Apakah Engkau Bahagia Tanpa Pacaran?

03-14-2017 08-13-29Pagi-pagi, hiasi waktu dengan pikiran tenang. Selami detik ke detik dengan perasaan damai. Senyumi angka-angka jam bersama kenyamanan. Senyaman mungkin.

Perhatikanlah gerak jarum jam yang menyuarakan detak yang menepi di indera pendengaranmu. Setiap detiknya ada arti. Seluruh detaknya ada pesan. Hanya saja, maukah kita mengembalikan ingatan padanya, sebentar saja?

Ya, sebentar saja merenung bersama jarum-jarum jam di dinding. Sebentar saja. Sebelum kita melanjutkan perjalanan hari ini. Sebelum kita meneruskan perjuangan detik-detik berikutnya. Supaya kita mengerti, waktu sangat berharga.

Setelah perenungan berlangsung, maka melangkahlah. Melangkah perlahan. Melangkah dengan perasaan. Melangkah di jalan-jalan yang menyampaikanmu pada tujuan. Sambil memperhatikan pemandangan alam. Lalu menjadikannya sarana untuk mensyukuri kehadiran diri.

Tersenyumlah bersama alam yang memberi kita ketenangan menjalani waktu. Alam yang menitipkan kedamaian di ruang hati. Alam yang terkadang membuat kita nyaman.

Jalan-jalan pagi di lokasi sepi beberapa saat setelah mentari terbit, merupakan kesempatan emas. Kesempatan untuk melirik-lirik dedaunan pada pohon-pohon yang rindang. Kesempatan untuk main-main (menginjak) genangan air sisa hujan semalam. Lalu tertawa saat ia membasahi kaki. Kesempatan untuk menyapa rerumputan yang tumbuh di tepi jalan. Rerumputan berembun. Bahkan menjadi kesempatan paling berharga untuk memetik pesan dari setiap pemandangan yang ada. Termasuk sesama pejalan kaki yang sedang melangkah juga. Yah, kesempatan ini berharga, teman.

***

For my lovely Berbi,

“Bila tadi malam engkau menitik airmata, melanjutkan tangisan siang hari hingga sore yang tidak kunjung reda. Ketika pagi harinya matamu bulat bekas airmata yang membanjir saat engkau tertidur. Saat pikiranmu penuh oleh masalah yang tidak tertemukan solusinya. Maka, pagi hari adalah kesempatan untuk memperhatikan lagi sekeliling. Lalu bersyukurlah.

Keadaan yang sedang engkau jalani saat ini adalah keberuntunganmu. Karena engkau masih dapat tidur nyenyak di bawah atap yang menaungimu. Engkau masih dapat bangun pagi dengan kondisi pernapasan yang sempurna. Engkau masih melihat sinar mentari yang menyambutmu bahagia. Maka tersenyumlah… Karena tidak ada lagi alasanmu untuk menderita. Biarlah dia di sana, bahagia dengan kehidupannya. Sedangkan engkau pun berhak dengan kebahagiaanmu juga.

Engkau masih muda. Bahagialah sejak dini. Karena semua akan menjadi kenangan, setelah engkau beranjak usia nanti. Maka, maukah engkau? Kenangan yang engkau ciptakan adalah tentang patah hati yang berlarut-larut? Tidakkah engkau mau mengambil pelajaran dari pergaulan yang sudah menuai badai dalam hari-harimu? “

Tertanda,

– Emak Bahagia –

Kemarin sore…

Datang-datang, kelopak mata Berbi bulat. Sedangkan dua bola mata dan sekitarnya, masih terlihat merah. Kami menyambut Berbi dengan pertanyaan. Ada apa dengannya? Lalu, Berbi pun duduk. Dan kemudian menitikkan airmata. Tersedu. Huhuhuuu… Huhuhuuu… Tanpa bicara, namun asyik dengan perasaannya yang kelabu.

Senja ketika itu. Menjelang Maghrib yang syahdu. Keadaan yang membuat bibirku kelu. Tidak tahu harus berkata apa lagi. Hanya saja, aku tidak sampai hati kalau harus menangis juga bersama Berbi. Tanpa ku tahu apa penyebab airmatanya menderu begitu. Maka, ku tertawai ia dengan caraku. Padahal, di ruang mataku, ada airmata yang siap tumpah pada detik-detik yang membuatku terharu. Namun, inilah caraku supaya kesedihan tidak berlanjut. Sesekali, menertawai teman yang menangis, menjadi jalan kami tersenyum bersama.

Seorang teman kami yang lain bilang, “Hai, Berbi nangis, malah ketawa.” Sambil dia juga ikut tertawa.  😀  Tertawa karena tidak lucu, memang. Namun bahagia, karena pacar Berbi pergi. Kami tertawa untuk mencairkan suasana. Supaya tidak mencekam dan menjadi berkabung.

Beginilah salah satu efek pacaran. Ada yang terlukai hatinya, ada yang tersita waktunya. Ada yang teriris ruang jiwanya, lalu tidak mampu lagi mensenyumi keadaan. Padahal,… waktu sangat berharga. Apalagi masa muda yang semestinya berhiaskan keceriaan. Namun malah menjadi berkabut, karena pergaulan yang menyisakan kesedihan.

