Sepenggal Kisah Perjalanan

My Surya

“Hai, lagi apa? Kok serius amat? Dari tadi ga keluar kamar?,” seorang teman bertanya. Sambil melirik ke arahku, melalui pintu yang terbuka. Aku senyum aja, menanggapinya.

“Oooo… dia lagi stalking mantan, heheheheeee…,”  seloroh temanku yang lain.

Selanjutnya aku pun terharu. Karena mereka perhatian sama aku kiranya, hohooo.  😀 Padahal mereka tidak tahu, aku sedang apa? Apa yang ku pikirkan? Pikiran apa yang bersemayam dalam ingatan? Ingatan apa yang sedang  menepi di kepalaku? Kepalaku sedang mikirin apa?

Pada kenyataannya, aku sedang merangkai senyuman. Seindah senyuman yang ku berikan saat menanggapi sapaan temanku tadi.  Seperti emoticon ini.  🙂

***

Sebuah Catatan Untuk Diri

Engkau takut di ketinggian?

Mengapa tidak mencoba berangkat ke lokasi yang tinggi itu?.

Ya,

Sekali-sekali dan sekali lagi dan lagi,

Cobalah hal-hal baru.

Maka engkau akan memperoleh pengalaman berbeda dari biasanya!

Karena hidup adalah tentang uji nyali,

Dan petualang sejati adalah yang berani.

Berani menaklukkan diri sendiri, untuk lebih baik dari dirinya kemarin.

***

Kita hidup, harus punya harapan. Agar ada lagi penyemangat diri ketika langkah memelan. Karena kelelahan? Atau keletihan? Karena belum makan? Atau karena ga mood? Intinya adalah, harapan dapat menjadi pendobrak ingatan tentang masa depan yang akan kita tempuh. Sehingga hari ini yang kita jalani, menjadi semakin berkesan.

Untuk menjemput hari esok yang lebih berbinar, aku pun punya harapan. Harapan demi harapan yang terkadang ku pandang, ku perhati dan kemudian ku sapa. Baik saat ku sedang suka cita maupun dalam himpitan rasa yang mendera. Maka mengembalikan ingatan pada harapan dapat meluruhkan semua menjadi sejumput tekad yang menguatkan. Begitulah arti harapan bagiku.

Ingatan pada harapan membuatku mau bergerak, bangkit dan tersenyum lagi. Meski masih ada sisa-sisa airmata yang menempel pada lembaran pipi, aku masih berusaha untuk tersenyum. Karena ku yakin, harapan pun tersenyum padaku saat itu juga. Begini salah satu cara yang ku lakukan dalam menghadapi rupa-rupa hidup.

Dalam rangka memantaskan diri meraih ridha Allah Subhanahu Wa Ta’alaBismillaahirrahmaanirrahiim”. Ku mulai merangkai kalimat demi kalimat dengan satu kalimah suci. Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bergunung harap agar Engkau mengabulkan segala niat baik dan mengaburkan yang tidak baik. Sehingga hidup yang ku jalani penuh warna ini menjadi lebih baik hari ke hari, bersama harapan.

Mulai dari sebuah niat, beriring tekad yang bulat, berteman harap yang lekat di dalam ingatan, aku pun melangkah. Melangkahkan jemari yang terus berlari. Mengajaknya mau menemani saat ku sendiri. Mengajaknya bersedia menghiasi, ketika hari ku kelam. Supaya hari-hari ku tidak selalu murung dan suram. Agar lebih berwarna, maunya begitu.

Untuk mewujudkannya, maka duduk manislah aku di depan lembar bercahaya yang masih kosong. Lalu, aku pun tersenyum sesekali. Kadang bertanya tidak percaya dengan segala yang terjadi. Terkadang, ku mengerti-mengertikan diri untuk mau menyadari. Bahwa inilah hidup yang sedang ku jalani. Kalau ku sering-sering hanyut dengan perasaan sendiri, lalu kapan lagi aku bisa menikmati perjalanan ini? Kalau selamanya aku begini, lalu kapan aku bisa begitu? Hingga muncullah sebuah motto dari dalam diri, Mentari (Menata Hati Setiap Hari).

