Senyuman Pagi

​Ku rasa cukup hanya dengan menunggumu, membuatku tersenyum. Senyuman yang sama seperti saat kita berjumpa setelah lama terpisahkan oleh jarak. Maka ketika kesempatan bertemu datang, bahagia pun merebak di ruang hati. Menebarkan semerbak harumnya wangi, segar di sana. Harum yang mengendap pada tutur kata, wangi yang menepi pada sikap. Dan segar yang terlihat pada wajah.

Hai, demi bahagiamu kawan, menunggu pun aku suka. Duduk manis mengunyah keripik. Menikmati setiap kriuknya yang membuat lidahku perih. Karena kulitnya yang tipis sekali. Ih, namun rasa gurih dan pedas itu lho yang membuatku ketagihan. Sampai habis, aku tidak henti memindahkannya satu persatu ke dalam mulut.

“Sayang aku temani kamu sakit

Sayang aku temani kamu sehat

Sayang aku temani kamu senang

Kulakukan semua dengan cinta

Sayang kau bagai matahari pagi

Yang selalu datang tuk menghangati

Sayang bagiku kau sebuah puisi

Yang selalu bernyanyi di dalam hati

Sayang

Cintaku ini istimewa

Tak perduli engkau siapa

Kuterima apa adanya

Dan sayang

Ku berkupikir cintaku luas

Selama kau masih bernapas

Dekap aku jangan kau lepas

Sayang aku temani kamu sakit

Sayang aku temani kamu sehat

Sayang aku temani kamu senang

Kulakukan semua dengan cinta

Sayang kau bagai matahari pagi

Yang selalu datang tuk menghangati

Sayang bagiku kau sebuah puisi

Yang selalu bernyanyi di dalam hati

Sayang

Cintaku ini istimewa

Tak perduli engkau siapa

Kuterima apa adanya

Dan sayang

Ku berkupikir cintaku luas

Selama kau masih bernapas

Dekap aku jangan kau lepas

Sayang

Cintaku ini istimewa

Tak perduli engkau siapa

Kuterima apa adanya

Dan sayang

Ku berkupikir cintaku luas

Selama kau masih bernapas

Dekap aku jangan kau lepas

Sayang aku temani kamu sakit

Sayang aku temani kamu sehat”

💃Cintaku Istimewa – Siti Liza.

Inilah salah satu lirik-lirik yang engkau putar dan engkau dendangkan. Ini cerita pada malam sebelumnya. Sedangkan pagi hari, aku menghayati nuansa berikutnya…

***

Bangunlah di pagi hari. Petik gitar lalu bernyanyi. Senandungkan tembang-tembang penuh cinta. Kalahkan riuh senda gurau burung-burung gereja yang bersiul memecah sunyi.

Ya, bersuaralah dari hati. Menyanyilah dengan hati. Untuk membangunkan orang-orang yang masih tertidur dan asyik dengan mimpi-mimpinya. Berkontribusilah, dengan nyanyianmu nan merdu. Karena engkau menikmatinya, melakukan tanpa mengharap sapa sesiapa. Untuk memberikan tepuk tangan atau sesuil siul untuk menghangatkan suasana. Bukan, bukan untuk tujuan demikian engkau melakukannya. Namun karena engkau tahu, waktu pagimu sangat berharga. Sungguh sangat berharga. Maka engkau terjaga dan memanfaatkannya untuk melantunkan suara jiwa.

Pagi, masih pagi di sini, teman. Saat ku mulai merangkai paragraf di atas. Paragraf awal yang membuatku terkesiap dari mimpi-mimpi panjangku. Paragraf sederhana yang hadir saat ku mulai menempelkan jemari pada tuts-tuts hitam dengan warna putih sebagai penanda huruf dan angka. Karena kalau warna putih ini tiada, aku tidak dapat melihat mereka semua. Namun hanya hitam saja yang ada sebagai warna dasar. Akan tetapi, kehadiran warna putih pun membuat kehadiran mereka menjadi terlihat. Seputih melati di taman, warnanya. Melati yang ku suka, karena ia cantik dan unik.

Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara merdu orang-orang shaleh yang membaca ayat-ayat al Quran dan melalui pengeras suara sampailah lantunannya ke indera pendengaranku. Dari masjid terdekat, bersahutan, sambung menyambung, membuat merdunya menyejukkan pikiran dan juga ruang kalbu. Menjelang subuh, memang selalu begini suasananya. Suasana yang aku suka, sangat suka. Alhamdulillah, lingkungan yang semoga penuh berkah.

