My Surya
Masih terngiang di telingaku, segar dalam ingatan, inti pesan yang terselipkan di antara kata demi kata yang engkau alirkan melalui nada suaramu serta gerak bibir saat bicara.

Salut. Aku selalu salut padamu yang menulis dengan baik dan membuatku tergerak. Karena dari tulisan yang engkau hasilkan, ada pesan-pesan penting penuh makna yang membuatku tersentak.

 

Ya, walau ku tahu bahwa engkau menulisnya bukan untukku, langsung. Namun saat bacaan ku sampai pada tulisanmu, aku pun tersenyum. Senyuman bahagia, karena kita dapat berjumpa. Aku sebagai pembaca, sedangkan engkau yang menulisnya. Siapapun engkau. Terima kasih yaa. Untuk terus menulis yang bermakna.

Salut. Aku juga salut pada mu yang berbicara dengan baik dan membuatku menyimak. Karena dari bahan pembicaraan yang engkau sampaikan, ada pesan-pesan penting penuh makna untukku. Ya, walau ku tahu bahwa engkau menyampaikannya bukan untukku, langsung. Namun saat berbicara dan suaramu sampai pada ku, aku pun tersenyum. Senyuman bahagia, karena kita dapat berjumpa. Aku sebagai pendengar, sedangkan engkau yang bersuara. Siapapun engkau. Terima kasih yaa, untuk terus berbicara yang bermakna.

Aku pun belajar darimu, belajar bersamamu. Tentang bagaimana cara menulis dan juga berbicara yang baik.

Menulis adalah aktivitas yang ku lakukan setelah mendengarkan atau setelah membaca. Atau setelah berjumpa dengan sesiapa saja. Apakah kami sempat berbicara atau kami tidak berbicara. Yah, walau hanya memperhatikan, terkadang aku juga tergerak untuk menulis. Tanpa semua itu, aku mungkin tidak dapat merangkai tulisan. Memang begitulah adanya.

Seperti saat ini, ku ingin menulis sesuatu. Setelah ku sibukkan diri dengan membaca. Setelah ku ingat tentang keadaan yang ku jumpa saat berjalan tanpa berbicara dengan sesiapa. Setelah seseorang menemuiku lalu menitipkan pesan-pesan tentang kehidupan. Lalu aku merenungkan dan selanjutnya ku menulis saat sudah ada kesempatan. Ketika kami sudah tidak bersama lagi atau saat ku sudah sampai di tujuan.

Ketika hening, diam, dan sendirian, maka aku pun menulis.

Saat ini ku menyendiri. Di sekitarku ada benda-benda mati tidak bicara. Aku duduk manis di depan sebuah meja. Di sudut sebuah ruang yang luas. Di belakangku berdiri dinding kokoh bercat putih yang sudah pudar warnanya. Ada lembaran kertas tersusun rapi di dalam lemari di sebelah kiriku. Lemari kecil setinggi lima jengkal saja. Yah, aku sengaja mengukurnya. Supaya ku ingat lagi dengan tempat ini. Ketika kami sudah tidak bersama nanti. Saat ku sudah tidak berada di sini. Karena ku yakin, ia akan ku tinggalkan. Sama seperti lokasi-lokasi sebelumnya yang sudah jauh di mata. Di sanaaaa . . . ia menjadi kenangan, abadi dalam ingatan. Sedangkan di sini, ia menjadi sarana, mengukir senyuman dalam kenyataan. Sedangkan di sisi kananku, lembaran kertas-kertas putih yang menumpuk. Uhuk! Butuh air segar.

Sendiri duduk menyepi, ini adalah momen yang pas untuk meluruhkan suara hati. Sebagai alarm bagi diri, supaya ia teringatkan lagi. Kelak tiba masanya, hari ini pun berlalu. Maka di hari nanti, senyuman ini masih ingin ada menghiasi lembaran hari. Sebab apa?

Ya, saat ku teringat pernah ada di sini. Bertemu dengan orang-orang yang baik budi. Berjumpa dengan para penasihat yang mungkin tidak mudah dikenali. Ya, saat mereka berbicara, seakan mengingatkan diri sendiri. Bukan untuk menceramahiku, tapi yang mereka sampaikan sangat berarti. Sungguh, aku bersyukur dengan semua ini.

***

Engkau menyampaikan tentang kesungguh-sungguhan.

“Lakukanlah sesuatu dengan hati dan penuh konsentrasi,” pesanmu.

Pesan tersebut ku resapi sepenuh hati. Pesan yang mensenyumkanku. Karena engkau menitipkan pesan untuk orang lain, melaluiku. Pesan yang juga untukku, tentunya. Pesan cantik di suatu siang nan terik. Pesan yang engkau sampaikan dengan mimik wajah terbaik. Pesan yang ku dengarkan dengan telinga. Sedangkan pemilik wajah ku perhatikan dengan mata yang lentik. Engkau menyampaikannya dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati. Ku perhatikan juga gerak bibirmu saat berbicara. Untuk mengingat lebih lama pesan-pesannya. Agar ku tidak mudah lupa sebelum ku titipkan pada lembar catatan.

