A Memorable Experience One

Image result for orang gila quotes
Picture : Inspirasi Hidup Senang

 Sudah lama ku ingat tentang hal ini. Tentang berbagi pesan saat melangkah. Untuk memberai segala yang ku temui dalam perjalanan. Namun belum juga kesampaian. Hingga hari ini hadir, untuk ku selipkan secuplik kisah. Tentang pengalaman sebagai pejalan kaki. Pengalaman yang indah dan penuh ekspresi. Menggugah diri, meneteskan embun di ruang hati. Membuat ingatan pada diri kembali bersemi. Bahwa ku masih beruntung, maka mana syukur diri? Ku masih berpikir, maka mana sabar diri? Untuk segala yang belum tercapai, namun menjadi harapan. Untuk segala yang ku temui, namun tidak ku ingini sebelumnya. Padahal di dalamnya ada kebaikan, untuk diri. Kebaikan yang sempurna.

Dalam meneruskan langkah sebagai pejalan kaki, banyak liku-liku tertemui. Apakah sapaan dari para lelaki, maupun kedipan mata dari orgil yang ku dekati. Tujuh kata sebelum kalimat ini adalah pengalaman pertama yang ku alami. Sehingga menjadi pengalaman tak terlupakan.

Sepanjang usia ku jalani di dunia ini. Sejauh jarak yang ku tempuh saat melangkah. Sepanjang jalan-jalan yang ku lewati. Baru hari ini aku mendekati orgil (orang-gila), hiihihhii. Pertemuan kami yang tidak ku ingini. Namun kalau sudah jodoh, akan bertemu juga. Begitu inti dari pesan yang ku petik setelah pertemuan kami. Pertemuan yang masih menyisakan sejenis degub di jantung ku hingga saat ini. Keadaan yang membuatku menjadi tidak nyaman. Sampai ketika hendak membagikannya di sini, masih ku bawa sisa-sisa ke’ngeri‘an.

Yah, menjadi pejalan kaki itu ada indahnya. Ada juga kejutannya. Begitu pun dengan ketakutannya. Seperti hari ini. Sebagai pengalaman pertama yang ku temui, maka bagiku menjadi sangat berkesan. Sehingga, ingin ku titip pada lembar catatan. Supaya saat ku teringat untuk membacanya suatu hari nanti, aku dapat mensenyumi. Senyuman penuh arti.

Apakah senyuman lega, karena akhirnya ku dapat menjauh dari orgil tanpa ia jahati? Apakah senyuman bahagia, karena kami dapat bersenyuman saat bertemu? Secara, jarang-jarang khan bisa senyuman dengan orgil??  😆  Apakah senyuman ngeri, karena ternyata pengalaman ini sungguh berkesan? Entah senyuman seperti apa yang akan menghiasi wajahku nanti. Namun saat ini ku tersenyum untuk menelurkan segala rasa yang masih berkecamuk di rongga dadaku. Bersama perutku yang masih mules. Sungguh, hehee.

Aku bertemu dengannya di sekitar halte. Ia sedang duduk di tangga menuju jembatan penyeberangan. Di tengah-tengah anak tangga ke lima dari bawah. Yah, aku ingat sangat.

Sebelum sampai di dekatnya, aku baru turun dari bus kota. Selanjutnya, aku akan menaiki tangga dan menyeberang jalan melalui jembatan penyeberangan tersebut. Alhasil, aku harus dan mesti menyeberang di jalan saja, membawa ketakutan. Huuwaaa, ingin teriak pada saat itu juga, tapi tanpa suara. Ingin nangis, namun malu diliat orang. Ingin tertawa, nanti dikira kami sama? Hahahaa, makanya di sini ku tertawai diriku sendiri. Atas ekspresinya setelah pertemuan kami (me and orgil).

Ketika akan mendekati jembatan, aku sudah tahu ada yang duduk di tangga. Namun ku pikir orang biasa. Biasa, kadang-kadang ada anak-anak sekolahan yang menunggu bus kota, atau orang normal yang sedang melepas penat sambil menunggu jemputan. Namun kali ini berbeda. Karena yang duduk di tangga bukan orang biasa, namun seorang yang luar biasa. Keluarbiasaan yang membuatku menjadikannya sebagai salah satu inspirasi hari ini. Wahai, terima kasihku juga untuk beliau yang berjasa. Meski pun dari penampilanmu yang lusuh nan tidak terawat, namun engkau juga menginspirasi. Tetaplah ada di bumi. Untuk mengingatkan kami. Bahwa engkau pun berarti.

“Maaf yaa, belum ada yang bisa ku bagi untukmu hari ini… Maaf sekali, ini menjadi pelajaran berarti bagiku. Semoga engkau sehat selalu. Kembali normal dan menjalani hari-hari lebih baik,” doaku.

Sendu dan haru mengingati, pertemuan kami yang sekejap saja. Tanpa sempat berbicara banyak, apalagi bertukar suara lebih lama. Karena aku sudah terlanjur ‘ketakutan’. Ketakutan yang membawaku ke sini. Dan di sini, ku luruhkan ia sedikit-demi sedikit, melalui rangkaian kalimat. Semoga, semoga, pengalaman ini hanya untuk sekali-sekalinya, harapku. Lalu tidak ikut-ikut dengan ingatan saat ku melanjutkan langkah. Cukup tepikan ia di sini, lalu menjadi prasasti yang abadi.