***

Tidak ada salahnya kalau engkau tidak pacaran. Malah sangat menguntungkan. Karena engkau dapat memfokuskan pikiran dan perasaan pada kehidupan yang sedang engkau jalani. Untuk diri sendiri? Untuk orang-orang yang tepat. Untuk family? Untuk mereka yang berarti. Karena sepahamku, mereka yang memilih pacaran juga tidak salah. Mungkin karena mereka tidak tahu efek dari pacaran. Atau karena mereka ingin menunjukkan bahwa ada yang menyukai mereka. Untuk pamer-pameran sesama teman, untuk gaya-gayaan. Berpikir positif saja. Namun yang ku salahkan adalah, teman-teman yang sudah tahu akibat pacaran, namun masih saja menjalaninya. Sudah diingatkan, namun masih tidak mau mendengarkan. Yaudah, kalau begini, setelah ada apa-apa, kalau nangis-nangis, tanggung yaa, resikonya sendiri. #Emakejam

Kalau mau bahagia, tegaslah! Tegas pada diri sendiri, awalnya. Maka, yang lain pun mengikuti.

Sampai pada diri sendiri pun aku sering mengingatkan. Saat ada yang mencoba-coba (mungkin mengisengi) bilang, “Pacaran, yuukk…? Maka pilihannya adalah Blokir! Akibatnya mereka pun mengerti. Dan sampai saat ini, insyaAllah aku betah tidak pacaran. Walaupun di sekelilingku orang-orang terlihat punya pacar-pacar. Meski teman-temanku ada yang berganti-ganti pacar. Namun selagi masih ingat dengan orang tua yang jauh di sana dan selalu mengharapkan kebahagiaanku, maka aku bahagia dengan tidak pacaran. Sebab, ada alasan, mengapa seseorang tidak pacaran. Juga ada alasan mengapa seseorang berpacaran, bukan?

Sedangkan alasanku tidak pacaran adalah : Agar bahagia ku temukan dari detik ke detik waktu. Seraya menemukan makna saat sendiri. Sambil menyelami arti perjalanan, tanpa pacar yang menemani. Wahai, pacar masa depanku… Engkau juga tidak punya pacar, khannnn…?  😉

Hai,

Orang pacaran terlihat bahagia, namun aku juga bahagia. Bahagia dengan caraku. 

Orang tidak pacaran juga terlihat tidak bahagia. Aku juga mengalaminya. 

Karena begitulah hidup, ada bahagia dan tidak bahagia.

Maka sikapi dengan sebaik-baiknya. 

Kalau punya pacar, maka jalan pagi atau jalan sore bisa ditemani pacar.  Kalau mau ke mana-mana tinggal panggil, nanti pacar langsung datang. Ai! So sweet. Tapi kalau tidak punya pacar, jalan-jalannya sendiri aja. Tapi lebih asyik! Karena mau melangkah pelan atau cepat, tidak ada yang menggugat. Mau berhenti-berhenti memetik sekuntum bunga di tepi jalan atau meraih sehelai rumput, tidak ada yang menunggu di depan sana.  Kalau mau pulang cepat atau telat, tidak ada yang manyun. Kalau mau lama-lama ke mana-mana, tidak ada yang menanya, “Lagi apa? Sama siapa? Di mana? Berapa lama perginya? Hati-hati, yaa.” Trus kalau mau pergi-pergi sama teman-teman, musti izin dulu. Kalau dibolehin, berangkat. Namun kalau dia bilang, “Perginya sama aku ajaaa…” Maka hilanglah kesempatan untuk pergi ramai-ramai sama teman-teman. Lalu teman-teman pun menanggapi, “Ich, pacarmu, kok gitu?”

Note : Enjoy your free time. Share your happiness. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements
Categories Paragraf-paragraf SahajaTags , , , ,

7 thoughts on “Apakah Engkau Bahagia Tanpa Pacaran?

  1. insya Allah siap dek Surya 😊

    Liked by 1 person

    1. Heheee, Mba Cinta … Senang dengarnya. #Toosssduluyuuk? 😀

      Liked by 1 person

      1. 😂😀😁 hahaa ayuks 👋👋👋

        Like

  2. Aku bahagia dengan pacaran…
    Menurutku sangat.menyenangkan kalau dijalani berdua dengan pacar, apalagi dengan anak-anak juga 🙂

    Like

    1. Mas Nur iya lah, pacarannya udah rame-rame. Tentu sangat bahagia dong jadinya, yaaaa…?

      Note : Enjoy your family time. Share your happiness. 🙂

      Liked by 1 person

  3. “Dari semua ceritanya oke cukuup..menyentuh,dari semua yg ku baca…lumayan kagum dgn kuatnya dek surya akan keadaan pribadi..tapi sprti-nya….ma’af ya dek suryaaa… bkan mengkritik…akan semua cerita tulisan,.sprt-nya..dek surya hanya butuh “pribadi yg lebih berpribadi lg….dan sy yakin sang surya akan menyinari dek surya lebih dari sekedar sinarnya…..semoga ini baik ya dek surya utk semua perjalan hidup dek surya..dan yakin bahwa pengharapan itu ada…..

    Terima kasih yaa, buat Maryadi yang sedang mampir dan membaca semua serta meninggalkan jejak. Iyaaa, baik, Bersama harapan, langkah-langkah kaki dan tangan terayun di sepanjang perjalanan hidup masih terus berlangsung. Semoga kebaikan sering menyerta…. 🙂

    Liked by 1 person

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close