“Rezeki kita tumpang menumpang. Saat ini kita di sini, lakukan yang terbaik yang mampu kita lakukan. Karena rezeki orang lain dapat melalui kita, atau rezeki kita datang melalui orang lain yang ada di sekitar kita. Bersyukurlah dengan keberadaanmu, dengan keadaanmu,” pesanmu lagi.

Engkau melengkapi dengan mengutip sepotong ayat Al Quran yang sudah engkau hapal. Sehingga lancar bibirmu mengalirkannya,

 لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ …

“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.” [Q.S Ibrahim] : (7)

Saat mendengarkan juga, ada yang menyampaikan padaku untuk mengutamakan yang penting. Sebisa mungkin, perhatikan hal-hal kecil yang tidak berarti dan suka luput dari perhatian. Namun kalau dikalkulasi dalam waktu lama, jumlahnya besar. Intinya adalah, jangan boros dan berusahalah untuk berhemat. Sejak dini, mulai dari hal-hal kecil. Biasakan hidup prihatin dan sederhana, secukupnya. Jangan juga pelit dengan diri sendiri, tapi proporsional. Dengan begini, berangsur-angsur menjadilah bermanfaat. Dari hal-hal yang bisa kita lakukan, dari hal-hal yang kecil.

“Termasuk juga dalam hal traktir mentraktir, ada waktunya. Jangan karena kasihan sama teman, suka-suka saja mentraktir. Bahkan sampai setiap hari, yhaaa…,” pesan seseorang dengan mimik serius. Aha! Ini adalah pesan yang sama dan kedua kalinya ku terima dari orang berbeda. Lalu, aku pun terpancing untuk mengeluarkan suara. Sebelumnya ku simak saja.

“Ini pesan penting sangat, yaaa?,” aku menanya seraya kedip-kedip dan mensenyumi pemberi pesan. Supaya tidak terlalu serius, kesannya. Padahal aku sangat serius bertanya.

“Iya, iya, penting sekali ini,” tanggap beliau mantab. Lalu melanjutkan memberai pesan. Pesan-pesan gratis dan beliau membagikannya tulus.

“Nilai kesetiakawanan dalam berteman, bukan selalu dan senang mentraktir-traktir. Akan tetapi kepedulian terbaik adalah waktu teman benar-benar membutuhkan, kita memberikan bantuan yang berarti. Inilah pertemanan yang sejati,” tambah beliau sepenuh hati.

“Maka, pikirkanlah jauh ke depan. Pada masa yang akan kita tempuh. Ketika keadaan tidak terduga. Ya, berjaga-jagalah sebelum menghadapinya. Seperti; kalau sudah berkeluarga seperti saya ini. Berjaga-jaganya yaa, untuk menanti kehadiran anak sebagai anggota baru dalam keluarga. Nah, biaya-biaya yang sebelumnya untuk berdua saja, akan otomatis bertambah. Belum lagi biaya-biaya yang tidak terduga lainnya,” beliau menambahkan.

Beliau yang berpesan tentang hal ini, baru berkeluarga dan belum memiliki anak. Aku serius menyimak. Menyimak nasihat-nasihat berikutnya yang beliau bagikan, seputar perjalanan dalam keluarga baru. Sungguh, berbeda keluarga, berbeda ceritanya yaa. Lalu, cerita seperti apakah yang akan hadir dalam keluarga baru yang kami bina, kelak? Let’s see it! Pada episode yang akan datang. Kapan yaaaaa…?

“Hari-hari yang kita tempuh menitipkan kisah berharga dari detik ke detiknya. Semua untuk mempersiapkan kita, sebelum menempuh episode hidup yang berikutnya. Aku percaya. Ada maknanya. Semua adalah kesempatan untuk terus berbenah diri dan berbaik sangka kepada-Nya. Karena semua episode hidup kita dalam kuasa-Nya.”

Begitu yang dapat ku tangkap, dari perjalanan hidupku sejauh ini. Saat ku perhati momen-momen tertentu yang masih tersisa dalam ingatan. Meski semua telah berlalu. Baik saat langsung memetik makna dari keadaan yang ku alami atau setelah keadaan tersebut berlalu.

Aku sedang meneruskan langkah-langkah lagi. Hingga sampailah keberadaanku di sini, saat ini, begini. Sehingga ku ditakdirkan bertemu dengan orang-orang yang tidak pernah ku prediksi. Saat ku bersama dengan orang-orang yang tidak ada dalam imajinasi. Namun kami bersama untuk saling berbagi. Berbagi pesan, cerita dan juga nasihat tentang perjalanan.

Maka, ku nikmati semua ini sebagai salah satu anugerah terindah dalam kehidupan. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk hanya bertanya-tanya tanpa berkontribusi. Tidak ada alasan untuk tidak mau memetik pelajaran, untuk ku bagi. []

🙂 🙂 🙂

Iklan

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s