Mendengarkan Tidak Semudah Berbicara

Nah, sekarang giliranku mencurhatimu, dear . . . Karena aku juga punya hati yang tidak selalu sanggup menampung segala uneg-uneg. Supaya tidak menjadi beban kalau ia berat. Supaya tidak menerbangkanku kalau ia ringan. Namun untuk mengingatkan lagi, siapa diri ini?

***

Memperhatikan, mempedulikan, mengekspresikan, memandang dua bola matamu yang berkedipan, gerak bibirmu yang mensuarakan isi hati, aku belajar darimu, menjadi pendengar yang baik …

Picture : Dalam hal ini, baru Following Skills dan Reflecting Skills yang beraksi. Hihii :D.

"Jangan ingat keburukan orang lain pada kita, namun ingatlah kebaikannya saja," begini pesan ibu dulu, padaku. Agar kita dapat menghayati segala yang terjadi. Supaya kita tidak mudah mengomel-ngomel. Supaya kita dapat memetik hikmah dari pergaulan kita dengan orang lain.

"Ambil sisi baiknya dan buang yang buruknya," pesan ibu. Yah, aku mengingat-ingat selalu, nasihat-nasihat yang ibu sampaikan padaku. Terlebih saat kami tidak dapat bersama-sama terus seperti ketika beliau menjagaku sejak kecil. Maka, ingatan terhadap nasihat-nasihat ibu menemaniku melanjutkan perjalanan, saat tanpa beliau di sisiku. Sehingga engkau dapat menyaksikan, apakah efeknya?

Aku pun menjadi pendengar yang baik. Baiiikk sekali. Sampai aku pun tidak menyangka, aku bisa menjadi seperti ini, maka ku yakini bahwa semua ini adalah karena doa ibu. Ibu yang mendoakanku selalu, aku rindu pulang jadinya. Apalagi saat ku mesti berhadapan dengan situasi yang sungguh-sungguh tidak ku suka. Maksudnya, ketika ku terhubung dengan kenyataan yang membuat hatiku berkata. Padahal sebelumnya ia tidak nyahut apa-apa. Yah, pada kenyataan inilah, aku ingat lagi dengan pesan ibu padaku, untuk melihat sisi baik dari keadaan yang kita temui. Supaya apa? Untuk kebaikan kita juga, diri kita.

"Semua orang punya hati nurani. Hati yang baik. Maka, lihatlah kebaikan itu. Sekalipun engkau tidak menyukainya. Karena pasti ada hikmah yang terselip untuk kebaikan."

Belajar dari yang sulit. Belajar dari hal pelik. Belajar lagi dan temukanlah keberuntungan di dalamnya. Karena engkau ada pada situasi-situasi tersebut dengan makna. Supaya engkau mau belajar menghargai, mensyukuri dan mensabari. Ketika engkau meminta kepada-Nya untuk menempatkanmu di lokasi-lokasi nyaman, ternyata engkau berada di tempat berbahaya. Apakah engkau merutuki keadaan? Apakah engkau tidak berusaha menemukan cara, supaya dapat keluar dari tempat berbahaya tersebut? Apakah engkau mampu menemukan pelajaran?

Mendengarkan dan menjadi pendengar yang baik ternyata tidak mudah. Sungguh. Apa kesulitannya? Yah, sulit aja, karena kita perlu memanage suasana hati terlebih dahulu, sebelum mendengarkan. Dan yang terjadi seringnya adalah ketika kita belum memiliki kesiapan, ternyata sudah harus menjadi pendengar yang baik. Menerima keluhan, memperoleh uneg-uneg, dan tentunya, kalau tidak pintar-pintar mengolah, berakibat tidak baik juga bagi diri kita, bukan? Inilah pelajaran yang ku dapat tentang betapa tidak mudahnya menjadi pendengar yang baik. Namun kalau kita bersedia, berniat dan mau menjadi jalan kebaikan, semua proses pun berjalan dengan indah nan mengesankan. Termasuk pesan-pesan yang tertinggalkan untuk kita. Sehingga tanpa harus menjalani pengalaman yang sama, kita pun mendapat pengetahuan. Ah, besar harapanku, Allah memberiku kemampuan untuk mensabari . . . ketidaksukaanku. Mensyukuri . . . kesukaanku. Sehingga menjadi proporsional saat ku menjalani. Karena aku juga manusia, sama seperti mereka yang berbicara, untuk ku dengarkan keluhannya.