Suara-suara yang terdengar meski dari kejauhan seringkali membuatku tergerak untuk bangkit. Suara-suara yang tidak ku ketahui siapa pemiliknya. Suara-suara yang memecah sunyinya ruang hatiku. Suara-suara yang menjadi bagian dari hari-hariku. Suara-suara yang membuatku ingin mengenalinya. Suara-suara yang mendamaikan, menenteramkan, membuatku nyaman. Bersama keingintahuan yang ku miliki, walau begini adanya, aku pun bergerak. Membawa pertanyaan yang susul menyusul. Membawa sejumput harapan, untuk memperoleh jawaban terbaik. Suara siapakah itu?

Masih terdengar nyanyiannya. Nyanyian dengan lirik-lirik yang baru pertama kali ku dengar. Sehingga aku tidak dapat langsung menghapalnya untuk ku sampaikan lagi. Karena memang ku akui, sangat tidak mudah bagiku mengenali sebuah lirik, kalau aku baru mendengarnya pertama kali. Maka, ku nikmati saja merdu suaranya, diiringi gitar yang berdenting.

Lirik-lirik berteman nada-nada, suara-suara dari masjid terdekat, ditambah suara hati yang akhirnya nimbrung, maka ramailah pagiku kini. Pagi yang tidak lagi dingin seperti kemarin. Ya, walaupun hujan baru saja turun pada jam-jam yang lalu, namun tidak langsung mendinginkan sekeliling. Karena di kota ini cuacanya cenderung hangat. Kecuali kalau hujan turun berhari-hari, baru dingin mendominasi. Maka satu kata yang sangat tepat untuk mewakili kesanku tentang kota ini adalah ‘kehangatannya’ yang ku suka.

Awal berada di sini, sejak sembilan bulan yang lalu. Sembilan bulan yang membawaku pada hari-hari dengan cerita baru. Cerita-cerita baru yang menambah pengalamanku tentang hidup. Hidup di negeri orang, bernama perantauan. Rantau yang tidak terlalu jauh, namun kami tetanggaan. Yah, terpisah sebuah propinsi saja, keberadaanku kini dari kampung halaman. Dari Sumatera Barat, ke Riau. Sungguh dekat, bukan? Dari kampung halamanku yang sejuk karena masih banyak pepohonan rindang di sekitar. Menuju tanah rantau yang hangat karena kondisi lingkungannya yang dekat dengan perkotaan. Kota yang ramah dan juga pernah gerah.

Yah, gerahku di awal-awal kebersamaan kami. Mungkin karena belum akrab, kali yaa. Atau masih proses berkenalan dan menyesuaikan diri. Sampai akhirnya, dari hari ke hari pun aku terbiasa dengan rupanya yang asli. Ia yang memberiku kesempatan untuk sauna pada malam-malamnya dan bermandi keringat lagi siang harinya. Maka berada di depan sebuah kipas angin yang tersedia, ku lakoni. Padahal kalau sudah terbiasa, ternyata bisa. Yah! Menjelang persahabatan terjalin, terkadang memang begitu, ada yang tidak nyaman. Seperti ketidaknyamanan yang ku alami saat pertama kali berada di kota ini. Namun kini, kami mulai bersenyuman. Senyuman persahabatan.

Ia, mereka, dia, dan apa saja yang ada di kota ini, menjadi sahabatku kini. Sahabat yang memberiku ruang untuk mengekspresikan diri bersamanya. Sahabat yang tidak lelah mengingatkan saat ku lupa. Sahabat yang setia membangunkanku ketika ku terlelap. Sahabat yang menitipkan kelembutan saatku memerlukan rehat. Sehingga kenyataan demi kenyataan yang ku alami di sini, memberiku kesan tentang persahabatan, lagi.

Lagi dan lagi, aku senang. Senang dengan keanggunannya saat menyahut sapaku, ketika ku bertanya padanya. Senang karena ia memberikan jawaban seperlu yang ku butuhkan saja. Bukan semua, namun untuk saat ini, segini dulu yaa, ucapnya bersama senyuman. Ketika ku masih saja kurang puas dengan pemaparannya. Lalu, aku pun mengangguk. Bersama waktu yang terus bergulir, ku yakin ada jawaban yang ia berikan lagi. Semoga, tidak mangkir.