Motto hidup yang menjadi bagian dari harapan. Harapan yang ku jaga dari waktu ke waktu. Supaya, ketika hatiku retak? Terluka? Tersayat-sayat oleh keadaan yang tidak ia ingini? Maka ku menatanya lagi dengan segera. Sesegera mungkin. Karena lebih cepat, lebih baik. Lebih cepat ingat dengan harapan ini, maka lebih mudah ku tersenyum lagi pada keadaan.

Berikutnya, hadirlah hobi yang ku rangkai seiring bergulirnya waktu. Hobi yang ku yakini dapat memberiku harapan hidup lagi. Ketika aku sempat tumbang dalam perjalanan. Supaya dari waktu ke waktu ku dapat berpetualang dan merangkai senyuman, yaitu dengan menulis rangkaian kata menjadi kalimat.

Meski singkat, dari hari ke hari ku berlatih. Walaupun berat, dari waktu ke waktu ku gigih. Hingga tidak ku sangka, kalau sehari ku tidak menyusun kata, seperti ada yang kurang dalam hidupku. Apakah karena sudah melekat dan mendarah daging pada ragaku? Lalu menjadi bagian dari jiwaku?

Sedaaaaap. Aku bahkan suka kenyang sendiri, meski belum makan. Ketika ku baca-baca penggalan kisah perjalanan. Rasanya mau menelan habis-habis semuanya. Walau ku merasa sudah kenyang. Supaya tidak ada yang mengetahui, semua. Atau aku tiba-tiba mules dan ingin tenggelam ke dasar lautan. Supaya mentari tidak mengetahui perasaan yang ku beraikan. Mentari yang datang dan pergi. Termasuk hari ini, sore. Ketika mentari tak menerangi bumi. Karena hujan sedang turun ke bumi. Ya, rintiknya yang jatuh berderai banyak sekali, membuatku takjub dan terkesima. O… indahnya. Lalu hadirlah ingatan pada mentari.

Hujan, selalu membuatku merasakan kehadiranmu. Walaupun memang, engkau tiada pada saat yang sama. Namun hujan seakan memberi pertanda bahwa sejenak lagi engkau akan hadir bersama senyuman yang menawan. Ya, mewujud pelangi, engkau tampilkan kesempurnaan ciptaan-Nya yang terlukis pada wajahmu.

Engkau mentari tak akan pernah terganti di hatiku. Engkau mentari yang hadir menghiasi alam bersama senyuman yang terpancar dari wajahmu. Engkau mentari yang akan selalu ku kenang. Terlebih pada saat-saat seperti ini.

Ya, ketika engkau tiada, aku ingat padamu. Namun saat engkau benar-benar sedang bersinar, terkadang aku lupa untuk mengucap syukur kepada-Nya. Terkadang aku lupa bahwa kehadiranmu adalah untuk menerangi duniaku. Terkadang aku tidak mudah untuk berkata, “Terima kasih yaa.”

Ah, aku. Beginilah aku adanya. Aku yang ketika berada di hadapanmu, terkadang merasakan bahwa engkau tiada. Namun dalam kondisi begini, baru ku ingat bahwa ternyata engkau sangat berarti.

Engkau, siapapun engkau. Siapapun dirimu, di manapun engkau berada saat ini. Engkau yang mewujud mentari di hatiku, engkau pula yang menjadi mentari dalam hari-hariku. Meskipun jauh di sana, teruslah bersinar dengan sinar terbaikmu. Pancaran sinarmu dari kejauhan, pun sampai padaku. Dengan begitu, aku yakin bahwa engkau masih ada. Selalu begitu.

Mentari, engkau ada untuk menjadi jalan terangi bumi. Sehingga hari pun bernama siang. Siang yang saat ini masih ku jalani, ternyata tidak seterang ketika engkau ada, wahai mentari. Siang bersama rintik hujan yang jatuh berderai. Derai yang mengguyur alam hingga ia kebasahan. Guyurannya pula yang membuatku pun membasahi kedua pipi ini dengan deras bening permata kehidupan yang akhirnya membanjir. Hikszzz….?!!

