ‘Sukses’ tercinta. Duduk tidak jauh dari kipas angin untuk menetralkan suhu tubuh setelah berjalan jauh, tadi. Perjalanan yang menyisakan keringat di sekitar wajahku. Keringat yang muncul lagi dan lagi setelah ku seka. Sehingga, memperhatikan terbitnya keringat, menjadi pemandangan paling menenangkanku akhir-akhir ini.

Selain duduk manis, sesekali ku melayangkan pandang ke depan. Jauh ke ujung sana. Untuk ku perhati segala perubahan yang ada. Untuk memperhati gerakan orang-orang yang bergiat meneruskan perjuangannya. Mereka yang mempunyai tujuan. Mereka yang melanjutkan perjalanan. Seperti saling berkejaran, namun mereka tidak kejar-kejaran. Karena mereka sama-sama mempunyai harapan untuk mereka capai, kali yaa. Maka sebagai pemerhati, ku lihat mereka saling mendahului. Itulah pemandangan pagi yang ku perhatikan hampir setiap hari. Memandang kendaraan yang melaju di jalan raya. Jalan yang sangat dekat dengan kami. Sehingga, aku pun terinspirasi untuk meneruskan perjalanan lagi di sini. Walau sedang duduk manis begini. 😉

Sesekali, setelah melayangkan pandang ke depan, ku perhatikan lembar bercahaya di depanku. Di sini juga ada orang-orang yang giat bergerak. Ada yang berjalan, lari-lari kecil, atau duduk-duduk santai menikmati masa tua yang cerah. Sesekali berikutnya, ku melihat ke depan lagi. Sesekali kemudian, menekuni rutinitas pagiku yang menyenangkan.

Nah, sesekali berikutnya ku memandang ke depan lagi. Tiba-tiba ada sosok rupawan mendekat. Ia membawa aura positif yang membuat penglihatanku semakin terang. Ia membawa kesegaran yang memberiku kesejukan tambahan. Seraut wajah yang tanpa senyuman di wajah, memang.  Namun dari sorot matanya ada kepercayaan diri yang hebat. Ya, karena ia berjalan tegap, tidak menundukkan wajahnya. Seseorang yang melangkah dengan mantab.

Ku sambut kedatangannya tanpa bertanya, namun menampakkan ekspresi ‘Welcome’  dengan kehadirannya melalui wajah. Begitu juga dengan tatapan mataku yang bertanya. Seperti mengetahui bahwa aku mempertanyakan kehadirannya, ia segera mengeluarkan suara setelah semakin dekat denganku.

“Saya dari . . . mau . . .,” sebuah perkenalan ia sampaikan sekaligus permintaan.

“Ooke, silakan . . .,” lalu kami bertransaksi dengan elegan.

Tidak berapa lama kemudian, kami berpisah lagi. Ku mengantarnya keluar dari pintu sampai hilang dari pandangan, bersama senyuman yang terbit tidak hanya di wajah, namun juga bola mataku. Sampai akhirnya tidak terlihat oleh pandangan. Karena ia perlu meneruskan perjalanan, melanjutkan perjuangan.  Ia yang baru datang, sudah pergi lagi. Seperti waktu yang terus melaju.

“Selamat jalan kawan, selamat hari ini. Semoga perjalananmu berhias kesuksesan dan kebahagiaan, yaa. Sampai berjumpa lagi, kapan-kapan,” gumamku pelan. Gumam yang tidak mungkin terdengar olehnya, karena ia sudah berlalu, menjauh.

Siang hari ini. Ku melanjutkan aktivitas bersama seluruh kesungguhan yang ku mampu lakukan. Kesungguhan untuk menuntaskan yang perlu ku selesaikan. Kesungguhan dalam menggerakkan diri. Supaya ia mau melangkah lagi. Daaaaaaan, di antara aktivitasku yang tidak lagi sunyi, ada yang menitipkan pesan begini :

“Kepada Allah saya bersyukur,

karena masih memberi saya kekuatan untuk menjalani hidup hari.

Sama atasan saya berterima kasih,

karena masih memberi saya tugas untuk saya kerjakan hari ini.

Sama Yani saya berterima kasih,

karena masih bisa menjadi teman dialog hari ini.

Karena kalau tidak berdiskusi dan berdialog dengan orang lain, kita bisa setress lho,” tutup beliau di ujung kebersamaan kami yang mewah ini.

Beliau sudah sepuh, suka bercerita dan suka memberi kami nasihat berharga. Pertemuan kami memang tidak setiap hari. Namun dalam kesempatan terbaik, beliau berkunjung menemui kami di sini, ada petuah yang beliau selipkan di ruang hati. Berpesan untuk senantiasa bersyukur dan bersabar.

Semoga beliau yang sudah berusia senja ini, menjalani hari-hari yang penuh berkah, sehat dan sumringah. Kebahagiaan melimpah senantiasa menyerta selama beliau masih di dunia hingga jannah. Aamin ya Allah. []

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s