You are My Reminder

Reminder

“Hai, Bro, tenang dan sabar. Engkau lagi berdiri, yaa. Sebaiknya duduk dulu kalau sedang emosi. Lalu berpikir sejenak sebelum bicara. Karena seringnya, dalam kondisi emosi tidak stabil cenderung mengucap kata-kata dengan nada tinggi. Seperti yang engkau alami. Termasuk ucapan-ucapan selanjutnya yang keluar dari bibirmu. Semua berasal dari dalam hati, bukan? Sehingga sampai ke hatiku, juga.”

Iya, betul seperti yang engkau bilang, “Duit itu seperti janggut dan kumis. Setelah tumbuh dan kemudian cukur, nanti tumbuh lagi”.

Di antara kalimat demi kalimat yang engkau sampaikan, terselip kalimat tersebut. Kalimat yang mensenyumkanku. Padahal saat itu engkau sedang tidak tersenyum. Lalu, mengapa aku senyum sendiri? Senyum yang ku tahan agar tidak menebar. Supaya engkau tidak semakin emosi. “Eiya, tadi engkau tidak sempat melihat senyumanku, khan??”

Iya, kalau engkau sempat melihat padaku, ku tahu engkau mengerti. Sehingga tidak menjadikanku sebagai objek pengungkapan emosimu, juga. Buktinya, engkau berlalu beberapa saat kemudian. Setelah mulai tenang dan menemukan pencerahan dari kami.

Kalau engkau tidak sempat melihat pada ku tadi, semoga saat ini engkau kembali lagi ke sini. Untuk menyaksikan keseruan yang terjadi dalam waktu-waktuku berikutnya. Tersebab kehadiranmu menjadi bagian dari hari iniku.

Yah, aku kini dapat tersenyum lagi dan merangkai senyuman. Senyuman yang sedang ku praktikkan dari waktu ke waktu. Walau tidak mudah, meski tidak selalu sumringah. Supaya sekelilingku penuh senyuman. Agar ku terbawa-bawa untuk mensenyumi keadaan. Bukan malah menjadi fokus dengan fikiranku sendiri saja, dengan tidak mempedulikan sekeliling.

Tapi terkadang, senyumanku hadir memang karena ku sedang asyik dengan pikiranku. Seperti tadi, saat engkau menyinggung janggut dan kumis. Engkau mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang pernah ku impikan. Seseorang dengan janggut tipisnya.

“Ah, engkau datang-datang malah mengembalikan ingatanku tentang impian tersebut. Makanya aku pun tersenyum. Senyuman yang ku jadikan sebagai wujud syukurku hari ini. Bersyukurku atas pertemuan kita. You are my reminder.”

Yah, aku yang kebetulan berada di dekatmu. Engkau yang sedang meluruhkan ekspresi tinggimu. Bukan untukku memang. Namun ku yakin bahwa apapun keadaan yang ku temui di sekelilingku, bukan kebetulan. Akan tetapi ada hikmahnya untuk ku jadikan pelajaran. Punya makna untuk ku petik sebagai bagian dari pengalaman. Supaya ku tidak melakukan hal yang orang lain lakukan padaku, kalau aku tidak suka. Namun sebaliknya, ku dapat mencontoh perlakuan yang orang lain lakukan padaku, kalau ku suka. Kesukaan yang membuatku bahagia. Untuk selanjutnya ku lakukan juga untuk orang lain. Sehingga mereka pun merasakan, kebahagiaan yang ku alami.

Kalau engkau tersenyum tadi, aku pasti suka. Akan tetapi, engkau tidak tersenyum membersamai kami. Maka aku pun tidak suka dengan kedatanganmu seperti itu. Kedatangan untuk pertama kali dan engkau mulai dengan emosi tidak normal? Bukan menemui kami dengan senyuman.

“Ah, yang benar saja, Bro.”

Bukankah untuk pertama kali, engkau perlu memperkenalkan diri dengan baik. Dan kemudian memberi jeda pada dirimu dan juga sekitar, untuk menyesuaikan diri dengan situasi. Engkau juga tidak tahu, bahwa ku ada di sini untuk memperhatikan kehadiranmu. Ya, engkau yang sempat hadir di sekitar kami. Terima kasih ya, walau tidak tersenyum. Namun engkau mensenyumkanku. Karena kehadiranmu mengingatkanku tentang hal ini. Senyuman yang sangat berarti bagiku.

Aku tidak tahu pasti siapa dirimu. Engkau pun belum mengetahui siapa aku? Maka, yuuk kita kenalan dulu.