Mentari, aku yakin bahwa ia akan kembali lagi esok hari. Walaupun sore ini, mentari mungkin tidak akan muncul lagi. Karena saat ini, masih gerimis. Entah kapan akan berhenti.

Hari ini, mentari bersinar cerah sekali. Semenjak pagi hingga siang hari. Sedangkan tepat satu jam yang lalu, mentari pun mulai tenggelam tertutup awan. Mentari yang semenjak lama sangat ku kagumi. Mentari yang hampir setiap hari hadir menerangi alam tempat ku berada kini. Mentari yang “Subhanallah… Aku sangat mengaguminya. Sungguh.”

Mentari, memang tidak selamanya dapat ku tatap wajahnya. Namun secara berkala ia ada untuk menampakkan sinar terbaik di hadapanku. Meskipun aku tidak meminta walau sekali, namun mentari senantiasa ada.

Aii, mentari, ia benar-benar tulus dalam berbagi. Berbagi senyuman dan kebahagiaan pada semesta alam. Sehingga aku pun terinspirasi, untuk dapat meneladaninya. Menjadikannya sebagai jalan bagiku untuk mau pula berbagi. Berbagi ya, berbagi. Termasuk berbagi senyuman. Senyuman untuk berbagi penggalan kisah perjalanan.

***

Senyuman Pertama, tentang Kenyataan 

Orang mengenal saya pendiam jika baru berteman, tetapi setelah kenal lama saya masih pendiam. Ini untuk beberapa orang teman saja. Sedangkan teman lainnya menilai saya sebagai seorang yang kekanak-kanakkan, karena penuh dengan ekspresi. Dan saya sangat dinamis, mudah berubah. Saya sangat suka mengabadikan persahabatan,  memperhatikan sekeliling, memandang wajah yang tersenyum, bermain dengan anak-anak dan sangat tidak suka menunggu. Apalagi kalau ditunggu, sehingga membuat saya menjadi terburu-buru.

Kalau yang sudah sangat kenal saya dengan baik, maka mereka mengenal saya sebagai seorang yang sangaaaaattt lembut. Ga bisa dikerasin, nanti mudah nangis. Sangaatttt polos, ga bisa dibecandain, nanti mudah percaya dan suka kepikiran.

Saya anak ke empat dari lima bersaudara. Orang tua mendidik kami putra-putri beliau semenjak masih kecil dengan penuh kasih sayang dan limpahan cinta yang tulus. Beliau mengajarkan kami ilmu tentang kehidupan melalui teladan setiap waktu.  Kemudian berlanjut dengan belajar ilmu agama dan mengaji di surau pada malam hari. Sedangkan siang belajar di sekolah dan membantu orang tua sepulang sekolah. Ini berlangsung hingga saya berusia remaja dan menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan.

Saya bersyukur mempunyai orang tua yang mengenalkan saya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Berperan Penting dalam setiap lini kehidupan saya. Selanjutnya, menjelang akhir Februari 2006, takdir mengajak saya melanjutkan perjalanan hidup di kota Jakarta. Di Jakarta, saya tinggal selama enam bulan di rumah pasangan yang baik hati. Beliau sudah lama merantau dan sukses. Beliau adalah putra dari Mak Uwo, tetangga kami di kampung halaman. Amak pernah tinggal lama bersama Mak Uwo semenjak Amak masih gadis, sebagai khadimat di rumah beliau. Berikutnya, Amak menitipkan saya pada putra Mak Uwo. Awalnya untuk beliau bantu mencarikan pekerjaan di Jakarta, namun akhirnya saya berkesempatan mengenyam pendidikan jenjang yang lebih tinggi di Bandung dengan berbagai kemudahan. Kebaikan demi kebaikan yang beliau berikan, saya mengingatnya. Semua karena Allah Yang Memberikan kebaikan melalui beliau. Alhamdulillah, lalu nikmat Allah yang mana lagi yang saya dustakan?

