Status

Berpikir Sehat

Hasil gambar untuk terapi berpikir positif untuk kesehatan

🙂 Picture : Bali Health Digest 🙂

“Ngeri anggotanya si Bapak, manja-manja semua,” celetuk seorang teman kami yang hitam manis kulitnya, berperawakan kekar. Sedangkan tatapan matanya tajam dengan wajah yang tegas. Karena beliau memang sangat jarang sekali tersenyum. Atau karena saat ku melihat wajah beliau memang karena beliau sedang tidak senyum aja yaa? Nah, sekali ku lihat beliau tersenyum, sungguh membuat wajah tegasnya menjadi teduh. Sedangkan mata yang biasanya tajam, menjadi menenangkan.

“Heheee…,” aku pun tertawa kecil, mendengar celetukan beliau. Lalu dalam hatiku berkata, “Iya, gapapa. Selagi masih dapat manja dan ada tempat bermanja, maka manjalah. Supaya ketika masa bermanja telah reda dan usai, ada nostalgia yang terbawa pergi. Karena tidak selamanya kita dapat manja-manjaan, bukan? Tapi, manja lah pada orang yang tepat dan situasi yang pas.

***

Sebelumnya aku tidur cantik dengan mimpi-mimpi yang bermekaran menghiasi lelapku. Lalu mendengar suara kokok ayam jantan dari kejauhan, sahut menyahut tidak henti. Membuatku tidak dapat tidur lagi dengan nyenyak. Pada saat itu, di sekelilingku gelap. Sehingga tidak dapat ku lihat angka-angka jam dinding yang berdetak teratur. Akhirnya, aku pun bangun untuk mengetahui waktu. Pukul berapakah gerangan?

Aku melangkah, di tengah remang-remang. Lalu menuju ke arah saklar yang sudah ku hapal posisinya. Kemudian menyalakan lampu. Och, ternyata masih pukul 2.29 am.

Teringatlah aku tentang kronologi pada jam-jam yang telah berlalu. Ternyata aku tidur cepat sekali, tepatnya ba’da Isya. Setelah sempat shalat dulu, sebelum rebah. Karena memang ku merasa kurang fit sejak pagi harinya. Sampai sore dan menjelang malam, masih sama. Pantas saja, saat bangun tadi hidungku tersumbat. Ditambah lagi dengan suhu tubuh yang berbeda dari biasanya. Yah, ku raba keningku dan sekitar wajah, semua hangat. Ternyata aku demam.

Detik-detik berikutnya, airmata sukses membasuh wajahku. Karena ku ingat dengan mereka tersayang. Rindu yang membuat ruang hatiku menjadi sesak. Huuwwaaaaaa… Kalau aku sakit, siapa yang merawat? Saat jauh dari keluarga seperti ini? Maka, ku bangkit dan kemudian menjalankan aktivitas pagi yang menenangkan. Setelah ku minum dulu segelas air putih untuk menetralisir suhu tubuh. Huhuuu.

“Sehat, yaa,” bisikku pada diri sendiri. Supaya ia mengerti, kami di mana bersama siapa? Lalu muncul tekad yang membuatku harus kuat. Ya, selalu begini kebiasaanku. Saat suhu tubuh mulai meninggi, maka airmata jadi penyejuk. Tiba-tiba saja ia mengalir…

Mengapa menangis (airmata keluar) kalau demam?
“Ya, ini kebiasaan jelek yang ku pelihara dengan baik. Karena kebiasaan ini bermula sejak ku masih belia dulu dan bersama keluarga. Saat ku demam dan suhu tubuhku panas tinggi, maka dalam kondisi ‘tepar/terbaringlemah’ ibunda ada di sampingku. Beliau mengompres keningku dengan sepenuh hati. Dan berikutnya, mengalirlah airmataku di pipi dari ruang mata yang sangat panas. Menangis, saat airmata keluar begitu saja. Ke sini, ke sini, keadaan yang sama ku alami juga. Ketika demam menyapa, ada airmata yang meluruh tiba-tiba.”

***

Walaupun demam, airmata menetes, namun tetaplah berpikir. Begini inti dari kesan hari ini. Karena walaupun demam, aku masih melanjutkan aktivitas dan meneruskan langkah. Termasuk di sini. Hihii. Sebagai terapi aja. Supaya dapat mengalihkan fokusku dari demam.

Karena kalau sudah bangun, maka aku mesti bangkit dan kemudian melangkah. Hingga sampailah di sini.  Bergerak untuk menetralisir keadaan. Selain itu, minum air putih lebih banyak untuk menormalkan suhu badan kembali.  Lalu bersantap dan rehat. Selanjutnya membuat list bedrest dan tidak jalan-jalan. Tapi ujung-ujungnya, karena ini adalah akhir pekan, aku biasanya ‘gentayangan’. Meneruskan perjalanan, demi kesehatan yang kembali ku impikan menjadi nyata.

Beberapa saat yang lalu, kami berjumpa lagi. Beliau yang baik, dan menjadi tempat berbagi cerita tentang rupa-rupa masalah yang kami temui. Beliau yang mudah mendengarkan dengan sepenuh hati. Kemudian menyisipkan pesan berharga di antara wejangan yang beliau bagi.

Al fiqru sirajul qalbi – pikir itu adalah pelita hati. Maka pikir… pikirrr… pikiiirrr… Dan jangan lupa untuk terus berdoa memohon kebaikan dan yang terbaik. Demikian  dulu munashorohnya,” tutup beliau di ujung pembicaraan dalam pertemuan kami lagi hari ini.

Beliau sesepuh kami di sini. Namun sangat suka memberikan wejangan pendobrak semangat. Supaya kami yang muda-muda ini menjadi tercerahkan lagi. Berbekal pengalaman demi pengalaman yang beliau bagi. Spontan. Tanpa kami pinta, namun beliau sudah mengalirkan nasihat-nasihat bernas. Kalau kami jeli, maka kami dapat memetiknya untuk kami bagi.

Sesaat setelah beliau berlalu, aku pun penasaran dan ingin tahu, arti satu kata yang tadi beliau sebutkan. Karena aku belum mengerti, munashoroh? Lalu ku tanya ke paman google dan bertemulah  beberapa link yang menjelaskan makna kata ini. Salah satunya adalah di sini. Ternyata beliau telah menolong kami, tanpa kami sadari. Beliau telah mengingatkan kami, tanpa kami prediksi.

Begitulah kehidupan ini berlangsung dari hari ke hari. Ada-ada saja yang datang menemui kita dan kemudian berbagi. Atau kita temui dan kita baiki. Inilah makna pertemuan kami hari ini. Pertemuan bersama semilir angin yang menepi di pipi dan juga di ujung kelopak mataku. Angin yang menyejukkannya. Sebuah anugerah yang patut ku syukuri. Maka, demam pun terlupakan, kini. Meski hangat masih membersamai ruang mataku.

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s