Present

Esok, lusa, atau di hari-hari nanti kita belum dapat bersama lagi. Kebersamaan yang kita jalani hari ini. Hari ini yang akan kita tinggalkan. Walau begitu, ada yang ikut serta dengan kita, yaitu kenangan tentangnya. Tentang hari ini yang kita habiskan dengan lahap.

Lahap, yah, lahap sekali kita makan bersama. Bersama-sama menikmati menu yang ada. Seada-adanya. Seperti keadaan yang kita jalani saat ini. Sebagai anak kost yang yaa, begitulah adanya. Walau ada yang berbeda dengan kita. Ya, ada yang berbeda. Meski jauh dari keluarga dan sanak saudara, kita pun membentuk keluarga baru di sini. Kita bersaudara selayak adik dan kakak yang saling menyayangi. Saling memberi dan berbagi dengan senang hati. Tidak jarang menangis dan tertawa juga bersama-sama. Eh, kita belum pernah menangis berjamaah yaak? Untuk meluahkan segenap isi hati, suara jiwa, dan ekspresi terbaru kita.

Terus, kalau sudah senja atau malam ada yang belum datang sesuai jadual, kita pun saling bertanya. Kalau ada yang belum bangun, kita pun saling menyapa, “Haaiii, ko ga bangun-bangun udah pagiii…?” Atau, kalau ada yang diam saja, kita pun menyapa, “Ada apa gerangan dengannya?” Kalau ada yang membawa makanan banyak sekali, kita pun gembira. Hahaaa. 😀 Mengenangkan semua, aku bisa tertawa lagi.

Hari ini, aku memang sedang tidak baik-baik saja. Tidak seperti hari-hari biasanya dengan kesehatan raga. Namun ada sejenis berat di tenggorokan yang ku rasa sejak kemarin. Keadaan yang membuat kondisi tubuhku menjadi kurang bugar. Walau begitu, ada saja yang membuatku merasa lebih baik. Yaitu senyuman dan pertemuan kami sejak pagi. Kemudian melanjutkan aktivitas untuk menghiasi hari ini. Menitipkan kenangan terbaik di dalamnya.

Semua melakukan yang terbaik, kebaikan yang mensenyumkan. Sebelum masing-masing berpisah lagi dengan aktivitas kami yang berbeda. Ya, ada kenangan yang tidak terlupa. Seperti, sarapan bersama.

Tidak perlu menu yang mewah untuk menikmati enaknya masakan. Tidak perlu. Namun, kebersamaan dan keceriaan yang menebar menjadi nilai tambah yang tidak terbeli. Bercukup-cukup dengan yang sedikit, berbagi dengan yang banyak. Supaya semua merasakan. Aku senang, teman-teman juga senang. Kami semua senang.

Sungguh, semua ini membuatku tidak perlu merasakan kalau kondisiku kurang fit. Namun biasa saja. Setelah itu berangkat bersama, melanjutkan langkah dengan sentosa, bahagia dan perasaan berbunga-bunga. Di bawah terpaan sinar mentari yang cerah hari ini, kami berjalan. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, … hingga tidak terhitung lagi langkah-langkah, aku telah sampai di tujuan.

Sampai di ruang ‘Sukses’ tercinta, aku pun duduk manis.

Sebelumnya menepikan sisa-sisa kenangan kemarin dan merapikan berkas-berkas surat cinta yang belum tertata. Lalu menempatkannya pada posisi masing-masing. Berikutnya, meneguk segelas air putih. Karena perjalanan panjang yang ku tempuh sebelum sampai membuatku haus. Padahal masih pagi. Tidak lupa juga bersapa dengan para tetangga yang cool dan murah tersenyum. Eiya, tadi mereka yang menyapaku duluan dengan iringan suil siul dan tak tak nya.

Aku tersenyum, mereka juga. Pagi yang indah. 🙂

Pagi sehat dan semangat, menjadi tekad yang menyerta. Walau tatapan mata terasa berat dan suara sedikit serak. But, tak apalah… karena ku masih dapat tersenyum. Alhamdulillah. Masih juga berkesempatan melangkah. Ini adalah hadiah terindah yang ku syukuri dalam hari-hari. Semoga sakit menjadi penggugur dosa-dosa yang tidak ku sadari maupun dosa-dosa yang ku sadari. Untuk kembali mengingat-Nya, menyadari kebersamaan dengan-Nya.