Bulan Juli tahun yang sama, beliau memberi saya kesempatan untuk menempuh pendidikan di Bandung. Saya menamatkan pendidikan dengan predikat cumlaude di jurusan Akuntansi dalam kondisi sudah bekerja. Saya bahagia dengan prestasi ini, lalu bertekad untuk menjadi lebih baik lagi. Hingga tahun berikutnya, saya memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan lagi dengan beasiswa 50% dari total biaya pendidikan. Sponsor kami adalah Panti Asuhan Anak “Fajar Harapan” bersama beberapa orang teman. Kemudian kami pun berjuang meneruskan perjuangan sambil bekerja.

Tertatih-tatih, terjerembab, terluka, berdarah-darah, jatuh dan bangkit lagi. Kami bersama-sama belajar hidup mandiri dan orang tua merestui.  Alhamdulillah, lalu nikmat Allah yang mana lagi yang saya dustakan?

Tentang orang tua, saya masih berusaha dapat membalas jasa beliau yang tidak bertepi. Berusaha lagi dan lagi. Karena saya mempunyai niat di dalam hati, untuk membahagiakan beliau dengan menjadi buah hati yang menjadi jalan beliau tersenyum bahagia dalam hari-hari. Baik di dunia ini, hingga di akhirat nanti. Meskipun perlu banyak latihan, namun saya yakin bisa. Karena saya belajar dari mentari yang hampir setiap hari mensenyumi saya dari kejauhan. Sehingga mentari merupakan inspirasi saya untuk kembali merangkai senyuman saat ini.

Saya menjadikan mentari sebagai motto hidup saya. Menata hati setiap hari, agar ia bersinar layaknya mentari menerangi hari ini. Dan layak menjadi jalan tersenyumnya sesiapa saja yang dekat di hati.

Sekarang saya masih terus belajar dalam kehidupan. Saya sangat mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala dan berupaya membahagiakan beliau semua yang menjadi jalan sampaikan saya di sini.  Saya ingin menjadi putri yang mampu berbakti kepada kedua orang tua. Walaupun tidak mudah, namun selangkah demi selangkah, saya berbenah, bersama-Nya. Saya ingin meneruskan cita-cita sebagai khalifah-Nya, seraya mengabadikan perjalanan hidup. Menulis hal bermanfaat dan menjadi jalan pengingat pada kebaikan dalam berbagai kesempatan. Sehingga dakwah adalah misi yang saya perjuangkan dalam melanjutkan langkah. Dengan menulis, saya ingin mengabadikan nama-nama beliau yang baik hati dan berjasa dalam kehidupan saya.

***

Banyak Ibu yang hadir dalam kehidupan saya. Ibu yang gemar berpesan dan mudah memberikan kesan. Ibu Utari adalah salah seorang contoh. Beliau menjadi inspirasi dan teladan bagi saya dalam mempersiapkan diri menjadi seorang Ibu sekaligus perempuan shalehah. Ini adalah impian saya sejak lama.

Pada suatu hari dalam melanjutkan langkah, saya menerima sebuah pesan,

“Hanya orang pintar yang saya terima bekerja bersama saya. Pesan saya, di manapun engkau berada, menjadi siapapun engkau, ingatlah untuk selalu rendah hati.”

Sebuah pesan yang ingin saya titipkan di sini. Agar saya ingat pada beliau yang berbudi. Beliau adalah seorang Ibu. Saya belum mengenal beliau lebih jauh, namun nama beliau akan selalu ada di hati. Ibu Utari, nama beliau. Terima kasih, ya Bu atas pesannya. Seuntai rindu menepi di ruang hati, saat ingatan tertuju pada beliau.

Ibu Utari adalah bagian HRD di sebuah perusahaan migas di kota Bandung. Beliau berpesan demikian pada saya saat menjalani proses wawancara di perusahaan tempat beliau bekerja. Beberapa hari setelah wawancara berlangsung, saya menerima kabar tentang diterimanya saya di perusahaan tersebut. Seiring dengan informasi diterimanya juga saya menjadi karyawan kontrak di lembaga yang akhirnya saya pilih. Karena saya yakin ia menjadi jalan bagi saya untuk menjadi lebih baik.

