I Ever Lost but Still There

03-14-2017 05-54-10

Selalu begitu, tidak pernah ada yang mau mengalah. Ujung-ujungnya ya, berantam lagi. Perang mulut lalu diam-diaman. Semua bermula dari kekesalan. Ia kesal karena…

Aku tidak tahu pasti mulanya dari mana. Hingga akhirnya mereka terlibat percakapan sengit. Percakapan yang berada di luar batas kesadaranku saat mendengarkannya. Awalnya begini.

Pertama kali mengetahui keadaan ini, aku kaget luar biasa. Tidak menyangka saja, ternyata ada yaaa… orang kayak gini di dunia. Nah, lama-lama masih sama. Tidak ada perubahan berarti yang ku lihat dari percakapan mereka. Seringnya yaa begitu, perang mulut dan kemudian bersuara tinggi. Sebuah momen yang mengusik kesunyian jiwaku. Sehingga, ia pun bertanya, “Ada apa di luar sana?”

***

Tenang-tenang saja aku awalnya. Ketenangan yang ku bawa dari kebiasaan menenangkan diri dari kondisi ramai. Keramaian yang membuatku ingin segera berlalu dan kemudian tenggelam di dalam duniaku sendiri. Dunia yang ku ciptakan untuk menjadi penyemangat hidupku. Dunia yang menjadi teman bercerita, ketika ku ingin bicara. Namun tidak ada yang dapat ku sapa di depan mata. Maka, aku pun berakraban dengannya. Keakraban yang kami bangun untuk meneruskan perjalanan.

Jalan-jalan, melangkahkan kaki di dunia maya.

Jalan-jalan saja, aku. Suatu waktu sore hari. Lain waktu pagi hari. Ada juga malam hari. Bahkan siang ketika terik mentari menyengat kulit. Maka ku ngadem sejenak di antara belantaranya. Belantara yang tidak ku ketahui luas rimbanya.

Jalan-jalan saja. Masih melangkah dengan ketenangan. Hingga sebuah benda jatuh tepat di kepalaku. Aku menengadah ke atas, ada apa di sana? Tiada pohon apapun, juga siapa-siapa. Namun ku lihat ada yang tertawa jauh di sana. Ia sukses melempariku dengan sisa buah yang ia makan. Siapakah dia?

Aku tidak mengerti, mengapa ia melemparku. Hingga kepalaku sakit. Untung saja tidak benjol. Yah, tersebab lemparannya menyisakan denyut di kepalaku. Namun hatiku bahagia, karena ternyata ia tidak sengaja. Ya, ketidaksengajaan yang sampai padaku. Karena aku yang jalan-jalan di wilayah kekuasaannya. Sedangkan pekerjaannya setiap hari, yaa lempar melempar seperti itu. Dan ternyata sudah biasa baginya. Akan tetapi bagiku? Aku baru datang di sana. Lalu terkena lemparan. Apakah selamanya aku berdiri tegak begitu saja, lalu tidak mau berjalan lagi?

“Ini baru pengalaman pertama,” bisikku.

Melangkahku lagi, ke sudut-sudut lainnya. Bergerakku sebelum lelah, berteduhku saat letih. Duduk-duduk selonjoran di rerumputan hijau tempat berehat. Cuci-cuci mata mengintip sinar mentari, dari balik dedaunan. Sesekali, ku tempelkan telapak tangan di pipi atau di puncak hidung untuk mengelap keringat yang menetes. Sampai tidak terasa, waktu berlalu tanpa ku sangka. Sudah sejam dua jam, aku melangkahkan kaki. Kemudian kembali ke dunia nyata. Karena tidak selamanya ku di sini.

Hari-hari berikutnya juga sama. Hampir setiap hari ku mampir di sini. Untuk menyapa atau menjawab sapa. Untuk menemukan semangat hidup atau menebarkan selembar senyum. Untuk menitipkan kenangan atau mengukir impian. Bahkan, menjadi pengingat atas aktivitas seharian bernama catatan harian.

Sungguh, semua ini ku lakukan demi menjaga nyala harapan tetap hidup. Supaya ketika ku berjalan di tengah kelam, ku masih mempunyai panduan. Untuk melangkah lagi, meski tidak kelihatan sesiapa di sekitar. Ketika ku melangkah dalam terang, ku tidak lupa bahwa aku tidak pernah sendiri. Karena dapat melihat orang-orang melangkah juga. Sungguh mengesankan perjalanan ini.

Hingga akhirnyaa… pertanyaan demi pertanyaan yang ku bawa terjawab seiring bergulirnya waktu. Ketika ku ingin ke sini, ke sana dan di mana-mana. Maka aku sudah mampir di mana-mana. Namun masih di dunia maya, siiiiiich. Hehehehee. Kalau ku mau menemui siapa, kapan-kapan juga bisa. Masih juga di dunia maya, ccyiiiiin. Hehehehee. Termasuk menjumpamu dan menemuimu. Tapi aku senang mengenal dan bersamamu.

Engkau yang menjadi bagian dari langkah-langkahku. Engkau yang tidak pernah lelah mengajakku bangkiiiit untuk meneruskan langkah, meski sedang sakit. Engkau yang secara tidak langsung menggenggam erat jemariku untuk menopang tubuhku agar tidak rubuh. Sehingga langkah-langkahku masih tegap, bersamamu. Wahai, di sini ku tidak mau hilang lagi, meski pernah. Hari-hari berikutnya, ku tidak akan hilang lagi. Namun tetap ada, walau sudah tiada.

“Euheeeuk… heeeeuk… heuuuk,” suara serakku pagi hari. Seorang teman bilang, “Eheeee… Batuk cantik.”

Iyah, hari ini kurang nyaman. Karena tenggorokan belakangku sedikit gersang. Mungkin kurang a-qua…[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

6 thoughts on “I Ever Lost but Still There

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s