Dalam hal ini, belajarlah aku lagi. Mempelajari keadaan, mempelajari karakter, mempelajari pengalaman orang lain. Proses belajar yang tidak sia-sia. Namun membuatku semakin semangat menjalaninya. Karena dari hasil pembelajaran tersebut, ada inti pelajaran yang tersirat meski tidak terlihat. Ada juga yang tertulis untuk ku baca. Bahkan, pernah juga membuat ku harus mengingat-ingat supaya ku dapat mengabadikannya dalam catatan. Dan ternyata, semua mensenyumkanku, setelah ia berlalu. Maka di hari-hari nanti dan atau esok, juga lusa, aku masih ingin menjadi pendengar yang baik. Kalau pun ada kendala dan tersendat-sendat, ku masih mau membiasakannya. Sehingga benar-benar terbiasa.

Hal sulit lainnya ketika menjadi pendengar yang baik adalah, tentang inti pesan yang kita dengar. Sebab, pendengar tetaplah pendengar. Bukan menjadi objek yang bercerita. Jadi, sedapat mungkin hal-hal penting yang terekam dalam ingatan, hargailah sebagai hasil pembelajaran dari orang lain. Bukan karena kebijaksaan kita. Namun dengan mendengarkan, kita dapat memetik maknanya. Supaya, segera berkemas mensortir yang tidak baik dan kemudian membawa yang baik.

Semua orang tidak sama, berbeda latar belakang, berbeda cara pandang, berbeda harapan juga impian. Maka perlakukanlah seseorang dengan cara dia ingin diperlakukan. Dalam hal inilah perlunya mendengarkan, memahami. Supaya terhindarkan cekcok yang dapat saja terjadi, atau pertengkaran yang tidak diinginkan. Daaaaaaan untuk semua ini, aku masih dan terus belajar. Belajar, ku lagi.

Oiya, kesulitan lain saat menjadi pendengar yang baik adalah saat kita mengetahui. Bahwa biasanya orang-orang yang mengeluh dan berbicara yang akhirnya kita dengarkan, adalah karena ia membanding-bandingkan. Saat aku begini, mengapa engkau memperlakukanku begitu? Ketika aku seperti ini, apa urusanmu? Oh my God! Pushing lah berbi punya pala. Tapi di balik semua itu, hati ku menjadi sejuk dan juga tenang. Karena ku pikir-pikir, ada baiknya. Kebaikan yang mungkin tidak langsung ku petik buahnya segera. Namun entah kapan, yaa…

Terima kasih ibu, untuk nasihat berharga. Dengan karakterku yang begini, aku menjadi semangat meneruskan perjalanan hidup ini. Ketika aku menerima curahan hati dan akhirnya menjadi pendengar yang baik. Aku suka. Walau tidak mudah, namun Allah punya cara untuk menyampaikanku pada cita terbaik. Terbaik menurut-Nya, untukku.

Oiya, satu hal lagi, saat menjadi pendengar yang baik, orang-orang yang ku dengarkan ceritanya dengan baik adalah saat ia merasa telah melakukan sesuatu, namun ternyata tidak mendapatkan sebanding dengan kebaikannya. Maka jadinya, cerita dech. Pesan pentingnya adalah, "Menjadilah tulus dan ikhlas…," Bapak pernah berpesan, padaku. Lagi dan lagi, beliau berpesan untuk kebaikanku, juga. []

🙂 🙂 🙂

Advertisements

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s