Aku mengecewakan beliau, sekaligus mendapatkan yang ku inginkan. Tega yaaaaah, aku. Tapi apa boleh dikata, semua menjadi pengalaman berharga dalam perjalanan hidupku. Masa yang memberiku kesan penting tentang sebuah perjalanan. Aku menyesal, beliau yang berbaik hati namun aku belum dapat membahagiakan beliau. Akan tetapi, hidup masih memberikan pilihan.

Apakah terlarut? Tenggelam? Terbenam?  

Selama satu setengah tahun, saya bekerja di lembaga yang saya pilih. Pilihan yang membuat saya mencintainya. Karena ia menjadi jalan terbaik menurut saya. Jalan yang selama ini terlihat jauh, namun dapat saya tapaki. Jalan untuk menjadi hamba-Nya yang shalehah, taat beribadah dan amanah. Semoga barakah, barakah, dan mengingatkan saya kepada Allah, lebih sering.

Namun apa daya, kami harus berjauhan raga, untuk waktu yang tidak pasti. Karena orang tua memintaku pulang. Sebab aku sudah terlalu jauh melangkah. Hingga lupa jalan pulang?

Hai, menjadi apakah aku ke depannya? Kalau tidak ingat dengan keluarga? Seperti apakah masa depanku? Kalau asyik dengan pikiran sendiri? Hanya mementingkan harapan sendiri?

Sedangkan ada yang mengharapkan kehadiranku dalam hari-hari beliau. Ada yang menginginkan kebersamaan denganku dalam kehidupan senja beliau.

Aku sungguh terlalu tinggi bermimpi. Mimpi-mimpi yang membuatku tidak mengerti, juga. Aku pun kembali, pulang untuk berkumpul dengan keluarga. Membawa kenangan dan harapan, meninggalkan semua yang ku cinta. Demi beliau yang mencintaiku lebih dari apapun.

Saya berasal dari keluarga yang sederhana, namun mempunyai orang tua dengan impian mengangkasa. Ya, beliau tidak ingin anak-anak seperti beliau yang mesti membanting tulang dan bermandikan keringat saat menjemput rezeki. Sehingga beliau menyekolahkan kami dengan kemampuan optimal yang dapat beliau berikan. Ya, beliau adalah orangtua yang sangat saya banggakan.

Ayah. Sebagai seorang petani dan pekerja harian membantu tetangga, mengusahakan agar kami dapat menempuh pendidikan hingga jenjang SMA (minimal). Walaupun untuk melewati semua itu, banyak pengorbanan yang beliau berikan. Sungguh, jasa-jasa beliau belum mampu saya balas dengan materi. Namun demikian, saya ingin menjadi anak yang dapat membuat beliau bangga dan tersenyum bahagia.

Amak. Amak adalah panggilan kami kepada Ibunda tercinta. Beliau adalah Ibu rumah tangga, pandai membahagiakan keluarga dan gemar membantu tetangga. Dari beliau, saya belajar menjadi perempuan yang pandai membahagiakan keluarga.  Beliau adalah tempat saya  berbagi cerita dan kisah tentang perjalanan. Walaupun dari jauh dan melalui nada suara, beliau tidak pernah lupa berpesan tentang kebaikan. Saya mengerti, bahwa beliau menginginkan saya menjadi seorang yang berbudi baik. Melalui nasihat demi nasihat yang beliau layangkan tiada henti, mengirim doa tidak kenal waktu, membuat saya  merasakan beliau dekat. Meskipun jauh di mata, beliau dekat di hati.

Kakak laki-laki saya adalah teladan terbaik saya, setelah Ayah dan Amak. Karena bersama beliau, saya beranjak belia dan remaja. Walaupun hanya sebentar kebersamaan kami dalam nuansa masa remaja, namun saya senantiasa ingat. Bahwa beliau adalah figur yang baik. Karena semenjak kecil, ketika masih anak-anak, kami bermain bersama dan saling mendukung. Walaupun pernah pada suatu hari, kami bersama pergi bermain ke lokasi yang lumayan jauh dari rumah dan kembali agak lama. Saat ketahuan Ayah, beliau meminta kami pulang segera. Setelah sampai di rumah, yang berhasil mendapat ceramah indah dari Ayah adalah kakak saya yang laki-laki.  Aaaa… mengingat semua, membuat aku berhutang budi pada beliau. Karena Owen, begini panggilan akrab kami pada beliau, membela adik-adiknya dengan baik. Kami mendapat perlindungan yang sempurna oleh beliau.

