Judulnya Apa, Yaa?

3

Awal perjalanan bermula lagi hari ini. Perjalanan meneruskan langkah-langkah yang sempat terhenti. Langkah-langkah yang membawaku pada hari-hari seakan mimpi. Padahal semua tidak mimpi, namun reality. Yes, reality show, pikirku sesekali. Kalau ku ingin menikmati segala yang terjadi. Karena terkadang yang ku saksikan tidak pernah ku prediksi. Namun jelas-jelas ada di depan mata. Maka, kalau ku masih kekanak-kanakkan lagi, maka menangis ku berkali-kali. Kalau ku tidak mau memetik hikmahnya, maka ku sesali pertemuan kami. Akan tetapi, semua terjadi bukan tanpa arti. Semua yang ku temui bukan tanpa makna. Maka ku belajar, menanya diri, lagi dan lagi. Apakah kontribusinya buat bumi ini? Supaya ia menjadi tempat yang layak dan lebih baik untuk dihuni? Supaya hati yang tenang tak milik sendiri? Semoga semakin ramai senyuman menepi di hari-hari. Bukan diri sendiri.

Untuk hanya mementingkan egoisnya diri? Sekarang bukan zamannya lagi. Untuk memperhatikan kepentingan sendiri? Ini bukan saatnya juga. Untuk itulah aku pun pernah dipertemukan dengannya, seorang yang memberiku jeda untuk mengulang pikir sebelum ku berai dalam kata. Supaya mengembalikan lagi pada diri, sebelum ku melakukan pada sesiapa. Untuk lembut… untuk teguh… untuk mengerti… untuk memahami… untuk mensyukuri… untuk mensabari… walau semua tidak mudah. Meski tidak seringan lidah berbicara. Bukan semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi, segala sesuatu yang dapat diukur, dapat ditingkatkan, bukan? 

Perjalanan hati yang berlangsung, membawaku pada hari-hari yang tidak pernah ku bayangkan. Perjalanan yang tidak lelah-lelahnya, meski ragaku bermandikan keringat di kening, hidung dan pipi. Bahkan pagi hari sekalipun. Karena berjalannya kaki-kaki ini lagi, untuk meneruskan janji pada diri.

Perjalanan kaki pada waktu-waktu tertentu, untuk menyampaikanku pada tujuan. Tujuan yang terkadang ku rencanakan, bahkan pernah tidak ku rencana. Namun melangkah saja, untuk menghirup segarnya udara. Atau alasan lainnya, supaya dapat melihat-lihat pemandangan di wilayah berbeda. Ada juga untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hadir dan muncul ke permukaan pikir.

Perjalanan mata membersamai huruf-huruf yang terpaket dalam sekumpulan tulisan bernama membaca. Membaca apa saja. Membaca buku, koran, majalah, kitab suci, atau membaca kalimat-kalimat iklan di sepanjang jalan. Membaca yang sering kita lakukan. Namun terkadang kita tidak dapat memetik inti pesan dari kalimat yang kita baca. Kita? Ah, aku saja kali yaa.

Aku suka membaca. Membaca apa saja aku suka. Termasuk membaca ekspresimu, kawan. Ekspresi yang engkau tunjukkan dalam berbagai kesempatan kita bertemu. Pertemuan yang mungkin tidak pernah kita sangka, namun kita menjalaninya. Ya, sepanjang perjalanan masih kita tempuh, maka selama itu pula kita akan bertemu. Bertemu di mana saja, kapan saja. Aku suka menemuimu.

Selain membaca kalimat demi kalimat, aku juga sangat suka membaca keadaan. Keadaan apapun. Apakah sebuah aktivitas berupa pergerakan seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya? Apakah laju kendaraan yang sangat kencang, meninggalkanku yang sedang berjalan? Apakah membaca selembar potret yang ku terima sebagai hadiah? Apakah membaca pesan tersirat dari sebuah pemberian? Aku masih dan ingin selalu membaca. Karena aktivitas ini sangat menyenangkan, kawan.

Waktu demi waktu berlalu menitipkanku sebaris kalimat untuk ku tuliskan. Hari-hari berlalu menitipkan pesan untuk ku baca. Termasuk pesan yang tidak dapat ku baca melalui serangkai kalimat, namun juga dari sebuah pemberian. Nah, saat ini, dalam kondisi sangat baik dan terbaik untuk merangkai catatan, maka ku ingin menuliskan hasil bacaanku. Karena ku tidak dapat bercerita pada sesiapa selain padamu, teman. Engkau yang setia menyambut uluran benang-benang kata dariku. Meski sesekali engkau tidak mengerti yang ku katakan. Namun pahamilah, semua ada untuk membahagiakanku. Karena kebahagiaan tersendiri bagiku, dapat menyapamu lagi, meski melalui tulisan. Sedangkan untuk bertatap mata, belum tentu, bukan? Dalam harapku, semoga kebahagiaan pun engkau rasakan, sepanjang kebersamaan kita di sini. Kapan-kapan saja engkau hadir. Kapan pun aku datang. Karena ku ingin mengingatkan diriku lagi, kelak di masa depan. Tentang hari-hari yang kami lalui bersamamu.