Sebelum menaiki anak tangga berikutnya, tepat di anak tangga pertama, ku edarkan pandang ke sekeliling. Termasuk pada beliau yang sedang duduk manis. Dengan hati yang tenang dan tersenyum. Hinggaaaaa… Semua itu buyar. Oups! hingga ku tahu siapa dia.

Awal pertemuan kami, aku tidak takut, masih biasa-biasa saja. Namun, setelah beberapa detik kemudian, aku memilih putar arah. Turun lagi. Setelah kami berpandangan, dan salah aku juga siiih, tadinya mau meminta izin, ‘numpang lewat,’ dengan mengatupkan tangan di depan dada. Lalu bilang, “Permisii..,” Seperti biasanya, kalau ku lewat di depan seseorang di pinggir jalan. Supaya ia memberiku jeda untuk bisa lewat.

Berhubung masih belum ada ketakutan, di detik berikutnya, ku sampaikan permohonan, “Numpang lewat, yaa.” Dia masih duduk di tempat, dan belum memberiku ruang untuk melangkah.

Eeeeeeiits… ia malah menadahkan tangan. Aku tidak bisa berpikir panjang lagi. Makanya memilih mundur. Karena aku tidak tahu maksudhnya. Apakah ia mau meminta sesuatu? Bertepatan, tidak ada yang ku bawa untuk ku bagi, maka ku senyumi ia yang membalas dengan menampakkan gigi-gigi serinya. Sedangkan tatapan matanya penuh harap.

Dalam hatiku berkata, “Mundur.” Lalu, ku mundur, sedikit demi sedikit, tidak lari. Kemudian memutar badan, masih memantau situasi. Apakah ia mengikuti? Alhamdulillah, ia tidak ada di belakangku untuk mengikuti. Maka, ku lanjutkan langkah di jalan, seperti tidak menginjak bumi. Di sini, aku mulai takut. Takut aja. 😀 Hahaa.

***

Akhir-akhir ini, untuk menyeberang jalan yang dua sisi dan masing-masing satu arah ini, aku suka melewati jembatan penyeberangan. Namun karena situasi saat ini tidak memungkinkan, aku pun harus dan kuddu menyeberang jalan lagi. Bersinergi dengan diri, atau mencari-cari bantuan. Beruntung, ada seorang Bapak yang juga hendak menyeberang jalan, ketika ku sampai di posisi yang pas untuk menyeberang. Beliau mulai mengambil ancang-ancang dan memberi kode pada para supir untuk memberi ruang berjalan. Aku pun merasa nyaman, karena ada yang menemani. Hingga akhirnya, sampai di seberang dengan selamat. Terima kasih juga, buat beliau ‘Bapak’ yang melangkah di samping kananku, tadi.

Selanjutnya, aku pun meneruskan langkah-langkah kaki menuju ‘sukses’ yang menaungi. Membawa keinginan yang belum terlunasi. Masih ingin teriak, namun banyak orang di sisi jalan. Masih ingin menangis, apa daya, aku masih punya rasa malu. Masih ingin sampaikan bahwa, “Pengalaman ini cukup sekaliiii…”

Semua keinginan itu yang menepikan senyuman pada seluruh wajahku. Mataku tersenyum, hidung pun tersenyum. Alis, pipi, kening dan dagu. Semua tersenyum pada kenyataan. Kenyataan yang sebelumnya tidak ku prediksi. Kenyataan yang membuatku mempunyai pengalaman tidak terkatakan, mungkin. Namun dengan menuliskannya seperti ini, aku sedang bercerita tentang hari ini ku yang berarti. Bersama senyuman di hati, tentunya.

Pesan hari ini sebagai pejalan kaki, “Perhatikan sekeliling (bawah, atas, kiri dan kanan), jaga pandangan, hindari orgil (walau ia tidak mengganggu), jangan pernah sekali-kali mengganggunya, karena orgil juga manusia, hargai kondisinya, pahami ekspresinya.”

Sepanjang proses merangkai catatan ini, aku memilih tertawa dan tersenyum, lalu menertawainya. Apakah efek dari pertemuan kami, tadi?

Hai, teman, apakah engkau pernah mengalami pengalaman tak terlupakan? Bagaimana kronologinya? Apakah mengesankan? Sehingga membuatmu terinspirasi juga untuk merangkai catatan? Atau menceritakannya pada teman?

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Location Di sesudut bumi yang membentang indah, di bawah sinar mentari yang tersenyum cerah, di antara makhluk ciptaan-Nya yang mengajakku tersenyum meriah, untuk bersyukur dan bersabar menempuh perjalanan hidup di dunia yang sementara, iniiii... Hihihiii. :D Phone Dzikrullah E-mail maryasuryani@gmail.com Hours Waktu adalah ibadah. Semoga berkah setiap langkah yang menjejak dalam detik-detik waktu. Waktu yang berubah menjadi masa lalu setelah kita tinggalkan. Waktu saat ini yang semoga kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk hari esok yang lebih baik. Semangat menempuh perjalanan, kawan. Semoga selamat sampai di tujuan yang sedang menanti dengan senyuman. Ini namanya merangkai harapan, jadi, jangan tertawakan, cukup senyumi dengan menawan. Terima kasih atas pengertian, pemakluman dan pemahaman yang semoga mengajakmu tersenyum saat main-main di sini. Sekalipun ada kesedihan, tenanglah, tidak berkepanjangan. Tetap ada ya, untuk saling mengingatkan pada kebaikan dan kebenaran. Harapan : Semoga pertemuan, kebersamaan dan berjaraknya kita senantiasa dalam lindungan dan Ridha Allah subhanahu wa taala... Aamiin ya rabbalalamiin.
%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close