Kakak-kakak perempuan saya adalah teman terbaik saya, selain sahabat. Karena beliau adalah perempuan-perempuan yang mengayomi saudarinya, layaknya diri sendiri. Hingga kini, setelah beliau menjadi istri-istri dari para suami yang baik, saya masih merasakan kedekatan dengan beliau. Sungguh terasa, kini. Apalagi saat raga kami berjauhan dalam jarak yang tidak lagi sedepa. Saya ingin mengikuti jejak-jejak beliau semua. Jejak-jejak para mujahidah sejati. Saya kagum pada beliau. Hingga saya menjadikan beliau sebagai salah satu inspirasi dalam rangkaian catatan hari ke hari. Beliau adalah Onna dan Uni. Saya menjadikannya sebagai penyemangat diri untuk melangkah lagi. 

Adik saya adalah seorang laki-laki. Namanya Tedi. Oddy adalah panggilan akrab saya pada beliau. Jauh sebelum beliau dewasa, sudah menunjukkan bakti pada orang tua. Ya, sangat sayang beliau pada orang tua kami. Sehingga saat berada jauh dari orang tua sehari saja, beliau tuliskan dalam diari, ”Taragak Amak.”

Demikian kisah keluarga saya. Keluarga tempat saya bertumbuh dan dibesarkan. Keluarga yang saat ini jauh di sana. Sedangkan saya di sini. Xiixiii. Tidak mengapa, karena kami masih mempunyai harapan untuk kembali berkumpul di dunia dan bersama di surga-NYA.  Dalam pertemuan, setelah perpisahan, tentunya..

***

”...  tersenyumlah dalam menghadapi kenyataan.”

”Seindah-indah rencana kita, Allah Mempunyai rencana yang lebih indah untuk kita...”

”Berani merangkai visi, lalu bergiat menempuh proses untuk menggapainya.”

***

Senyuman Berikutnya, tentang Harapan

Hari ini adalah awal yang baik untuk melanjutkan perjalananmu. Karena pintu terbuka sangat lebar dan kesempatan juga muncul. Sehingga bagaimana engkau memasuki pintu tersebut? Bagaimana pula cara memanfaatkan kesempatan yang datang? Semua kembali pada dirimu. Akankah engkau tahu diri untuk memulai langkah lagi? Cukupkah syukurmu, agar bersedia meneruskan perjalanan ini? Dan yang terlebih penting adalah seberapa besar tekadmu untuk bangkit lagi saat mencapai tujuan?

Pelaut ulung tak lahir dari laut tenang dan dangkal. Begitu pula para maestro di bidangnya. Mereka tak tercipta begitu saja tanpa proses yang perlu mereka lewati. Pun para legenda yang sampai saat ini kita kenal namanya. Beliau semua bukan orang-orang biasa, namun karena kebiasaanlah beliau melegenda.

Engkau tak perlu memiliki segalanya untuk menjadi yang kau damba. Tidak juga membutuhkan biaya mahal agar engkau dapat pergi ke manapun engkau suka. Begitu pula dengan cita. Engkau hanya perlu meneruskan langkah, melangkah lagi dan lagi, untuk menjemputnya. Tanpa henti, tak kenal lelah, tak mengerti apa itu menyerah.

Yah. Mulailah dengan apa yang engkau punya. Yang terdekat denganmu, dengan caramu. Lalu, melengganglah dengan indah. Melantunlah dengan suara terindahmu. Sampaikan pada dunia bahwa engkau pun bersuara. Bukan seorang yang hadir ke dunia tanpa apa-apa.

Ingatlah!

Lihatlah!

Perhatikanlah!

Betapa banyak nikmat Allah yang melekat padamu. Betapa banyak titipan-Nya yang ia berikan padamu dengan mudah. Lalu, masihkah engkau belum bisa melihatnya?