Bersama mereka di sekitarku, kami bahagia. Mereka unik-unik, baik-baik, dan satu hal penting adalah menarik. Menarikku untuk memberikan perhatian lebih pada mereka. Seperti mereka memperhatikanku dengan sukacita.

***

Hari ini ada yang menarik juga untuk ku jadikan sebagai kenangan. Kenangan yang tidak akan hilang walau ku tidak ingat. Karena telah ku titip ia dalam catatan. Yaitu tentang sebuah suara hati yang sampai padaku, terkait uang. Hai, ada apa dengan uang? Bagaimana ia menjadi begitu menarik untuk ku jadikan sebagai kenangan tentang hari ini? Apakah sebegitu pentingnya ia? Sehingga ku ingin mengenang dan mengabadikannya sebagai bagian dari hari iniku?

Uang yang hampir setiap hari kita pertemani. Uang yang tidak mau tidak, kita butuhkan untuk bertransaksi. Uang yang sekali-sekali kita butuhkan, lalu lain waktu kita bilang tidak butuh padanya. Namun tahukah kita bahwa uang sangat penting dan berarti? Karena tanpa uang, apalah yang dapat kita beli?

Kali ini, kenangan yang ku maksud bukan karena ku salah beli lalu uangku hilang begitu saja. Atau ada seseorang yang mengakaliku untuk memperoleh uang dariku. Bukan, bukan seperti ini. Namun uang menjadi menarik bagiku saat ini, karena ada yang bilang begini di hadapanku, “Aaaaaaaaa… Ga punya uang susah, punya uang juga susah.” Ia adalah orang berada, banyak uangnyaaaa… 😀

Ops…! Tidak ku sangka, tidak ku duga, aku akan mendapatkan inspirasi tentang uang, melalui kalimat seperti demikian. Kalimat yang membuatku tersenyum di dalam hati saat mendengarkan beliau bilang begitu. Senyum saja. Lalu, aku semakin asyik menikmati waktuku. Padahal saat itu, ku petik sekelumit inspirasi untuk ku bagi. Inspirasi tentang uang. Uang yang ternyata sangat berarti ini. Berarti bagiku, berarti baginya.

“Esok, lusa, atau kapan-kapan, ku punya banyak uang juga, sama bahkan melebihi uangnya, aku ingin uang mempermudahku…,” my hope.

Esok, lusa, atau di hari-hari nanti, ku mampir lagi di pemberhentian hari ini, ku kenang kisah kebersamaan kita lagi. Engkau yang menjadi bagian dari hari iniku. Engkau yang memberiku secuplik inspirasi, melalui suara atau sebuah ekspresi.

***

Ooiya, tentang ekspresi, aku punya kenangan menarik juga hari ini. Kenangan ini ku petik dari seseorang yang datang menemui kami. Pada pandangan pertama, ku perhati dua bola matanya. Di sana terlihat sebaris pertanyaan, untukku. Pertanyaan yang tidak dapat ku baca dengan jelas. Namun aku penasaran, bagaimana bisa ia memperhatikanku seperti itu. Antara terpesona, haru, kasihan atau ingin mengajukan pertanyaan, namun kelu? Maka, untuk beberapa saat kami pun terdiam berpandangan. Sampai akhirnya aku tersenyum, menyadari sejak tadi tetesan keringat memenuhi wajahku.

Sungguh. Apakah ia memperhatikan bulir-bulir keringat di puncak hidungku? Keringat yang beberapa saat kemudian ku seka dengan jari-jari tangan kananku. Sama seperti yang ku lakukan sebelum ia datang. Tapi sejak ia datang, aku henti dengan aktivitas ini. Apakah karena ia begitu menarik untuk ku pandang? Sehingga sempat mengalihkan perhatianku?

Pesan hari ini : Enjoy your time, everyday. []

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s