Suatu ketika aku menerima pemberian. Pemberian yang membuatku tersenyum. Tersenyum bahagia atas pemberian yang ku terima. Ini terjadi, karena pemberian tersebut adalah yang terbaik. Lalu bagaimana jadinya, kalau pemberian yang ku terima bukan yang terbaik? Apakah aku juga bahagia? Bagiku, bahagia-bahagia saja. Walau kebahagiaan tersebut tidak sempurna. Namun beginilah cara-Nya mengajariku untuk bersyukur. Mensyukuri pemberian, apapun wujudnya. Apakah terbaik menurutku? Atau terbaik menurut-Nya.

Kalau aku hanya siap menerima pemberian yang terbaik menurutku saja, lalu di mana aku menempatkan peran-Nya dalam kehidupanku? Karena yang terbaik menurutku, belum tentu terbaik menurut-Nya. Maka aku belajar suka. Suka dan menyukai ketidakbaikan yang ku terima. Ketidakbaikan yang ku ketahui, bukan atas penilaianku saja. Namun karena ada yang memberikan penilaian, lalu menyampaikannya padaku. Bahwa pemberian yang ku terima tersebut, bukan yang terbaik. Karena beliau mempunyai pengalaman tentang hal ini. Sedangkan aku? Aku masih berpengalaman seumur jagung.

Aha! Sungguh, siapapun yang mengingatkanku tentang hal ini, ku ucapkan terima kasih. Terima kasih sudah membaikiku dengan caramu. Walau pemberianmu tidak ada bentuknya, namun ku bentuk ia menjadi rangkaian kalimat. Ku kenang kebaikanmu sebagai pemberian terbaik dari-Nya

Sejak kecil hingga seusia ini, aku sering menerima. Penerimaan yang ibu ajarkan untuk menjadi bagian dari kehidupanku. Karena menerima itu menyenangkan. Tentang menerima, pernah pada suatu ketika, ada yang memberiku. Saat ku menolak pemberian tersebut, ibu bilang “Tidak boleh menolak rezeki.” Jadi, intinya, pemberian yang kita terima adalah rezeki untuk kita. Maka, sedapat-dapatnya, ku terima pemberian dengan senang hati. Termasuk pemberian yang bukan terbaik dan aku menerimanya. Pemberian yang ku terima dengan senang hati. Karena ku tidak tahu sebelumnya, bahwa pemberian tersebut bukan yang terbaik. Kalau aku tidak diberi tahu.

Saat menerima, aku menghargai pemberian. Namun ternyata, tidak semua pemberian terbaik yang ku terima, yaa?? Padahal, bukankah seharusnya, yang kita berikan mesti yang terbaik? Dalam hal ini, aku kembali memetik hikmahnya. Bahwa, tetaplah memberi yang terbaik, sekalipun engkau tidak selalu menerima yang terbaik. Semoga teringatku lebih sering.

Mau menerima adalah caraku untuk belajar memberi. Karena bahagia yang ku rasakan saat memberi, lebih dari saat ku menerima. Aku senang saat menerima. Maka ku mau saat memberi pun, yang menerima merasa senang juga. Sama seperti yang ku alami ketika menerima pemberian. Sehingga, aku memberi dengan bahagia. Kebahagiaan yang ingin menebar pada penerima. Begini ku bercita sejak lama, setiap kali ku menerima apapun dari siapapun dan aku bahagia.

***

Benar, kita tidak pernah tahu, sedetik lagi kita mengapa dan bagaimana, ada di mana bersama siapa? Maka, tetaplah berpikir baik menjemput detik-detik waktu. Supaya kebaikan demi kebaikan yang menyerta.

Pagi : Menerima Telepon dari Ibunda
Siang : Menerima Kebaikan dari Tetangga
Sore     : Menerima Hadiah dari Sahabat
Malam  : Menerima Inspirasi dan Senyuman dari Saudara, ia mengajakku berkeliling kota . . .

Lalu ku teringat, sepanjang hari ini menerima, lalu kapan aku memberinya? Memberi yang terbaik. Pemberian yang membuatku bahagia. Kebahagiaan melebihi bahagia yang ku rasakan saat menerima kebaikan dari sesiapa saja. Siapa saja yang membaikiku dengan bahagia. Sehingga bahagianya pun sampai padaku sebagai penerima.[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close