Aku di sini memberi perhatian padamu, lho Bro. Sedangkan engkau luput memperhatikanku. Sampai engkau tidak mengetahui mauku. Kalau kau tak kembali lagi, ku bahagia. Karena engkau mengembalikan ingatanku pada hal yang seharusnya ku lakukan dan tidak ku lakukan. Termasuk mengingatkanku pada sosok yang ku kagumi dalam hidupku. Walau sosok itu bukan engkau, ku tahu ia masih ada. Entah di mana? Semoga ia bahagia dan baik-baik saja, harapku.

***

Lain hal yang membuat saya ingin terus dan selalu bersyukur dalam meneruskan perjalanan hidup ini adalah; adanya episode-episode penting dalam waktu-waktu yang saya jalani. Apakah episode tersebut penuh kepahitan, atau rasa manis yang memenuhi indera pengecap. Seperti keberadaan saya di sini saat ini dengan segala tayangan-tayangan yang saya tonton dari hari ke hari. Semua mengembalikan ingatan saya tentang persiapan diri untuk menjemput hari esok. Hari esok  yang tidak pernah saya tahu, seperti apa episodenya.

Maka, menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya adalah pilihan terbaik. Meski tidak pernah ku sangka, detik-detik berlalu dengan aneka rupanya. Rupa yang memberiku jeda untuk mengembangkan senyuman, saat ku suka. Rupa yang memberiku jeda untuk mengenali lebih dalam, saat ku tidak suka.

Kesimpulannya;

Saya belajar menikmati waktu dari detik ke detiknya . . . (ketika gundah mendera)

Saya berjuang menemukan hikmah demi hikmah untuk menguatkan … (ketika lemah menyapa)

Saya berhenti sejenak sebelum meneruskan langkah dari simpang ke simpang berikutnya … (ketika lelah mulai terasa)

Saya berusaha mengerti kisah demi kisah yang saya simak . . . (ketika pikiran belum sampai ke sana namun kenyataan ada di depan mata)

Saya bertemu dengan kenyataan demi kenyataan yang membuat hidup saya menjadi lebih hidup . . . (terima kasih kenyataan)

Saya menjadi bagian dari keluarga demi keluarga yang membuat saya sering ingat, (who am I?)

Sehingga dengan segala yang ada, saya menjadi tahu kesukaan dan ketidaksukaan dari waktu ke waktu. Supaya saya dapat mengembangkan diri dan pikiran lebih baik lagi. Karena saya yakin, semua ini mempersiapkan saya untuk episode kehidupan berikutnya. Sembari belajar tertawa bersama mereka yang ada di sekitar dalam kebahagiaan kami. Juga belajar meresapi dengan hati yang tulus, atas kepedihan yang mereka rasakan. Berempati sebisa-bisanya.

Seperti, saat ada teman-teman yang menawarkan kakaknya untuk menjadi bagian dari masa depan saya, maka kami pun tertawa untuk meriuhkan suasana. Supaya kami bisa lebih sering dekat dengan menjadikanku kakak iparnya… (Sejauh ini sudah ada dua calon yang mereka tawarkan (dari dua orang teman baikku) 😉 Bagaimana, bagaimana, horeeee khannn?  Apakah ini bahan bercanda untuk mensenyumkan saya, atau pinta yang sesungguhnya?) Kalau aku yang polos, mau saja. Makanya, sejak mereka menawarkan, aku pun jadi kepikiran. Namun setelah menepikannya di sini, ku ingin tidak teringat-ingat lagi. Kecuali pas membacanya lagi, someday. 

Dan lainnya . . . yang masih akan menjadi bagian dari betapa berwarna-warninya episode hidup saya. Perjalanan hidupmu juga berwarna-warni khan, kawan? Semarak, bukan? Kalau kita menghayatinya dengan sempurna.

Semoga semua orang yang menjadi bagian dari perjalanan hidup saya dari satu episode ke episode berikutnya, turut merasakan yang saya alami, bila saya dalam kebahagiaan. Meskipun dalam episode-episode berikutnya, kami tidak lagi dapat bercakap-cakap akrab. Sedekat kami saat menempuh satu episode bersama.

Semoga, semoga harapan demi harapan yang mereka sampaikan ketika kami bersama, dapat tercapai dengan cara yang sebaik-baiknya, seperti; menikah dengan ikhwan impian (seperti impianku juga), mengembangkan usaha menjadi berjaya dan berkah untuk semua, meneruskan pendidikannya hingga ke jenjang yang lebih tinggi demi menjemput ilmu, untuk mempermudah hidupnya di masa depan, mendidik anak-anaknya dengan pendidikan terbaik sesuai syari’at dan lainnya.

Semua, terima kasih yaa, untuk mengingatkan. Sepenuh hati.

Pesan moral hari ini: Mengingatkan diri supaya mempersilakan duduk terlebih dahulu, pada orang yang baru datang menemui kita. Lalu duduk bersama, untuk menyamakan frekuensi.  😀

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close