Bahagia Bersamamu

Bahagia yang sempurna ada di dalam jiwa. Tidak terlihat mata, namun terasa keberadaannya.  Seperti halnya cinta. Cinta yang sempurna ada di dalam jiwa. Tidak terlihat mata, namun terasa keberadaannya.
Bahagia yang sesungguhnya mengajak pemiliknya untuk melakukan apapun dengan mudah, murah dan sumringah.
Bahagia yang asli menitipkan ketenangan di ruang jiwa yang ia sapa.
Bahagia yang sejati, membahagiakan.
Bahagia yang sehat, menyehatkan.

***

“Di tengah bahagia yang ku rasa, ada bahagiamu juga.”

Untuk memperoleh bahagia, tidak jarang kita berkorban segalanya. Apa saja kita korbankan. Bisa waktu, tenaga, biaya, bahkan mengorbankan jiwa dan raga, kita mau. Saat bahagia yang kita jemput jauh di sana. Supaya bahagia itu mau mendekat dan menemani waktu-waktu kita. Karena bahagia sangat berarti bagi kita. Tanpa bahagia, hidup terasa tidak bermakna. Begitulah pentingnya sebuah kata ‘bahagia’ bagi kita. Sehingga ketika bahagia tiada di dalam jiwa. Maka kita mencarinya, menemukannya, mengusaha, supaya ia membersamai.

“Engkau tidak dapat membahagiakan orang lain, kalau engkau tidak berbahagia.” Begini inti sebaris kalimat yang pernah ku baca pada waktu-waktu lampau. Sebuah kalimat yang menarikku untuk menyelami maknanya. Membuatku bertanya-tanya, mengapa ia ada. Kalimat yang menjadi penyebab pergulatan di dalam pikiranku. Karena ada hubungannya dengan harapan hidupku. Ya, kata ‘bahagia’ yang ada didalamnya. Maka, aku pun bertanya kian kemari, untuk memahami maksud dari sebaris kalimat tadi.

My Surya“Kita tidak dapat membahagiakan orang lain, kalau kita tidak berbahagia. Sehingga, untuk membahagiakan orang lain, maka kita kuddu dan mesti harus bahagia terlebih dahulu, yaa?” begini aku menanya balik padanya. Untuk memastikan penglihatanku.

Ia mengangguk. Anggukan yang membuat kepalaku semakin berat. Sampai aku tidak bisa melanjutkan bacaan lagi. Namun mengajukan pertanyaan demi pertanyaan pada diriku sendiri. Pertanyaan yang muncul tersebab sebaris kalimat tadi. Ia membuatku berpikir.

Apakah karena ku menolak pernyataannya?
Apakah karena pernyataan yang ia sampaikan bertolakbelakang dengan kondisiku?
Apakah karena aku sedang tidak bahagia?

Apapun pertanyaan berikutnya, aku tidak ingin hanya mempertanyakan. Namun ingin ku buktikan, lalu ku temukan jawaban dan kebenaran. Siapakah yang sesungguhnya dapat membahagiakan? Apakah mereka yang sedang bahagia saja? Atau mereka yang dalam kesedihan pun dapat membahagiakan? Atau keduanya, yang berbahagia atau belum bahagia, dapat sama-sama membahagiakan?

Seiring detik ke detik, waktu ke waktu, berganti hari, bulan dan tahun, ku memerhati keadaan. Apakah hanya mereka yang berbahagia yang dapat membahagiakan? Apakah mereka yang sedang menangis pun dapat membahagiakan? Maka, dari perhatian yang ku berikan, aku pun menemukan secuplik jawaban. Jawaban versi aku. Sehingga terjawab pertanyaan yang muncul dari dalam diriku. Sehingga ku tidak bertanya-tanya lagi.

Aku membenarkan. Benar saja. Ketika ku bahagia, mereka yang ingin ku bahagiakan pun berbahagia. Bagaimana cara mengetahuinya? Dengan merasakan perasaan mereka. Lalu hanyut bersama aliran sungai bahagianya mereka. Tenggelam ke dalam dasar lautan kebahagiaan mereka. Bahkan ikut berbaur di tengah samudera bahagia yang mereka alami saat ku bersamai mereka bahagia. Malah, bahagia ku bertambah-tambah, saat mereka bahagia bersamaku. Walau pun sebelumnya, bahagia yang ku berikan sedikit saja.

Berbeda halnya ketika ku tidak bahagia. Maka, ketidakbahagiaan pula yang ku lihat pantulannya. Ada sorot mata yang tidak bercahaya di depanku, ketika sorot mataku redup tidak berbinar. Ada kesemerawutan wajah di depanku, saat ku hadapi mereka dengan wajah mengerut. Namun, senyuman mudah menebar pada wajah mereka, saat kami bersapaan dengan sumringah dan senyuman. Seperti halnya kebaikan yang menebar, maka begitu juga adanya dengan bahagia. Ia menebar, menyebar…

Maka bahagialah, jika engkau ingin orang-orang di sekitarmu bahagia.

***

Bahagia, juga tidak hanya dengan adanya tumpukan uang. Namun bahagia yang sesungguhnya adalah ketika ku dapat menyaksikan kebahagiaan pada wajah orang-orang yang ku temui. Apakah teman, keluarga, atau mereka yang belum ku kenali. Ketika mereka bahagia di depanku, maka bertambahlah bahagiaku. Sehingga ku masih dapat tersenyum saat melangkah.

Begitu juga dengan kebahagiaan yang memancar pada wajah sahabat baikku pekan lalu. Dia mengajakku nonton di bioskop. Tapi aku engga punya ‘anggaran dana’ untuk beli tiket. Dia juga tahu itu. Tapi dia ingin masih sangat mau dan harus nonton juga. Film yang rilis tanggal 17 Maret 2017 ini, “The Beauty and The Beast.” Lalu, kami pun berunding bagaimana baiknya, lalu bernegosiasi dan kedip-kedipan mata. Akhirnya ia rela-relain bayarin tiket buatku. Dalam hati ku berkata, “Terima kasih cantiikk,”. Maka, kami pun nonton bareng.

Ia bahagia karena ku temani. Sedangkan aku bahagia karena nonton gratis.

Bahagia itu sederhana, bukan? 

Dengan membahagiakan orang lain, maka kebahagiaan kita bertambah. Aku bahagia menemani sahabatku. Kebahagiaan yang ku bela-belain juga. Walau saat itu aku sedang demam. Tapi demamku sembuh, meskipun kami duduk manis di ruang ber-AC selama lebih kurang dua jam bertabur dingin.

Bahagia pun mempengaruhi kesehatan, ternyata. Sepulang dari bioskop, aku minum obat. Lalu bobo cantik dan besoknya benar-benar sembuh. Alhamdulillah…[]

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s