Ada mata yang jelita, dua jumlahnya, memancarkan cahaya sempurna. Engkau melihat indahnya dunia dengan dua matamu. Dua lembar telinga yang menjadi sarana bagimu untuk menikmati merdu suara alam. Termasuk cericit burung pada pagi hari nan tenang. Manfaatkanlah ia untuk mendengar kebaikan. Kemudian anggota tubuhmu yang lainnya. Mereka semua merupakan titipan untukmu dan sangat berharga. Renungkanlah sekali lagi, apa yang ada padamu. Sebelum engkau mengeluhkan yang tidak engkau punyai.

Saat engkau tersadar kini, betapa banyak orang-orang di luar sana yang tanpa kaki, namun masih berjuang melanjutkan langkahnya? Mereka bergerak dengan niat dan tekad di dada. Bersama untaian doa memohon kekuatan dari-Nya. Agar tercapai tujuan di ujung sana. Renungkanlah sekali lagi.  Kemudian sadarilah, hingga akhirnya engkau bersyukur.

Saat engkau mau menyadari, betapa banyak orang-orang yang memiliki impian di luar sana. Namun mereka tak mampu berbuat apa-apa karena keterbatasan sarana yang mereka punya. Akan tetapi segenggam impian masih mereka pegang erat bersama harapan untuk mewujudkannya. Mereka tak diam apalagi berpangku tangan. Karena mereka yakin, banyak perpanjangan tangan Tuhan yang siap menyambut uluran tangan lembutnya untuk meraih impian.

Saat engkau percaya dan yakin, maka engkau pun bisa. Engkau mampu menjadi lebih baik. Engkau bisa mewujudkan niatmu pula. Kalau saja engkau mau bersyukur dan bersabar menjalani proses yang tentu . . . TIDAK MUDAH. Karena tidak ada cara instan untuk kemenangan. Pasti memerlukan perjuangan panjang dan berpeluh keringat. Pasti memerlukan waktu lama yang sangat menguji kesabaran. Membutuhkan kekuatan hati agar tak lemah dan rebah ditebas putus asa. Membutuhkan cinta untuk menemanimu meneruskan langkah.

Ya, cinta yang menguatkanmu lagi saat jiwa raga melemah. Cinta yang siap menyokong ragamu agar tak rebah karena lelah. Cinta yang mengajakmu bangkit setelah jatuh. Cinta yang membimbingmu… saat sempoyongan menderamu. Sehingga engkau kembali segar, tegar, kuat dan semangat menatap ke depan.

Hai, jangan mengeluh dan berhenti menyalahkan. Mulai buka cara pandang dan belajarlah dari keadaan. Sehingga di manapun engkau berada, bersama siapapun. Engkau berhak atas masa depan terbaikmu. Apa yang engkau lakukan saat ini, merupakan caramu untuk menjadikan masa depanmu lebih baik dari kemarin. Merupakan caramu agar engkau tak selalu menjadi objek, namun engkau adalah subjek atas jalan suksesmu.

Hello! Jangan bengong. Usah ragu apalagi malu. Mulailah dengan apa yang engkau mampu. Apa saja. Boleh juga dengan yang terdekatmu. Lakukanlah dengan awal yang sederhana dan menyederhanakan kemudian. Hingga kesederhanaanmu menjadi sesuatu yang hebat dan luar biasa. Kehebatan yang engkau tidak menyangka. Karena kesederhanaan yang engkau bawa semenjak mula. Namun setelah semua engkau raih, tetap rendah hati, usah berbangga diri.  Sebab engkau tak pernah melakukannya sendiri.

Sadarilah siapa diri. Dengan demikian, engkau sedang menanjak, meninggi, tak lupa diri. Semua orang besar pun melakukannya.

Aha! Engkau masih belum bergerak? Masih saja berdiam tak berkutik? Masih bertanya-tanya sendiri? Masih mempertanyakan modal apakah yang ku punya untuk mewujudkan mimpi menjadi kenyataan? Engkau sudah mempunyainya, apabila harapan membersamai. Sehingga, tidak hanya membangga-banggakan tentang siapa orang tuamu dan bersembunyi di balik banyaknya harta kekayaan orang tua. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf Sahaja

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close