Berpagi-pagi bangun dan kemudian memperhatikan sekeliling, sering ku lakukan selama di sini. Ya, walau tidak setiap hari. Karena tepat dari tempat ku berada saat ini, sinar mentari pagi akan dapat ku lihat jelas. Ketika ku menyempatkan waktu menaiki anak-anak tangga yang menyampaikanku ke lantai atas. Nah, dari sana, ada pemandangan berbeda setiap paginya. Terkadang mentari tersenyum cerah, lain hari sendu berkabut. Eits, tidak jarang juga ia tidak terlihat, karena sisa-sisa mendung masih tersisa. Kelabu warnanya. Kalau pemandangan seperti ini yang terlihat, maka ku memilih duduk-duduk lebih lama di lantai atas, untuk merasakan kesejukkan angin pagi yang setia bersemilir. Merapal nama-Mu, berteman rindu…

Ketika pagi tidak ku habiskan di lantai atas, maka pasti ku asyik di dapur mengolah sepiring menu untuk sarapan. Bersama teman-teman yang lain, sebagai rutinitas. Sebelum kami melanjutkan aktivitas berikutnya. Selanjutnya, menikmati hasil olahan bersama-sama, sambil saling berbagi. Nuansa pagi yang penuh kekeluargaan, meneteskan setitik bahagia dari hari ke harinya. Dan bahagia itu terus saja menetes, melembabkan ruang hatiku yang sempat kering. Sehingga, aku tidak ingin kebahagiaan ini berlalu begitu saja, tanpa ku abadi. Maka, sedapat mungkin, ku rapikan ia dalam bait-bait kata yang menjadikannya abadi. Seperti saat ini. Walau kami tidak selalu bersama, namun kesan tentang kebersamaan menyertai selalu. Kebersamaan yang pernah ku damba menjadi nyata. Kenyataan yang seakan mimpi. Maka, aku pun tersenyum, lagi.

Aku mensenyumi sebuah kesempatan lagi yang menemani diri. Kesempatan untuk meneruskan langkah-langkah kaki. Kesempatan untuk melanjutkan gerakan jemari. Kesempatan untuk menetaskan uneg-uneg di dalam hati. Kesempatan untuk mengembangkan pikiran dan menjadikannya bagian dari diri. Kesempatan untuk memberikan bukti, bahwa aku pernah berjanji pada diri sendiri. Untuk mengajaknya mau memahami dan memperhati, lagi. Untuk memberinya senyuman lebih indah dari hari ini. Untuk menyanyikannya sebuah lagu yang kami ciptakan bersama. Untuk itu, aku kembali datang ke sini. Untuk memenuhi janji pada diri sendiri. Supaya ia mau ku ajak bergerak lagi, meneruskan perjalanan kami di bumi. Agar ia semakin mudah ku persahabati dan menemukan sahabat terbaiknya dari dalam diri.

Dulu, dulu sekali. Kami pernah berjanji untuk mengukir kisah perjalanan. Perjalanan yang tidak dapat kami prediksi jauhnya. Perjalanan yang tidak dapat kami tempuh lagi, setelah ia berlalu. Perjalanan yang akan menjadi kenangan, setelah ia berlalu. Perjalanan yang mempertemukan kami dengan orang-orang baru. Begitu harapan kami.

Namun seperti pepatah sampaikan, “Sejauh-jauh terbang bangau, kembalinya ke kubangan juga.” Artinya, sejauh-jauh kita pergi merantau atau melanjutkan perjalanan, maka kita akan kembali lagi ke asal. Hai, dari manakah asal kita? Bagaimana kita mengenali semua ini? Aku menanya diri sebelum kami melangkah jauh. Kami saling bertanya saat semua tidak mengetahui. Kami terus bertanya, untuk memperoleh jawaban yang kami ingini. Kami bertanya pada semua yang kami temui. Kami bertanya juga pada hati. Hati yang sering berbolak-balik. Hati yang berada dalam genggaman-Nya, Allah Yang Maha Mengetahui isi hati. Hati menjawab, “Dari jannah.”

Yah, di surga nabi Adam bermula. Nabi Adam nenek moyang kita. Nabi Adam yang akhirnya Allah turunkan ke bumi dan kemudian menempuh segala uji dan coba. Karena apa? Sebab Nabi Adam tertipu oleh setan. A’udzubillaahiminassyaithaanirrajiim. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s